Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses Bisnis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Anak UGM, Modal Rp 280 Ribu beromzet Rp 2,2 M/Tahun (Inspirasi Bisnis)

Bisnis yang dijalankan Arie Setya Yudha, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2008 ini sudah tembus pasar dunia. Omzet per bulannya sekarang berkisar Rp 185 juta. Jika awalnya bisnis yang dirintis tahun 2009 ini hanya sendirian kini Arie sudah dibantu 17 karyawan dengan 10 staf dan 7 bagian produksi.

Berangkat dari hobi bermain airsofgun, bisnis seragam militer yang digeluti Arie akhirnya berkembang seperti sekarang ini. Sayangnya, ketika itu untuk bermain airsofgun perlu biaya banyak. Akhirnya, dengan modal uang Rp 280.000 Arie membeli bahan baku berupa kain dan menjahitkannya ke penjahit. "Pakaian yang sudah jadi itu saya jual lagi di internet sebagai modal. Ternyata responnya luar biasa," kenang Arie.

Tidak disangka, dengan kualitas desain dan jahitan yang ditawarkan di media online peminat seragam militer Arie juga datang dari pasar luar negeri. Banyaknya ulasan terhadap produk yang dihasilkan maka seragam militer karya Arie ini pun dilirik pasar domestik, salah satunya Polri. "Gegana Brimob Polri mempercayakan desain seragam taktis kepada kita untuk salah satu detasemennya," kata mahasiswa asal Pekanbaru ini dikutip oleh Humas UGM Satria Ardhi Nugraha.

 Di semester tiga Arie pun mendirikan PT Molay Satrya Indonesia yang bergerak di bidang pengadaan, desain, dan pembuatan perlengkapan taktis terutama seragam taktis. Menurut Arie selain dari kepolisian, produk yang ia namakan Molay tersebut juga diminati oleh tentara, salah satunya TNI-AL dari batalyon Intai Amfibi Marinir. Kini, produk Molay baik seragam, rompi, topi dan tas sudah merambah di berbagai negara di dunia, seperti AS, Kanada, Austria, Vietnam, Jerman, Italia dan Arab.

Setiap bulan kurang lebih 200 stel pakaian berhasil mereka produksi. Itu pun masih jauh dari permintaan yang bisa mencapai lebih dari 500. "Kuncinya kualitas dan harganya bisa bersaing dengan produk luar," tuturnya. Bisnis yang dikelola Arie ini 80 persen menggunakan basis internet untuk promosi maupun mencari bahan, seperti kain.

Ia mengaku Ilmu Komunikasi yang dipelajarinya cukup membantu khususnya dalam promosi (iklan) serta desain. Rencananya, usai lulus nanti Arie tetap akan mengembangkan bisnis yang cukup prospek ini. "Harus lebih berkualitas misalnya rompi tidak panas kalau dipakai. Jadi harus jeli ketika mendesain serta mempromosikannya," ujar Arie.

merdeka.com

Selasa, 30 September 2014

Kumpulan Kisah Inspiratif ide Bisnis (Inspirasi Peluang Usaha)

Anda ingin memulai bisnis, tapi masih bingung mau bisnis apa? Ingin mulai dari mana? Selain itu juga, Anda merasa tidak punya cukup modal dan mungkin juga kemampuan untuk memulainya. Pikiran-pikiran tersebut sering muncul ketika kita ingin mulai merintis usaha. Apalagi jika usaha tersebut benar-benar dimulai dari nol, dengan modal terbatas dan bahkan pengetahuan terbatas atas bidang usaha yang ingin Anda geluti.

Untuk membangun usaha mulailah dengan membangun pikiran-pikiran yang positif. Dan positifnya: Tidak semua pengusaha sukses diawali dengan modal yang besar. Banyak pengusaha sukses merintis usahanya dari nol, dangan modal yang terbatas. Dan yang perlu diketahui bahwa kata “modal” tidak selalu di artikan dengan uang. Modal bisa diartikan mental, relasi, ide, dan sebagainya.

Ada yang sukses berkat mental yang kuat, belajar dari kegagalan dan kegagalan sampai akhirinya meraih sukses. Ada juga yang sukses berkat mental yang kuat dan kemampuan dalam membangun relasi . Ada yang sukses berkat mental yang kuat dan ide usaha yang kreatif, menciptakan peluang usaha “zero competitor” (menciptakan produk baru yang belum ada dipasaran), atau juga mengembangkan inovasi dari produk yang ada.

Berikut ini adalah beberapa contoh kisah sukses dalam merintis usaha. Semoga dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk Anda. Klik judul di bawah ini atau silahkan klik Kisah Sukses Bisnis

#Anak UGM, Modal Rp 280 Ribu beromzet Rp 2,2 M/Tahun (Inspirasi Bisnis)
 #Kisah Sukses Pengusaha Keramik

Kisah sukses pengusaha keramik Arwana (Inspirasi Bisnis)

Kunci sukses usaha, bukan hanya mencari untung. Tetapi harus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang hidup di daerah-daerah terpencil. Sehingga, bisa memberdayakan SDM lokal serta pintar dalam mencari pangsa pasar.

Tandean Rustandy yang merintis usaha pabrik keramik, PT Arwana Citramulia Tbk sejak 21 tahun lalu, mengaku dalam perusahaannya, menciptakan budaya pekerja dari posisi paling bawah. Sehingga, tidak ada yang namanya pekerja langsung pemimpin, semua harus dari bawah. Bahkan, kata dia, Arwana bukanlah berasal dari nama ikan. Melainkan singkatan dari Arab, Jawa dan China (Arwana).

Namun saat ini Arwana sudah bisa sukses, karena marketnya menengah ke bawah dan ke kampung-kampung. Meskipun sudah melantai di bursa tetapi, dia menganggap belum dikatakan sukses, baru beranjak dewasa, perlu banyak belajar. "Lihatlah Nokia, sudah berdiri tahun 1845, market cap sempat tinggi, tapi sekarang sudah turun," kata Direktur utama, Tandean Rustandy dalam acara Investor Summit and Capital Market 2014 di Jakarta, Kamis (18/9).

Tetapi, perusahaan yang dirintisnya menjadi yang pertama dengan memiliki single brand terbesar di Indonesia. Pasalnya, industri ini bergerak di sektor manufaktur dan Indonesia masuk sebagai emerging market. "Jarang sekali industri manufaktur pakai brand dia nya sendiri, banyak pakai brand orang lain. Kalau kita satu-satunya pakai brand sendiri, sehingga kalau ada gejolak enggak pernah kena. Kita enggak pernah lakukan PHK," katanya.

Perusahaan, kata dia, jangan bekerja seperti tukang jahit yang hanya menerima bahan setengah jadi lalu di pasarkan. Arwana melakukan semuanya dari nol hingga lakukan distribusi. "Kami itu rangking 15 besar sebagai perusahaan keramik. Kami cost leader dan efisien bukan hanya di Indonesia, kami bukan jago kandang, kami bisa bicara di luar negeri." Dirinya membandingkan perusahaan keramik di Thailand yakni Dynasty Tiletop, nett sell nya USD 4,50 sedangkan Arwana USD 3, sementara nett profit margin Dynasty sekira 17 persen, sementara Arwana 18,3 persen. "Investor jangan terlalu enggak pede dengan emiten lokal. Produk kita fokus menengah ke bawah, karena masyarakat kita masih ada yang miskin," katanya.

Selain itu, dirinya mengklaim Arwana merupakan satu-satunya produsen keramik dengan 5 lokasi. Pada tahun 1995 sebelum Arwana masuk ke pasar bursa saham Indonesia dengan menjadi perusahaan go public, Arwana belum bisa masuk ke kota-kota besar. "Kami dibuang ke tepi-tepi. Waktu krisis kami tetap tumbuh. Pas tahun 2001, kami melantai di bursa, bukan mencari dana. Waktu kita melantai, kita buka harga Rp 400, banyak yang tertawai kami, tapi kami ingin menjadi perusahaan publik untuk keterbukaan GCG," katanya.

Dia berharap pada pemerintahan baru dapat menyelesaikan persoalan perekonomian menjadi lebih baik, walaupun rupiah mengalami fluktuasi. "Kita percaya bahwa pemerintah yang akan datang fokus untuk buat jadi lebih baik dan stabil. Kita hidup di Indonesia kan bukan baru setahun ini, sudah lama. Rupiah kan seperti roll coaster. Ada Up ada down," kata dia.

Merdeka.com