Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2009

PRAGMATIK

Apa itu pragmatik? dan pentingkah pragmatik itu?

Setiap teori (penemuan) dalam bidang apapun selalu mengalami perkembangan, tidak terkecuali dalam bidang bahasa. Pragmatik adalah kelanjutan dari teori bahasa sebelumnya (teori struktural). Teori ini lahir karena ketidakpuasan para ahli bahasa terhadap teori struktural. Kenapa? Teori struktural dinilai tidak dapat menjawab permasalahan yang ada. Kenapa? Break sebentar...! Apakah tulisan ini menurut Anda terlalu banyak kata “kenapa”? Memang ini disengaja, agar kita terus bertanya dan tidak cepat percaya tanpa mencerna dengan sejelas-jelasnya.

Bagi yang belum tahu apa itu teori “struktural” mungkin dalam hal ini struktural bisa dikatakan “aturan bahasa atau struktur bahasa,” teori struktural ada sebelum pragmatik lahir, dedengkot teori ini bernama Ferdinand de Saussure. Kembali lagi ke topik, intinya adalah kajian secara struktural mempunyai keterbatasan untuk menjelaskan permasalahan bahasa. Misal, kalimat di bawah ini jika di kaji dengan teori struktural:

1) Jam berapa sekarang?

Menurut Anda apakah seseorang yang menuturkan kalimat tersebut bermaksud menanyakan waktu? Ya, jika menggunakan analisis struktual, karena struktural hanya menganilisis berdasarkan teks (apa yang ada di dalam teks/makna teks). Akan tetapi, jika analisisnya pragmatik kalimat di atas belum tentu bermaksud menanyakan waktu, artinya bisa ya bisa tidak. Pragamatik tidak hanya menganalisis berdasarkan teks, tetapi juga konteks (apa yang ada di luar teks). Bisa saja kalimat itu sebuah sindiran atau teguran, bahkan larangan dari si penutur. Misalnya saja kalimat tersebut dilontarkan seorang dosen kepada mahasiswanya yang terlambat mengikuti kuliah. Kalimat tersebut bisa saja bermaksud menegur mahasiswa tersebut secara tidak langsung karena sudah terlambat lebih dari satu jam misalnya.

2) Hari ini kita lakukan operasi.

Kajian secara struktural hanya dapat menjelaskan mana subjek, predikat objek dan sebagainya. Hari ini = keterangan waktu, kita= subjek, melakukan= predikat, operasi = pelangkap. Jika dilihat dari segi makna, tak lebih dari seseorang yang ingin melakukan tindakan (operasi). Operasi apa? Struktural tidak sampai menelisik sampai ke sana.

Sebatas itu saja “mungkin” analisis struktural, saya katakan mungkin karena memang analisis struktural tidak hanya secara sintaksis saja, ada beberapa analisis lainnya. Akan tetapi, saya ambil salah satu pendekatannya saja. Kalimat di atas akan berbeda jika dikaji secara pragmatik. Pragmatik akan melibatkan konteks di luar teks itu sendiri, dalam hal ini adalah siapa penutur kalimat tersebut. Kalimat “operasi” ini siapa yang menuturkan. Apakah seorang dokter, prajurit, atau mungkin maling?

Jika yang menuturkannya dokter, maka kata operasi ini berarti melakukan bedah, amputasi atau sebagainya; Jika yang menuturkannya adalah seorang prajurit, maka bisa berarti penyerangan, penyergapan a; dan jika yang menuturkannya adalah seorang maling, maka bisa berarti tindakan pencurian atau perampokan dan sebagainya, pokoknya yang berhubungan dengan tindak kriminal-lah kiranya.

3) Bola biliar mencium Juned.

Jika dianalisis secara struktural hasilnya begini: Bola biliar= subjek, mencium= predikat, Juned = objek. Kalimat ini tidak berterima jika dianalisis secara struktural, karena ciri distingtif (ciri pembeda) subjek tidak boleh (-) artinya subjek tidak boleh berupa benda mati, yang benar adalah Juned mencium bola biliar. Kalimat contoh (3) di atas pun terdengar tidak logis jika tidak melibatkan konteks, bagaimana mungkin bola mencium seseorang.

Akan tetapi dalam pragmatik kalimat di atas bisa berterima. Jika konteks kalimat di atas begini: teman Juned menyodok bola biliar terlalu keras, atau terkena bagian bawah bola biliar, kemudaian bola terpental ke muka Juned, dan mengakibatkan muka Juned menjadi lebam , maka teman Juned yang satunya lagi ketika bercerita kepada temannya yang lain mengatakan kalau bola biliar mencium Juned. Bisa jadi itu sebuah ejekan kepada temannya Juned karena hal itu dinilai suatu tindakan yang memalukan (ketahuan amatirlah, mungkin begitu), atau mungkin ejekan kepada Juned yang sedang ketiban sial. Jadi kalimat ini berterima jika dikaji dengan pragmatik, karena pragmatik tidak mengkaji benar dan salah suatu tuturan, tetapi mengkaji maksud dari sebuah tuturan.

Lalu pentingkah pragmatik? Jawabannya relatif tergantung pendapat masing-masing, tetapi yang pasti apa yang kita tuturkan belum tentu sesuai dengan yang kita maksud. Hal ini bisa saja menimbulkan kesalahpahaman. Pragmatik mengkaji tidak hanya sebatas teks, tetapi konteks, dalam hal ini bukan hanya makna, tetapi maksud sebenarnya dari tuturan. Oleh karenanya, pragmatik mampu menjelaskan permasalahan bahasa secara utuh, dan menurut saya ini penting.

***
Oleh pemilik blog ini

Kamis, 26 Februari 2009

Bahasa dan Konteks Sosial

A. Keterkaitan bahasa dengan jenis kelamin (Gender)
Aspek pembeda kebahasaan yang tidak selalu ada dalam bahasa, yaitu jenis kelamin, akan dibicarakan dalam materi ini. Menurut penelitian memang ada sejumlah masyarakat tutur pria berbeda dengan tutur wanita.

Dalam penelitian-linguistik kadang-kadang wanita tidak dipakai sebagai informan karena alasan-alasan tertentu. Multamia dan Basuki (1989)mengutip beberapa pandangan para pakar dialektologi “tradisional” tentang wanita yang akan dijadikan informan. Berkaitan dengan pengambilan responden /informan , Kurath (1939:43) mengemukakan:
“…They should be male because in the Western nations women’s apeech tends to be more self-conscious and classconsious than men’s…” (… mereka, yaitu resonden, haruslah laki-laki karena dalam masyarakat barat tutur wanita itu cenderung lebih sadar-diri dan sadar-kelas dari pada tutur laki-laki…)

B. Hubungan bahasa dengan jenis kelamin
1. Gerak anggota badan dan ekspresi wajah
Perbedaan pria dan wanita itu mungkin tidak langsung menyangkut masalah bahasa atau strukturnya, melainkan hal-hal lain yang membarengi tutur. Hal-hal itu diantaranya gerak anggota badan (gesture) dan ekspresi wajah. Gesture adalah gerak anggota badan seperti kepala, tangan, jari yang menyertai tutur.
Sebagai contoh tutur masyarakat Indonesia. kalau orang bertutur dan menyetujui atau membenarkan ucapan atau pendapat orang lain yang di ajak bicara, orang itu akan mengatakan, “ya”, dibarengi dengan anggukan kepala.

Dalam hal ekspresi, di Indonesia wanita relatif lebih banyak “mempermainkan” bibir dan matanya dibandingkan dengan pria. Dalam bahasa Jawa ada sejumlah kata yang berkisar pada “permainan” mata atau bibir itu, yang mencerminkan ekspresi wajah dan banyak dikenakan pada wanita dari pada pria. Misalnya kalau jengkel, tidak berkenan, tersinggung, matanya akan mleruk (Jawa) atau mlerok (Jawa), sedangkan pria akan melotot

2. Suara dan intonasi
Banyak orang mengenal suara wanita dan pria karena secara umum bisa dikatakan volume suara pria relative lebih besar dari pada wanita. Dalam dunia seni suara kita kenal golongan suara pria dan wanita. Pada wanita misalnya ada suara alto dan sopran, pada pria ada suara tenor dam bas. Semua ini tentu berhubungan dengan organ-organ tubuh penghasil suara yang sedikit banyak berbeda pada pria dan wanita.

Kita bisa melihat dalam intonasi, misalnya intonasi “memanjang”pada bagian akhir kalimat lebih banyak pada wanita. Dalam bahasa Indonesia kita kenal istilah “suara manja” yang khas pada wanita, atau aleman dalam bahasa Jawa, atau manying dalam bahasa Bali. Dalam dunia pewayangan kita mengenal gaya bicara Srikandi yang kenes dalam istilah Jawa (dengan intonasi turun naik cepat dan nyaring) di samping gaya bicara Sembadra yang lembut dan lambat.

3. Fenom sebagai ciri pembeda
Vocal pada tutur wanita, dalam banyak logat atau ragam bahasa Inggris Amerika, telah ditemukan posisinya lebih “meminggir” atau “menepi” (lebih ke depad, ke belakang, lebih tinggi, atau lebih rendah) dibandingkan dengan vokal pria.

Ada dua fonem yang khusus untuk pria dan untuk wanita dalam bahasa Yukaghir, Asia Timur Laut. Keduanya dilafalkan sama oleh anak-anak. Lafal kanak-kanak ini sama dengan lafal yang dipakai oleh wanita dewasa dan berbeda pada wanita usia tua. Lafal pria dewasa berbeda dengan lafal pada waktu kanak-kanak mereka, dan berbeda pula ketika mereka sudah tua.
Perkembangan ini dapat diskemakan sebagai berikut:
Kanak-kanak Dewasa Tua
P : /tz/ , /dz/ /tj/ , /dj/ /cj/ , /jj/
W : /tz/ , /dz/ /tz/ , /dz/ /cj/ , /jj/

Tampak sekali pada gambar, bahwa wanita hanya sekali wajib mengubah lafalnya, yaitu dari masa dewasa ke masa usia tua, dan pria mengalami dua kali perubahan lafal fonem sepanjang peralihan itu.


C. Ragam Bahasa Waria dan ”Gay”
Waria (singkatan dari wanita-pria) atau wadam (wanita adam atau Hawa-Adam) merujuk kepada orang yang secara biologis atau fisik berkelamin laki-laki tetapi berpenampilan (berpakaian dan berdandan) serta berperilaku seperti atau mengidentifikasikan diri sebagai perempuan. Gay (homoseks atau homo) merujuk kepada laki-laki yang menyukai sesama laki-laki secara emosional-seksual. Berikut uraian Dede Oetomo tentang bahasa mereka, yang sebenarnya termasuk “bahasa rahasia”.

Dede Oetomo meneliti waria dan gay di Surabaya dan sekitarnya. Dede melihat waria biasanya merupakan kelas “bawah”, berasal dan beroperasi di kota kecil, sebagian “melacukan diri” di tempat-tempat tertentu dan sebagian lagi bekerja sebagai penata rambut dan sebagainya. Sesuai dengan kelas sosialnya, mereka lebih banyak ke bahasa jawa daripada bahasa indonesia. Bahasa mereka dapat ditinjau dari dua segi, yaitu (A) struktur pembentukan istilah dengan kaidah perubahan bunyi yang produktif dan teramalkan, dan (B) penciptaan istilah baru atau pemberian makna lain pada istilah umum yang sudah ada.

Pada unsur (A) ada dua jenis pokok yaitu (A1) yang berdasarkan kata bahasa Jawa, dan (A2) yang berdasarkan kata-kata bahasa Indonesia. Unsur (A2) dapat dibedakan menjadi dua pula, yaitu (A2a) jenis kata-katanya berakhir dengan –ong dan (A2b) jenis kata-katanya yang berakhir dengan –s. kaum waria umumnya memakai A1, sedangkan gay memakai A1 maupun A2. jenis B dipakai oleh keduanya
Contoh A1:
Banci  siban
Lanang ‘laki-laki’  silan
Payu ‘laku’  sipa
Wedok ‘perempuan’  siwet
Nyonya  sinyon
Kaidah:
ambil tiga bunyi pertama, konsonan (K) + vocal (V) + k
tambah si di depan
bunyi K-akhir disesuaikan dengan kaidah umum dalam bahasa Jawa: /y/ hilang, /ny/ menjadi /n/.
Contoh A2:
Banci  bencong
Homo  hemong
Maen ’bersetubuh’  meong
Kaidah:
ambil tiga bunyi pertama: atau dua, jika K2 tidak ada.
Tambahkan –ong di belakangnya.

D. Keterkaitan Bahasa dan Usia
Usia merupakan salah satu rintangan sosial yang membedakan kelompok-kelompok manusia. Satu hal yang membedakan dialek sosial kelas buruh, atau dialek regional.

a. Tutur Anak-Anak
Kita dapat mengetahui dri penelitian Roger Brown dan Ursula Bellugi, yang disusutkan atau dihilangkan adalah kata-kata yang termasuk golongan fungtor atau kata tugas, seperti kata depan, kata sumbang, partikel, dan sebagainya. Fungtor adalah kata-kata yang tidak mempunyai arti sendiri dan biasanya hanya mempunyai fungsi gramatikal dalam sintaksis.

Dilihat dari ciri universal dalam tutur anak-anak ditinjau dari segi fonologi. Misalnya bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh gerak membuka dan menutupnya bibir yang biasa disebut bunyi bilabial, merupakan bunyi-bunyi yang sangat umum dihasilkan oleh anak-anak pada awal ujarannya.

Kata-kata yang biasanya dilatih oleh orang tua kepad anak-anaknya, yaitu: mik atau mimik ‘minum’ , maem ‘makan’ , bubuk ‘tidur’ ,eek ‘buang air besar’ , pipis ‘buang air kecil’ , pung atau pakpung ‘mandi’.

b. Tutur Anak Usia SD
Tutur anak usia SD kebanyakan menggunakan bahasa ibu sendiri. Misalnya di Amerika anak-anak yang berbahasa-ibu bahasa Inggris diajar bahasa Inggris. Kebetulan anak ini berasal dari bahasa yang beragan bahasa baku, mereka tidak akan mengalami kesulitan. Tapi jika mereka berasal dari lingkungan nonbaku, mereka akan mengalami kesulitan.Dan yang kedua dengan menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa ibu.

Bahasa lain itu sebagai bahasa kedua (B2) atau bahasa Asing. Contohnya adalah anak-anak SD di Indonesia yang umumnya B1-nya bahasa daerah, kemudian memperoleh bahasa Indonesia, sebagai B2. pengajaran B2 ini yang menyebabkan munculnya kedwibahaswan muda.

c. Tutur Remaja
Masa remaja mempunyai ciri antara lain petualangan, pengelompokan (klik), ”kenakalan”. Ciri ini tercermin dalam bahasa Indonesia, atau yang sering terjadi mereka sering mengeluarkan bahasa ”rahasia” yang hanya berlaku pada keLompok mereka.
penyisipan konsonan V + vokal
Sebelum tahun 50 di kalangan remaja muncul kreasi menyisipkan konsonan v+vokal pada setiap kata yang dipakai. Vokal di belakang v itu sesuai dengan vokal suku kata yang disisipi. Konsonan v+vokal itu di tempatkan di belakang setiap suku kata , baik dalam bahasa daerah maupun BI.
Contoh:
mavatava (ma + va) + (ta +va) Mata = ma +ta
mavativi (ma +va) + (ti + vi ) Mati = ma + ti
mavatavang. (ma + va) + (ta +va + ng) Matang = ma + tang

penggantian suku akhir dengan –sye
Menjelang tahun 60 muncul bentuk lain, yang seluruh kata dalam kalimat diganti dengan cara ini dan diucapkan dengan cepat, maka seperti bahasa Cina.
Contoh:
kunsyekunci
tamsyetambah

membalik fenom-fenom dalam kata (ragam walikan)
Bahasa rahasia yang unik di kalngan remaja, disekitar tahun 1960 muncul di Malang, tetapi akhirnya juga meluas. Aturan umum dalam bahasa rahasia ini, dasarnya bisa bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Kata-kata ”dibaca” menurut urutan fonem daru belakang, dibaca terbalik (Jawa=walikan).
Contoh:
Mata  atam
Sari  iras
Tidak  kadit

Rabu, 25 Februari 2009

Sosiolinguistik

Sumbangan Sosiolinguistik Terhadap
Pengajaran Bahasa

A. Variabel dan pembelajaran Bahasa
Dalam proses belajar-mengajar bahasa ada sejumlah variabel, baik bersifat linguistik maupun yang bersifat nonlinguistik, yang dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar itu. Variabel-variabel itu bukan merupakan hal yang terlepas dan berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan hal yang saling berhubungan, berkaitan, sehingga merupakan satu jaringan sistem.

Keberhasilan belajar bahasa, yaitu yang disebut asas-asas belajar, yang dapat dikelompokkan menjadi asas-asas yang bersifat psikologis anak didik, dan yang bersifat materi linguistik. Asas-asas yang yang bersifat pskologis itu, antara lain adalah motivasi, pengalaman sendiri, keingintahuan, analisis sintesis dan pembedaan individual.

Motivasi lazim diartikan sebagai hal yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Maka untuk berhasilnya pengajaran bahasa, murid-murid sudah harus dibimbing agar memiliki dorongan untuk belajar. Jika mereka mempunyai dorongan untuk belajar. Tanpa adanya kemauan, tak mungkin tujuan belajar dapat dicapai. Jadi, sebelum proses belajar mengajar dimulai, atau sebelum berlanjut terlalu jauh, sudah seharusnya murid-murid diarahkan.

Pengalaman sendiri atau apa yang dialami sendiri akan lebih menarik dan berkesan daripada mengetahui dari orang, karena pengetahuan atau keterangan yang didapat dan dialami sendiri akan lebih baik daripada hanya mendengar keterangan guru.

Keingintahuan merupakan kodrat manusia yang dapat menyebabkan manusia itu menjadi maju. Pada anak-anak usia sekolah rasa keingintahuan itu sangat besar. Rasa keingintahuan ini dapat dikembangkan dengan memberi kesempatan bertanya dengan meneliti apa saja.

B. Tujuan pembelajaran bahasa
Banyak orang yang belajar bahasa dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang belajar hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan adapula yang belajar de dengan berbagai tujuan khusus.

Tujuan pendidikan bahasa itu harus dikaitkan dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan intitusional, lalu dikaitkan pula dengan status politis (nasional, daerah atau asing) bahasa yang dipelajari, dan kemudian dikaitkan pula dengan fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan. Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran bahasa dengan baik, maka tujuan itu harus pula dikaitkan dengan status atau kedudukan bahasa itu secara nasional. Di Indonesia ada tiga macam bahasa dengan status yang berbeda, yaitu
1. Bahasa Indonesia
2. Bahasa daerah
3. Bahasa asing

Status bahasa indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa resmi negara . jadi bahasa Indonesia adalah bahasa yang harus digunakan dalam situasi resmi kenegaraan, dan bahasa yang harus digunakan penutur intrabangsa. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia harus menjadi salah satu identitas secara nasional. Bahasa daerah yaitu bahasa ibu atau bahasa pertama bagi sebagian besar rakyat indonesia, adalah bahasa yang dapat digunakan dalam interaksi intra suku, baik dalam situasi resmi maupun tidak bersifat kedaerahan.

Faktor terakhir dalam menentukan tujuan pengajaran adalah fungsi-fungsi bahasa. Terutama adalah fungsi penalaran, fungsi interpersonal, dan fungsi kebudayaan. Yang dimaksud fungsi kebudayaan adalah bahwa bahasa itu dapat digunakan untuk berpikir secara baik. Yang dimaksud fungsi interpersonal, fungsi untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, yaitu anggota masyarakat disekitarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan fungsi kebudayaan adalah fungsi bahasa untuk menerima dan mengungkap kebudayaan, termasuk mengenai bidang keilmuan dan teknologi.

Meskipun banyak pakar lain yang mengemukakan adanya berbagai fungsi bahasa lainnya, kiranya fungsi penalaran, fungsi interpersonal, dan fungsi kebudayaan atau pendidikan inilah yang harus secara intensif diberikan kepada siswa. Dengan menguasai ketiga fungsi ini, maka fungsi-fungsi lain akan dapat diketahui dan dikuasainya.

Bahasa-bahasa daerah tidak ada yang menjadi bahasa nasional, tetapi kelestariannya dijamin di dalam undang-undang dasar 1945. Bahasa daerah dapat digunakan dalam komunikasi intrasuku, baik dalam percakapan sehari-hari, maupun percakapan resmi kedaerahan.

Dalam kebijaksanaan pendidikan nasional yang kini di anut adalah bahwa bahasa daerah boleh digunakan sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar dari kelas satu sampai dengan kelas tiga, agar penerimaan bahan dasar dapat diterima dengan baik oleh murid-murid. Disamping itu bahasa daerah juga bisa diajarkan sebagai pelajaran di daerah-daerah merasa perlu.

Bahasa asing di Indonesia mempunyai kedudukan sebagai bahasa yang perlu diketahui sebagai interaksi antar bangsa dan untuk menyerap ilmu dan teknologi yang banyak di tulis dalam bahasa asing. Oleh karena itu pendidikan atau pengajaran bahasa asing tidak perlu diberikan pada sekolah dasar.
Label: Linguistik 0 komentar

Jumat, 20 Februari 2009

Proses Morfologis Bahasa Indonesia

Morfologis adalah bagian dari kajian morfoligi, yakni ilmu yang mempelajari mengenai bentuk kaidah bahasa. Adapun proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari kesatuan yang lain yang merupakan bentuk dasarnya ( Ramlan: 1979). Bentuk dasar sendiri bisa berupa kata, seperti kata "berjalan" yang dibentuk dari kata "jalan, kata "menulis" dibentuk dari kata "tulis," "gedung-gedung" dari kata "gedung." Mungkin juga berupa pokok kata, atau istilah lainnya prakatagorial, misalnya kata "bertemu" dari pokok kata "temu," kata "mengalir" dari kata "alir;" mungkin berupa frase, misalnya frase "ketidakadilan" dibentuk dari frase tidak "adil."

Dalam bahasaIndonesia terdapat tiga proses morfologis, yaitu :
1. Proses pembubuhan afiks (afiksasi)
2. Proses pengulangan (reduplikasi)
3. Proses pemajemukan.

Disamping tiga proses morfologis diatas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disebut dengan proses perubaan zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, yakni kata yang termasuk golongan kata verbal transitip, seperti : makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya adalah kata verbal transitif (kata verbal yang dapat diikuti oleh objek dan dapat diubah menjadi kata verbal pasif). Misalnya:
Membeli => dibeli
Memperbaiki => diperbaiki
Makan => dimakan
Minum => diminum

1. Poses Pembubuhan Afiks (Imbuhan)
Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afik ber- pada kata jalan menjadi berjalan. Pada sepeda menjadi bersepeda.

Bentuk tunggal => terdiri dari satu morfem, misalnya : makan, minum.
Bentuk kompleks => terdiri lebih dari satu morfem : rumah makan, berlari,.
Kata berlari terdiri dari dua morfem yakni morfem [ber-] dan morfem [lari].

Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar disebut bentuk dasar, dalam contoh di atas kata jalan adalah bentuk dasar dari berjalan, kata sepeda adalah bentuk dasar dari kata bersepeda

Bentuk afiksasi yang salah!
Tak jarang kita mendengar dipungkiri, atau kata mempesona. Kata-kata tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi, artinya sering diucapkan. Tapi apakah kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia? Berikut sedikit pembahasan:
Fonem /N/ pada morfem meN berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutiya berawal /p,b,f/.
Misalnya : meN + pesan => memesan
meN + pukul => memukul
meN + potong => memotong
meN + Pesona => memesona

Jadi sudah jelas bahwa kata yang benar adalah memesona, bukan mempesona. Lalu bagimana dengan kata dipungkiri? Kata dipungkiri adalah bentuk yang salah. Dalam KBBI tidak ada kata dasar pungkir yang ada adalah mungkir jadi bentuk yang benar adalah dimungkiri.

2. Proses Pengulangan (Reduplikasi)
Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan suatu gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan tersebut disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Misalnya kata ulang rumah-rumah dibentuk dari kata dasar rumah, kata ulang berjalan jalan dibentuk dari kata berjalan kata ulang bolak balik berasal dari kata balik.

Akan tetapi kita sering terkecoh dengan bentuk yang mirip dengan kata ulang, tetapi susunguhnya bukanlah kata ulang, jika dilihat dari tinjauan deskriptif. Misalnya kata-kata berikut: sia-sia, huru-hara, mondar-mandir. Kata-kata tersebut bukanlah kata ulang, karena sebenarnya tidak ada satuan atau kata dasar yang diulang. kata sia-sa bukan berasal dari kata dasar sia, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ada kata dasar sia, begitupun dengan kata huru-hara, dan kata mondar-mandir.

3. Proses Pemajemukan
Dalam bahasa Idonesia kerap sekali ditemukan gabungan dua kata yang membentuk makan baru. Kata yang terjadi dari gabungan dua kata tersebut lazim disebut dengan kata mejemuk. Rumah sakit, meja makan, kepala batu.

A. Cara Membedakan Antara Kata Menjemuk Dengan Yang Bukan Kata Mejemuk?
Misalnya saya beri contoh kursi malas dengan adik malas. Mana diantara contoh tersebut yang merupakan kata mejemuk.

Dilihat dari kategori pengolongan kata, kata kursi malas dan adik malas terdiri dari kata benda dan kata sifat. Artinya keduanya mempunyai kemungkinan sebagai klausa dan sebagai frase.
Jika kursi malas sebagi klausa, tentu dapat diikuti dengan kata itu, misalnya menjadi *kursi itu malas, kata malas dapat diikuti dengan kata sangat,tidak agak, *kursi itu sangat malas,* kursi itu agak malas. Jelaslah bahwa semua itu tidak lazim. berbeda halnya dengan adik malas, dapat diperluas menjadi *adik yang malas, atau adik itu sangat malas. Jadi jelas kursi malas bukanlah klausa.

Jika kursi malas itu fase, tentu dapat disela dengan kata yang, misalnya pada contoh tadi; adik malas dapat disisipi kata yang menjadi adik yang malas. Sedangkan kursi yang malas tidak lazim atau tidak berterima, oleh karena itu maka kursi malas bukanlah frase melaikan kata majemuk.

Jumat, 13 Februari 2009

Bahasa Sebagai Objek Studi Linguistik

Apa itu bahasa ? sebelum kita mendefinisikan bahasa alangkah baiknya jika kita melihat bahasa apa adanya, bagaimana hidup dan berkembangnya dalam kegiatan kita sehari-hari. Untuk melihat mekanisme bahasa ini kita perhatikan dua dikotomi yang diajukan oleh Ferdinand de Saussure. Dikotomi yang dimaksud ialah :
1. langue- parole, dan
2. tautan sintagmatik – tautan pragmatik

pelopor linguistic modern adalah sarjana Swiss, Fedinand de Saussure, dengan bukunya Cours delinguistque general (1916), yang terbit tiga tahun kemudian setelah ia meninggal. Yang terpenting dari topiknya adalah dikotomi antara langue dan parole, Saussure membedakan tiga istilah : langange, langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran), langue mengacu pada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parole.

Langage adalah suatu kemampuan bahasa yang dimiliki setiap manusia yang sifatnya pembawaaan, tapi pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dan stimulus yang menunjang. Ringkasannya langage adalah bahasa pada umumnya. Orang bisu pun sama memilki langage ini, tapi karena umpamanya, gangguan pisiologis pada bagian tertentu maka dia tidak dapat berbicara secara normal.

Kita pernah mendengar cerita tentang dua anak manusia yang dibesarkan oleh serigala di hutan India. Karena hidup dalam lingkungan serigala, maka kedua anak manusia tadi mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak manusiawi. Tapi bunyi serigala. Contoh tersebut memperteguh gagasan bahwa faktor lingkungan berperan dalam perkembangan kebahasaan.

1. LAGUAGE – PAROLE
Langue adalah totalitas dari kumpulan fakta satu bahasa. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. Gagasan ini bersingungan dengan competence yang diajukan Comsky. Menurut Saussure, langue ini ada dalam benak orang, bukan hanya abstraksi-abstraksi saja. Langue adalah sesuatu yang individual tapi juga sosial universal. Agar lebih jelasnya adalah sebagai berikut : satu masyarakat bahasa secara konvensional dan manasuka menyetujui satu totalitas aturan dalam berbahasa dan setiap anggota masyarakat ini mengerti totalitas ini, karena ia mempunyai langue tadi. Jadi lague itu sesuatu kemampuan berbahasa dengan pembawaaan yang telah membatin pada setiap manusia. Langue itu abstrak dan tertentu pada satu bangsa. Sebagai orang indonesia kita memiliki langue bahasa Indonesia, tapi kalau kita mempelajari bahasa Jerman maka langue kita bertambah, yaitu langue bahasa Jerman.

Tadi disebutkan bahwa langue itu berkadar sosial universal. Sebagai contoh perhatikan kata kerja to be yang mempunyai bentukan sebagai berikut :

I am writing a letter now
She is writing a letter now
They are writing letter ow

Dari data sederhana di atas kita dapat menyimpulkan.
1. I menghendaki am, she, is dan they are
2. Kegiatan yang sedang berlangsung dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan to be+ (verb) kata kerja + ing.
3. kata letter kalau didahului determiner a tidak memakai -s sedangkan bila didahului dengan many, letter menjadi letters.

Nomor 1,2 dan 3 ini adalah pernyataan-pernyataan atau pemerian dari langue bahasa Inggris. Setiap penutur akan mengikuti langue ini agar ujarannya dapat dimengerti oleh orang lain. Secara kasar rumus langue satu masyarakat bahasa adalah:
Langue = tata bahasa + kosa kata + sistem pengucapan

Rumus di atas abstrak, ia hanyalah konsep yang mendasari ucapan sehari-hari, yaitu yang mendasari parole. Parole itu adalah ujaran seseorang, yaitu apa yang diucapkan dan apa yang didengar oleh pihak penanggap ujaran. Parole sifatnya pribadi, dinamis, lincah, sosial, terjadi pada waktu, termpat dan suasana tertentu. Jadi nyata! Sedang langue abstrak. Parol inilah yang teramati langsug oleh para linguis, namun dari pengamatan inilah dapat disimpulkan aturan yang melandasi yaitu langue tadi. Parole ini sejalan dengan gagasan perpormance dari Comsky. Hubungan erat antara langue dan parole dalam proses komunikasi kurang lebih sebagai berikut:
Urutan kegiatannya adalah sebagai berikut :

1. Stimulus masuk ke dalam benak A, stimulus ini lalu ditanggapi dan ingin dinyatakan dalam ujaran.
2. Yang ingin diujarkan itu lalu dirumuskan dalam satu kerangka gagasan. Ini dinamai semantic encoding.
3. Lalu gagasan utuh disusun dalam bentuk bentuk kalimat yang gramatik (gramatical encoding).
4. Setelah tersusun secara gramatik lalu gagasan itu diucapkan (phonological encoding).
Kegiatan 1-4 ini ialah kegiatan pra-bicara A dan kegiatan yang dimodali oleh langue.
5. Maka terlahirlah ujaran-ujaran A, yaitu parole atau performance.
6. Ujaran tadi terdengar oleh B. B mendapat stimulus fonologis atau phonological decoding.
7. Apa yang didengar itu oleh B kemudian disampaikan dengan aturan gramatik. Cocok atau tidak? Apakah ujaran tadi pertanyaan, pernyataan, perngingkaran atau perintah. Lalu B menafsirkan ujaran tadi yaitu sematic decoding. Kegiatan 6,7 ini berlangsung karena B dan A mempunyai langue bahasa yang sama. Begitulah gambaran langue dan parole dalam proses berbahasa, dan dalam kenyataannya kegiatan 1-7 ini berlangsung cepat sesuai dengan kemampuan berbahasa kedua belah pihak : penutur dan penanggap tutur.

2. Sintagmatik – Paradigmatik
Dikotomi lain yang perlu disebut di sini adalah sintagmatik dan paragdigmatik. Menurut Saussure kalimat apapun adalah satu rangkain tanda-tada., yang satu sama lainnya mempunyai perbedaan dan setiap tanda itu memilki arti atas makna keseluruhan. Rangkain satu tanda dengan lainnya mempunyai satu tautan sintakgmatik (sintagmatic relasionship). Ingat kata sintaksis !
perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini :
1 2 3 4

a. Amir must study now
Kalimat ini terdiri dari empat tanda dan masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda. Kalimat diatas memberikan satu gagasan utuh yang didukung oleh keempat tanda tadi. Tautan sintagmatik antar keempat tanda itu diabsraksikan sebagai : N + auxelury verb + main verb + adverb of time atau kata benda + kata kerja bantu + kata kerja utama + keterangn waktu.
Sekarang urutannya kita susun sebagai berikut :
2 1 3 4

b. Must Amir study now
4 3 1 2

c. Now study Amir Now
Kalimat (b) bisa dimengerti oleh orang asing karena tautan 2-1-3-4 tadi memang ada dalam langue Inggris, tautan sah. Sebaliknya (c) mempunyai 4-3-1-2 tidak ada dalam langue bahasa Inggris, jadi tautannya tidak sah. (a) dan (b) ternyata sesuai dengan gramatikal bahasa Inggris, mempola sistematik, sedangkan (c) tidak sesuai dengan pola tata bahasa Inggris.
Sekarang kita perhatikan lagi contoh sebagai berikut :
1 2 3 4
He will go tomorrow

Kalimat ini terdiri dari empat tanda. Tiap tanda di atas adalah satu anggota dari kesatuan jenis katanya. He adalah anggota dari kesatuan kata ganti, will dari kata bantu, go dari kata kerja, tomorrow dari kata keterangan waktu. Setiap angggota kesatuan jenis kata ada tautannya dengan aggota lainnya dari kesatuan yang sama, artinya setiap anggota kesatuan bisa menempati posisi pada kalimat di atas. Tautan ini dinamai tautan paradigmatik. Kalimat tadi kalau dinyatakan dengan kesatuan jenis katanya akan dirumuskan sebagai berkut:
Kata ganti + kt. Kerja bantu + kt. kerja utama + kt. Keterangan
He will go tomorrow
1. They Must write Now
2. She shall study next week
3. We can swim next mont
4. I could work next year
5. You should walk today
6. dst. dst. dst. dst.

Tabel di atas hanya memuat lima kata untuk setiap jenis kata, dan masih banyak kata lainnya bisa dimasukan. Tabel diatas saja memungkinkan terbentuknya 5×5×5×5×= 625 kalimat, belum lagi pola-pola kalimat lain. Setiap hari kita berbicara dengan berbagai pola kalimat. Jadi kesimpulannya : dengan adanya tautan sistagmatik dan paradigmatik kita dapat membuat sejumlah kalimat yang tak terhingga. Kita tidak akan pernah bisa menghitug jumlah kalimat, karena kejadian (nikmat Tuhan) didunia tidak terhingga.

Setelah mempelajari dua dikotomi di atas, kita mempunyai gambaran yang jelas mengenai bahasa yang menjadi objek studi para linguis. Bahasa ternyata mengandung hal-hal yang bisa diamati yaitu parole, dan yang mendasari yaitu langue, dan karena tautan sintagmatik dan paradigmatik maka bahasa menjadi suatu yang sangat produktif dan tak terhingga.

Asal Usul Bahasa

1. Beberapa Teori Tradisional
Asal usul bahasa adalah aspek yang paling banyak dipertentangkan hingga hasil studinya pun tidak memuaskan, karena para penyelidik sulit mencapai kesepakatan tunggal. Bagaimana mulai ada bahasa? Ada tersedia beberapa teori asal bahasa, ada yang lucu, ada yang aneh, ada yang berbau ilmiah. Pada tahun 1866 masyarakat linguis Perancis melarang mendiskusikan asal usul bahasa karena itu hanya spekulasi yang tiadak ada artinya.

Penyelidikan antroplogi telah membuktikan bahwa kebanyakan kebudayaan primitif menyakini keterlibatan Tuhan, Dewa dalam permulaan sejarah berbahasa. Tuhanlah yang mengajarkan Nabi Adam nama-nama sebagaimana temaktub dalam kitab kejadian sebagai berikut:

And the Lord God having formed out of the ground all the beasts of the earth, and all the fowls of the air, brought them to Adam to see what he wold call them; for whatsoever Adam called any living creature the same is its name.

Dikatakan pula manusia diciptakan secara simultan, dan pada penciptaan ini pula dikaruniai ujaran sebagai anugrah Illahi, dan di surga Tuhan berdialog dengan Nabi Adam dalam bahasa Yahudi. Sebelum abad ke-18 teori-teori asal bahasa ini dikategorikan divine origin (Berdasarkan kepercayaan).

Pada abad ke-17, Andreas Kemke, seorang ahli filologi dari Swedia menyatakan di surga Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia. Nabi Adam berbahasa Denmark, sedangkan naga berbahasa Perancis.

Cerita di Mesir lain lagi. Pada abad ke-17 SM raja Mesir, Psammetichus mengadakan penyelidikan tentang bahasa pertama. Menurut sang raja kalau bayi dibiarkan ia akan tumbuh dan berbicara bahasa asal. Untuk penyelidikan tersebut diambilah dua bayi dari keluarga biasa, dan diserahkan kepada seorang pengembala untuk dirawatnya. Gembala tersebut dilarang berbicara sepatah kata pun kepada bayi-bayi tesebut. Setelah sang bayi berusia dua tahun, mereka dengan sepotan menyambut si gembala dengan kata ”Becos!”. Segera si penggembala tadi menghadap Sri Baginda dan diceritakannya hal tersebut. Psammetichus segera menelitinya dan berkonsultasi dengan para penasehatnya. Menurut mereka becos berarti roti dalam bahasa Phrygia; dan inilah bahasa pertama. Cerita ini diturunkan kepada orang-orang Mesir Kuno, hingga menurut mereka bahasa Mesirlah bahasa pertama.

Kaisar Cina T’ien-tzu, anak tuhan, katanya mengajar bahasa pertama kepada manusia. Ada juga versi lain, seekor kura-kura diutus Tuhan membawa bahasa (tulisan) kepada orang-orang Cina. Di Jepang pun bahasa pertama dihubung-hubungkan dengan Tuhan mereka, Amaterasu. Orang-orang Babilonia pun percaya bahwa bahasa petama berasal dari Tuhan mereka, Nabu. Brahmana mengajarkan tulis menulis kepada ras Hindu. Dan masih banyak cerita-cerita yang bernada sama dengan berbagai kebudayan dahulu.

Pada bagian akhir abad ke-18 spekulasi asal usul bahsa berpindah dari wawasan keagamaan, mistik, takhayul ke alam baru yang disebut organic phase (pase organic). Pertama dengan terbitnya Uber den organic phase (On the Origin of language) pada tahun 1772, karya Johann Gottfried Von Herder (1744-1803), yang mengemukakan bahwa tidaklah tepat bahasa sebagai anugrah Illahi. Menurut pendapatnya: bahasa lahir karena dorongan manusia untuk mencoba-coba berfikir. Bahasa adalah akibat hentakan yang secara insting seperti halnya janin dalam proses kelahiran. Teori ini bersamaan dengan mulai timbulya teori evolusi manusia yang diprakarsai oleh Immanuel Kant (1724-1804) yang kemudian disusul oleh Charles Darwin.

Menurut Darwin (1809-1882) dalam Descent of Man (1871) kualitas bahasa manusia dengan bahasa binatang berbeda dalam tingkatannya saja. Bahasa manusia seperti halnya manusia itu sendiri berasal dari bentuk yang primitif., barangkali dari ekspresi emosi saja. Sebagai contoh perasaan jengkel atau jijik telahirkan dengan mengeluarkan udara dari hidung dan mulut, tedengar sebagai “Pooh” atau “Pish” !. Namun Mark Muler (1823-1900) ahli filologi dari Jerman tidak sependapat dengan Darwin, teori ini disebut dengan pooh-pohh theory. Teori Darwin juga tidak disetujui oleh para sarjana berikutnya termasuk Edward Sapir (1884-1939) dari Amerika.
Mark Muler memperkenalkan Dingdong Theory atau disebut juga nativistik theory. Teorinya sedikit sejalan dengan yang diajukan socrates bahwa lahir bahasa secara ilmiah. Menurut teori ini manusia mempunyai kemampuan insting yang istimewa untuk mengeluarkan ekspresi ujaran bagi setiap kesan sebagai stimulus dari luar. Kesan yang diterima lewat indra, bagaikan pukulan pada bel hingga mengeluarkan ucapan yang sesuai. Kurang lebih ada empat ratus bunyi pokok yang membentuk bahasa pertama ini. Sewaktu orang primitif dulu melihat seekor srigala, pandangan ini menggetarkan bel yang ada pada dirinya secara insting sehingga terucaplah kata ”Wolf” (serigala). Muller pada akhirya menolak teorinya sendiri.

Teri lainnya disebut Yp-he-ho Theory. Teori ini menyimpulkan bahwa bahasa primitif dahulu bekerja sama. Kita pun mengalami kerja serupa, misalnya sewaktu mengangkat kayu kita secara spontan bersamaan mengeluarkan ucapan-ucapan tertentu, karena dorongan tekanan otot. Demikian juga orang primitif jaman dulu, sewaktu bekerja tadi, pita suara mereka bergetar sehingga telahirlah ucapan-ucapan khusus untuk setiap tindakan. Ucapan-ucapan tadi lalu menjadi nama untuk pekerjaan itu seperti Heave (angkat), rest! (diam) dan sebagainya.

Tori yang agak bertahan Bow-wow Theory, disebut juga Onomatopoetic atau Echoic theory. Menurut teori ini kata-kata yang pertama kali adalah tiruan terhadap guntur, huja, angin, sungai, ombak samudra dan lainnya. Mark Muller dengan sarkastis mengomentarinya bahwa teori ini hanya berlaku pada kokok ayam dan bunyi itik, padahal kegiatan bahasa banyak terjadi di luar kandang ternak.

Bagaimanpun sedikitnya prosentase kata-kata tersebut, kita tidak mengingkari adanya kata-kata itu. Dalam bahasa inggris ada kata-kata bable, rattle, hiss, cuckoo, dan sebagainnya. Kosa kata dalam bahasa Indonesia juga memilki kata-kata seperti itu: menggelegar, bergetar, mendesir, mencicit, berkokok dan sebagainya.

Teori lainnya lagi disebut gesture theory, yang mengatakan bahwa isyarat mendahului ujaran. Para pendukung teori ini menunjukan penggunaan isyarat oleh berbagai binatang, dan juga sistem isyarat yang dipakai oleh orang-orang primitif. Salah satu contoh adalah bahasa isyarat yang dipakai suku Indian di Amerika Utara. Sewaktu berkomuikasi dengan suku-suku lain yang tidak sebahasa.

2. Pendekatan Modern
Manusia itu tercipata dengan perlengkapan fisik yang sangat sempurna hingga memungkinkan terjadinya ujaran (kemampuna berbahasa). Namun ujaran bukan hanya kerja organ fisik. Dalam proses ujaran, faktor-faktor psikologis pun terlibat. Sebagai contoh kita banyangkan satu telaga jernih yang dikelilingi pepohonan rindang yang dimukimi burung-burung dan marga satwa lainnya. Bagi seseorang mungkin telaga tadi membahayakan, bisa saja meneggelamkan, mematikan. Bagi yang lain mungkin telaga tadi jadi sumber kehidupan bagi anak istrinya. Mungkin ikannya banyak. Bagi yag lainnya mungkin merupakan sumber ilham, bisa dijadikan tempat untuk beristirahat, melemaskan otot-otot sambil menuggu kejatuhan inspirasi. Dalam batin ketiga orang ini ternyata ada kesan psikologis yang berbeda. Kesan-kesan ini mesti diucapkan dengan ujaran. Dengan perkata lain kesan-kesan ini mesti diungkapkan dengan simbol vokal, hingga terucapkan kata-kata umpamanya: bahaya, ngeri, dalam, dingin, menenggelamkan, hanyut, arus dan sebagainya; banyak ikan, bagus , luas, dan sebaginya; indah, dingin, sepoi-sepoi, ayem, tentram, sejuk, leluasa, damai, sumber ilham dan sebaginya.
Dari cintoh-contoh di atas west menyimpulkan :

Speech, as language, is the result of man’s ability to see phenomena symbolically and of the necessity to express his symbols¬¬1

(= ujaran , seperti halnya bahasa, adalah hasil kemampuan manusia untuk melihat gejala-gejala sebagai simbol-simbol dan keinginannya untuk simbol-simbol itu)

Kini para ahli atropologi menyimpulkan bahwa manusia dan bahasa berkembang bersama. Manusia itu ada di bumi kurang lebih satu juta tahun lamanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembanganya menjadi Homo Sapien juga mempengaruhi perkembangan bahasanya. Bentuk tubuh yang tegak, mata yang berbentuk stereoskopis dan celebra cortex yan tidak ada pada hewan lain telah banyak membantu evolusi manusia. Perkembangan otaknya merubah dia dari agak manusia menjadi manusia sesungguhnya. Mereka kini mempunyai kemampuan untuk menemukan dan mempergunakan alat-alat dan mulailah ia bicara.

Ada juga yang mengatakan bahwa perkembangan bahasa manusia sama seperti halnya perkembangan bahasa bayi berkembang menjadi dewasa. Otto jespersen (1860-1943) melihat adanya persamaan antara bahasa bayi dan manusia dahulu. Bahasa manusia pertama hampir tidak mempunyai arti, seperti lagu saja sebagaimana ucapan-ucapan bayi. Lama kelamaan ucapan-ucapa tadi berkembang menuju kesempurnaan.

Lalu ada persolaa lain. Apakah bahasa itu lahir karena keinginan berkomunikasi dengan anggota masyarakat sosial atau karena dorongan individu, yaitu faktor psikologis di atas? Jadi bahasa dulu atau masyarakat dulu? Kalau mereka tidak hidup dalam masyarakat, maka bahasa tidak akan pernah lahir, tapi bagaimana hidup tanpa bahasa? Kini pertanyaannya seperti pertanyaan klasik, telur dulu atau ayam dulu.