Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Februari 2010

Nur Alias Celeng Alias Gepeng Alias Bopeng Alias Gareng

Mungkin orang tuanya pun tak pernah terpikir kalau anaknya akan memiliki “gelar” sepanjang ini: Nur alias Celeng alias Gepeng alias Bopeng alias Gareng, gelar yang sangat panjang bukan? Dulu diberi nama Nur Asyamsiah Nurdin saja sakit-sakitan. Orang-orang tua dulu bilang: “Kepangjangan nama sih, cari nama yang singkat saja!” Dan singkat kata pula, jadilah dia dipanggil Nur, yang artinya cahaya.

Nama yang indah bukan? Tapi jangan pernah berpikir kalau Nur itu cantik! Khususnya bagi Anda yang merasa laki-laki, tapi terserah juga sih kalau Anda mau dibilang punya kelainan. Nur seorang lelaki.

Jadi begini ceritanya. Mau tahu ceritanya? atau merasa buang-buang waktu saja? Silakan klik back untuk kembali ke halaman muka atau ke rubrik yang lainnya. Kalau tidak, begini ceritanya. Tolong Kawan baca pelan-pelan agar cerita terkesan lebih dramatis!

*****

Alkisah, sebuah kenyataan telah membuat seorang anak pengusaha kaya terpaksa mengais-ngais sampah untuk mencari makan, sampai akhirnya terjebak ke dalam lembah hitam. Nur namanya.

Sepiring nasi, tahu, tempe, kangkung dan sambal mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan. Biasa rutinitas siang, berkujung ke warteg langganan. Perutku memang sudah kenyang, tapi otakku masih keroncongan, mumet. Tak ada inspirasi di batok kepalaku yang memang kosong kurang pengetahuan. Padahal tiap minggu aku selalu rajin mengirimkan tulisan ke media dan rajin juga mendapatkan balasan: Tulisan ini akan selalu terbit di hati Anda. “Cape dwueh!”

Kulayangkan pandang pada mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, berimajinasi. Tiba-tiba, kurang ajar! Seorang pemuda memecahkan gelembung-gelembung imajinasiku. Menggerakan-gerakan tangan dan melongok-longokan kepalanya ke arahku.

“Ada apa bang, mo kenalan?”colotehnya, serasa ia tak punya dosa.
“Enggak,” aku agak malu bercampur kesal.
“Kok, dari tadi ngeliatin saya terus.”

Buset! Ni orang sinting apa? gerutuku dalam hati. Apa dia kira aku gay. Kurang ajar! ia langsung menyodorkan tangannya, untuk beberapa detik aku diamkan, tapi aku juga merasa tidak enak jika tak menyambutnya. Toh mungkin dia cuma iseng.

“Nur,” ujarnya.
“Anggi,” balasku.

Aku mendengar orang-orang disekitarku cekikikan menahan tawa. Mungkin dalam hati mereka, Masa dua pria tampan nan rupawan bernama seperti perempuan. Kurang ajar!

Awalnya ia memang sangat menyebalkan, tapi ternyata lama-lama mengasikan. Jangan tanya mengapa karena ceritanya akan panjang. Intinya kami saling bercerita dan bertukar pandang, kemudian merasa punya banyak kesamaan. Titik.

Nur, sebenarnya anak orang terpandang. Ayahnya adalah seorang wirausahawan yang cukup gemilang, sebelum keranjingan menjadi anggota dewan, tapi sayang gagal dalam pemilihan, dan kemudian menderita ganguan kejiwaan.

Ibunya Nur kemudian yang menjadi tulang punggung keluarga, mengadu nasib di negeri Onta. Awalnya tiap bulan Nur mendapat kabar dan kirman meski tak seberapa, tapi setahun kemudian tak lagi ada telepon tentangga yang berdering untuknya. Lengkap sudah malapeka dan Nur tak bisa berbuat-apa.

Tidak saja kesepian, Nur juga kelaparan. Nur pernah mengais-ngais sampah untuk mencari makan, menjadi gelandangan, sampai ahirnya terjerumus ke dalam kubangan kejahatan. Nur adalah residivis kawakan. Ia sudah sering keluar masuk lembaga pemasyarkatan. Dikerjar-kejar polisi baginya, mungkin hanya main kucing-kucingan. Bahkan rumah AKBP. Khasan Atman Suparman pernah ia garap habis-habisan. Gila kan? Ia memiliki empat buah KTP dan empat nama julukan, Celeng, Gepeng, Bopeng dan Gareng yang didapat dari perjalanan hidupnya yang melelahkan. Semua julukan ada catatan historisnya yang panjang, tapi lain kali sajalah aku ceritakan.

Nur selalu berpindah-pindah, tapi jika ada waktu ia selalu mampir ke kosanku, sayangnya sudah lama ia tak datang ke kosanku, dan entah kenapa aku merindukannya... bahkan sangat merindukannya (tolong jangan diartikan negatif). Aku seperti telah kehilangan kakakku sendiri. Nur selalu “bekerja” sendiri, tapi jika mendapatkan hasil selalu ia bagi-bagi. Robin Hood-lah bahasa kerennya atau si Pitung kalau dalam ranah domestik, dan ia pun kerap menjenguk ayahnya di rumah sakit penyembuhan mental, kalau tidak ingin menyebut rumah sakit jiwa, jika dirasa kondisi cukup aman.

Bagaimana aku tahu kalau ia seorang residivis? Begini Kawan, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga, itu kata peribahasa. Ternyata benar juga.

Malam itu... bulan sedang di atas kepala, daun-daun genit melambai-lambai digoda sang angin, gemerisiknya menghiasi keheningan malam, dingin mendekap hingga ke dalam tulang, mengerutkan kulit dan bibir yang menggigil tertikam angin, sekilas burung penjaga malam terbang melintasi berarak awan di bawah bulan, kemudian hilang, kesunyian membentang sepanjang mata memandang, keheningan yang mencekam, sempurna, kembali pada titik nol, seperti saat kita kembali pada fitrah kita nanti.

Aku sih waktu itu memang mau memutar arah saja, cari suasana, dalam perjalan pulang sehabis membeli kopi dan rokok, biasa untuk menemani menonton sepak bola. Soalnya Liga Champion sedang panas-panasnya. Biasanya aku jarang lewat dari jalan itu. Aku menginap di kosan temanku yang letaknya tak jauh dari perumahan itu.

Aku tidak sengaja memergokinya ketika sedang menggergaji kunci ganda sepeda motor di sebuah perumahan elit. Kami saling bersitatap. Aku terkejut pun dengan dia, tapi ia kemudian bersikap seolah tak melihat keberadaanku, sejenak aku diam terpaku, lalu segera beranjak pura-pura tidak tahu. Aku pikir setelah itu ia tidak berani datang ke kosanku. Ternyata aku salah!

Ada beberapa alasan kenapa waktu itu aku diam saja. Apa Kawan pikir karena aku takut? Ya, Kawan benar, tapi alasan yang paling utama karena aku merasa berhutang budi. Ia sangat baik kepadaku. Ia sering meminjamiku uang, bahkan memberiku uang. Kawan tahulah bagaimana kehidupan anak kos yang serba ngepas.

Di samping itu, aku tahu Nur sebenarnya orang baik. Pernah suatu ketika aku mengendarai sepeda motor bersamanya. Ketika sampai di tikungan sekejap seorang pengendara motor di belakangku menyalib dengan kecepatan super tinggi, mungkin ia ingin menjadi pembalap moto GP, ternyata datang mobil dari arah yang berlawanan. Pengendara itu pun terkapar. Aku sekilas melihatnya. Kasihan memang, tapi tetap memacu sepada motorku. Tiba-tiba Nur memintaku berhenti, lebih tepatnya memaksaku, karena aku menolak. Aku tak ingin repot terkena masalah, tapi ia tetap memaksa. Aku pun berhenti dan memutar arah.

“Emangnya dia siape lu?” ujarku.
“Dia orang Sob.”
“Guwe tahu, lagian yang nabraknya juga kabur, orang-orang yang laen juga pada diem aja! nanti kita kena masalah, repot! udah deh!”
“Gimana kalo yang tabrakan itu guwe?” aku tersentak dengan pertanyaannya.
“Ya, pasti guwe tolonglah, lu kan temen guwe.”
“Gimana kalo lu belum kenal guwe?” pertanyaannya monohok jantungku. Aku diam tak bisa berkata-kata.

Kami pun mengantarkan si korban ke rumah sakit. Nur menelpon keluarga korban. Ia mengetahui nomor keluarga korban dari handphone korban. Aku tak pernah menyangka akan diajari nilai-nilai kemanusiaan oleh seorang residivis. Ternyata hatinya begitu mulia. Aku baru sadar betapa tak berprikemanusiaannya aku selama ini. Masihkah pantas aku disebut manusia atau seorang mahasiswa?

Mungkin Kawan juga ingin tahu kenapa Nur sangat begitu baik padaku? Tak lain dan tak bukan karena wajahku mirip dengan adiknya yang sepuluh tahun lalu sudah ditelan bumi. Ia merasa menemukan keluarganya yang hilang. Aku pun tadinya tidak percaya, kupikir ia hanya mengada-ada.

“Ini poto ade guwe.”

Astaga! wajahku yang tampan nan rupawan ini ternyata punya kembaran. Aku seperti sedang bercermin, mirip sekali denganku. Sejak kejadian itulah ia mulai benar-benar terbuka tentang latar belakangnya, dan “profesinya” yang sebenarnya. Entah apa perasaaanku waktu itu aku tak tahu persis. Semua bercampur aduk. Aku merasa sangat terkejut, iba, sekaligus bangga, maksudnya bukan atas profesinya, tapi banggga atas perjuangan hidupnya, dan yang paling membuatku tercengang, jauh di dalam palung hatinya yang terdalam ia punya cita-cita mulia, ingin menjadi wartawan. Gila kan? seorang residivis ingin menjadi wartawan.

Mungkin memang ada sisi positifnya. Jika Nur menjadi wartawan berita kriminal. Ia akan mudah mengendus berita, ia tidak akan kepusingan karena mentok dikejar deadline, ia punya kelebihan yang tidak dimiliki wartawan lain, yakni pernah langsung terjun di dunia kriminal. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling bijaksana.

Aku yakin yakin kalau Nur pada dasarnya orang yang baik. Keadaan dan ketidakpedulian yang memaksanya menjadi demikian. Kalau bahasa yang pernah aku dengar di TV sih bengini: Kita tidak miskin tapi dimiskinkan! Sistem yang membuat kita menjadi miskin!”. Mungkin juga sebenarnya Nur tidak kriminal, tapi secara tidak langsung dikriminalkan. Aduh, aku ini lagaknya sudah seperti seorang filosof saja, padahal cuma mahasiswa ingusan yang kerap kali kerepotan membayar tunggakan. Analogi yang mungkin ngawur, tapi biarlah, yang penting aku sudah bertutur dengan jujur, tiada maksud sok berbudi luhur. Memang agak sensitif juga kalau berbicara masalah “kriminal,” soalnya sekarang masih hangat istilah “kriminalisasi,” baik di media cetak maupun elektronik. Loh, kok nyambungnya ke situ, ini kan cepen! akh, sebelum tambah ngawur, nanti malah dikira ikut campur tapi gak ngatur, lebih baik aku lanjutkan saja ceritanya.

*****
Suasana yang sama memang kerap terjadi lebih dari sekali. Seperti ini misalnya: Malam itu... bulan sedang di atas kepala, daun-daun genit melambai-lambai digoda sang angin, gemerisiknya menghiasi keheningan malam, dingin mendekap hingga ke dalam tulang, mengerutkan kulit dan bibir yang menggigil tertikam angin, sekilas burung penjaga malam terbang melintasi berarak awan di bawah bulan, dan hilang, kesunyian membentang sepanjang mata memandang, keheningan yang mencekam, sempurna, kembali pada titik nol, seperti saat kita kembali pada fitrah kita nanti.

Sekarang kita sudah tiba pada bagian yang dramatis Kawan.

Tunai sudah rinduku. Nur datang ke kosanku. Aku beranjak ke kamar mandi, karena karena piring dan gelas berserakan belum dicuci. Aku mencuci dua buah gelas untuk menyeduh kopi.

“Guubbbrakkkk! Jangan bergerak!”

Berteriak seorang pria berambut panjang yang bersenapan laras panjang, mendobrak pintu kamar kosku dengan tendangan. Aku yang hendak masuk ke kamar kosku mematung, Kedua gelas yang aku pegang bergelontangan, tangan dan kakiku gemetaran. Kegaduhan membuat semua orang terbangun. Salah satu orang yang berambut cepak menjambak rambut Nur menyeretnya dengan paksa. Nur memegangi tangan seseorang yang menjambak rambutnya, berjalan terseok-seok setengah terbungkuk-bungkuk. Nur menoleh kearahku. Matanya memelas.

Salah satu temannya lagi menendang Nur dari belakang. Nur tersungkur, beberapa rambutnya masih tersisa di tangan orang yang menjambaknya, tercabut secara paksa. Nur mengerang kesakitan. Nur digelandang dengan tendangan, pukulan, bahkan sempat batok kepalanya diadukan dengan tembok. Wajah Nur yang tampan nan rupawan hancur lebur berantakan.

“Lari!”

Nur hanya terdiam duduk merunduk dengan dua tangan menelungkup kepala. Aku yang sejak tadi mematung berlari ke arah sumber suara bersama tetangga-tetangga kamar kosku. Hatiku teriris sembilu. Tak tega aku melihatnya, tapi mungkin ini terakhir aku melihatnya.

“Lari! Lari! atau kutembak! Lari!”

Teriak salah seorang di antara mereka, sambil melayangkan tendangan ke kepala. Nur kembali tersungkur. ia sekali lagi menoleh ke arahku. Tatapannya begitu sayu. Kemudian tersenyum. Senyum kesedihan, seolah mengatakan Selamat tinggal Kawan.

Ia pun berlari dengan putus asa. Salah satu di antara mereka mengangkat senapan dan selongsong peluru berjatuhan. Tiga butir peluru menembus angkasa. Nur kian berlari sejadi-jadinya. Kemudian pria itu dengan cepat membidik ke arah Nur, tepat mengarah dada.

Seseorang mengetuk pintu kamar kosku, kuhentikan jemariku yang sedari tadi menari-nari di atas keyboard.

“Nur! “ aku terkejut bukan kepalang.
“Lama tak jumpa Sob,” senyumnya mengembang. Aku beranjak dan langsung memeluknya. Oh! betapa aku merindukannya.
“Masuk!”
“Lagi nulis?” ia menengok, melihat tulisanku.
“O... iya,” ujarku agak gelagapan. Cepat-cepat kugerakan mouse mengklik tombol close pada microsof word.
“Kenapa ditutup, pelit amat, nulis apa? cerpen?”
“Iya, tapi belum beres akh malu, nanti aja kalo udah diterbitin. Itu juga kalo ada yang mau nerbitin. Hehe..”

Jadi begitu Kawan, alkisah tetang Nur alias Celeng alias Gepeng alias Bopeng alias Gareng. Ketika pria berambut panjang itu sudah membidik tepat ke arahnya, suatu keajaiban datang. Rombongan sepeda motor yang sedang berkonvoi tiba-tiba melintas dengan kecepatan super tinggi... “Huuh!... Heran,” begitu banyak orang yang ingin menjadi pembalap moto GP, tapi tidak tahu di mana tempat untuk beraksi. Walhasil mereka tanpa sadar menghalangi pandangan pria itu.

Aku begitu merindukannya Kawan, tiga tahun sudah aku merasa sangat kehilangan. Tolong jangan katakan pada siapa pun kalau aku menceritakan kisahnya padamu Kawan. Biarlah menjadi kotak rahasia antara kita yang akan selalu tersimpan dalam-dalam. Please!
***


Oleh yang punya blog

Kompas.com, Selasa, 2 Februari 2010

Minggu, 31 Januari 2010

Percakapan Pengantin

PERCAKAPAN mereka adalah gayung bersambut sepasang hati yang marun merahnya. Percakapan yang mengetuk gendang telinga penduduk langit. Percakapan sederhana dari sebuah kampung yang tak tertitik dalam peta, tak tertilik oleh sesiapa, pun tak terbetik dalam kabar. Namun, bila para nabi dan istri mereka, para sahabat nabi dan istri mereka, para tabi'in dan istri mereka, juga para wali dan istri mereka kita lupakan, maka percakapan pengantin yang belum genap setengah hari itu adalah mantra paling mustajab dalam peradaban. Jadi, petiklah pelajaran berkasih yang menjuntai dari dahan keajaiban yang tumbuh dari pohon ketulusan yang mereka tanam.

SEPATUTNYA, perkawinan mereka adalah pertautan tak lazim. Oh, mereka sama-sama tulikah? Sama-sama pengkor kakinyakah? Sama-sama juling matanyakah? Tidak. Mereka tak berkekurangan serupa itu. Mereka masih dapat mendengar dengan jernih, berjalan tanpa sengal, dan melihat dengan terang. Mereka dapat saling meningkahi setiap tutur.

Ah, bila pun berpadunya hati mereka mengandung pikatan, siapa yang memedulikannya. Laki-laki tukang parang. Perempuan tukang ladang. Perihal apa yang layak dipicing untuk memaku mata pada perkawinan itu? Dua anak manusia yang memakai mulut jiran untuk menyambung undangan, baru menghelat cinta di hadapan penghulu, baru membongkar tarup di pekarangan rumah....

Maka, helat itu adalah perayaan yang jauh dari ingar-bingar sebuah perkawinan. Tetamu yang datang kurang dari seperempat undangan. Lebih ramai oleh anak-anak yang merincah. Bermain kejar-kejaran, menanti ayam kampung telanjang ditiris dari kuali, bergelak dengan mulut penuh remahan ubi jalar…. sebagian bapak-bapak dan ibu-ibu bagai bersepakat menajur rencana lain pada Ahad itu.

Ya, perkawinan sepasang yatim-piatu itu dilindas teriknya cuaca. Terpanggang sengat yang menudung bumi. Namun begitu, pantang mereka merunduk dagu, melumur asam di muka, apalagi menanak dengki di dada, pada tak seberapa orang yang datang. Gula-gula masih tertabur di sepasang katupan bibir, melengkung di bawah hidung yang bagai mengendus tabiat buruk orang-orang kampung....

"AH, aku bersyukur sekali, Dik. Teman-teman pandai besi banyak yang membantu hajatan tadi. Walapun kau tahu, mereka hanya tak enak hati melakukannya. Karena Kakak karib mereka dalam memanggang besi." Lelaki itu baru saja mengatup pintu kamar.

Mempelai wanita yang sedari tadi duduk di depan kaca, menoleh. "Aku mengerti, Kak," jawabnya setelah mendengar lenguhan napas suaminya barusan. Ah, kau pasti sangat lelah, batinnya.

Tak banyak memang yang membantu perhelatan mereka. Bahkan saat bemasak, satu hari menjelang perayaan perkawinan, hanya segelintir yang datang. Tak tampak pesirah--kepala puak, kadus, lurah, dan orang-orang kantor kecamatan--yang biasanya membuka acara dengan sambutan-sambutan.

"Inilah nasib orang tak bersanak. Di tengah orang-orang kampung pun, kita bagai tak punya nasab kerabat." Laki-laki itu sudah berdiri di belakang istrinya. Matanya menatap mata perempuan itu yang terpantul di cermin.

Perempuan itu balas menatap, juga dari pantulan cermin. "Bila saja, aku tak pernah menangkap basah ibu-ibu tengah mengundang orang-orang di hajatan anaknya, mungkin aku takkan pernah mencecap lemaknya gulai umbut."

"Kau sangat suka gulai umbut, Dik?" Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya. Kali ini ia tatap langsung mata istrinya.

"O, bukan. Bukan itu maksudku, Kak!" Perempuan itu buru-buru membuang muka. Tampaknya ia belum terbiasa diperangkap mata lelaki. "Mereka mengundangku hanya menenggang, sama seperti kawan-kawan pandai besimu itu...."

"Lalu?" Laki-laki itu menepuk kecil bahu istrinya.

Perempuan itu berjalan menuju kelambu. Menyingkapnya. Duduk di tepi ranjang. Suaminya mengikuti. Kini mereka hampir berhimpitan. Hanya terluang setengah lengan jarak mereka kini.

Perempuan itu menatap mata suaminya. "Inilah nasib hidup tak berbapak, tak beribu, Kak. Bagaimana akan kita diundang orang dalam hajatan, bila orangtua sudah ditanam ketika kaki belum lunas melangkah?"

Laki-laki itu mengangguk, bagai memersilahkan istrinya meneruskan kata-katanya.

"Ah, budi memang harus dibalas budi. Madu jua harus dibalas madu...." Mata perempuan itu basah.

"Jangan sedih, Dik!" Laki-laki itu menyeka mata istrinya. "Malu pada Tuhan. Buruk alamatnya, bila di malam punai, mata kita berinai-rinai."

"Malam punai?" Perempuan itu mengenyitkan dahi. "Apanya yang punai, Kak, bila jemari kita pun tanpa inai? Aku pun tak tahu mengapa ladangku terpisah jauh dari ladang-ladang yang lain. Kakak tahu kan, hanya beberapa orang yang membantuku menugal tahun ini. Itu pun harus diupah segera bila serombongan padi bunting itu mulai merunduk."

Laki-laki itu menarik kedua ujung bibirnya ke tepi. Bagai berharap, senyumnya akan menyiram galau istrinya yang menggelegak.

"Dulu, aku tak pernah percaya pada kata-kata Wak Jasun, Dik. Ramainya hajatan orang kampung adalah buah tabiat bapak-ibu mereka. Bila kerap orangtua mereka menyambut undangan; rajin menjinjing ayam kampung, dan tak lalai mengantar beberapa canting padi dayang rindu... ke rumah hajat, maka, lapanglah jalan perkawinan anak mereka. Alamatnya, orang-orang kampung akan bersicepat mengisi buku tamu. Tarup yang ditegak pun bagai nak rubuh. Ambal yang dibentang bagai mengecil. Penganan yang terhidang dirasa selalu kurang. Ai, hajatan bertabuh-riang. Banyak nian tetamu yang datang. Berlimpahan uang disumbang. Ayam-ayam berjejalan dalam kandang. Beras-beras menggunung malam-siang. Terbayarlah semua galau yang membikin badan kadang meriang. Lunaslah hutang. Tersiarlah kabar bahwa hajatan itu elok tak kepalang...."

Perempuan itu meneguk liur. Lalu menengadah ke langit-langit.

"Apa yang kau pandang, Dik?" Laki-laki itu menggamit tangan istrinya. "Seandainya cicak-cicak itu mengerti percakapan kita, apakah mereka bisa berkabar?"

Perempuan itu balas menggamit. "Ya, bukan perihal cicak-cicak itu tak kuasa berkabar, Kak." Ia menoleh suaminya. "Namun, kita sama malangnya dengan mereka. Apakah kita bisa berkabar? Boleh menuntut atas perlakuan tak lazim ini? O bukan, perlakuan ini bukan tak lazim, Kak!"

Laki-laki itu balas menoleh.

"Perlakuan ini tak berhakim, Kak!" Perempuan itu meringis.

"Dik," Dielusnya kepala istrinya yang tak bersanggul lagi. "Kelak, bila kita bersua dengan bapak dan emak. Kita tanyakan saja pada mereka. Mengapa mereka tak menunggu kita besar dulu baru berjazirah ke Lubuk Senalang? Mengapa mereka tak menyambut undangan orang-orang kampung dulu, agar kawinan anaknya tak kerontang serupa tadi siang? Oh, mereka jua tak meninggalkan kabar bahwa bunga sedap malam yang mencuat dekat nisannya, adalah taklimat agar kita jangan mengeram durja."

Perempuan itu tertawa. Dijatuhkannya leher di bahu lelaki itu. "Bisa saja kau bermain kata, Kak." Dicubitnya sebelah lengan suaminya.

"Jadi, Dik. Lekaslah kita kubur muram. Kakak yakin, bujang-bujang kampung tak tahu bahwa kau adalah kembang tanjung di lereng Bukit Bakung...." Masih dibelainya rambut perempuan itu.

Perempuan itu tersenyum sendiri. Tersanjung oleh pujian lelaki tempatnya bersandar kini.

"...hanya bujang yang berperangai sultan saja yang kuasa menderik tebing licin di bukit itu, bukan?"

Laki-laki itu membuka-buka mulutnya--berteriak tanpa pekik--bagai merasakan geli oleh cubitan sang istri di dadanya.

"Oh, hendak tertawa aku, Dik, bila ingat bagaimana kita menanak rindu. Kita hanya bercinta dari silauan mata, tangan yang bertepuk, dan kening yang bersitindih. Tuhan benar-benar menyayangi kita kan, Dik?" Diciumnya kini kening istrinya.

Perempuan itu mendongak. "Ya, Kak. Tuhan telah mengirimkan lelaki yang juga berkekurangan sepertiku agar kita tak saling menguak aib yang menyertai lidah-lidah kita. Maka, senyummu adalah seroja yang bertaburan, desahmu adalah pengaduan, gamitan tanganmu adalah permohonan, belaianmu adalah hiburan, tatapanmu adalah tangkai kesepian yang harus segera dipetik. Betul seperti itu kan, Kak?"

Kini, balas lelaki itu yang menggelitik pinggang istrinya. "Aku yang harusnya menjadi pujangga di malam ini. Mengapa pula kau yang merayuku, hah?"

Perempuan itu mengambil bantal dan memukulkannya dengan manja ke punggung suaminya. "Siapa yang merayumu, tukang parang! Dasar, perasaan tak berpantang!"

Bergelutlah mereka malam itu. Sumringah rayalah ranjang itu. Ranjang yang menjadi saksi percakapan ajaib sepasang pengantin. Maka, derit peraduan itu adalah lintang pukang cinta yang pecah geladak, lenguhan dan erangan pengantin baru yang hendak mengangkat seperiuk rindu di atas nyala tanakan yang berarang-arang....

Sementara itu, makin pekat kelam yang menangkup malam, segaris cahaya bening nila dari sebuah rumah papan, menguncup tajam menembus langit, berlapis-lapis langit. Mengabar pada penghuni yang takjub seketika. Siapa yang bermikraj setelah Muhammad?

RUMAH papan itu dikerumuni orang-orang kampung. Takzimnya, tak ada yang aneh dari rumah itu. Almanak bergambar seorang artis dangdut dengan gitarnya masih bertengger dekat jam dinding yang tinggal satu jarumnya. Piring-piring seng masih tertata rapi di rak aluminium yang berkarat salah satu tiangnya. Gorden merah yang sudah lusuh masih menjuntai di kusen pintu kamar. Parang-parang pesanan penduduk masih terbaris di sudut dapur. Arit, pangkur, dan terindak, caping dari daun bengkuang, masih mencangkung dekat jamban belakang. Hanya satu pemandangan yang agak tak biasa. Di dalam kamar. Seprai anyar itu sudah kusut. Bantal-bantal berserakan. Kelambu pula tersingkap setengah.

"Ke mana pengantin baru tu minggat?"

"Oi, sudah kalian tengok di seberang? Apa tukang parang itu memukul besi di gubuk simpang? Apa perempuan itu sudah berladang dekat Belalau?"

Orang-orang menggeleng. "Tak ada, Pak Pesirah. Mereka hilang!"

"Mungkinkah berbulan madu?"

Orang-orang tergelak serta merta. Berbulan madu? Nak ke mana tukang parang dan tukang ladang merayakan perkawinan? Ke bulankah? Ke langitkah?

"Sudahlah!" Pesirah melerai tawa orang-orang yang berkerumun. "Ambil saja pelajaran. Bila menggelar sedekahan, undang saja yang bapak-ibunya pernah meramaikan hajatan kita atau orangtua kita. Bila tak, tak usahlah kalian anggap. Tak perlu pula menenggang, hingga merasa perlu berhormat pada undangan yang diantarnya. Ini adat kampung. Pusaka nenek moyang! Nah, tukang kabar pula, walapun pengantin itu jiran, tak lihat kalian macam mana ganjilnya mereka? Bukan hanya perkara tak berbapak-tak beribu, tapi, pernah tercatat dalam adat bahwa bujang bisu meminang gadis bisu, hah?"

Tetamu hajatan kemarin dan para tukang kabar, merunduk. Ah, memang salah kami, Pak Pesirah.

Orang-orang bubar. Kembali ke rumah masing-masing. Mengurung perasaan ganjil yang berlipat-lipat. Bukan memikirkan petuah kepala puak, namun masih memercik galau itu. Ke mana sepasang pengantin bisu mengeret badan di malam punai? Ke bulankah? Ke langitkah?

Lubuklinggau, 01 November 2009
***

Oleh Benny Arnas, lahir di Ulak Surung, perkampungan di utara Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 8 Mei 1984.

Koran Tempo,  31 Januari 2010

Minggu, 06 Desember 2009

Sebelas Potong Jiwa

Dia menghampiriku, duduk dan mengambil sebatang rokok yang masih kuhisap. Bibirnya yang basah memainkan kepulan-kepulan asap. Membentuk lingkaran bulat yang indah dan perlahan-lahan lenyap saat menerpa wajahku. Bibir yang mempesona Aku terperangah, tapi hanya terucap dalam hati. Entah mengapa aku merasakan adanya kedekatan emosional yang luar biasa dengannya, padahal aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Dia begitu cantik. Jantungku berdebar-debar. Ditambah tak secarik kain pun membatasi mataku melihat indah tubuhnya. Aku menarik napas panjang, meneguk air liurku dan membenarkan posisi dudukku.Aku merasakan buah dadanya yang menyentuh dadaku. Napasku semakin tidak beraturan. Ia menatapku dan dengan lembut mengelus dan mengangkat daguku, hingga aku dapat mencium aroma napasnya bersama kepulan asap yang ia tiupkan ke wajahku. Betapa tubuh yang sempurna. Nyaris begitu sempurna andai saja ia memiliki mata.Ia buta, tepatnya tidak punya bola mata. Di sekitar tulang matanya hanya ada lubang yang begitu dalam menghitam
“Siapa kamu?”
“Tak perlu kau tahu, dan apakah kau selama ini pernah merasa perlu untuk tahu?” Dia menjawab dengan sedikit mendesah. Sambil mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku gelagapan.
“Aku tak tak mengerti apa maksudmu?”
“Apa selama ini kau pernah mencoba untuk mengerti?” Suaranya sangat lembut menggoda, namun ia selalu balik bertanya sembari memaikan kepulan asap dengan bibirnya.
“Kenapa kau selalu balik bertanya?”
“Kenapa kau harus selalu bertanya….! Apakah salama ini kau pernah bertanya pada kami?”
“Kami? Apa maksudmu dengan kami? Kami apa?” Aku semakin tidak mengerti setiap perkatananya.
“Ha..ha..ha..!” Dia tertawa “Kenapa kau masih banyak bertanya. Nikmati saja. Apakah selama ini kau pernah bertanya sebelum menikmati apa yang kau ingini” Dia sedikit membuatku kesal, tapi mungkin ia benar. Nikmati saja. Ia telah memberiku kenikmatan di saat aku membutuhkannya. Kenapa aku harus banyak bertanya.
Ia beranjak dari tempat dudukku. Berpidah pada sofa di depanku. Kembali ia duduk sambil menyilangkan kaki.”Huhh..” Aku menghembuskan napas panjang. Keseruput kopi yang sudah terasa agak dingin. Menyalakan sebatang rokok. Betapa birahiku masih menyala-nyala. Ia hanya tersenyum. Sedikit mengigit bibir bawahnya, menggoda. Aku memandangi lekat wajahnya sesekali melirik memandangi buah dadanya.
“Kau suka?”Ucapnya dengan lembut dan lagi-lagi mendesah. Aku sedikit terkejut. Apakah ia dapat melihatku? Bukankah ia tidak memiliki bola mata. Atau ia bisa membaca apa yang ada dalam benakku?
“Sebenarnya siapa kamu dan apa maumu?”
“Seharusnya kau bertanya apa maumu bukan apa mauku?”
“Baiklah, mauku kau jangan balik bertanya jika aku bertanya. Paling tidak kau beritahu siapa namamu.”
“Kau belum memberiku nama.” Jawabnya enteng.
“Haahh..! Aku menghembuskan napas sedikit kesal. “Memangnya siapa aku. Kenapa aku harus memberikanmu nama?”
“Apakah semua lelaki sepertimu?” Ia memotong dengan cepat pertanyaanku.
“Apa maksudmu?” Aku balik bertanya.
“Apa arti seorang wanita bagimu?”
“Bagiku wanita adalah sebuah maha karya yang sangat indah.”
“Hanya itukah?”
“Tidak juga…. tapi aku tak perlu menyebutkan semuanya kelebihan wanita bagiku kan?.”
“Terserah, kau memang biasa berbuat sesuka hatimu.” Nada bicaranya terkesan selalu memojokanku.
“Kenapa sejak tadi nada bicaramu selalu terkesan men-jusde- ku. Apakah kau mengenalku? Apakah aku mengenalmu?”
“Aku mengenalmu dan kau mengenalku”
“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Aku memang merasa punya kedekatan emosional dengannya, tapi aku merasa tidak pernah berteman atau berkenalan dengan orang gadis buta.”
“Aku tidak buta” Jawabnya, ia terlihat sedikit tersinggung Astaga, aku terkejut. Ternyata ia benar-benar bisa membaca pikiranku.
Siapa wanita ini sebenarnya. Aku mengenal bibirnya, buah dadanya, rambutnya, kakinya, tangannya, hampir seluruh anggota tubuhnya aku kenal, tapi aku tidak tahu siapa wanita ini sebenarnya. Aku benar-benar tidak ingat..
“Kenapa kau begitu mudah melupakan kami. Apakah semua lelaki sepertimu?”Aku semakin bingung atas segala pertanyaannya. Aku tidak pernah bertemu dengannya bagaiman aku bisa melupakannya. Jika ia bisa membaca pikiranku seharusnya ia tahu kalau aku tidak berbohong, dan yang lebih membuatku bingung kenapa ia selalu mengatakan “kami.” Apa maksudnya dengan “kami”?
Lantai marmer tiba-tiba penuh dengan genangan air. Air keluar dari rambut, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan pahanya dan punggung kaki. Sekejap lantai marmer penuh genangan air. Aku terperangah. Aku mulai merasa ketakutan, sekaligus iba. Ia terlihat sangat sedih. Apakah ia sedang menagis. Tanganku gemetar, gigi-gigiku saling beradu. Wanita macam apa dia?
“Kenapa kalian laki-laki selalu menjadikan kami sebagai objek?” Aku hanya diam. “Jawaaabbb..!! Ia membentakku. Ia tiba-tiba menjadi garang.
“Karena wan…nita itu indah.”Aku menjawab terbata-bata.
“Sebatas itukah…?” Suaranya menjadi pelan tertahan. Memelas.
“Wanita juga selalu menarik.”
“Ohhh… Atas dasar itukah kalian laki-laki berhak melakukan apapun pada kami. Memperkosa tubuh kami, memperkosa pikiran kami, memperkosa hak-hak kami.”
“Aku tidak pernah memperkosa siapa pun.” Bantahku cepat.
“O, yahh..!” Dengan nada meledek. Ia bangkit dan berdiri, mencabut kedua telinganya. “Lalu ini apa namanya? Kalian lelaki tidak hanya memperkosa kami. Kalian menghancuran kami hingga kami seolah tidak. Hingga ada seolah tidak ada.
Kau telah menggagahi dan mengobrak-abrik tubuh kami. Memperkosa rambut kami, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan paha dan punggung kaki kami.” Ia terus mengoceh sambil mencabuti satu persatu anggota tubuhnya Sampai terakhir hanya tinggal tangan dan mulutnya saja. Potongan-potongan tubuhnya bergelatakan di lantai yang becek oleh genangan air mata. Kakiku bergetar hebat sampai lemas tak sanggup berdiri. Baru kali ini aku melihat hal yang sangat mengerikan samacam ini.
Potongan-potongan tubuh tersebut mencair bersama genangan air mata. Air mata itu melahapnya satu persatu, seolah hidup, dan tiba-tiba air bergerak ke atas, seperti air yang mendidih. Membentuk gelembung-gelembung yang kemudian mengejawantah menjadi sosok wanita-wanita yang aku kenal. Hellen, Sri, Monika, Lilis, Dewi, Maya, Sinta, Lia, Windi, Anita dan Marni, tapi mereka sangat menyeramkan. Mata dan lidah mereka mengeluarkan api. Mereka mendekatiku dengan kedua tangan yang terangkat, siap mencekikku seperti vampir. Aku tak sanggup berlari. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Suara mereka semakin dekat. Mereka selalu berteriak.
“Kenapa kalian selalu memperkosa kami!”
Mentari pagi mengirimkan sinarnya yang menembus kaca jendela ketubuhku. Aku sedikit memijat-mijat mataku Sebuah kuas kecil dengan cat minyak yang sudah mengering masih aku genggam. Tepat di depan mataku kulihat sosok wanita telanjang tanpa bola mata sedang berdiri di atas taman yang sangat indah. Handphone-ku berbunyi. Frans, kolektor lukisan yang juga teman baikku meng-sms.
” Gmn Mas, sudah dpt model bwt lukisannya? Klo blm sy sdh punya, nmanya Dina matanya teduh tapi bersinar. Mudah2an matanya cocok bwt lukisan Mas. Klo mau nanti sy knlkan.”

***

Oleh pemilik blog ini
Jurnal Bogor, 25 October 2009

Mata

IA suka memandang mata perempuan itu, tetapi tiap kali dia pandang ia lihat jarak terentang di antara mereka, bak nganga bukaan dinding kuburan. Tidak. Mata perempuan itu mungkin mirip danau yang teduh tetapi jauh, nun di sana, dibatasi jurang gelap hutan-belantara. Makanya setelah tersenyum lelaki itu selalu melengos dan menggeleng-geleng.

"Kenapa?" tanya perempuan itu dengan kening berkerut setiap dia berbuat begitu.

"Tidak, tidak."

"Tapi kau selalu melengos usai tersenyum memandang mataku."

"Oh. Jangan tersinggung," kata lelaki itu khawatir. "Matamu indah. Mata terindah yang pernah kulihat."

Perempuan itu tak terkejut mendengarnya. Lelaki itu pernah mengatakannya, tak pula sekali. Banyak orang juga memuji matanya. Kata mereka matanya pesona luar biasa yang dia miliki di samping tubuhnya yang sempurna. "Sulit menentukan mana yang lebih unggul, tapi aku cenderung memilih matamu," kata mereka.

"Terima kasih," katanya kepada laki-laki itu. "Itu sudah kau katakan. Yang belum kenapa kau selalu melengos dan menggeleng-geleng usai melihat mataku?"

Laki-laki itu bertahan untuk tak menjawab. Dia berkelit ke sana kemari dan untuk beberapa kali ia berhasil. Tetapi, suatu kali ketika perempuan itu kembali bertanya malah terasa mendesak, dia cuma bisa berucap, "Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu."

Sebetulnya bukan karena tidak tahu. Dia merasa takut, juga malu, sebab jarak itu selalu muncul tiap kali ia memandang mata perempuan itu. Pernah ia urai rasa takut serta rasa malu itu satu per satu, seperti si penggamang melihat ke bawah dari pesawat terbang atau berjalan di jembatan penyeberangan di siang bolong, sewaktu kendaraan seliweran di bawah. Hasilnya justru rasa gelisah yang payah. Tubuhnya berpeluh, bergetar, bibirnya pucat. Kalau sudah begitu perempuan itu justru tidak tahan, lantas melenakannya kembali dalam pelukan. "Sudah, sudah. Cup, cup," katanya membujuk. "Oh, panasnya tubuhmu," bisik perempuan itu lagi dengan lembut. "Istirahatlah, aku akan selalu ada di dekatmu."

Laki-laki itu merasa amat tenang berada dalam pelukan. Seolah waktu membeku, matahari tak mengalir, jarak itu tinggal maya. Ia dan perempuan itu bak dua belahan yang dipertemukan kembali oleh tangan Tuhan. Ia saksikan embun di ujung daun, putik-putik mekar menjadi bunga, burung-burung bersiul pada dahan-dahan pohon yang rimbun. Didengarnya gemericik air, entah di mana, penuh irama. Laki-laki itu sadar belum lagi berada di surga namun ia sungguh amat bersuka-cita.

Karenanya, betapa dia amat berduka waktu perempuan itu, suatu ketika dan dalam keadaan seperti itu juga, berkata dengan suara tetap terdengar lembut dan lunak, "Sayang, apakah menurutmu aku seperti sayur yang tidak kau dapatkan di rumah?" Pertanyaan itu sungguh merusak, tak ubahnya mendung mencemari siang.

"Mengapa bertanya seperti itu?" tanya lelaki itu terbata-bata. Di samping sedih, ia merasa sangat tidak berharga. Ia melihat dirinya seperti lelaki-lelaki lain yang warna usia mereka juga menguning, tapi suka beternak pikiran seperti yang dikatakan perempuan itu dalam kepala mereka. Padahal, dia merasa, bahkan amat yakin pula, perhatiannya pada perempuan itu tak didasari pikiran kotor seperti yang ada dalam kepala para lelaki itu. Melainkan karena sesuatu yang indah, meski tak dapat dia jelaskan dengan ringkas. Tapi apakah segala sesuatu harus diberi penjelasan, apalagi dengan ringkas? Ah, ia akan lebih suka kalau disamakan dengan tokoh yang dimainkan Richard Burton dalam film Circle Two, sedangkan perempuan itu tokoh yang diperankan Tatum O'Neal meski umur si perempuan belasan tahun lebih tua dari tokoh gadis dalam film lama itu.

"Ah, tidak, tidak," jawab perempuan itu tersipu-sipu. "Cuma ingin tahu saja, kok. Tetapi sudahlah, jangan pikirkan. Forget it."

Sesaat dia masih sibuk meredakan dada yang dideburi gelombang. Lalu, perlahan-lahan, diciumnya kembali aroma bunga-bunga. Maka ia minta perempuan itu untuk tidak lagi sekali-kali berucap demikian. "Jangan ulangi lagi, ya," katanya. Perempuan bertubuh lampai itu menjawab dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, juga disertai senyum yang menawan, "Tidak, tidak. Aku tak akan meragukanmu lagi."

Mata lelaki itu bercahaya. Dan makin bersinar saat si perempuan menambahkan, "Sebetulnya, aku juga merasa tidak mungkin kau menganggap aku bagai sayur yang tidak kau dapatkan di rumah."

Saat itu sebetulnya sudah dia dengar kembali gemericik air penuh irama, entah di mana, burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Tapi lelaki itu coba bertahan, justru karena dia ingin berada di tempat yang lebih sedap lagi. "Ei, ei," dia bilang. "Kok masih disebut-sebut ibarat itu?"

Dan perempuan itu lalu membawanya ke puncak yang lebih sedap lagi sewaktu berucap, "Maaf." Ia juga tersenyum, bermanja-manja. Bagai belum cukup, dia raih kepala lelaki itu ke pangkuan.

Langit cerah. Burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Air gemericik, entah di mana, penuh irama. Matahari bagai tidak mengalir. Dan dengan mencuri-curi dia pandang pula mata perempuan itu. Meski tak lama-lama, dengan begitu tidak dapat utuh menikmati keindahan mata itu, tapi dia bisa mengelak dari jarak yang meresahkan, malah kerap menegakkan bulu romanya.

Mestinya begitu terus. Tepatnya, lelaki itu berharap keadaan seperti itu tetap awet, sebutlah bak air telaga yang tak beriak. Tapi di lain hari perempuan itu kembali bertanya, seolah ada yang tak mati-mati dalam pikiran dan hatinya. "Kadang-kadang," dia bilang, "aku suka bertanya-tanya, apakah rasa sayangmu kepadaku sebesar rasa sayang yang aku rasakan kepadamu?"

"Ei, mengapa kau ini," balas lelaki itu. "Untuk apa lagi itu kau tanya-tanya. Tentu saja sama. Ah, jangan-jangan malah lebih. Ya, aku rasa pasti lebih besar."

Perempuan itu tersenyum. Lesung-pipinya selalu membayang bila dia tersenyum, membuat cekungan indah di raut wajah, tapi saat itu si lelaki melihat ada yang tak beres. Meski sekilas, mata perempuan itu dilihatnya tak berbinar, walau redup benar juga tidak.

"Mengapa senyummu seperti itu?" dia bilang.

"Menurutmu seperti apa?"

"Seperti...."

"Ah, sudahlah," tukas si perempuan tak sabar. "Aku hanya merasa, ada yang tidak kau katakan." Ia tak menangis tapi suaranya bergetar. "Maksudku, ada yang tetap belum kau sampaikan kepadaku. Padahal, kau tahu, oh... betapa aku amat mencintaimu."

Lelaki itu tak berkomentar.

"Mengapa kau selalu tersipu dan buang muka setelah memandang mataku?" Kini pertanyaan itu terdengar seperti tuntutan.

Lelaki itu tidak juga menjawab. Mati-matian ia bertahan tetap diam. Tidak semua yang ada dalam hati dan pikiran harus diucapkan, bahkan kepada kekasih sekalipun. Ada hal-hal pelik yang justru menuntut dipertahankan, tetap ingin jadi milik sendiri, tidak sudi dibagi-bagi.

"Jawablah," kata perempuan itu.

Lelaki itu kukuh tak menjawab.

Sejak itu si perempuan memakai kacamata hitam, dengan aneka model, membuat ia terlihat semakin cantik laiknya hari di pucuk matahari. Meski banyak orang menyesali, menilai aneh, lantaran matanya yang indah tidak tampak lagi bahkan seperti sengaja dia sembunyikan, namun perempuan itu tak peduli.

Dia memang masih muda, 33, sedang laki-laki itu mendaki 55. Lelaki itu sering berpikir perempuan itu pantasnya adik, atau keponakannya. Di kampung-kampung, dulu, mereka lazim ayah-anak. Berpikir sampai di situ biasanya lelaki itu kian tersiksa karena jarak itu justru bertambah jelas, serupa jalan yang menyembul dari balik kabut. Panjang, berliku-liku pula. Saat ia 22 tahun, perempuan itu baru saja hadir melihat dunia. Sungguh tidak tahu dia mereka bakal jumpa kelak, 33 tahun setelah masa kelahiran perempuan itu. Oh, 33 tahun! Alangkah sayup pangkalnya, jauh sekali. Ya, sangat jauh jarak terentang di antara mereka. Ia sekarang berjalan menuju petang, si perempuan justru sedang mendaki bahu hari.

"Kenapa kau selalu berkacamata?" tanya lelaki itu suatu kali, setelah tercengang-cengang karena tiap jumpa dilihatnya perempuan itu tak lepas-lepas dari kacamata hitam, bahkan saat berbaring di sebelahnya sebelum bercinta.

"Supaya kau tak selalu melengos dan menggeleng-geleng habis menatap mataku."

"Tapi... rasanya sayang sekali. Matamu indah."

"Hatimu juga indah, tetapi toh tak seluruhnya dapat kubaca."

Laki-laki itu terdiam. Betapa ia sangat mencintai perempuan itu, cinta sekali, juga ingin sekali memandang matanya lama-lama. Tetapi, ia tahu yang terakhir itu pun sesuatu yang rumit. Jadi, tinggal pilih. Keduanya tak bisa. Tidak ada yang dapat dimiliki dengan utuh-sempurna.

Sayup-sayup, lelaki itu kemudian merasa berterima kasih. Walau mata perempuan itu terlihat samar dari balik kacamata dia tak takut-takut lagi menatapnya. Tak melengos, juga tak menggeleng-geleng setelahnya. Malah berani-beraninya dia merapatkan bibir ke mata yang dilapis kaca itu, seolah-olah hendak mengecupnya. "Ciumlah, kecuplah," pinta perempuan itu penuh harap.

"Nanti kacanya buram. Eh, jadi sengaja kau tutupi keindahan matamu, ya?"

"Aku pun tak punya pilihan," sahut perempuan itu. "Ciumlah, akan aku seka nanti pakai tisu. Lakukanlah, tinggal itu yang belum. Oh, tinggal mataku yang belum kau cium. Lakukan, lakukanlah!"

Laki-laki itu mendekatkan bibirnya dan diciumnya mata perempuan itu dari balik kacamata. Matanya pejam saat melakukannya, bagai mereguk keindahan mata itu dalam-dalam, sepenuh perasaan. Perempuan itu menarik napas lega, lantas berbisik-bisik dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, "Oh, betapa aku mencintaimu. Betapa aku sangat mencintaimu...." Di dalam hatinya lelaki itu juga berbisik-bisik.

Jakarta, 17.9.09


***
Adek Alwi bermukim di Jakarta. Pernah menjadi pemimpin redaksi harian Sinar Pagi.

Koran Tempo, 6 Desember 2009

Senin, 23 November 2009

Bidadariku

She's always different--now she's monochrome,
just like the air--her shape forever shifting,
her body quick.

- Orsolya Karafiáth

IA selalu berbeda. Kini ia monokrom, seperti udara. Inilah kali pertama aku melihatnya seperti ini. Betapa indahnya. Betapa anggunnya. Betapa agungnya. Ia seperti baka: cahaya dan cuaca tak memengaruhinya.

Biasanya, begitu masuk ke ruangan ini, ia selalu menghampiriku: setelah kami saling tatap untuk beberapa saat, ia kemudian menceritakan apa saja yang terjadi padanya dalam satu atau beberapa hari terakhir--dan jika sudah begini, aku layaknya seorang pendeta agung yang menerima pengakuan dosa dari seorang jemaat tersayang. Atau, kadang ia nyerocos begitu saja tanpa kuketahui ujung-pangkalnya, dan aku sama sekali tak tahu apa yang sedang dibicarakannya. Kadang ia juga menceritakan padaku harapan-harapannya, mimpi-mimpinya, khayalan-khayalannya, kelak. Kadang kami hanya saling tatap, tanpa kata, tanpa suara, cuma saling pandang--sesekali ada sentuhan, belaian--dan itu sudah cukup buatku untuk mengetahui bagaimana keadaan dirinya saat itu. Kadang ia menemuiku dengan mata bengkak karena air mata, dan apa yang dilakukannya hanyalah memaki-maki apa saja, siapa saja, sambil memukul-mukulkan tangannya yang begitu lembut ke wajah dan tubuhku. Kadang ia datang dengan muka penuh senyuman, tapi sama sekali tak berbicara, hanya menatapku, mengelusku, dan aku tak tahu apa yang begitu menggembirakan hatinya hingga senyum selalu tergaris di wajahnya.

Namun hari ini lain. Ia masuk begitu saja ke dalam ruangan ini, bungkam, pucat, muram, murung, sama sekali tak menatapku, apalagi bicara padaku. Melihat gelagatnya ini, berbagai pertanyaan tentu saja segera mencuat dalam benakku. Ada apa? Kenapa? Tapi aku mencoba maklum. Ini mungkin sebuah kejutan baru buatku: ia memang selalu berbeda. Ya, berbeda. Selalu.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dirinya saat pertama kali menemuiku. Saat itu umurnya mungkin baru sembilan atau sepuluh tahun. Namun dalam umur sedini itu, aku telah tahu bahwa semua--ya, semua--kesempurnaan seorang wanita akan muncul dalam dirinya. Rambutnya--yang saat itu belum begitu panjang--adalah malam pekat berbintang tanpa bulan: kilap-kilap kecil bertebaran dan kadang menyilaukan mataku. Jidatnya yang tak begitu lapang, yang sebagian tertutup poni rambutnya, adalah mahkota transparan berhias bulu-bulu kecil hitam keabuan. Kupingnya, bening mengembang, adalah sepasang bunga matahari di tengah hari. Hidungnya mungil mencuat, melekat tepat simetris di antara kedua pipinya, membuatku selalu ingin mengelusnya dari pangkal hingga ujung, lalu mencubitnya. Pipinya buah fuga yang terbelah tepat sama, rona merah keabuan tertebar di kedua lengkungnya. Bibirnya sepasang aliran sungai: tak ada riak, namun aku tahu di balik permukaan tenang itu ada arus yang selalu siap menghanyutkan siapa saja. Dan aku pun langsung jatuh hati padanya. Ya, langsung. Jatuh hati pada pandangan pertama. Sepanjang hidupku, tak pernah aku bertatapan dengan sosok yang menyimpan kesempurnaan fisik yang begitu pekat seperti dirinya.

Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, kuamati semua perkembangan yang ada pada dirinya. Kucermati sekujur tubuhnya tiap kali kami bertemu. Wajahnya, lehernya, dadanya, lengannya, pinggulnya. Namun, di masa kanaknya ini, hari-hariku lebih banyak berisi kerinduan untuk bertemu dengannya. Kadang tiga atau empat hari penuh ia sama sekali tak menemuiku. Dan ketika ia tiba-tiba muncul menghampiriku, apa yang dilakukannya hanyalah menyisir rambut, atau membetulkan dasi merah putihnya, atau mengusir debu yang kebetulan nyasar masuk ke dalam matanya, tanpa sepatah kata pun yang muncul dari kedua belah bibir tipisnya itu. Dan apa yang dapat kulakukan hanyalah menatapnya, mengaguminya, tanpa tahu bagaimana perasaannya, atau bagaimana pikirannya tentangku. Di masa kanaknya ini aku merasa ia adalah sesosok peri yang tak sadar bahwa kelak ia akan jadi sesosok bidadari.

PERTEMUANKU dengannya menjadi semakin sering terjadi saat ia berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Saat itu, jika aku tak salah ingat, sore hari sehabis asar. Ia tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam ruangan ini. Dengan napas terengah, setelah melemparkan tas dan topinya ke atas ranjang, ia serta-merta menghampiriku. Ia menatapku cukup lama, menyibak belahan rambutnya, mengelus rambutnya, mengusap kedua pipinya, bibirnya, dan setelah mendekatkan matanya ke wajahku beberapa saat, ia kemudian berbisik, seperti untuk dirinya sendiri, "Apakah aku cantik?" Tawaku segera saja meledak mendengar pertanyaan konyol itu, "Tentu saja! Dan bukan hanya cantik. Kau sempurna!"

"Hari ini ia mengatakan cinta padaku. Percayakah kau? Percayakah kau bahwa hari ini ia mengungkapkan perasaannya kepadaku? Anak yang menjadi buah bibir satu sekolah itu hari ini menyatakan cintanya padaku!"

Setelah peristiwa ini, setiap hari--dalam satu hari kadang bahkan puluhan kali--ia menemuiku. Tak bisa kugambarkan betapa girangnya aku melihat perubahan ini. Dapat kukatakan, pada masa remajanya inilah aku dapat mengamati, mengerti, memiliki, dirinya sepenuhnya: kini ia tak lagi peri. Ia telah sepenuhnya menjelma bidadari. Bidadari muda. Bidadari yang sedang mekar-mekarnya: rambutnya--yang tergerai sepanjang bahunya--kini adalah malam pekat berbintang berbulan, kilau kilap menyambar-nyambar menyilaukan mataku. Jidatnya yang tak begitu lebar, yang menghampar menopang belahan rambutnya, masih tampak sebagai mahkota yang semakin transparan, berhias bulu-bulu kecil hitam keabuan. Kupingnya yang bening mengembang, kini tampak bak sepasang sayap mungil. Hidungnya mungil mancung, dan masih selalu membuatku selalu ingin mengelusnya dari pangkal hingga ujung, lalu mencubitnya. Pipinya kini buah fuga matang yang terbelah tepat sama, rona merah kebiruan tertebar di kedua lengkungnya. Bibirnya masih sepasang aliran sungai: kini tampak tambah tenang, namun aku sadar arus di balik permukaan itu begitu derasnya, dan siap menghanyutkan siapa saja ke sebuah samudra.

Pada masa remajanya ini, seiring dengan pertemuan demi pertemuan yang semakin sering terjadi di antara kami, ada dua hal yang membuatku tak pernah merasa bosan menatapnya, mengamatinya, tiap kali kami bertemu: ia selalu tampak baru. Ya, aku merasa selalu ada yang berbeda pada dirinya tiap kali kami bertemu. Tidak seperti di masa kanaknya, di masa remaja ini aku merasa ia telah sadar bahwa ia adalah sesosok bidadari: sering, saat menjelang berangkat ke sekolah, ia mengoleskan sesuatu ke bibirnya, hingga bibir itu tampak segar berpendar. Setelah itu, ia biasanya merapatkan erat-erat kedua bibirnya, lalu mecucu, lalu mendaratkan sebuah atau dua buah kecupan ke kening atau pipiku. Sering juga ia melapisi wajahnya dengan suatu bubuk kuning kecokelatan, hingga kulit wajahnya yang telah halus itu jadi tambah licin dan bersinar. Pernah juga, di tengah hari bolong, ia tiba-tiba saja menghampiriku dengan muka semringah, lalu memamerkan sepasang anting baru di kedua telinganya, sambil berkata: "Ulang tahun yang indah. Hari ini dia memberiku hadiah yang juga indah."

Hal lain yang membuatku selalu senang saat bertemu dengannya di masa remajanya ini adalah bahwa ia mulai berani memperlihatkan lekuk-liuk tubuh indahnya di hadapanku. Kadang, saat benar-benar yakin bahwa di ruangan ini hanya ada kami berdua, ia bahkan melucuti semua pakaiannya di hadapanku, lalu dengan senyum terkulum ia melenggak-lenggok, berputar-putar, naik ke ranjang, telentang, nungging, meremas kedua payudaranya, meremas pantatnya dan memperlihatkannya kepadaku, lalu mengecup hidungku sambil berkata: "Ya, ya. Aku seksi. Aku cantik dan seksi. Aku wanita paling seksi di dunia ini. Ha ha."

Dan bukan hanya itu: pada masa akil-balignya ini ia juga mulai rutin menceritakan padaku berbagai hal yang terjadi padanya dari hari ke hari. Ya, berbagai hal, bahkan mungkin semua hal, baik yang membuatku gembira ataupun sedih saat mendengarnya.

Seminggu setelah ia memamerkan anting hadiah ulang tahun dari kekasihnya itu, misalnya, ia menghampiriku sehabis magrib dengan mata berbinar dan wajah penuh senyuman. Setelah membersihkan wajahnya dengan beberapa tisu, ia kemudian menyisir rambutnya sambil bercerita padaku bahwa hari itu ia bersama kekasihnya pergi ke sebuah kebun binatang. Di sebuah bangku di sudut taman di kebun binatang itu, setelah ngobrol tentang berbagai hal dan saling mengucapkan rasa sayang, kekasihnya itu menciumnya. Dari mata dan garis wajahnya aku dapat membayangkan betapa bahagianya dirinya saat itu: itu adalah ciuman pertamanya dalam hidupnya: "Sayang, kamu nakal. Aku tahu kamu menipuku saat kau bilang sayang padaku. Tapi aku senang. Ya, ya, aku juga sayang kamu. Bangku di kebun binatang itu saksi bisu saat kau memerawani bibirku. Ha ha."

Pernah juga ia memagut dirinya lama sekali di hadapanku. Sambil mengelus kedua pipinya, menyibakkan rambutnya ke sana ke mari, meremas kedua susunya, dan sesekali menebar senyuman riang disertai kerlingan mata nakal ke arahku, ia berbisik, "Maafkan aku Martin. Kamu sudah baik sekali padaku selama ini. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap padamu. Tapi kamu tahu sendiri aku sudah punya kekasih."

SEKALI waktu ia menghampiriku dengan mata nanar kemerahan dan wajah tegang memancarkan kebencian. Dan apa yang dilakukannya di hadapanku adalah memaki-maki seseorang, sambil jarinya menunjuk-nunjuk tajam ke mata, jidat, dan hidungku, "Rasain lu, Bajingan. Sekarang dipecat! Ngomongnya mau praktikum, eh, di dalam laboratorium malah gerayangan kurang ajar. Dasar guru bajingan!"

Di waktu lain ia telentang begitu lama di atas ranjang di hadapanku, kedua tangannya ia silangkan di bawah kepalanya. Matanya menerawang memelototi langit-langit ruangan ini, seperti merenungkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dan menghampiriku, lalu menatapku lama sekali, tanpa kata, tanpa suara. Ia terus saja mengamat-amati wajahku sambil sesekali menyentuh jidatku, pipiku, hidungku, bibirku, lalu berbisik, "Jadi apa ya kamu nanti? Model? Penyiar TV? Sebentar lagi kamu lulus dan kamu masih tak tahu mau jadi apa nanti...."

Demikianlah, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, hubungan kami semakin erat. Betapa tidak: dibanding orang-orang lain, aku bisa mengatakan bahwa akulah sosok yang paling ia percaya. Aku yakin hanya kepadakulah ia ungkapkan keluh-kesah terdalamnya, kekesalannya, kegembiraannya, kegusarannya, kebenciannya, dendamnya, kegilaannya, mimpi-mimpinya, keinginannya. Jika mau sombong, aku bisa mengatakan bahwa akulah sosok yang paling mengerti dirinya. Sering kali, di malam-malam sunyi, setelah lewat dinihari, saat aku yakin sebagian besar orang telah terlelap, ia menghampiriku, menatapku begitu lama, lalu membuka diri dan menceritakan rahasia-rahasia terdalamnya kepadaku. Rahasia-rahasia yang aku yakin bahkan tak pernah ia ungkap kepada siapa pun, termasuk kedua orang tuanya.

Namun, dalam beberapa hari ini ia benar-benar terlihat lain. Ia sering masuk begitu saja ke dalam ruangan ini, bungkam, pucat, muram, murung, sama sekali tak menatapku, apalagi bicara padaku. Kadang ia bahkan menangis berjam-jam di hadapanku sambil mengeluarkan umpatan-umpatan yang membingungkanku dan membuatku sedih, "Tua bangka bajingan! Sudah punya istri dua masih juga mau lagi. Mentang-mentang kaya! Kau pikir bisa membeliku dengan uang! Fuihh! Jangan bermimpi!"

Seminggu sebelum ia bersikap seperti ini, aku memang sering mendengar berbagai pertengkaran yang terjadi di rumah ini. Aku sangat sering mendengar ia berteriak-teriak dari ruangan sebelah, lalu berlari masuk ke dalam ruangan ini, melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, membenamkan wajahnya pada sebuah bantal, lalu menangis lama sekali, sama sekali tanpa menatapku, atau bicara padaku.

Beberapa hari ini aku juga sering melihat dua orang, lelaki dan perempuan, dua sosok yang ia panggil bapak dan ibu, masuk ke dalam ruangan ini dengan muka merah dan mata penuh amarah, dan apa yang sering mereka lakukan adalah berteriak-teriak dengan suara yang begitu tinggi, hingga kadang membuat tubuhku bergetar:

"Anak tak tahu diri! Kamu bisa sekolah hingga lulus itu karena beliau yang membiayai!"

"Di mana-mana anak perawan ya nurut sama orang tuanya! Kamu kok malah melawan! Dasar anak durhaka!"

Dan terakhir, kemarin malam, aku melihat dua orang lelaki masuk ke ruangan ini, membekapnya, lalu mengangkat tubuhnya entah ke mana. Aku masih sempat melihat ia meronta-ronta sekuat tenaga dan berusaha berteriak sejadi-jadinya, namun kedua laki-laki itu tampaknya begitu kuat membekap dan mengangkat tubuhnya.

Hingga datanglah hari ini, hari saat ia tampak sama sekali terlihat lain, bahkan asing, dan aku hampir-hampir tak mengenalnya:

Ia masuk ke ruangan ini dengan wajah yang amat sangat kuyu, rambut kusut mawut, dan pakaian yang koyak di beberapa bagian. Sambil berjalan gontai dan sesekali memegangi selangkangannya, ia mengemasi semua barangnya yang ada di dalam ruangan ini ke dalam sebuah tas besar, tanpa sama sekali menatap ke arahku, apalagi bicara padaku.

Beberapa saat kemudian ia mengambil sebuah kursi yang ada di sudut ruangan ini, menaruhnya tepat di tengah ruangan, lalu membuka lemari yang ada di depanku, mengeluarkan sebuah selendang panjang, dan dengan mimik muka yang benar-benar dingin, ia naik ke kursi itu, kemudian mengikatkan selendang itu ke salah satu kayu di langit-langit kamar.

Dan seperti yang kusangka, peristiwa yang terjadi kemudian adalah sebuah kejutan baru buatku: setelah memasukkan kepalanya ke dalam simpul ikatan yang telah ia buat di selendang yang menggantung itu, dengan kaki kanannya ia menendang sandaran kursi kayu itu.

Perlahan-lahan, seiring dengan tubuhnya yang terayun-ayun di selendang itu, rona wajahnya berubah: merah pekat, kuning, kuning kemerahan, lalu perlahan membiru, memerah, membiru, merah kebiruan, lalu memutih, memucat.

Tak lama kemudian, setelah tubuhnya sepenuhnya tak bergerak, ia jadi terlihat sama sekali berbeda: Kini ia monokrom, seperti udara. Inilah kali pertama aku melihatnya seperti ini. Betapa indahnya. Betapa anggunnya. Betapa agungnya. Aku merasa, kecantikannya kini tampak baka: udara dan cuaca tak memengaruhinya.

Budapest--Balatonfüred, Oktober 2009


Zaim Rofiqi giat di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dan Freedom Institute, sambil menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Buku puisinya, Lagu Cinta Para Pendosa (Pustaka Alvabet, 2009).



Koran Tempo, 21 November 2009


Kamis, 29 Oktober 2009

Cerpen Feri M. Syukur

Perempuan yang Mengulur Nafas Panjang Seperti Mengulur Layang-Layang

Angin yang berdesir membelai poni yang tergerai menutupi dahi yang lebar dan beberapa titik jerawat menggerayang di antara alis berbulu hitam yang sedikit menyatu. Berkali-kali sang perempuan mengernyit dahi, menampak dua garis di antara gunung kecil wajahnya itu, dan terapit oleh tiga bongkahan kulit muka yang mengerut. Kau mengurut dada beberapa kali mengusap. Seolah luapan dada yang beronjak-lonjak itu hendak loncat dan kau-perempuan yang terlihat dari kejauhan, menahannya berapa jenak agar rongga dada yang menampung hati dan jantung itu tak pecah membuncah tumpah mendarah.

Kau lihat langit di atas kepala yang mendung mengandung air, kelam, hitam, dan membawa beberapa rintik hujan yang sebagian sudah membasah pipi putih pulen yang menampang mengapit dua garis di bawah lubang pernapasanmu. Beberapa kali, semenjak aku duduk di sini, minum secangkir kopi susu di depan sebuah kaca jendela yang menghadap keluar, yang sisi-sisinya beberapa titik hujan yang jatuh dan memantul ke kaca mengembun, mengaburkan bayangmu, mengulur nafas panjang dalam berlomba dengan dada yang kembang kempis menahan sesuatu.

Hujan sudah mulai besar, tanpa kilat, angin bergelombang memainkan ponimu, dan kedua lenganmu memeluk diri. Kau mulai gigil. Aku tak habis pikir, tentang kamu yang bersetia dengan gelombang dada, nafas panjang, dan beberapa usapan lembut tangan kanan yang menyeka air hujan yang jatuh di pipi dan dekat mata sedikit di samping dahi. Mungkinkah kamu sedang menunggu seseorang yang berjanji akan menemuimu di sudut jalan sana. Mungkinkah kau menunggu segerombolan kata menghambur dari pucuk hujan tentang kabar orang tuamu yang akan mengajakmu berkeliling kota, membeli es krim, duduk di taman, dan bercerita banyak tentang keluarga, pekerjaan, dan juga tentang kekasih yang tak kunjung membawa lamaran. Dan kemungkinan yang lain hinggap menumpuk di setiap ujung rambutku yang menambah saja kepala memberat. Aku mulai pusing dengan kemungkinan-kemungkinan.

Dari dalam tas, sekotak rokok, di buka, tinggal sebatang rokok, merogoh, di taruh di muka mulut, merogoh saku baju kemeja, di ambil sebatang pematik api, beradu dengan kertas pemicu api, dekatkan pada mulut, rokok terbakar, dan aku menghisap asap itu dalam-dalam seolah takut kehilangan kekasih yang telah ku tunggu dengan tiga gelas kopi sejak siang menjelang sore tadi.

Terbayang, setubuh perempuan duduk di belakang jok sopir, melihat jam berulang kali, menghela nafas beberapa kali, melihat keluar jendela, jalan tetap saja tak melaju, di depan jalan, dan mungkin di perempatan, ada kecelakaan, dan mungkin juga ada demo mengatas namakan rakyat, sedang rakyat kelelahan melihat, dan beberapa kali sang supir yang beberapa kali menyeka keringat karena jendela di tutup, sedang ac mati, mulai berbulir keringat. Sedang waktu terus menjerat kakiku yang mulai kesemutan. Tangan mulai kaku. Mulut beku, rokok menguntung debunya berjatuhan kebawah, sedikit tumpah ke sendok yang tergeletak di atas selembar tisu.

Jauh, aku tak bisa mendengar apa yang dia katakan pada seorang lelaki dari toko roti seberang jalan yang membawakannya sebuah payung. Sejenak lelaki itu mematung di sana, ketika perempuan yang berbasuh hujan menggeleng, mengusap muka dari hujan, dan menolak payung yang ia bawakan.
“Seharusnya kau terima payung itu, agar kau tak gigil dari bulir butir hujan yang bugil membugilmu dari balik baju yang mulai mengecil karena air mulai mencetak tubuhmu tak beruang nafas. Dadamu. Lehermu. Pinggulmu. Perutmu. Aku bisa lihat semua itu tanpa harus menunggumu membuka baju.”

Rokokku sudah habis. Menguntung. Jatuh dekat kaki yang kesemutan. Kopi sudah jauh dingin. Dari panas yang menguap dan juga oleh angin yang mencumbu bibir cangkir. Di sisi dekat pegangan tangan ada noda tetesan air yang jatuh, bekas minum dan bekas bibir yang mencium dan meminum dari cangkir kopi itu.

Ada mata yang sedari tadi melirik curi malu-malu. Dari balik meja yang di hadapannya sebuah mesin kasir, melempar pandang pada tubuhku yang sedari tadi menghadap luar jendela, tak banyak bergerak, dan beberapa kali mengikuti gerakan si perempuan dengan bulir hujannya mengulur nafas seperti layang-layang yang di bebaskan terbang ke langit.

Aku sendiri tidak sadar, sampai akhirnya lamunanku tentang kekasihku yang tak kunjung datang itu seolah merubah rupa hadir di wujud perempuan di luar sana. Titik hitam di dahinya menyerupai dia. Pipi putih yang sempat beberapa kali aku kecup itu menyerupai dirinya. Garis putih yang sering mendengus dan mengelus leher jenjangku saat lampu gelap dan pandangan gelap di antara kegiatan bioskop, seperti miliknya. Dan juga poni yang di mainkan angin di tatapan pertama seperti miliknya.

Lipatan baju yang basah itu adalah lipatan dirinya saat berapa waktu lalu baju putihnya sempat ketinggalan di dalam tas sepulang kuliah aku strika dan taburi di setiap sudut kain dengan cumbuan dan parfum melati kesukaannya. Dan lipatan itu adalah lipatan yang sulit aku hilangkan, menyilang di lengan kanan dekat leher yang menggaris hingga sikut luar.

Dari dalam tas, perempuan itu mengambil sesuatu, yang aku kira adalah ponsel. Benar nyatanya, dia mengambil ponselnya. Dengan menutupinya oleh tangan kiri, dia menekan tombol-tombol. Lalu menyimpannya dekat telinganya. Dan saat itu pula, ada getaran dan suara nada ponsel dari dalam saku kiriku. Aku raih dia, dan aku lihat nama yang tertera dalam layar ponsel. Darinya, kekasihku, dan aku lihat pula perempuan itu sedang bertelpon pula. Ah, mungkinkah dia itu adalah kekasihku?

Aku angkat dia, dan mulut dia itu mulai bercakap, dari dalam ponselku pula, suara kekasihku yang bertalar gerimis hujan yang jatuh, beradu dengan bising jalan menyahut, bertanya posisiku dan juga mengurai maaf yang menjulang kelangit aka keterlambatannya datang. Di katakan olehnya tentang sebuah kecelakaan, dan juga genangan air yang menenggelamkan ban taksinya hingga harus hati-hati menumbus genangan hujan di jalan.

Sejenak aku hilang ruh yang mengembara menyusuri lekuk wajah bumi, kemudian turun di sebuah tempat, yang di mana di sana ada seorang perempuan berbasuh hujan. Sendiri. Gigil. Dan bugil. Seamsal aku duduk di sana, menawarkan rokok yang basah, kemudian menyalakan sebuah, dan menguaplah aroma kretek dan juga asap yang mengepul ke ujung pandangan.

Seorang pelayan datang mendekat. Mengambil gelas kopi yang kosong dan menawarkan kembali segelas kopi, aku menutup telepon dengan tangan kiri, kemudian setengah berbisik yang dibalut senyum mengangguk. Lalu suara perempuan di ponselku mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai. Sekarang ada di seberang jalan. Aku menengok keluar jauh. Ada perempuan berpayung putih, berbaju putih, persis sepertiapa yang di pakai perempuan berbulir hujan, melewati jalan, melewati perempuan itu, melewati jendela yang sudah setengah kabur kabut hujan, d an melewati pintu, masuk berbelok ke kanan dan duduk di hadapanku dengan senyum maaf yang menggunung dan muntah ketelingaku.

Saat itu, aku ingat perempuan yang tadi dia lewati, kini tidak ada siapapun di sana. Tak ada perempuan yang mengulur nafas seperti laying-layang kelangit itu, yang sedari tadi tanpa di sadari telah menemaniku minum kopi tiga gelas, dan juga menghabiskan beberapa batang rokok.

Mungkin kekasihnya yang ia tunggu sudah datang. Mungkin orang tuanya sudah datang. Mungkin kekasih gelapnya sudah datang. Mungkin temannya sudah datang. Mungkin dia di curio rang. Mungkin lelah menunggu. Mungkin juga dia memutuskan untuk mati saja karena janji-janji dari orang yang dia harapkan tidak kunjung datang. Betapa janji itu tidak mudah di wujudkan. Karena di perjalanan sering juga ada angina yang memainkan poni. Hujan yang gigil, yang buat bugil. Ada macet yang membuat basuh keringat. Ada pula jalan yang terkadang menjadi jalur lajur air hujan ke muara, yang membawa beberapa sampah ke laut lepas. Dan juga ada kemungkinan-kemungkinan lain yang mengganggu.
“Manis, rasanya aku sudah gigil ingin cepat mengisi perut dengan yang hangat-hangat. Kamu mau pesan apa manis? Biarkan aku yang bayar, sebagai tanda minta maafku padamu!” (Kepada perempuan yang mengulur sabar pada keteguhan, dan aku yang sabar berjuang. Puspita dan Aku.)

Bandung, Mei 2009

kompas.com