Jumat, 13 Februari 2009

Bahasa Sebagai Objek Studi Linguistik

Apa itu bahasa ? sebelum kita mendefinisikan bahasa alangkah baiknya jika kita melihat bahasa apa adanya, bagaimana hidup dan berkembangnya dalam kegiatan kita sehari-hari. Untuk melihat mekanisme bahasa ini kita perhatikan dua dikotomi yang diajukan oleh Ferdinand de Saussure. Dikotomi yang dimaksud ialah :
1. langue- parole, dan
2. tautan sintagmatik – tautan pragmatik

pelopor linguistic modern adalah sarjana Swiss, Fedinand de Saussure, dengan bukunya Cours delinguistque general (1916), yang terbit tiga tahun kemudian setelah ia meninggal. Yang terpenting dari topiknya adalah dikotomi antara langue dan parole, Saussure membedakan tiga istilah : langange, langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran), langue mengacu pada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parole.

Langage adalah suatu kemampuan bahasa yang dimiliki setiap manusia yang sifatnya pembawaaan, tapi pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dan stimulus yang menunjang. Ringkasannya langage adalah bahasa pada umumnya. Orang bisu pun sama memilki langage ini, tapi karena umpamanya, gangguan pisiologis pada bagian tertentu maka dia tidak dapat berbicara secara normal.

Kita pernah mendengar cerita tentang dua anak manusia yang dibesarkan oleh serigala di hutan India. Karena hidup dalam lingkungan serigala, maka kedua anak manusia tadi mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak manusiawi. Tapi bunyi serigala. Contoh tersebut memperteguh gagasan bahwa faktor lingkungan berperan dalam perkembangan kebahasaan.

1. LAGUAGE – PAROLE
Langue adalah totalitas dari kumpulan fakta satu bahasa. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. Gagasan ini bersingungan dengan competence yang diajukan Comsky. Menurut Saussure, langue ini ada dalam benak orang, bukan hanya abstraksi-abstraksi saja. Langue adalah sesuatu yang individual tapi juga sosial universal. Agar lebih jelasnya adalah sebagai berikut : satu masyarakat bahasa secara konvensional dan manasuka menyetujui satu totalitas aturan dalam berbahasa dan setiap anggota masyarakat ini mengerti totalitas ini, karena ia mempunyai langue tadi. Jadi lague itu sesuatu kemampuan berbahasa dengan pembawaaan yang telah membatin pada setiap manusia. Langue itu abstrak dan tertentu pada satu bangsa. Sebagai orang indonesia kita memiliki langue bahasa Indonesia, tapi kalau kita mempelajari bahasa Jerman maka langue kita bertambah, yaitu langue bahasa Jerman.

Tadi disebutkan bahwa langue itu berkadar sosial universal. Sebagai contoh perhatikan kata kerja to be yang mempunyai bentukan sebagai berikut :

I am writing a letter now
She is writing a letter now
They are writing letter ow

Dari data sederhana di atas kita dapat menyimpulkan.
1. I menghendaki am, she, is dan they are
2. Kegiatan yang sedang berlangsung dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan to be+ (verb) kata kerja + ing.
3. kata letter kalau didahului determiner a tidak memakai -s sedangkan bila didahului dengan many, letter menjadi letters.

Nomor 1,2 dan 3 ini adalah pernyataan-pernyataan atau pemerian dari langue bahasa Inggris. Setiap penutur akan mengikuti langue ini agar ujarannya dapat dimengerti oleh orang lain. Secara kasar rumus langue satu masyarakat bahasa adalah:
Langue = tata bahasa + kosa kata + sistem pengucapan

Rumus di atas abstrak, ia hanyalah konsep yang mendasari ucapan sehari-hari, yaitu yang mendasari parole. Parole itu adalah ujaran seseorang, yaitu apa yang diucapkan dan apa yang didengar oleh pihak penanggap ujaran. Parole sifatnya pribadi, dinamis, lincah, sosial, terjadi pada waktu, termpat dan suasana tertentu. Jadi nyata! Sedang langue abstrak. Parol inilah yang teramati langsug oleh para linguis, namun dari pengamatan inilah dapat disimpulkan aturan yang melandasi yaitu langue tadi. Parole ini sejalan dengan gagasan perpormance dari Comsky. Hubungan erat antara langue dan parole dalam proses komunikasi kurang lebih sebagai berikut:
Urutan kegiatannya adalah sebagai berikut :

1. Stimulus masuk ke dalam benak A, stimulus ini lalu ditanggapi dan ingin dinyatakan dalam ujaran.
2. Yang ingin diujarkan itu lalu dirumuskan dalam satu kerangka gagasan. Ini dinamai semantic encoding.
3. Lalu gagasan utuh disusun dalam bentuk bentuk kalimat yang gramatik (gramatical encoding).
4. Setelah tersusun secara gramatik lalu gagasan itu diucapkan (phonological encoding).
Kegiatan 1-4 ini ialah kegiatan pra-bicara A dan kegiatan yang dimodali oleh langue.
5. Maka terlahirlah ujaran-ujaran A, yaitu parole atau performance.
6. Ujaran tadi terdengar oleh B. B mendapat stimulus fonologis atau phonological decoding.
7. Apa yang didengar itu oleh B kemudian disampaikan dengan aturan gramatik. Cocok atau tidak? Apakah ujaran tadi pertanyaan, pernyataan, perngingkaran atau perintah. Lalu B menafsirkan ujaran tadi yaitu sematic decoding. Kegiatan 6,7 ini berlangsung karena B dan A mempunyai langue bahasa yang sama. Begitulah gambaran langue dan parole dalam proses berbahasa, dan dalam kenyataannya kegiatan 1-7 ini berlangsung cepat sesuai dengan kemampuan berbahasa kedua belah pihak : penutur dan penanggap tutur.

2. Sintagmatik – Paradigmatik
Dikotomi lain yang perlu disebut di sini adalah sintagmatik dan paragdigmatik. Menurut Saussure kalimat apapun adalah satu rangkain tanda-tada., yang satu sama lainnya mempunyai perbedaan dan setiap tanda itu memilki arti atas makna keseluruhan. Rangkain satu tanda dengan lainnya mempunyai satu tautan sintakgmatik (sintagmatic relasionship). Ingat kata sintaksis !
perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini :
1 2 3 4

a. Amir must study now
Kalimat ini terdiri dari empat tanda dan masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda. Kalimat diatas memberikan satu gagasan utuh yang didukung oleh keempat tanda tadi. Tautan sintagmatik antar keempat tanda itu diabsraksikan sebagai : N + auxelury verb + main verb + adverb of time atau kata benda + kata kerja bantu + kata kerja utama + keterangn waktu.
Sekarang urutannya kita susun sebagai berikut :
2 1 3 4

b. Must Amir study now
4 3 1 2

c. Now study Amir Now
Kalimat (b) bisa dimengerti oleh orang asing karena tautan 2-1-3-4 tadi memang ada dalam langue Inggris, tautan sah. Sebaliknya (c) mempunyai 4-3-1-2 tidak ada dalam langue bahasa Inggris, jadi tautannya tidak sah. (a) dan (b) ternyata sesuai dengan gramatikal bahasa Inggris, mempola sistematik, sedangkan (c) tidak sesuai dengan pola tata bahasa Inggris.
Sekarang kita perhatikan lagi contoh sebagai berikut :
1 2 3 4
He will go tomorrow

Kalimat ini terdiri dari empat tanda. Tiap tanda di atas adalah satu anggota dari kesatuan jenis katanya. He adalah anggota dari kesatuan kata ganti, will dari kata bantu, go dari kata kerja, tomorrow dari kata keterangan waktu. Setiap angggota kesatuan jenis kata ada tautannya dengan aggota lainnya dari kesatuan yang sama, artinya setiap anggota kesatuan bisa menempati posisi pada kalimat di atas. Tautan ini dinamai tautan paradigmatik. Kalimat tadi kalau dinyatakan dengan kesatuan jenis katanya akan dirumuskan sebagai berkut:
Kata ganti + kt. Kerja bantu + kt. kerja utama + kt. Keterangan
He will go tomorrow
1. They Must write Now
2. She shall study next week
3. We can swim next mont
4. I could work next year
5. You should walk today
6. dst. dst. dst. dst.

Tabel di atas hanya memuat lima kata untuk setiap jenis kata, dan masih banyak kata lainnya bisa dimasukan. Tabel diatas saja memungkinkan terbentuknya 5×5×5×5×= 625 kalimat, belum lagi pola-pola kalimat lain. Setiap hari kita berbicara dengan berbagai pola kalimat. Jadi kesimpulannya : dengan adanya tautan sistagmatik dan paradigmatik kita dapat membuat sejumlah kalimat yang tak terhingga. Kita tidak akan pernah bisa menghitug jumlah kalimat, karena kejadian (nikmat Tuhan) didunia tidak terhingga.

Setelah mempelajari dua dikotomi di atas, kita mempunyai gambaran yang jelas mengenai bahasa yang menjadi objek studi para linguis. Bahasa ternyata mengandung hal-hal yang bisa diamati yaitu parole, dan yang mendasari yaitu langue, dan karena tautan sintagmatik dan paradigmatik maka bahasa menjadi suatu yang sangat produktif dan tak terhingga.
Reaksi:

4 komentar:

  1. wow...hebat...
    saya dulu juga kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, tapi di UGM ambil sastra Jepang.
    Dulu, ada dua pilihan ketika harus lebih fokus dalam belajar..mau sastra, budaya, ato ligusitik?? saya bener2 gak milih linguistik...susah mas...makanya kalo anda bener2 paham ttg linguistik, salut deh buat masnya...

    saya sih akhirnya milih sastra untuk skripsi saya, lebih mudah...hehehe

    BalasHapus
  2. duh mantabbbb buanget. thx yah aq numpang copi buat resume q

    BalasHapus

Silakan beri komentar