k TAMAN CATATAN

Kamis, 10 Desember 2009

Membakar Semangat Dengan Opini Untuk HAM

Keberhasilan yang dicapai media dalam mengangkat suatu isu pada dasarnya ditentukan oleh masyarakat sendiri. Semakin besar perhatian masyarakat semakin sering berita itu diangkat. Semakin sering berita sering berita diangkat semakin besarlah kemungkinan tercapainya tujuan media dalam mangangkat berita.

Oleh karena itu, tidak heran jika kasus pencemaran nama baik yang menjerat Prita Mulyani karena keluhannya melalui e-mail sudah seperti serial melodrama, berminggu-minggu menghiasi layar televisi. Bahkan masyarakat sampai menggalang dukungan kepada Prita melalui situs jejaring internet (Face Book). Begitupun dengan kasus Nenek Minah yang terpaksa mencuri tiga buah kakau dan penahan terhadap petinggi KPK oleh Kepolisian. Hal itu karena perhatian masyarakat begitu besar terhadap masalah di atas.

Walhasil, berkat pemberitaan oleh media— status Prita berubah dari tahanan rumah tahanan (rutan) menjadi tahanan kota. Coba saja jika kasus tersebut tidak terekspos oleh media dan tidak berkembang opini publik yang menuntut keadilan terhadap kasus yang menjerat Prita, mungkin ibu dua anak ini masih merasakan pengapnya dinding penjara.

Begitupun halnya dengan kasus Nenek Minah, berkat dukungan dari masyarakat akhirnya perempuan renta ini tidak harus merasakan dinginnya sel penjara, mungkin jika tidak ada dukungan dari masyarakat ia akan dipenjara selama enam bulan sesuai dengan tuntutan jaksa. Sama halnya dengan kasus cicak versus buaya, akhirnya presiden membentuk tim delapan untuk menangani masalah ini, dan akhirnya dua petinggi KPK ini kembali aktif seperti semula.

Dukungan publik sangat berperan dalam masalah di atas. Dukungan biasanya berupa pernyataan simpati atau opini. Memang opini itu sifatnya subjektif, maka tidak heran jika ada yang khawatir dengan semakin berkembangnya opini publik pada hal-hal kasus-kasus di atas. Dengan alasan opini masyarakat yang mendukung salah satu pihak belumlah tentu benar, karena keputusan benar atau tidak pengadilanlah yang memutuskan.

Hal tersebut memang benar. Namun, ketika putusan pengadilan tidak mencerminkan rasa keadilan, maka opini inilah yang akan bergerak untuk menuntut rasa keadilan. Opini yang berkembang seperti pada kasus-kasus di atas adalah opini yang bersumber dari hati nurani. Hati nurani hanya akan tergerak ketika rasa keadilan mulai terkoyak. Seperti kata Gunawan Muhammad bahwa hati nurani itu dekat dengan rasa keadilan. Kata “rasa” di sini menekankan pada perasaan (hati nurani). Opini seperti ini tidak akan begitu merebak jika putusan hakim mencerminkan rasa keadilan.
Berkaca pada masalah di atas jelas membuktikan peran media dan opini publik sangat besar dalam mewujudan rasa keadilan. Oleh karena itu, pada hari ini adalah momentum yang tepat untuk menghidupkan isu-isu tentang HAM dengan opini untuk menuntut keadilan. Mudah-mudahan saja mendapatkan perhatian besar dari masyarakat. Dengan demikian, maka media akan lebih sering memberitakan masalah HAM.

Hal ini penting karena pemerintah dan para penegak hukum sepertinya baru akan serius menangani penyelesaian masalah HAM jika sudah terdesak oleh sentimen negatif dari publik. Kita tidak akan pernah bisa melangkah ke depan jika jaminan terhadap HAM di negara ini lemah. Oleh karenanya, tidak boleh ada kata “yang lalu biarlah berlalu.”

Baca lagi...

Minggu, 06 Desember 2009

Sebelas Potong Jiwa

Dia menghampiriku, duduk dan mengambil sebatang rokok yang masih kuhisap. Bibirnya yang basah memainkan kepulan-kepulan asap. Membentuk lingkaran bulat yang indah dan perlahan-lahan lenyap saat menerpa wajahku. Bibir yang mempesona Aku terperangah, tapi hanya terucap dalam hati. Entah mengapa aku merasakan adanya kedekatan emosional yang luar biasa dengannya, padahal aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Dia begitu cantik. Jantungku berdebar-debar. Ditambah tak secarik kain pun membatasi mataku melihat indah tubuhnya. Aku menarik napas panjang, meneguk air liurku dan membenarkan posisi dudukku.Aku merasakan buah dadanya yang menyentuh dadaku. Napasku semakin tidak beraturan. Ia menatapku dan dengan lembut mengelus dan mengangkat daguku, hingga aku dapat mencium aroma napasnya bersama kepulan asap yang ia tiupkan ke wajahku. Betapa tubuh yang sempurna. Nyaris begitu sempurna andai saja ia memiliki mata.Ia buta, tepatnya tidak punya bola mata. Di sekitar tulang matanya hanya ada lubang yang begitu dalam menghitam
“Siapa kamu?”
“Tak perlu kau tahu, dan apakah kau selama ini pernah merasa perlu untuk tahu?” Dia menjawab dengan sedikit mendesah. Sambil mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku gelagapan.
“Aku tak tak mengerti apa maksudmu?”
“Apa selama ini kau pernah mencoba untuk mengerti?” Suaranya sangat lembut menggoda, namun ia selalu balik bertanya sembari memaikan kepulan asap dengan bibirnya.
“Kenapa kau selalu balik bertanya?”
“Kenapa kau harus selalu bertanya….! Apakah salama ini kau pernah bertanya pada kami?”
“Kami? Apa maksudmu dengan kami? Kami apa?” Aku semakin tidak mengerti setiap perkatananya.
“Ha..ha..ha..!” Dia tertawa “Kenapa kau masih banyak bertanya. Nikmati saja. Apakah selama ini kau pernah bertanya sebelum menikmati apa yang kau ingini” Dia sedikit membuatku kesal, tapi mungkin ia benar. Nikmati saja. Ia telah memberiku kenikmatan di saat aku membutuhkannya. Kenapa aku harus banyak bertanya.
Ia beranjak dari tempat dudukku. Berpidah pada sofa di depanku. Kembali ia duduk sambil menyilangkan kaki.”Huhh..” Aku menghembuskan napas panjang. Keseruput kopi yang sudah terasa agak dingin. Menyalakan sebatang rokok. Betapa birahiku masih menyala-nyala. Ia hanya tersenyum. Sedikit mengigit bibir bawahnya, menggoda. Aku memandangi lekat wajahnya sesekali melirik memandangi buah dadanya.
“Kau suka?”Ucapnya dengan lembut dan lagi-lagi mendesah. Aku sedikit terkejut. Apakah ia dapat melihatku? Bukankah ia tidak memiliki bola mata. Atau ia bisa membaca apa yang ada dalam benakku?
“Sebenarnya siapa kamu dan apa maumu?”
“Seharusnya kau bertanya apa maumu bukan apa mauku?”
“Baiklah, mauku kau jangan balik bertanya jika aku bertanya. Paling tidak kau beritahu siapa namamu.”
“Kau belum memberiku nama.” Jawabnya enteng.
“Haahh..! Aku menghembuskan napas sedikit kesal. “Memangnya siapa aku. Kenapa aku harus memberikanmu nama?”
“Apakah semua lelaki sepertimu?” Ia memotong dengan cepat pertanyaanku.
“Apa maksudmu?” Aku balik bertanya.
“Apa arti seorang wanita bagimu?”
“Bagiku wanita adalah sebuah maha karya yang sangat indah.”
“Hanya itukah?”
“Tidak juga…. tapi aku tak perlu menyebutkan semuanya kelebihan wanita bagiku kan?.”
“Terserah, kau memang biasa berbuat sesuka hatimu.” Nada bicaranya terkesan selalu memojokanku.
“Kenapa sejak tadi nada bicaramu selalu terkesan men-jusde- ku. Apakah kau mengenalku? Apakah aku mengenalmu?”
“Aku mengenalmu dan kau mengenalku”
“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Aku memang merasa punya kedekatan emosional dengannya, tapi aku merasa tidak pernah berteman atau berkenalan dengan orang gadis buta.”
“Aku tidak buta” Jawabnya, ia terlihat sedikit tersinggung Astaga, aku terkejut. Ternyata ia benar-benar bisa membaca pikiranku.
Siapa wanita ini sebenarnya. Aku mengenal bibirnya, buah dadanya, rambutnya, kakinya, tangannya, hampir seluruh anggota tubuhnya aku kenal, tapi aku tidak tahu siapa wanita ini sebenarnya. Aku benar-benar tidak ingat..
“Kenapa kau begitu mudah melupakan kami. Apakah semua lelaki sepertimu?”Aku semakin bingung atas segala pertanyaannya. Aku tidak pernah bertemu dengannya bagaiman aku bisa melupakannya. Jika ia bisa membaca pikiranku seharusnya ia tahu kalau aku tidak berbohong, dan yang lebih membuatku bingung kenapa ia selalu mengatakan “kami.” Apa maksudnya dengan “kami”?
Lantai marmer tiba-tiba penuh dengan genangan air. Air keluar dari rambut, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan pahanya dan punggung kaki. Sekejap lantai marmer penuh genangan air. Aku terperangah. Aku mulai merasa ketakutan, sekaligus iba. Ia terlihat sangat sedih. Apakah ia sedang menagis. Tanganku gemetar, gigi-gigiku saling beradu. Wanita macam apa dia?
“Kenapa kalian laki-laki selalu menjadikan kami sebagai objek?” Aku hanya diam. “Jawaaabbb..!! Ia membentakku. Ia tiba-tiba menjadi garang.
“Karena wan…nita itu indah.”Aku menjawab terbata-bata.
“Sebatas itukah…?” Suaranya menjadi pelan tertahan. Memelas.
“Wanita juga selalu menarik.”
“Ohhh… Atas dasar itukah kalian laki-laki berhak melakukan apapun pada kami. Memperkosa tubuh kami, memperkosa pikiran kami, memperkosa hak-hak kami.”
“Aku tidak pernah memperkosa siapa pun.” Bantahku cepat.
“O, yahh..!” Dengan nada meledek. Ia bangkit dan berdiri, mencabut kedua telinganya. “Lalu ini apa namanya? Kalian lelaki tidak hanya memperkosa kami. Kalian menghancuran kami hingga kami seolah tidak. Hingga ada seolah tidak ada.
Kau telah menggagahi dan mengobrak-abrik tubuh kami. Memperkosa rambut kami, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan paha dan punggung kaki kami.” Ia terus mengoceh sambil mencabuti satu persatu anggota tubuhnya Sampai terakhir hanya tinggal tangan dan mulutnya saja. Potongan-potongan tubuhnya bergelatakan di lantai yang becek oleh genangan air mata. Kakiku bergetar hebat sampai lemas tak sanggup berdiri. Baru kali ini aku melihat hal yang sangat mengerikan samacam ini.
Potongan-potongan tubuh tersebut mencair bersama genangan air mata. Air mata itu melahapnya satu persatu, seolah hidup, dan tiba-tiba air bergerak ke atas, seperti air yang mendidih. Membentuk gelembung-gelembung yang kemudian mengejawantah menjadi sosok wanita-wanita yang aku kenal. Hellen, Sri, Monika, Lilis, Dewi, Maya, Sinta, Lia, Windi, Anita dan Marni, tapi mereka sangat menyeramkan. Mata dan lidah mereka mengeluarkan api. Mereka mendekatiku dengan kedua tangan yang terangkat, siap mencekikku seperti vampir. Aku tak sanggup berlari. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Suara mereka semakin dekat. Mereka selalu berteriak.
“Kenapa kalian selalu memperkosa kami!”
Mentari pagi mengirimkan sinarnya yang menembus kaca jendela ketubuhku. Aku sedikit memijat-mijat mataku Sebuah kuas kecil dengan cat minyak yang sudah mengering masih aku genggam. Tepat di depan mataku kulihat sosok wanita telanjang tanpa bola mata sedang berdiri di atas taman yang sangat indah. Handphone-ku berbunyi. Frans, kolektor lukisan yang juga teman baikku meng-sms.
” Gmn Mas, sudah dpt model bwt lukisannya? Klo blm sy sdh punya, nmanya Dina matanya teduh tapi bersinar. Mudah2an matanya cocok bwt lukisan Mas. Klo mau nanti sy knlkan.”

***

Oleh pemilik blog ini
Jurnal Bogor, 25 October 2009
Baca lagi...

Gemuruh Century

Mendadak saya dipanggil Romo Imam ke pedepokannya. Pasti penting. "Saya akan membentuk tim pemantau dan pengawas tim-tim yang memantau dan mengawasi kasus Bank Century. Nanak harus ikut," kata Romo Imam, yang memanggil saya dengan sebutan "nanak". Itu artinya putra spiritual.

"Maaf, Romo bicaranya belepotan, ini tim apa?" tanya saya. Romo tertawa: "Nama tim itu tak salah. Sekarang kan dibentuk bermacam-macam tim, ada yang menyebut dirinya Tim Pengawas Angket Century, ada Koalisi Pengawal Angket Century, ada Tim Penelusuran Talangan Century, dan banyak lagi. Juga ada Tim 9, yang menepuk dada sebagai inisiator angket Century. Nah, tim yang dibentuk Romo itu memantau dan mengawasi tim-tim ini. Kalau namanya seperti belepotan, ya, sebut saja tim sebelas."

"Kenapa tim sebelas?" tanya saya lagi. Romo menjawab: "Supaya lebih tinggi, kan sudah pernah ada Tim 8, lalu Tim 9. Tim 10 untuk cadangan, nah, Tim 11 tugasnya memantau semua tim yang nomornya lebih kecil."

Dalam hati saya tertawa. "Romo, boleh tahu, kok kita ikut-ikutan ribut soal ini?" Romo menjelaskan dengan serius: "Ini untuk pembelajaran demokrasi dan mencerdaskan rakyat. Yang bikin runyam mengusut Bank Century itu adalah banyaknya pemantau partikelir yang punya agenda terselubung. Ada yang agendanya menjadikan panggung ini sebagai proyek mendongkrak peringkat kepolitisiannya. Mereka anak-anak muda yang tak mau dikatakan menjadi politisi mendompleng ketenaran ayahnya, dan kini membuktikan mereka bisa berkiprah. Ini bagus dan wajar. Lalu ada anak muda di luar parlemen yang kerjanya memang begitu melulu, apa-apa dipermasalahkan dengan aksi, siapa pun yang memimpin negeri ini. Mereka ini tak mau masuk jalur formal, misalnya bergabung ke partai politik dengan alasan macam-macam, seperti partai itu tak sehat, nepotisme, dan sebagainya. Sejatinya, mereka ini memang tak akan mampu meraup konstituen untuk bisa lolos jadi wakil rakyat. Jadi, bermimpilah tentang jalan pintas. Mereka mengira, pengerahan sepuluh ribu orang sudah bisa mewakili aspirasi seluruh rakyat. Padahal untuk menjadi wakil rakyat di kabupaten saja sudah harus mendapat suara 30 ribuan."

Saya diam, takut mengganggu Romo. "Yang unik, tokoh sepuh dan tokoh yang sudah jelas tak dikehendaki oleh rakyat untuk memimpin negeri ini, buktinya kalah pada pemilihan umum, masih juga bermimpi untuk tampil di panggung kekuasaan dengan cara-cara pintas. Dalam kasus Bank Century ini mereka mendesak supaya kasus itu diusut tuntas seolah-olah memberi kesan ada orang yang tak mau kasus ini diusut tuntas. Ini kan tak mendidik, wong Presiden sudah lebih dulu bilang, usut secara terbuka dan tuntas."

Saya terpaksa menyela, supaya Romo agak turun tensinya: "Maaf beribu maaf, Romo. Tampaknya Romo kurang setuju angket Century atau kasus ini dibuka atau...."

"Stop," Romo berteriak. "Nanak selalu curiga, itulah bahayanya menonton acara debat ala televisi. Romo seribu persen setuju kasus Century dibuka. Tapi jangan dengan gemuruh seperti ini, suaranya keras padahal belum bekerja. Parlemen, silakan buat angket. Kepolisian, kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi, silakan bekerja. Jika ditemukan ada yang salah, proses secara hukum. Sekarang ini belum bekerja sudah memvonis, ini pembodohan untuk rakyat. Hentikan memanipulasi suara rakyat. Katakan ada sejuta orang ke jalan, itu kan baru 0,5 persen penduduk Indonesia. Yang 99,5 persen itu ingin tenang bekerja, tapi korupsi tetap diberantas supaya mereka lebih sejahtera."

***

Oleh Putu Setia

Koran Tempo, 6 Desember 2009
Baca lagi...

Mata

IA suka memandang mata perempuan itu, tetapi tiap kali dia pandang ia lihat jarak terentang di antara mereka, bak nganga bukaan dinding kuburan. Tidak. Mata perempuan itu mungkin mirip danau yang teduh tetapi jauh, nun di sana, dibatasi jurang gelap hutan-belantara. Makanya setelah tersenyum lelaki itu selalu melengos dan menggeleng-geleng.

"Kenapa?" tanya perempuan itu dengan kening berkerut setiap dia berbuat begitu.

"Tidak, tidak."

"Tapi kau selalu melengos usai tersenyum memandang mataku."

"Oh. Jangan tersinggung," kata lelaki itu khawatir. "Matamu indah. Mata terindah yang pernah kulihat."

Perempuan itu tak terkejut mendengarnya. Lelaki itu pernah mengatakannya, tak pula sekali. Banyak orang juga memuji matanya. Kata mereka matanya pesona luar biasa yang dia miliki di samping tubuhnya yang sempurna. "Sulit menentukan mana yang lebih unggul, tapi aku cenderung memilih matamu," kata mereka.

"Terima kasih," katanya kepada laki-laki itu. "Itu sudah kau katakan. Yang belum kenapa kau selalu melengos dan menggeleng-geleng usai melihat mataku?"

Laki-laki itu bertahan untuk tak menjawab. Dia berkelit ke sana kemari dan untuk beberapa kali ia berhasil. Tetapi, suatu kali ketika perempuan itu kembali bertanya malah terasa mendesak, dia cuma bisa berucap, "Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu."

Sebetulnya bukan karena tidak tahu. Dia merasa takut, juga malu, sebab jarak itu selalu muncul tiap kali ia memandang mata perempuan itu. Pernah ia urai rasa takut serta rasa malu itu satu per satu, seperti si penggamang melihat ke bawah dari pesawat terbang atau berjalan di jembatan penyeberangan di siang bolong, sewaktu kendaraan seliweran di bawah. Hasilnya justru rasa gelisah yang payah. Tubuhnya berpeluh, bergetar, bibirnya pucat. Kalau sudah begitu perempuan itu justru tidak tahan, lantas melenakannya kembali dalam pelukan. "Sudah, sudah. Cup, cup," katanya membujuk. "Oh, panasnya tubuhmu," bisik perempuan itu lagi dengan lembut. "Istirahatlah, aku akan selalu ada di dekatmu."

Laki-laki itu merasa amat tenang berada dalam pelukan. Seolah waktu membeku, matahari tak mengalir, jarak itu tinggal maya. Ia dan perempuan itu bak dua belahan yang dipertemukan kembali oleh tangan Tuhan. Ia saksikan embun di ujung daun, putik-putik mekar menjadi bunga, burung-burung bersiul pada dahan-dahan pohon yang rimbun. Didengarnya gemericik air, entah di mana, penuh irama. Laki-laki itu sadar belum lagi berada di surga namun ia sungguh amat bersuka-cita.

Karenanya, betapa dia amat berduka waktu perempuan itu, suatu ketika dan dalam keadaan seperti itu juga, berkata dengan suara tetap terdengar lembut dan lunak, "Sayang, apakah menurutmu aku seperti sayur yang tidak kau dapatkan di rumah?" Pertanyaan itu sungguh merusak, tak ubahnya mendung mencemari siang.

"Mengapa bertanya seperti itu?" tanya lelaki itu terbata-bata. Di samping sedih, ia merasa sangat tidak berharga. Ia melihat dirinya seperti lelaki-lelaki lain yang warna usia mereka juga menguning, tapi suka beternak pikiran seperti yang dikatakan perempuan itu dalam kepala mereka. Padahal, dia merasa, bahkan amat yakin pula, perhatiannya pada perempuan itu tak didasari pikiran kotor seperti yang ada dalam kepala para lelaki itu. Melainkan karena sesuatu yang indah, meski tak dapat dia jelaskan dengan ringkas. Tapi apakah segala sesuatu harus diberi penjelasan, apalagi dengan ringkas? Ah, ia akan lebih suka kalau disamakan dengan tokoh yang dimainkan Richard Burton dalam film Circle Two, sedangkan perempuan itu tokoh yang diperankan Tatum O'Neal meski umur si perempuan belasan tahun lebih tua dari tokoh gadis dalam film lama itu.

"Ah, tidak, tidak," jawab perempuan itu tersipu-sipu. "Cuma ingin tahu saja, kok. Tetapi sudahlah, jangan pikirkan. Forget it."

Sesaat dia masih sibuk meredakan dada yang dideburi gelombang. Lalu, perlahan-lahan, diciumnya kembali aroma bunga-bunga. Maka ia minta perempuan itu untuk tidak lagi sekali-kali berucap demikian. "Jangan ulangi lagi, ya," katanya. Perempuan bertubuh lampai itu menjawab dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, juga disertai senyum yang menawan, "Tidak, tidak. Aku tak akan meragukanmu lagi."

Mata lelaki itu bercahaya. Dan makin bersinar saat si perempuan menambahkan, "Sebetulnya, aku juga merasa tidak mungkin kau menganggap aku bagai sayur yang tidak kau dapatkan di rumah."

Saat itu sebetulnya sudah dia dengar kembali gemericik air penuh irama, entah di mana, burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Tapi lelaki itu coba bertahan, justru karena dia ingin berada di tempat yang lebih sedap lagi. "Ei, ei," dia bilang. "Kok masih disebut-sebut ibarat itu?"

Dan perempuan itu lalu membawanya ke puncak yang lebih sedap lagi sewaktu berucap, "Maaf." Ia juga tersenyum, bermanja-manja. Bagai belum cukup, dia raih kepala lelaki itu ke pangkuan.

Langit cerah. Burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Air gemericik, entah di mana, penuh irama. Matahari bagai tidak mengalir. Dan dengan mencuri-curi dia pandang pula mata perempuan itu. Meski tak lama-lama, dengan begitu tidak dapat utuh menikmati keindahan mata itu, tapi dia bisa mengelak dari jarak yang meresahkan, malah kerap menegakkan bulu romanya.

Mestinya begitu terus. Tepatnya, lelaki itu berharap keadaan seperti itu tetap awet, sebutlah bak air telaga yang tak beriak. Tapi di lain hari perempuan itu kembali bertanya, seolah ada yang tak mati-mati dalam pikiran dan hatinya. "Kadang-kadang," dia bilang, "aku suka bertanya-tanya, apakah rasa sayangmu kepadaku sebesar rasa sayang yang aku rasakan kepadamu?"

"Ei, mengapa kau ini," balas lelaki itu. "Untuk apa lagi itu kau tanya-tanya. Tentu saja sama. Ah, jangan-jangan malah lebih. Ya, aku rasa pasti lebih besar."

Perempuan itu tersenyum. Lesung-pipinya selalu membayang bila dia tersenyum, membuat cekungan indah di raut wajah, tapi saat itu si lelaki melihat ada yang tak beres. Meski sekilas, mata perempuan itu dilihatnya tak berbinar, walau redup benar juga tidak.

"Mengapa senyummu seperti itu?" dia bilang.

"Menurutmu seperti apa?"

"Seperti...."

"Ah, sudahlah," tukas si perempuan tak sabar. "Aku hanya merasa, ada yang tidak kau katakan." Ia tak menangis tapi suaranya bergetar. "Maksudku, ada yang tetap belum kau sampaikan kepadaku. Padahal, kau tahu, oh... betapa aku amat mencintaimu."

Lelaki itu tak berkomentar.

"Mengapa kau selalu tersipu dan buang muka setelah memandang mataku?" Kini pertanyaan itu terdengar seperti tuntutan.

Lelaki itu tidak juga menjawab. Mati-matian ia bertahan tetap diam. Tidak semua yang ada dalam hati dan pikiran harus diucapkan, bahkan kepada kekasih sekalipun. Ada hal-hal pelik yang justru menuntut dipertahankan, tetap ingin jadi milik sendiri, tidak sudi dibagi-bagi.

"Jawablah," kata perempuan itu.

Lelaki itu kukuh tak menjawab.

Sejak itu si perempuan memakai kacamata hitam, dengan aneka model, membuat ia terlihat semakin cantik laiknya hari di pucuk matahari. Meski banyak orang menyesali, menilai aneh, lantaran matanya yang indah tidak tampak lagi bahkan seperti sengaja dia sembunyikan, namun perempuan itu tak peduli.

Dia memang masih muda, 33, sedang laki-laki itu mendaki 55. Lelaki itu sering berpikir perempuan itu pantasnya adik, atau keponakannya. Di kampung-kampung, dulu, mereka lazim ayah-anak. Berpikir sampai di situ biasanya lelaki itu kian tersiksa karena jarak itu justru bertambah jelas, serupa jalan yang menyembul dari balik kabut. Panjang, berliku-liku pula. Saat ia 22 tahun, perempuan itu baru saja hadir melihat dunia. Sungguh tidak tahu dia mereka bakal jumpa kelak, 33 tahun setelah masa kelahiran perempuan itu. Oh, 33 tahun! Alangkah sayup pangkalnya, jauh sekali. Ya, sangat jauh jarak terentang di antara mereka. Ia sekarang berjalan menuju petang, si perempuan justru sedang mendaki bahu hari.

"Kenapa kau selalu berkacamata?" tanya lelaki itu suatu kali, setelah tercengang-cengang karena tiap jumpa dilihatnya perempuan itu tak lepas-lepas dari kacamata hitam, bahkan saat berbaring di sebelahnya sebelum bercinta.

"Supaya kau tak selalu melengos dan menggeleng-geleng habis menatap mataku."

"Tapi... rasanya sayang sekali. Matamu indah."

"Hatimu juga indah, tetapi toh tak seluruhnya dapat kubaca."

Laki-laki itu terdiam. Betapa ia sangat mencintai perempuan itu, cinta sekali, juga ingin sekali memandang matanya lama-lama. Tetapi, ia tahu yang terakhir itu pun sesuatu yang rumit. Jadi, tinggal pilih. Keduanya tak bisa. Tidak ada yang dapat dimiliki dengan utuh-sempurna.

Sayup-sayup, lelaki itu kemudian merasa berterima kasih. Walau mata perempuan itu terlihat samar dari balik kacamata dia tak takut-takut lagi menatapnya. Tak melengos, juga tak menggeleng-geleng setelahnya. Malah berani-beraninya dia merapatkan bibir ke mata yang dilapis kaca itu, seolah-olah hendak mengecupnya. "Ciumlah, kecuplah," pinta perempuan itu penuh harap.

"Nanti kacanya buram. Eh, jadi sengaja kau tutupi keindahan matamu, ya?"

"Aku pun tak punya pilihan," sahut perempuan itu. "Ciumlah, akan aku seka nanti pakai tisu. Lakukanlah, tinggal itu yang belum. Oh, tinggal mataku yang belum kau cium. Lakukan, lakukanlah!"

Laki-laki itu mendekatkan bibirnya dan diciumnya mata perempuan itu dari balik kacamata. Matanya pejam saat melakukannya, bagai mereguk keindahan mata itu dalam-dalam, sepenuh perasaan. Perempuan itu menarik napas lega, lantas berbisik-bisik dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, "Oh, betapa aku mencintaimu. Betapa aku sangat mencintaimu...." Di dalam hatinya lelaki itu juga berbisik-bisik.

Jakarta, 17.9.09


***
Adek Alwi bermukim di Jakarta. Pernah menjadi pemimpin redaksi harian Sinar Pagi.

Koran Tempo, 6 Desember 2009
Baca lagi...

EMPAT KEMUNGKINAN TEMPAT SUAMI IBUKU BERADA

1.dia memang pergi ke negeri tetangga
dan mungkin masih berada di sana
ingin menghabiskan seluruh jatah:
usia dan ingatan tentang rumah
atau dia menunggu seseorang atau surat
datang mengajak pulang--apakah dia
lupa surat benci yang tak punya alamat?
sekarang rambut ibu yang memanjang
demi dibelai angin dan angan dibelai
mulai putih dan patah sehelai demi sehelai
tapi mengapa suaminya betah di pelarian?

2.ibu percaya seseorang bisa tersesat,
singgah atau sengaja sembunyi
di kartu keluarga orang lain
dia tua sekarang. jalan pulang
mungkin telah terlalu panjang
bagi kaki dan keinginannya
yang semakin pendek
dan rindu, meski tak mampu dikalahkan,
bisa dialihkan ke tempat pulang berbeda

3.apakah semua rumah sakit
bersedia menampung penderitaan?
jika dia menderita, oleh usia tua
atau rindu, mungkinkah dia
tak melupakan letak rumah sakit
seperti yang dilakukan ingatannya
kepada rumah yang sakit dia tinggalkan?
dia mungkin menumpang di situ
--sementara
atau menggelimpang di satu penjuru
penjara?

4.padahal ibu meminta dia membawa rumah kami
di tubuhnya--dan tak seorangpun perlu menanti
sebab bahkan petualang membawa kampungnya
ke mana-mana, agar pergi dan kembali
tak perlu diterjemahkan berbeda
mungkin ia telah melihat rumah
semakin menjauh dari dirinya
dan berpikir pulang ke kampung
yang lebih dekat dari tubuhnya:
tanah
--dan ibu hanya akan berziarah
ke dalam puisi anaknya

MENGINGAT SATU PUISI

Puisi itu mulai bicara dengan mengutip pepatah

dari negeri yang gemar berperang, negeri para

gembala domba yang mempunyai musim parah.

Kemudian istirahat sejenak, seperti menghirup

suara untuk menghibur kelelahan atau mirip

musafir yang menduga-duga letak ujung jalan.

Kalimat-kalimat berikutnya mengalir bak bah

yang tak mencintai rimbun belukar tepi sungai--

terburu-buru bagai seorang pembenci matahari

pukul 12 siang musim kemarau. Keindahannya

hanya aku terima karena menangkap kelebat

kalimat-kalimat dan bayangan-bayangan kata

yang mencuri kecupan di bibir benda-benda.

Tapi menjelang pergi, puisi itu bicara perlahan,

tenang seperti langit digenangi warna-warni tua

sorehari. Dan meski tak dikatakannya, aku bisa

melihat dengan jelas bulu-bulu halus yang lepas

dari sayap burung-burung yang pulang ke sarang,

kembang yang siap menjatuhkan diri diam-diam,

juga banyak peristiwa kecil di masa kanakku.

Saat merantau ke masa lampau itulah, tanpa

aku sadari, puisi itu pergi, menyisakan cuma

malam dan tebing yang memantul-mantulkan

panggilan yang entah dari mana pangkalnya--

juga aku yang dengan cepat merindukannya.

RENCANA MENGEDIT SATU PUISI

Aku mau menukar bangku taman itu

dengan sepasang kursi kayu sederhana

dan memikirkan warna yang sebanding

dengan dingin dinding atau mungkin

akhirnya aku biarkan saja telanjang.

Sofa yang nampak ganjil itu tentu

akan aku singkirkan ke gudang--

terlalu mewah. Mengganggu tamu,

mengganggu sepasang matamu.

Dan perempuan asing tanpa nama,

yang duduk membenahi rambutnya

di beranda, perlukah aku cari seorang

lelaki untuk menemaninya atau sendiri

akan membuat dia menjadi lebih ada?

Suara burung, dikirim dari sekurung

sangkar atau dahan pohon ketapang?

Juga lagu murung itu, datang dari tivi,

kamar mandi atau pulang dari masa lalu?

Masih tentang perempuan itu, ketika

memandang langit yang memendung,

apakah di matanya aku luapkan hujan?

Atau, ah, aku lupakan saja hujan mata?

Atau mengikuti saran seorang teman

untuk membersihkan saja mendung itu

dengan senyum atau musim kemarau

kemudian aku berjuang melupakannya

seperti melupakan senja dan kenangan

yang terlalu sering diserang keharuan?

Setelah itu, akan aku hapus seluruh

jejak yang bisa membuatmu curiga

aku sembunyi dalam puisi itu. Tapi,

apakah itu betul perlu dilakukan?

JAM BERAPA SEMALAM MATAKU MATI TERPEJAM

setiap malam

selalu ada saat ketika percakapan

kita terhenti dan aku tertidur

aku tidak pernah paham

kenapa aku tak mampu merasakan

kapan tepatnya detik-detik jam

menjatuhkan aku ke dalam

kubur tidur

juga tidak pernah bisa

mengingat-ingatnya

tidak ada orang, tidak ada

kecuali engkau yang tahu

waktu saat aku meninggalkanmu

masih dengan mata dan senyum

menyala dalam gelap

engkau selalu bertahan dan memilih

tidur setelah membereskan rambutku,

mengecup dua kali di keningku

lalu mengucap doa di kupingku

yang tak lagi peduli apa-apa

aku rindu engkau menyambut

aku bangun dengan pertanyaan:

jam berapa semalam

mataku mati terpejam?

aku rindu engkau menyebut

angka-angka waktu, jawaban

sambil tersenyum menyiapkan

sarapan yang hangat,

Nek.


****
M. Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Sehari-hari bekerja sebagai pustakawan di Kafe Baca Biblioholic di Makassar.

Koran Tempo, 6 Desember 2009
Baca lagi...
 

TAMAN CATATAN Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template