Minggu, 06 Desember 2009

Sebelas Potong Jiwa

Dia menghampiriku, duduk dan mengambil sebatang rokok yang masih kuhisap. Bibirnya yang basah memainkan kepulan-kepulan asap. Membentuk lingkaran bulat yang indah dan perlahan-lahan lenyap saat menerpa wajahku. Bibir yang mempesona Aku terperangah, tapi hanya terucap dalam hati. Entah mengapa aku merasakan adanya kedekatan emosional yang luar biasa dengannya, padahal aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Dia begitu cantik. Jantungku berdebar-debar. Ditambah tak secarik kain pun membatasi mataku melihat indah tubuhnya. Aku menarik napas panjang, meneguk air liurku dan membenarkan posisi dudukku.Aku merasakan buah dadanya yang menyentuh dadaku. Napasku semakin tidak beraturan. Ia menatapku dan dengan lembut mengelus dan mengangkat daguku, hingga aku dapat mencium aroma napasnya bersama kepulan asap yang ia tiupkan ke wajahku. Betapa tubuh yang sempurna. Nyaris begitu sempurna andai saja ia memiliki mata.Ia buta, tepatnya tidak punya bola mata. Di sekitar tulang matanya hanya ada lubang yang begitu dalam menghitam
“Siapa kamu?”
“Tak perlu kau tahu, dan apakah kau selama ini pernah merasa perlu untuk tahu?” Dia menjawab dengan sedikit mendesah. Sambil mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku gelagapan.
“Aku tak tak mengerti apa maksudmu?”
“Apa selama ini kau pernah mencoba untuk mengerti?” Suaranya sangat lembut menggoda, namun ia selalu balik bertanya sembari memaikan kepulan asap dengan bibirnya.
“Kenapa kau selalu balik bertanya?”
“Kenapa kau harus selalu bertanya….! Apakah salama ini kau pernah bertanya pada kami?”
“Kami? Apa maksudmu dengan kami? Kami apa?” Aku semakin tidak mengerti setiap perkatananya.
“Ha..ha..ha..!” Dia tertawa “Kenapa kau masih banyak bertanya. Nikmati saja. Apakah selama ini kau pernah bertanya sebelum menikmati apa yang kau ingini” Dia sedikit membuatku kesal, tapi mungkin ia benar. Nikmati saja. Ia telah memberiku kenikmatan di saat aku membutuhkannya. Kenapa aku harus banyak bertanya.
Ia beranjak dari tempat dudukku. Berpidah pada sofa di depanku. Kembali ia duduk sambil menyilangkan kaki.”Huhh..” Aku menghembuskan napas panjang. Keseruput kopi yang sudah terasa agak dingin. Menyalakan sebatang rokok. Betapa birahiku masih menyala-nyala. Ia hanya tersenyum. Sedikit mengigit bibir bawahnya, menggoda. Aku memandangi lekat wajahnya sesekali melirik memandangi buah dadanya.
“Kau suka?”Ucapnya dengan lembut dan lagi-lagi mendesah. Aku sedikit terkejut. Apakah ia dapat melihatku? Bukankah ia tidak memiliki bola mata. Atau ia bisa membaca apa yang ada dalam benakku?
“Sebenarnya siapa kamu dan apa maumu?”
“Seharusnya kau bertanya apa maumu bukan apa mauku?”
“Baiklah, mauku kau jangan balik bertanya jika aku bertanya. Paling tidak kau beritahu siapa namamu.”
“Kau belum memberiku nama.” Jawabnya enteng.
“Haahh..! Aku menghembuskan napas sedikit kesal. “Memangnya siapa aku. Kenapa aku harus memberikanmu nama?”
“Apakah semua lelaki sepertimu?” Ia memotong dengan cepat pertanyaanku.
“Apa maksudmu?” Aku balik bertanya.
“Apa arti seorang wanita bagimu?”
“Bagiku wanita adalah sebuah maha karya yang sangat indah.”
“Hanya itukah?”
“Tidak juga…. tapi aku tak perlu menyebutkan semuanya kelebihan wanita bagiku kan?.”
“Terserah, kau memang biasa berbuat sesuka hatimu.” Nada bicaranya terkesan selalu memojokanku.
“Kenapa sejak tadi nada bicaramu selalu terkesan men-jusde- ku. Apakah kau mengenalku? Apakah aku mengenalmu?”
“Aku mengenalmu dan kau mengenalku”
“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Aku memang merasa punya kedekatan emosional dengannya, tapi aku merasa tidak pernah berteman atau berkenalan dengan orang gadis buta.”
“Aku tidak buta” Jawabnya, ia terlihat sedikit tersinggung Astaga, aku terkejut. Ternyata ia benar-benar bisa membaca pikiranku.
Siapa wanita ini sebenarnya. Aku mengenal bibirnya, buah dadanya, rambutnya, kakinya, tangannya, hampir seluruh anggota tubuhnya aku kenal, tapi aku tidak tahu siapa wanita ini sebenarnya. Aku benar-benar tidak ingat..
“Kenapa kau begitu mudah melupakan kami. Apakah semua lelaki sepertimu?”Aku semakin bingung atas segala pertanyaannya. Aku tidak pernah bertemu dengannya bagaiman aku bisa melupakannya. Jika ia bisa membaca pikiranku seharusnya ia tahu kalau aku tidak berbohong, dan yang lebih membuatku bingung kenapa ia selalu mengatakan “kami.” Apa maksudnya dengan “kami”?
Lantai marmer tiba-tiba penuh dengan genangan air. Air keluar dari rambut, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan pahanya dan punggung kaki. Sekejap lantai marmer penuh genangan air. Aku terperangah. Aku mulai merasa ketakutan, sekaligus iba. Ia terlihat sangat sedih. Apakah ia sedang menagis. Tanganku gemetar, gigi-gigiku saling beradu. Wanita macam apa dia?
“Kenapa kalian laki-laki selalu menjadikan kami sebagai objek?” Aku hanya diam. “Jawaaabbb..!! Ia membentakku. Ia tiba-tiba menjadi garang.
“Karena wan…nita itu indah.”Aku menjawab terbata-bata.
“Sebatas itukah…?” Suaranya menjadi pelan tertahan. Memelas.
“Wanita juga selalu menarik.”
“Ohhh… Atas dasar itukah kalian laki-laki berhak melakukan apapun pada kami. Memperkosa tubuh kami, memperkosa pikiran kami, memperkosa hak-hak kami.”
“Aku tidak pernah memperkosa siapa pun.” Bantahku cepat.
“O, yahh..!” Dengan nada meledek. Ia bangkit dan berdiri, mencabut kedua telinganya. “Lalu ini apa namanya? Kalian lelaki tidak hanya memperkosa kami. Kalian menghancuran kami hingga kami seolah tidak. Hingga ada seolah tidak ada.
Kau telah menggagahi dan mengobrak-abrik tubuh kami. Memperkosa rambut kami, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan paha dan punggung kaki kami.” Ia terus mengoceh sambil mencabuti satu persatu anggota tubuhnya Sampai terakhir hanya tinggal tangan dan mulutnya saja. Potongan-potongan tubuhnya bergelatakan di lantai yang becek oleh genangan air mata. Kakiku bergetar hebat sampai lemas tak sanggup berdiri. Baru kali ini aku melihat hal yang sangat mengerikan samacam ini.
Potongan-potongan tubuh tersebut mencair bersama genangan air mata. Air mata itu melahapnya satu persatu, seolah hidup, dan tiba-tiba air bergerak ke atas, seperti air yang mendidih. Membentuk gelembung-gelembung yang kemudian mengejawantah menjadi sosok wanita-wanita yang aku kenal. Hellen, Sri, Monika, Lilis, Dewi, Maya, Sinta, Lia, Windi, Anita dan Marni, tapi mereka sangat menyeramkan. Mata dan lidah mereka mengeluarkan api. Mereka mendekatiku dengan kedua tangan yang terangkat, siap mencekikku seperti vampir. Aku tak sanggup berlari. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Suara mereka semakin dekat. Mereka selalu berteriak.
“Kenapa kalian selalu memperkosa kami!”
Mentari pagi mengirimkan sinarnya yang menembus kaca jendela ketubuhku. Aku sedikit memijat-mijat mataku Sebuah kuas kecil dengan cat minyak yang sudah mengering masih aku genggam. Tepat di depan mataku kulihat sosok wanita telanjang tanpa bola mata sedang berdiri di atas taman yang sangat indah. Handphone-ku berbunyi. Frans, kolektor lukisan yang juga teman baikku meng-sms.
” Gmn Mas, sudah dpt model bwt lukisannya? Klo blm sy sdh punya, nmanya Dina matanya teduh tapi bersinar. Mudah2an matanya cocok bwt lukisan Mas. Klo mau nanti sy knlkan.”

***

Oleh pemilik blog ini
Jurnal Bogor, 25 October 2009
Reaksi:

5 komentar:

  1. salam sahabat
    ehm..bagus artekkelny/postingan bagus...good luck n thnxs ya

    BalasHapus
  2. hmmmm.... itu manusia apa gabus to Mas, koq gampang mretheli gitu, hahahaha...

    pertama alisnya, rambutnya, kupingnya, hiiiiy... jangan2 itu setaaan, hahaha...

    Sip. Bagus bngt rangkaian kata2nya, penuh makna tersembunyi.
    Tengkyu visitnya, udah follow sekalian pa blm ? (ngarep.com)

    Btw, template kita sama ya..?

    BalasHapus
  3. nah gini dong mas, bisa komen deh... fyuuhhh

    keren, cerpennya keren banget... aku suka tulisan semacam ini... semacam sastra koran.. mas ada award di tempatku, ambil ya..

    BalasHapus
  4. Sekarang... de mengerti maksud di balik cerpen ini... Terima kasih tlah memberi warna di hidupku... @Sang Anaphalis Javanicus-Aku yg abadi mencintaimu

    BalasHapus

Silakan beri komentar