Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Mak Wati, penjual gorengan di DPR yang anaknya S2 di Jerman

Setiap hari kerja, Watiyah (60) alias Mak Wati datang ke Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Bukan karena dia anggota DPR, Mak Wati datang ke rumah wakil rakyat tersebut hanya untuk menjajakan makanan. Di gedung DPR, Mak Wati biasa berjualan di tiap lantai di gedung Nusantara I.

Berbagai makanan basah dia jajakan, seperti lontong sayur dan gorengan. Soal harga, Mak Wati menjual mulai Rp 500 sampai Rp 7.000 dengan total pendapatan sekitar Rp 150.000 per hari. Mak Wati yang memiliki lima orang anak, sebelumnya tak menyangka anak terakhirnya, Riska Panca Widowati (23) dapat melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Konstanz, Jerman.

Dia menceritakan, awalnya ketika Riska lulus Sastra Jerman di Universitas Negeri Jakarta pada 2007 silam, dia sempat melarang putri bungsunya itu melanjutkan kuliah ke luar negeri. Maklum sebagai orangtua, Mak Wati merasa ngeri dengan kehidupan dunia Barat yang identik dan terlanjur dicap dengan kebebasan yang berlebihan.

Namun, pemahaman Mak Wati terbuka, ketika dirinya mendapat banyak masukan dari kerabat dan orang dekatnya. Tak lama setelah itu, dia merestui putrinya terbang ke Jerman. "Saya enggak tahu beasiswanya dari mana. Anak saya enggak ngajuin. Tapi ditawarin kuliah di Konstanz, tinggalnya di asrama," kata Mak Wati di Komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (8/5).

Mak Wati merasa bangga dengan tingkat pendidikan putrinya. Terlebih kondisi keuangan keluarganya yang serba pas-pasan, suaminya Wagimin hanya buruh bangunan. Hal itulah yang membuat Mak Wati bangga kepada putrinya. Untuk mengobati rasa rindu kepada Riska, Mak Wati sering berkomunikasi melalui Skype. Sambil santai di rumahnya di sekitaran Cidodol Jakarta Selatan, Mak Wati mengaku betah bila ngobrol-ngobrol dengan putrinya itu.

Kini, kuliah Riska memasuki semester terakhir. Rencananya, September depan dia kembali ke Indonesia. Mak Wati berharap pendidikan tinggi yang diraih putri bungsunya itu dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

merdeka.com

Mahasiswi Ubaya bikin alas kaki berbahan gedebok (Kisah Inspiratif)

Mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) Mely Prasetyo, berhasil merancang alas kaki atau sandal berbahan olahan gedebok atau pelepah dan pohon pisang. Dikutip dari Antara, gadis kelahiran Surabaya 1991 silam itu menjelaskan, biasanya material alas kaki terbuat dari kayu, anyaman jerami, kain tenun, metal, kulit hewan, dan karet. "Karena itu saya mencoba merancang dengan bahan yang belum pernah ada," katanya di kampus setempat, Rabu.

Dia tertarik memanfaatkan gedebok bukan hanya karena belum pernah dipakai sandal. Lebih dari itu, bahan gedebok ini banyak ditemui di Surabaya, terutama di sepanjang jalan dari rumah menuju kampus. "Di Pasar Keputran juga banyak gedebok, saya sering melihat gedebok itu dibuang begitu saja. Karena itu saya berpikir memanfaatkan sebagai bahan membuat sandal khas Indonesia," kata gadis yang mengaku suka "fashion" itu.

Bungsu dari tiga bersaudara itu menjelaskan, hasil olahan gedebok yang sudah muncul di kalangan masyarakat adalah meja. "Pelepah pisang termasuk material ramah lingkungan, kuat, mudah dibentuk, ringan, mudah didaur ulang, dan aman," katanya.

Proses pengolahan pelepah pisang menjadi sandal ada lima tahap; pertama pelepah pisang dikupas, lalu dipotong dalam ukuran kecil sekitar satu centimeter. Selanjutnya potongan gedebok direbus selama 15 menit, lalu dikeringkan di udara terbuka, bukan dijemur di bawah terik matahari. Berikutnya proses pewarnaan dengan pewarna tekstil dalam air mendidih selama 30 menit hingga sehari. Terakhir proses finishing.

Caranya, pelepah pisang yang sudah kering, berwarna, dan berbentuk potongan kecil itu dilekatkan dengan lem pada alas kaki pada sepatu berbahan texon. Texon harus sudah dibentuk sesuai ukuran kaki. Untuk memperkuat, bagian pinggir pelepah pisang pada texon dijahit, lalu dipernis untuk mempercantik. "Tali pengikat atau bagian atas sandal juga dibuat dari potongan pelepah pisang, tetapi cara melekat dua pelepah pisang dengan posisi berlawanan agar tidak mudah rapuh," katanya.

Berapa harga produksi?"Kalau produksi sendiri seperti saya, harganya mahal bisa Rp 500 ribuan, padahal harga bahan baku cukup Rp 100 ribu, tetapi kalau diproduksi massal jauh lebih murah," katanya.

merdeka.com