Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Maret 2010

MENYOAL BAHASA GAUL

Salahkah menggunakan bahasa gaul? Sebelum menjawab pertanyaan mari kita cermati asal-usul dan penyebab berkembangannya bahasa ini. Bukankah dalam menganalis suatu masalah akan lebih baik jika kita dapat mengidentifikasi terlebih dahulu masalah tersebut. Saya pikir begitu.

Bahasa gaul awalnya campuran antara bahasa etnis Betawi dengan Melayu. Lama-kelaman bahasa ini semakin dinamis karena ibu kota adalah wadah bertemunya beragam etnis. Konsekuensinya, bahasa ini kian kaya dengan serapan dari berbagai bahasa daerah. Tidak hanya itu, kini bahasa ini semakin identik dengan istilah asing dari negeri Britis dan Paman Sam. Oleh karenanya tidak heran kalau bahasa ini kian cepat berkembang.

Hal lain yang juga memengaruhi perkembangan bahasa gaul adalah faktor psikologis pengguna bahasa sendiri. Seseorang yang ingin diakui dalam kehidupan sosial (pergaulan) di masyarakat tertentu, cenderung akan mengikuti pola yang ada pada masyarakat tersebut, tak terkecuali bahasa. Ketika sesorang ingin dikatakan gaul, maka kemungkinan besar ia akan berusaha berprilaku seperti orang yang dianggapnya anak) gaul.

Pada umumnya bahasa gaul dinilai lebih bergengsi di mata masyarakat (umunya remaja) dibandingkan bahasa daerah atau pun bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahasa ini pertama kali berkembang di ibu kota. Remaja pada umumnya mengganggap remaja ibu kota memiliki prestise yang lebih tinggi, lebih “keren,”sehingga bahasa mereka pun dianggap lebih bergengsi

Selain itu, perkembangan bahasa ini juga tidak terlepas dari peran media, khususnya media elektronik. Lihat saja tontonan di televisi. Berapa banyak acara yang menyuguhkan penggunaan bahasa yang baku. Meskipun ada, saya pikir itu bukan acara yang menarik bagi kebanyakan remaja, misal “berita.” Kebanyakan tontonan yang digemari remaja menggunakan bahasa gaul, sebut saja, salah satu acara di televisi yang pada pembukan dan penutup acaranya kerap menggunakan istilah asing: ”Hello gays, wallcome to.../ Oke, see you next week and keep away from druge.”

Bahasa adalah hak dari pengguna bahasa itu sendiri. Terserah pengguna bahasa ingin menggunakan bahasa apa. Oleh karenanya, Saya pikir tidak menjadi masalah kalau kita menggunakan bahasa gaul, asalkan kita tidak lupa bagaimana menggunakan bahasa yang baku. Ya, yang penting kita tahu waktu dan tempatnya sajalah, karena bagaimanapun juga bahasa merupakan identitas suatu bangsa!

Minggu, 31 Januari 2010

Wali Kota Sampah

SAYA sangat yakin para penguasa di Tangerang dan Tangerang Selatan tidak berpikir bahwa kita hidup pada 1629. Saya hakulyakin bahwa tak ada satu pihak yang merasa sedang bermain peran sebagai pasukan Mataram dan lainnya menjadi pemegang kekuasaan Batavia. Perang lebih dari 380 tahun yang lalu itu berakhir begini: dalam serangan pamungkas, Dipati Ukur, panglima Sunda yang memimpin pasukan Mataram, meracuni Sungai Ciliwung yang mengalir ke Batavia.

Kota yang kini ibu kota negara itu menurut sejarah gagal ditaklukkan, tapi gubernur jenderal Belanda yang mendirikan Batavia, Jan Pieterszoon Coen, tewas akibat kolera. Saya tak tahu pasti apakah Dipati Ukur menuangkan sejenis racun dalam jumlah banyak ke Ciliwung ataukah ia membuang timbunan sampah-sampah busuk ke aliran sungai yang membelah Batavia itu. Yang pasti, bakteri kolera mudah berjangkit di kawasan dengan air tercemar dan sanitasi buruk.

Saya khawatir timbunan sampah yang sekarang mengepung Tangerang Selatan ini bakal mengundang banyak bakteri, mungkin bukan sekadar kolera. Sampah bertumpuk di kompleks-kompleks perumahan, di pinggir jalan, di banyak tempat lain. Di Pasar Ciputat, selain di sekitar lokasi, di trotoar pembatas jalan pun sampah teronggok. Semakin hari jumlahnya semakin banyak. Sudah enam bulan ini sampah Pasar Ciputat tidak diangkut secara rutin. Bau amis, anyir, busuk, meruap ke seantero kawasan.

Dulu Bandung pernah bergelar “lautan sampah”, dan sekarang gelar itu sudah pantas disandangkan pada Tangerang Selatan. Sungguh ironis, kota yang belum “seumur jagung”, belum punya dewan perwakilan rakyat, belum punya wali kota definitif, sudah harus “berenang sendirian” untuk menanggulangi lautan sampah. Kenyamanan hidup warga kota yang merupakan kawasan terakhir “pemekaran” wilayah di Indonesia itu sirna setelah pemerintah daerah Tangerang menarik 40-an truk sampah. Truk itu dulu secara rutin mengangkut sampah di kawasan yang berpenduduk 1,2 juta orang tersebut.

Penguasa sementara Tangerang Selatan menyiapkan truk pengganti, walau tak sebanyak yang dulu ada. Tapi problem utama muncul tiba-tiba: sampah tak bisa lagi dibuang di tempat milik pemerintah daerah Tangerang. Dibuang di satu tempat di Bogor juga ditolak. Tangerang Selatan belum punya tempat pembuangan sendiri. Lokasi tersedia, tapi penduduk setempat memprotes. Tak ada orang yang mau hidup dekat dengan sampah. Kepala Dinas Kebersihan Tangerang Selatan, juga penjabat wali kota, pusing tujuh keliling.

Inilah contoh pemekaran yang kurang mulus. Provinsi Banten dan Tangerang berebut menempatkan wali kota sementara. Kendati bukan “wakil” Tangerang yang sekarang menjabat, pemda Tangerang seharusnya ikut turun tangan soal sampah ini. Sebagian pajak penduduk Ciputat, Pamulang, dan sekitarnya ini masih mengalir ke kas Tangerang.

Oktober nanti wali kota definitif Tangerang Selatan akan dipilih langsung. Siapa saja boleh maju. Penjabat sementara wali kota Shaleh M.T., Rano Karno yang sekarang Wakil Bupati Tangerang, atau Airin Rachmi yang kerabat Gubernur Banten, silakan maju. Tapi saya--dan saya kira banyak yang lain--sebagai penduduk Tangerang Selatan hanya akan memilih “wali kota sampah”: dia yang sanggup menyelamatkan kawasan ini dari timbunan lautan sampah.***


Toriq Hadad Wartawan Tempo

Koran Tempo, 31 Januari 2010

Selasa, 26 Januari 2010

Buruk

Tak ada berita baik di negeri ini. Semuanya buruk. Memang, jurnalistik klasik sudah memfatwakan hal itu, yang buruk sangat baik diberitakan. Bad is news, kata bahasa kerennya.

Rupanya, ini dipegang oleh para jurnalis sampai saat ini. Bahkan narasumber, dan mereka yang sengaja mendekatkan diri agar dijadikan narasumber, menyiapkan di kepalanya apa yang buruk-buruk. Mereka sadar betul, jika berani mengatakan yang buruk, pasti jadi news. Artinya, wajahnya terpampang di media massa dan televisi. Perhatikan belakangan ini, betapa banyak orang yang berpredikat “pengamat” dan “ahli”. Entah apa yang diamatinya, dan keahliannya pun tak perlu dibuktikan dengan karya. Yang penting bisa bicara menggebu.

Ke mana pun melangkah, kita seperti dikejar berita buruk. Apalagi menjelang 100 hari pemerintahan SBY jilid dua, tak satu pun berita baik jadi headline. Bangun pagi ada berita tanah longsor, siang hari penculikan bayi, sore hari bentrokan mahasiswa dengan polisi. Berita buruk saling bersaing merebut kapling: penjara bak hotel mewah, pembobolan anjungan tunai mandiri, bonek Persebaya yang rusuh. Lalu, di malam hari--kadang sampai larut--sidang Pansus Century yang selalu menyalah-nyalahkan. Perjalanan demokrasi kita baru sampai ke tahap ini: ramai-ramai memilih orang untuk kemudian kita salah-salahkan ramai-ramai.


Persaingan berita buruk itu pun luar biasa, dan membuat narasumber berita buruk merasa gerah. Bambang Soesatyo, anggota Pansus dari Golkar yang pernah jadi wartawan, misalnya, curiga jangan-jangan temuan Satuan Tugas Makelar Kasus (ini nama tak resmi tapi populer) tentang “penjara mewah” itu hanya pengalihan dari isu Pansus Century. Artinya, Bambang berharap berita buruk dari Pansus Century tetap menjadi berita utama negeri ini, jangan direcoki berita buruk lainnya. Kecurigaan ini menuai sindiran, apakah gempa di Haiti, penculikan bayi, korban mutilasi Babe, juga pengalihan dari isu Pansus Century? Belakangan muncul “sindiran balik”, yakni pembobolan di anjungan tunai mandiri (ATM) sesungguhnya sudah terjadi sejak dulu dan berdampak “sistemik”, cuma berita itu menghilang karena berhasil dialihkan oleh isu Pansus Century. Anda boleh tertawa atau mengelus dada, inilah risiko sebuah negeri yang menempatkan berita buruk sebagai berita utama.

Presiden SBY pun kerap terpancing, beliau menyebutkan: itu berita fitnah, itu mengadu domba, itu politik kotor, itu memprihatinkan. SBY ibarat menari dalam gendang orang lain. Mungkin lebih bijak jika yang “menari” itu bawahan SBY, sementara beliau berfokus pada pekerjaan utama bagaimana menyuguhkan yang terbaik untuk negeri ini.

Yang lebih bijak lagi “anak-anak bangsa” (sudah lama saya tak dengar istilah ini), bagaimana menyuguhkan berita buruk dalam sudut pandang (angle) yang baik. Pansus Century bukan untuk menyalah-nyalahkan, melainkan mengetahui di mana kekurangan kita dalam mengelola keuangan negara. Penculikan bayi bisa jadi berita baik tentang bagaimana kita belajar menjaga persalinan di puskesmas dan rumah sakit. Pembobolan ATM, kenapa harus memberi angle yang membuat nasabah panik, kenapa tidak menebarkan kebaikan kepada nasabah dengan memberitahukan apa yang harus diwaspadai? Bukankah bertebarannya ATM sampai ke luar kota, dari sudut pandang lain, adalah simbol kesejahteraan masyarakat?


Berita buruk bisa kita pandang dari sisi baiknya--kalau kita mau--tanpa harus menutupi keburukan itu. Jangan beri predikat tanah air ini sebagai “negeri terburuk”. Right or wrong is my country. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mencintai negeri ini?


Oleh Putu Setia

Koran Tempo, 24 Januari 2010

Minggu, 06 Desember 2009

Gemuruh Century

Mendadak saya dipanggil Romo Imam ke pedepokannya. Pasti penting. "Saya akan membentuk tim pemantau dan pengawas tim-tim yang memantau dan mengawasi kasus Bank Century. Nanak harus ikut," kata Romo Imam, yang memanggil saya dengan sebutan "nanak". Itu artinya putra spiritual.

"Maaf, Romo bicaranya belepotan, ini tim apa?" tanya saya. Romo tertawa: "Nama tim itu tak salah. Sekarang kan dibentuk bermacam-macam tim, ada yang menyebut dirinya Tim Pengawas Angket Century, ada Koalisi Pengawal Angket Century, ada Tim Penelusuran Talangan Century, dan banyak lagi. Juga ada Tim 9, yang menepuk dada sebagai inisiator angket Century. Nah, tim yang dibentuk Romo itu memantau dan mengawasi tim-tim ini. Kalau namanya seperti belepotan, ya, sebut saja tim sebelas."

"Kenapa tim sebelas?" tanya saya lagi. Romo menjawab: "Supaya lebih tinggi, kan sudah pernah ada Tim 8, lalu Tim 9. Tim 10 untuk cadangan, nah, Tim 11 tugasnya memantau semua tim yang nomornya lebih kecil."

Dalam hati saya tertawa. "Romo, boleh tahu, kok kita ikut-ikutan ribut soal ini?" Romo menjelaskan dengan serius: "Ini untuk pembelajaran demokrasi dan mencerdaskan rakyat. Yang bikin runyam mengusut Bank Century itu adalah banyaknya pemantau partikelir yang punya agenda terselubung. Ada yang agendanya menjadikan panggung ini sebagai proyek mendongkrak peringkat kepolitisiannya. Mereka anak-anak muda yang tak mau dikatakan menjadi politisi mendompleng ketenaran ayahnya, dan kini membuktikan mereka bisa berkiprah. Ini bagus dan wajar. Lalu ada anak muda di luar parlemen yang kerjanya memang begitu melulu, apa-apa dipermasalahkan dengan aksi, siapa pun yang memimpin negeri ini. Mereka ini tak mau masuk jalur formal, misalnya bergabung ke partai politik dengan alasan macam-macam, seperti partai itu tak sehat, nepotisme, dan sebagainya. Sejatinya, mereka ini memang tak akan mampu meraup konstituen untuk bisa lolos jadi wakil rakyat. Jadi, bermimpilah tentang jalan pintas. Mereka mengira, pengerahan sepuluh ribu orang sudah bisa mewakili aspirasi seluruh rakyat. Padahal untuk menjadi wakil rakyat di kabupaten saja sudah harus mendapat suara 30 ribuan."

Saya diam, takut mengganggu Romo. "Yang unik, tokoh sepuh dan tokoh yang sudah jelas tak dikehendaki oleh rakyat untuk memimpin negeri ini, buktinya kalah pada pemilihan umum, masih juga bermimpi untuk tampil di panggung kekuasaan dengan cara-cara pintas. Dalam kasus Bank Century ini mereka mendesak supaya kasus itu diusut tuntas seolah-olah memberi kesan ada orang yang tak mau kasus ini diusut tuntas. Ini kan tak mendidik, wong Presiden sudah lebih dulu bilang, usut secara terbuka dan tuntas."

Saya terpaksa menyela, supaya Romo agak turun tensinya: "Maaf beribu maaf, Romo. Tampaknya Romo kurang setuju angket Century atau kasus ini dibuka atau...."

"Stop," Romo berteriak. "Nanak selalu curiga, itulah bahayanya menonton acara debat ala televisi. Romo seribu persen setuju kasus Century dibuka. Tapi jangan dengan gemuruh seperti ini, suaranya keras padahal belum bekerja. Parlemen, silakan buat angket. Kepolisian, kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi, silakan bekerja. Jika ditemukan ada yang salah, proses secara hukum. Sekarang ini belum bekerja sudah memvonis, ini pembodohan untuk rakyat. Hentikan memanipulasi suara rakyat. Katakan ada sejuta orang ke jalan, itu kan baru 0,5 persen penduduk Indonesia. Yang 99,5 persen itu ingin tenang bekerja, tapi korupsi tetap diberantas supaya mereka lebih sejahtera."

***

Oleh Putu Setia

Koran Tempo, 6 Desember 2009

Selasa, 01 Desember 2009

APREASIASI TEATER “UMANG-UMANG”

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi,” begitu penggalan puisi karya penyair penomenal, Chairil Anwar. Di tengah penyakit yang menderanya Chairil berharap bisa hidup seribu tahun lagi, dan mungkin sebagian orang pun demikian, ingin berumur pangjang bahkan mungkin ingin hidup abadi, karena bagi sebagaian orang kehidupan abadi itu menyenangkan. Atau mungkin karena kebanyakan orang takut mati sehingga mereka berharap dapat hidup abadi. Padahal mau tidak mau kematian itu pasti datang, karena tidak satu pun makhluk bernyawa bisa menghindar dari kamatian.

Akan tetapi bagi Waska, Ronggo dan Borok hal itu justru sebaliknya. Mereka menjungkirbalikan pandangan tersebut. Keabadian itu tidak menyenangkan, keabadian itu sebuah siksaan, kematian bagi mereka adalah jalan keluar dari sebuah siksaan menuju ketenangan, sehingga berkali-kali mereka mencoba bunuh diri, tetapi selalu gagal. Akhirnya mereka pun hidup dalam kebosanan yang luar biasa menyiksa. Kebosanan dan kesepian yang lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Begitu mengerikan dan terjadi berulang-ulang tanpa akhir.

Paragraf di atas adalah gambaran sebagian pesan yang disampaikan dari pementasan teater berjudul “umang-umang,” yang disutradarai oleh Dedi Warsana. Teter ini dipentaskan Senin 20, 21 November 2009, di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dan rencananya akan dipentaskan juga di Gedung Dewan Kesenian Cianjur (GDKC) 5, 6 Desember 2009.

Ketegangan, kekalutan, kebengisan, keserakahan dan kelucuan berbaur menjadi satu dalam teater ini. Ketika ketegangan memuncak humor segar dilontarkan, dan kadang sebaliknya, ketika penonton larut dalam oleh humor yang disajikan, ketegangan tiba-tiba dipercikan oleh tokoh Waska yang kejam, tegas, penuh kebecian dan ambisius, tetapi kadang berubah menjadi begitu lucu, menjelma ke dalam sosok lain, yakni Semar. Waska digambarkan mempunyai dua keperibadian: sebagai pemimpin gerombolan perampok, dan sebagai Semar, tokoh lucu yang memberikan deskrifsi jalannya cerita yang kadang berisi kritikan atas keadaan sosial, dan menariknya, tokoh Semar kerap berinteraksi langsung dengan penonton.

Teater ini sendiri sarat akan balutan humor, musik dan gerakan tari yang esentrik, meski menceritakan kehidupan para perampok. Ironisnya, para perampok ini begitu menyayangi dan mengagumi Waska, pemimpin gerombolan perampok dalam cerita ini. Bahkan tak hanya para perampok, beberapa kaum marjinal pun menyanginya seperti tukang jamu, anak-anak jalanan. Waska sudah dianggap sebagai ayah mereka mereka sendiri.

Kepiawaian Arifin C Noor dalam menggarap naskah patut diacungi jempol. Pasalnya, karakter Waska sebagai pemimpin geromobalan perampok yang ambisius dan tangguh tergambar dengan kuat. Hal itu dapat terlihat ketika Waska berjuang dengan gigih melawan penyakitnya yang sangat parah, hingga ia sekarat, tetapi ia tetap tidak mau menyerah dengan penyakitnya. Waska tak ingin mati sebelum ambisinya tercapai, yakni merampok toko-toko, pabrik-pabrik, bank atau apapun yang bisa dirampok. Waska ingin menciptakan benih-benih penerusnya dan menebarkan kejahatan ke tiap sudut kota.

Berkat jerih payah anak buahnya yakni, Ronggo dan Borok, Waska berhasil selamat dari kematian, karena mereka berhasil mendapatkan ramuan ajaib dari orang pintar yakni “jamu dadar bayi.” Salah-satu bahan Ramuan ajaib ini adalah daging bayi. Ronggo dan Borok memperoh bahan ramuan tersebut dengan menggali kuburan bayi yang baru meninggal dunia.

Walhasil ambisi Waska pun tercapai. Bahkan Waska, Ronggo dan Borok akhirnya hidup abadi. Waska beserta anak buanya berhasil merampok apapun, lagi dan lagi tanpa henti. Namun lamban laun ia dan anak buahnya mulai letih dan akhirnya hingga satu persatu anak buahnya mati, hanya tinggal ia, Ronggo dan Borok. Bertahun-tahun lamanya mereka hidup dalam kesepian dan kobosanan yang menggerogoti sampai mereka pun mencoba bunuh diri, tetapi selalu gagal. Mereka bersedih kenapa tak mati-mati.

Suatu hari tanpa sengaja melihat anak-anak buah mereka yang telah mati. Namun mereka ternyata telah menjadi arwah. Baru kemudian mereka benar-benar mendapati sosok nyata anak-anak buah mereka. Akan tetapi, ternyata sosok-sosok itu bukanlah anak-anak buah mereka, melainkan sosok anak-anak dan cucu-cucu dari anak-anak buah mereka yang telah mati

Rasa letih, bosan dan kesepian akhirnya dapat sedikit bisa terobati ketika rasa ngantuk menghinggapi. Bagi mereka ngantuk adalah anugerah yang tak terkira. Entah berapa tahun lamanya mereka tidak pernah tidur. Oleh karenanya, mereka merasa sangat senang ketika mulai mengantuk dan mereka pun kemudian tertidur. Suasana pun menjadi hening, sampai akhirnya keheninagan berubah menjadi kegaduhan kala mereka terbangun dari tidurnya.

Bersama anak-anak buah yang baru Waska, Ronggo dan Borok Kemudian merampok lagi, lagi, lagi dan lagi sampai mereka letih. Begitu seterusnya, selalu berulang lagi tiada pernah berhenti. Kebosanan yang abadi.
***

Oleh pemilik blog ini

Senin, 30 November 2009

'Tancep Kayon'

Bagi yang gemar menonton pertunjukan wayang kulit, ada istilah tancep kayon. Arti sebenarnya adalah menancapkan kayon, yaitu wayang yang merupakan simbol gunungan. Makna simbolisnya adalah perpindahan adegan, misalnya, dari kisah para kesatria Pandawa menjadi kisah para Kurawa. Tapi tancep kayon juga bisa bermakna pertunjukan selesai. Penonton pulang dengan kesannya masing-masing.

Karena wayang adalah gambaran "bhuwana alit" atau dunia yang kecil, dalam "bhuwana agung" atau kisah keseharian umat manusia, begitu banyak ada kisah yang silih berganti. Tapi intinya tetap perang antara kebenaran dan ketidakbenaran. Lakon Komisi Pemberantasan Korupsi versus Polisi dan Kejaksaan hanya satu contoh. Tokohnya banyak, yang mendompleng ingin jadi tokoh juga banyak. Di satu sisi ada Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah. Di seberangnya ada Kapolri, Kabareskim, Jaksa Agung. Lalu di antara dua sisi itu ada Buyung Nasution dengan Tim 8, ada Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md., dan masih banyak pendekar lainnya, baik yang terang-terangan memihak salah satu maupun sembunyi-sembunyi.

Tiba-tiba tancep kayon, setidaknya diniatkan begitu. Lalu siapa yang benar dan salah? Tak ada. Selain ini kecanggihan Ki Dalang, tradisi pergelaran memang demikian. Penonton dibiarkan "pulang" dengan pikiran mengambang, tergantung bagaimana dia melihat pertunjukan itu. Bibit dan Chandra boleh merasa menang karena perkara mereka sudah pasti tak ke pengadilan. Polisi juga merasa menang karena berhasil menyusun berkas penyidikan dan diserahkan ke institusi penuntutan tanpa ada yang kurang. Kejaksaan juga menang karena berhasil mendapatkan berkas penuntutan yang bukti-buktinya lengkap. Bahwa prosesnya tak ke pengadilan, Kejaksaan tentu bisa berkata dengan sombong: "Bukti cukup dan lengkap, tapi ada arahan agar kami tak meneruskan ke pengadilan. Bukan salah kami."

Jadi kasus KPK versus Polisi dan Jaksa--seperti pergelaran wayang kulit--berakhir di awang-awang. Penonton yang kritis--karena itu jarang ada orang kritis nonton wayang kulit--yang ingin ada kemenangan dan kekalahan mutlak akan kecewa berat. Kayon sudah ditancapkan.

Tapi pertunjukan dengan kisah yang lain pasti akan menyusul karena begitulah dunia wayang. Sebentar lagi akan muncul lakon Bank Century. Jika lakon KPK versus Polisi dan Jaksa menguras energi penonton tiga bulan--kita hitung dari dipanggilnya pimpinan KPK oleh polisi--kasus Bank Century bisa lebih lama. Tokohnya orang terkenal, Boediono yang kini wakil presiden dan Sri Mulyani yang Menteri Keuangan. Di seberang ada Panitia Angket DPR, orang-orang yang sedang mencari panggung. Di tengah-tengah--memihak ataupun mengaku netral--ada Badan Pemeriksa Keuangan, pengamat perbankan, pemilik dan nasabah bank, dan masih banyak lagi. Ini jadi pertunjukan menarik karena pasti penuh dengan dinamika--kata sederhananya: serang-menyerang. Tak mustahil, dengan alasan demi ketertiban masyarakat, kasusnya akan ditutup dengan gaya pergelaran wayang kulit, tancep kayon.

Orang yang tak suka wayang kulit sulit sekali menerima kenyataan kenapa tontonan itu harus dipelototi semalam suntuk, begitu lamban. Persis dengan lakon di dunia nyata, penyelesaiannya amat lamban. Kita kehilangan banyak waktu. Kalau satu kasus diselesaikan tiga bulan--dengan hasil tak jelas pula--dalam 60 bulan, pemerintah hanya mengurusi 20 kasus.

Ke mana kita harus berguru masalah ketegasan, kecepatan, dan kepastian? Kita punya banyak teater tradisional, tak cuma gaya pergelaran wayang kulit.
***


Oleh Putu Setia


Koran Tempo, Minggu, 29 November 2009

Senin, 23 November 2009

Sastra Anak Solusi Bahasa Televisi

“Apalah daya,” mungkin itu alasan sejumlah orang tua, saat tidak mampu sepenuh waktu mengawasi tontonan anaknya yang kerap tidak mendidik. Sehingga anak cenderung berprilaku tidak sopan, baik dalam perbuatan maupun ucapan. Memang pada realitanya, sejumlah orang tua menghadapi dilema, misal mereka yang kedua-keduanya pekerja. Paling-paling pada malam atau hari libur hari saja ada waktu di rumah, sehingga sulit mengawasi tontonan anaknya. Akan tetapi, bukan menjadi alasan orang tua tidak bisa mendidik anak dengan baik.

Benarkah perilaku anak dipengaruh oleh tontonan yang anak lihat? Baca sajalah kutipan dibawah ini. Saya sebenarnya ngeri kalau membacanya.

Hasil penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak pada tahun 2006, televisi menjadi santapan anak-anak selama 3,5 jam sampai 5 jam per hari. Media audio visual itu bebas merasuki pikiran manusia lewat tayangan-tayangannya yang kurang secara kualitas. Anak-anak usia dini mahir mengucapkan kata-kata yang tidak pantas (tidak sopan untuk diucapkan).

Itu tahun 2006 apalagi sekarang? dan itu baru dari segi ucapan, belum lagi dalam segi perilaku. Seperti anak usia dini melakukan tindak kekerasan. Memang, tidak semuanya disebabkan dari televisi. Akan tetapi televisi juga berperan dalam hal ini, terutama dalam hal bahasa anak. Sangat disayangkan sejumlah bahasa televisi yang sebenarnya tidak patut ternyata sudah dikuasai oleh anak. Oleh karenanya, saya tidak heran ketika prasa ini: “Kita! elo aja kali” meluncur dari bibir mungil seorang anak kecil. Akan tetapi, ya, tetap saja saya merasa miris. Kata-kata itu mungkin tidak terlalu “parah,” bahkan ada yang lebih teramat tidak sopan lagi. Namun tidak perlulah kiranya saya sebutkan.

Lalu solusinya bagaimana?

Saya bukan Kak Seto, tapi sedikit memberikan masukan tak apalah kiranya. Semoga saja berguna. Masa kanak-kanak adalah masa di mana anak akan menyerap apapun yang anak dapatkan, maka tak heran jika anak kerap meniru apapun yang ia peroleh. Hal itu alamiah, tidak hanya bahasa, tapi juga perilaku atau tindakan. Oleh karenanya, berikanlah masukan-masukan yang positif. Dalam hal ini seperti apa? Silakan baca paparan di bawah ini.

Bagi orang tua yang merasa memenuhi “kriteria” pada pembahasan awal di atas, usahakan untuk terus mengajak berkomunikasi anak. Ya, meski Anda pekerja, bukan berarti tidak ada waktu sama sekali kan? Minimal malam hari, sebelum tidur atau hari libur. Ajak anak bercerita tentang hari-hari yang telah dilaluinya. Di saat bercerita itulah kita bisa “memperbaiki” bahasa anak. Tentu dengan penuh perhatian, jangan sampai teguran kita terkesan terlalu mengoreksi, nanti anak malah malas bercerita. Dengan seringnya Anda berkominikasi, paling tidak Anda sudah memberikan contoh berbahasa yang baik bagi anak. Di samping itu dengan bercerita anak belajar merekonstruksi apa yang ia alami. Hal ini dapat mengasah daya ingat anak.

“Dongeng sebelum tidur, “ ada baiknya jika tidak hanya menjadi syair sebuah lagu. Ini juga tak kalah penting. Bacakan dongeng pada anak sebelum tidur. Kenapa? Bahasa dalam dongeng umumnya bahasa yang baik, dalam arti sopan. Secara tidak langsung kita mengajarkan kesopanan dalam cara bertutur pada anak, Plus nilai-nilai pendidikan lain yang terkandung dalam cerita dongeng sendiri. Di samping itu nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam dongeng akan menjadi sugesti yang positif bagi anak. Seperti apa kata Romi Rafael, jika kita mendapatkan sugesti yang positif sebelum tidur, maka ketika bangun pikiran kita akan terbuka ke arah yang positif. Bukan bermaksud meminta untuk menghipnotis anak Anda, tetapi memberikan sugesti yang baik, nilai-nilai yang positif.

Akan labih baik lagi jika Anda dapat membimbing anak untuk senang menulis. Bagaimana caranya? Sekarang sedang marak istilah “sastra anak,” yakni bacaan-bacaan sastra yang dikhusukan untuk anak? Akh, itukan hanya bacaannya, tetap saja menulis karya sastra itu sulit. Apa anak saya bisa? Jika Anda berpikir demikian, maka coba pikir ulang lagi. Bahkan ada anak yang berusia delapan tahun sudah dapat membuat novel, hebat kan? Bagaimana bisa? Ya bisa. Karya sastra adalah karya yang sangat membutuhkan imajinasi. “Ini modal penting.” Bukankah masa kecil adalah masa yang paling penuh dengan imajinasi? Mobil-mobilan saja dalam imajinasi anak dapat dibuat terbang atau berubah menjadi pesawat terbang. Bahkan anak kadang berimajinasi bisa terbang. Padahal mungkin anak sendiri tidak sadar kalau sedang berimajinasi. Ternyata sejak kecil kita telah memiliki modal penting untuk menulis, “yakni imajinasi.” Luar biasa kan? Jadi menurut saya sangat tepat jika kita mengajarkan anak untuk menulis. Tentu siapa sih yang tidak ingin anaknya seperti yang saya sebutkan di atas, maka mulailah mengajarkan anak untuk menorehkan imajinasinya ke dalam bentuk tulisan.

Penulis manapun pasti terpengaruh penulis-penulis lainnya. Maksudnya, secara tidak langsung pasti ada gaya atau ide-ide, yang memengaruhi penulis dari apa yang ia baca. Relevansinya apa? Umumnya bahasa dalam karya sastra adalah bahasa yang baik. Ketika anak senang membaca karya sastra, maka saat anak menulis, anak akan terpangaruh untuk menulis dan bertutur dengan bahasa yang baik. Siapa tahu juga anak Anda bisa menjadi penulis cilik yang berbakat. Kiranya begitu!

***

Oleh pemilik blog ini

Kiamat

Sembilan dari sepuluh orang yang saya wawancarai mengatakan bahwa kiamat itu pasti terjadi. Ini masalah keyakinan. Seorang tak mau menjawab dan menuduh saya mengalihkan perhatian dari isu Bibit dan Chandra, yang kini memasuki masa paling sulit bagi Presiden Yudhoyono.

Sembilan dari sepuluh orang itu juga menyebutkan bahwa kiamat menjadi rahasia Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu kapan terjadinya. "Bagaimana kalau terjadinya besok?" tanya saya. Hampir serempak mereka menjawab: "Jangan Senin besok, kita ingin lihat keputusan apa yang diambil Presiden pada kasus Bibit dan Candra." Bagaimana kalau 2011? Seseorang menjawab: "Jangan, tahun depan saya ikut pilkada. Kalau saya jadi bupati, kan cuma setahun menjabat, tak balik modal kampanye saya." Bagaimana kalau kiamat itu terjadi 21 Desember 2012? "Ah, itu takhayul," kata mereka serempak. "Itu kan versi film yang sudah tak dipercayai oleh para ulama kita."

Katanya yakin kiamat pasti datang. Katanya rahasia Tuhan yang bisa terjadi kapan saja. Tapi kok mau mengatur sendiri, kapan kiamat itu tidak boleh?

Saya tanya lagi: "Apa yang Anda lakukan seandainya kiamat itu sudah dekat?" Pertanyaan ini tentu konyol. Itu berarti saya pun terjebak pada "ramalan", padahal kiamat kan rahasia Tuhan. Tapi, karena mereka mau menjawab, ya, kita dengarkan saja.

"Saya mau terbang ke berbagai tempat, ganti pesawat setiap turun di bandara, siapa tahu pas di atas awan kiamat datang, kan saya bisa lihat dari atas," kata seseorang. "Saya mau beli HP yang bisa untuk Facebook sebanyak-banyaknya, saya kasih teman-teman saya, agar ia segera mengomentari status saya kalau kiamat datang," kata yang lain. Yang satu lagi, lelaki bertato, menjawab agak lama: "Rasanya ingin memperkosa penyanyi dangdut, kan tak masuk penjara, wong kiamat...."

"Stop," teriak saya. Meskipun ini bukan mewakili 200 juta penduduk negeri, saya semakin yakin bangsa ini sudah tak lagi religius, tapi konsumtif. Para pemuka agama acap kali berseru, "Hai umat manusia, berbuatlah saleh dan kebajikan, seolah-olah esok adalah hari akhir, hari kiamat." Kematian itu, kata pemuka agama, harus kita persiapkan. Matilah di jalan Tuhan, matilah pada saat kita sudah melaksanakan segala amal saleh dan melaksanakan semua perintah-Nya.

Dongeng tentang kiamat--termasuk film--estinya menjadi cambuk buat kita agar berlaku saleh dan beramal baik. Imajinasi tentang "hari akhir" berkembang sesuai dengan tingkat pengetahuan. Masyarakat pedesaan di masa lalu melukiskan datangnya kiamat dengan pertunjukan seni yang memukau, misalnya, adegan gunung meletus, laharnya melanda umat manusia. Orang-orang saleh disambar bidadari, diterbangkan ke atas, sehingga tak merasakan pedihnya lahar panas seperti yang dialami orang-orang durjana. Mereka tak melahirkan imajinasi tentang meteor karena tak pernah baca kisah itu.

Kini, di zaman modern, kiamat divisualkan dengan benturan berbagai benda planet yang menimbulkan gempa, tsunami, puting beliung, dan sejenisnya. Bumi porak-poranda, tak ada bidadari karena orang modern tak kenal Ken Subadra, Ken Sulasih, dan bidadari lainnya.

Di masa lalu, ketika tempat ibadah sedikit tapi umat religius, setiap orang seperti diajak berlomba dalam kebajikan begitu kelar menonton "drama" tentang kiamat. Orang berseru: "Ya Tuhan, ampuni hamba, jauhkan hamba dari dosa sebelum hari itu tiba." Kini, ketika rekaan datangnya kiamat difilmkan, orang berlomba bilang: jangan percaya. Tapi filmnya laris dan yang menonton pun tetap mengunyah popcorn. Kiamat cuma jadi hiburan.

***

Oleh Putu Setia


Koran Tempo, 21 November 2009

Rekayasa

Pada penutupan "Bulan Bahasa" kemarin, saya didapuk untuk memberi ceramah tentang bahasa Indonesia di hadapan pelajar sekolah menengah. Saya meminta para pelajar menentukan sendiri tema apa yang akan didiskusikan. "Saya ingin dibahas kata 'rekayasa'. Alasannya, kata itu ada unsur positif dan negatifnya," kata seorang siswa.

"Benar," jawab saya. "Menurut kamus, berkaitan dengan ilmu, rekayasa ada positifnya. Misalnya rekayasa genetika, rekayasa historis. Yang negatif, rekayasa berarti rencana jahat atau persekongkolan untuk merugikan pihak lain. Ingat, ada unsur jahat dan persekongkolan. Ada yang bisa memberi contoh kalimat?"

Seorang siswi mengangkat tangan: "Dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi tersangka karena rekayasa."

Saya tanya: "Di mana unsur jahat dan persekongkolannya?" Anak itu menjelaskan: "Awalnya pimpinan polisi merasa tersinggung oleh sebuah kasus, ini kejahatannya. Persekongkolannya, kan polisi jadi penyidik dan jaksa jadi penuntut, dua lembaga ini dikenal bersaing dengan Komisi dalam tugas memberantas korupsi."

"Coba contoh lain, saya takut kalimat seperti itu," kata saya. Seorang anak mengacungkan tangan dan berkata: "Polisi merekayasa undang-undang tentang KPK untuk melemahkan Komisi."

"Di mana unsur jahatnya?" tanya saya. Anak itu menjawab: "Dalam undang-undang disebutkan, pimpinan Komisi bisa diberhentikan hanya ketika ia menjadi tersangka. Ini aneh, padahal tersangka belum tentu bersalah, kan ada praduga tak bersalah. Lagi pula status tersangka itu kan mudah amat. Seorang pimpinan Komisi bisa saja dilaporkan mencopet. Ada bukti atau tidak, polisi bisa menyidiknya dan dijadikanlah dia tersangka. Perkara nanti bebas di pengadilan, itu kan butuh waktu lama, apalagi kalau diulur-ulur. Yang penting sudah jadi tersangka, sudah diberhentikan, sudah ada pimpinan penggantinya."

Saya memotong: "Di mana unsur persekongkolannya?" Anak itu menjawab: "Siapa tahu DPR sengaja membuat pasal ini agar polisi bisa merekayasanya untuk melemahkan kerja pesaingnya. Moga-moga hakim konstitusi memberangus pasal ini."

Saya tersenyum. "Itu terlalu jauh, bisa jadi DPR kurang awas, lalu polisi memanfaatkan celahnya," kata saya. "Coba contoh yang lain, jangan menyangkut polisi, saya takut dijadikan tersangka dan ditahan."

"Ini kan negara hukum, kenapa takut kalau tak bersalah?" celetuk seorang anak. "Betul," kata saya. "Seperti yang dikatakan Pak Presiden, hormati proses hukum. Masalahnya, hukum versi siapa. Polisi punya versi sendiri, instansi lain punya versi lain lagi. Muaranya memang pengadilan, tapi jalan ke sana kan melalui sel tahanan. Ingat anak-anak, ini ceramah bahasa, bukan ceramah politik, cari kalimat yang lain."

Seorang anak berseru: "Jabatan wakil menteri hanya rekayasa." Saya jawab: "Kalimat yang bagus, tapi apa ada kebenaran dalam kalimat itu?"

"Ya dong, Pak," kata anak itu. "Menteri kan jatah partai dan pertemanan, sulit mendapatkan orang yang pas untuk jabatan yang pasti. Maka diadakan wakil menteri, dia inilah the real minister. Unsur jahatnya, uang rakyat makin terkuras untuk gaji yang tak perlu kalau saja sejak awal menteri itu orang yang pas."

"Wah, ini politik lagi, cari kalimat yang lain," kata saya. Seorang siswi minta izin bicara. "Bapak merekayasa ceramah ini," katanya.

Saya tersinggung: "Kamu ngaco, mana unsur jahatnya?" Anak itu kalem menjawab: "Tampaknya Bapak mencari ide untuk tulisan Cari Angin lewat ceramah ini. Ini kan kepentingan pribadi, ini kejahatan moral. Hentikan rekayasa itu."

***
Oleh Putu Setia
Koran Tempo, Minggu, 01 November 2009