Kamis, 29 Oktober 2009

Cerpen Feri M. Syukur

Perempuan yang Mengulur Nafas Panjang Seperti Mengulur Layang-Layang

Angin yang berdesir membelai poni yang tergerai menutupi dahi yang lebar dan beberapa titik jerawat menggerayang di antara alis berbulu hitam yang sedikit menyatu. Berkali-kali sang perempuan mengernyit dahi, menampak dua garis di antara gunung kecil wajahnya itu, dan terapit oleh tiga bongkahan kulit muka yang mengerut. Kau mengurut dada beberapa kali mengusap. Seolah luapan dada yang beronjak-lonjak itu hendak loncat dan kau-perempuan yang terlihat dari kejauhan, menahannya berapa jenak agar rongga dada yang menampung hati dan jantung itu tak pecah membuncah tumpah mendarah.

Kau lihat langit di atas kepala yang mendung mengandung air, kelam, hitam, dan membawa beberapa rintik hujan yang sebagian sudah membasah pipi putih pulen yang menampang mengapit dua garis di bawah lubang pernapasanmu. Beberapa kali, semenjak aku duduk di sini, minum secangkir kopi susu di depan sebuah kaca jendela yang menghadap keluar, yang sisi-sisinya beberapa titik hujan yang jatuh dan memantul ke kaca mengembun, mengaburkan bayangmu, mengulur nafas panjang dalam berlomba dengan dada yang kembang kempis menahan sesuatu.

Hujan sudah mulai besar, tanpa kilat, angin bergelombang memainkan ponimu, dan kedua lenganmu memeluk diri. Kau mulai gigil. Aku tak habis pikir, tentang kamu yang bersetia dengan gelombang dada, nafas panjang, dan beberapa usapan lembut tangan kanan yang menyeka air hujan yang jatuh di pipi dan dekat mata sedikit di samping dahi. Mungkinkah kamu sedang menunggu seseorang yang berjanji akan menemuimu di sudut jalan sana. Mungkinkah kau menunggu segerombolan kata menghambur dari pucuk hujan tentang kabar orang tuamu yang akan mengajakmu berkeliling kota, membeli es krim, duduk di taman, dan bercerita banyak tentang keluarga, pekerjaan, dan juga tentang kekasih yang tak kunjung membawa lamaran. Dan kemungkinan yang lain hinggap menumpuk di setiap ujung rambutku yang menambah saja kepala memberat. Aku mulai pusing dengan kemungkinan-kemungkinan.

Dari dalam tas, sekotak rokok, di buka, tinggal sebatang rokok, merogoh, di taruh di muka mulut, merogoh saku baju kemeja, di ambil sebatang pematik api, beradu dengan kertas pemicu api, dekatkan pada mulut, rokok terbakar, dan aku menghisap asap itu dalam-dalam seolah takut kehilangan kekasih yang telah ku tunggu dengan tiga gelas kopi sejak siang menjelang sore tadi.

Terbayang, setubuh perempuan duduk di belakang jok sopir, melihat jam berulang kali, menghela nafas beberapa kali, melihat keluar jendela, jalan tetap saja tak melaju, di depan jalan, dan mungkin di perempatan, ada kecelakaan, dan mungkin juga ada demo mengatas namakan rakyat, sedang rakyat kelelahan melihat, dan beberapa kali sang supir yang beberapa kali menyeka keringat karena jendela di tutup, sedang ac mati, mulai berbulir keringat. Sedang waktu terus menjerat kakiku yang mulai kesemutan. Tangan mulai kaku. Mulut beku, rokok menguntung debunya berjatuhan kebawah, sedikit tumpah ke sendok yang tergeletak di atas selembar tisu.

Jauh, aku tak bisa mendengar apa yang dia katakan pada seorang lelaki dari toko roti seberang jalan yang membawakannya sebuah payung. Sejenak lelaki itu mematung di sana, ketika perempuan yang berbasuh hujan menggeleng, mengusap muka dari hujan, dan menolak payung yang ia bawakan.
“Seharusnya kau terima payung itu, agar kau tak gigil dari bulir butir hujan yang bugil membugilmu dari balik baju yang mulai mengecil karena air mulai mencetak tubuhmu tak beruang nafas. Dadamu. Lehermu. Pinggulmu. Perutmu. Aku bisa lihat semua itu tanpa harus menunggumu membuka baju.”

Rokokku sudah habis. Menguntung. Jatuh dekat kaki yang kesemutan. Kopi sudah jauh dingin. Dari panas yang menguap dan juga oleh angin yang mencumbu bibir cangkir. Di sisi dekat pegangan tangan ada noda tetesan air yang jatuh, bekas minum dan bekas bibir yang mencium dan meminum dari cangkir kopi itu.

Ada mata yang sedari tadi melirik curi malu-malu. Dari balik meja yang di hadapannya sebuah mesin kasir, melempar pandang pada tubuhku yang sedari tadi menghadap luar jendela, tak banyak bergerak, dan beberapa kali mengikuti gerakan si perempuan dengan bulir hujannya mengulur nafas seperti layang-layang yang di bebaskan terbang ke langit.

Aku sendiri tidak sadar, sampai akhirnya lamunanku tentang kekasihku yang tak kunjung datang itu seolah merubah rupa hadir di wujud perempuan di luar sana. Titik hitam di dahinya menyerupai dia. Pipi putih yang sempat beberapa kali aku kecup itu menyerupai dirinya. Garis putih yang sering mendengus dan mengelus leher jenjangku saat lampu gelap dan pandangan gelap di antara kegiatan bioskop, seperti miliknya. Dan juga poni yang di mainkan angin di tatapan pertama seperti miliknya.

Lipatan baju yang basah itu adalah lipatan dirinya saat berapa waktu lalu baju putihnya sempat ketinggalan di dalam tas sepulang kuliah aku strika dan taburi di setiap sudut kain dengan cumbuan dan parfum melati kesukaannya. Dan lipatan itu adalah lipatan yang sulit aku hilangkan, menyilang di lengan kanan dekat leher yang menggaris hingga sikut luar.

Dari dalam tas, perempuan itu mengambil sesuatu, yang aku kira adalah ponsel. Benar nyatanya, dia mengambil ponselnya. Dengan menutupinya oleh tangan kiri, dia menekan tombol-tombol. Lalu menyimpannya dekat telinganya. Dan saat itu pula, ada getaran dan suara nada ponsel dari dalam saku kiriku. Aku raih dia, dan aku lihat nama yang tertera dalam layar ponsel. Darinya, kekasihku, dan aku lihat pula perempuan itu sedang bertelpon pula. Ah, mungkinkah dia itu adalah kekasihku?

Aku angkat dia, dan mulut dia itu mulai bercakap, dari dalam ponselku pula, suara kekasihku yang bertalar gerimis hujan yang jatuh, beradu dengan bising jalan menyahut, bertanya posisiku dan juga mengurai maaf yang menjulang kelangit aka keterlambatannya datang. Di katakan olehnya tentang sebuah kecelakaan, dan juga genangan air yang menenggelamkan ban taksinya hingga harus hati-hati menumbus genangan hujan di jalan.

Sejenak aku hilang ruh yang mengembara menyusuri lekuk wajah bumi, kemudian turun di sebuah tempat, yang di mana di sana ada seorang perempuan berbasuh hujan. Sendiri. Gigil. Dan bugil. Seamsal aku duduk di sana, menawarkan rokok yang basah, kemudian menyalakan sebuah, dan menguaplah aroma kretek dan juga asap yang mengepul ke ujung pandangan.

Seorang pelayan datang mendekat. Mengambil gelas kopi yang kosong dan menawarkan kembali segelas kopi, aku menutup telepon dengan tangan kiri, kemudian setengah berbisik yang dibalut senyum mengangguk. Lalu suara perempuan di ponselku mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai. Sekarang ada di seberang jalan. Aku menengok keluar jauh. Ada perempuan berpayung putih, berbaju putih, persis sepertiapa yang di pakai perempuan berbulir hujan, melewati jalan, melewati perempuan itu, melewati jendela yang sudah setengah kabur kabut hujan, d an melewati pintu, masuk berbelok ke kanan dan duduk di hadapanku dengan senyum maaf yang menggunung dan muntah ketelingaku.

Saat itu, aku ingat perempuan yang tadi dia lewati, kini tidak ada siapapun di sana. Tak ada perempuan yang mengulur nafas seperti laying-layang kelangit itu, yang sedari tadi tanpa di sadari telah menemaniku minum kopi tiga gelas, dan juga menghabiskan beberapa batang rokok.

Mungkin kekasihnya yang ia tunggu sudah datang. Mungkin orang tuanya sudah datang. Mungkin kekasih gelapnya sudah datang. Mungkin temannya sudah datang. Mungkin dia di curio rang. Mungkin lelah menunggu. Mungkin juga dia memutuskan untuk mati saja karena janji-janji dari orang yang dia harapkan tidak kunjung datang. Betapa janji itu tidak mudah di wujudkan. Karena di perjalanan sering juga ada angina yang memainkan poni. Hujan yang gigil, yang buat bugil. Ada macet yang membuat basuh keringat. Ada pula jalan yang terkadang menjadi jalur lajur air hujan ke muara, yang membawa beberapa sampah ke laut lepas. Dan juga ada kemungkinan-kemungkinan lain yang mengganggu.
“Manis, rasanya aku sudah gigil ingin cepat mengisi perut dengan yang hangat-hangat. Kamu mau pesan apa manis? Biarkan aku yang bayar, sebagai tanda minta maafku padamu!” (Kepada perempuan yang mengulur sabar pada keteguhan, dan aku yang sabar berjuang. Puspita dan Aku.)

Bandung, Mei 2009

kompas.com
 
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan beri komentar