Selasa, 01 Desember 2009

APREASIASI TEATER “UMANG-UMANG”

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi,” begitu penggalan puisi karya penyair penomenal, Chairil Anwar. Di tengah penyakit yang menderanya Chairil berharap bisa hidup seribu tahun lagi, dan mungkin sebagian orang pun demikian, ingin berumur pangjang bahkan mungkin ingin hidup abadi, karena bagi sebagaian orang kehidupan abadi itu menyenangkan. Atau mungkin karena kebanyakan orang takut mati sehingga mereka berharap dapat hidup abadi. Padahal mau tidak mau kematian itu pasti datang, karena tidak satu pun makhluk bernyawa bisa menghindar dari kamatian.

Akan tetapi bagi Waska, Ronggo dan Borok hal itu justru sebaliknya. Mereka menjungkirbalikan pandangan tersebut. Keabadian itu tidak menyenangkan, keabadian itu sebuah siksaan, kematian bagi mereka adalah jalan keluar dari sebuah siksaan menuju ketenangan, sehingga berkali-kali mereka mencoba bunuh diri, tetapi selalu gagal. Akhirnya mereka pun hidup dalam kebosanan yang luar biasa menyiksa. Kebosanan dan kesepian yang lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Begitu mengerikan dan terjadi berulang-ulang tanpa akhir.

Paragraf di atas adalah gambaran sebagian pesan yang disampaikan dari pementasan teater berjudul “umang-umang,” yang disutradarai oleh Dedi Warsana. Teter ini dipentaskan Senin 20, 21 November 2009, di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dan rencananya akan dipentaskan juga di Gedung Dewan Kesenian Cianjur (GDKC) 5, 6 Desember 2009.

Ketegangan, kekalutan, kebengisan, keserakahan dan kelucuan berbaur menjadi satu dalam teater ini. Ketika ketegangan memuncak humor segar dilontarkan, dan kadang sebaliknya, ketika penonton larut dalam oleh humor yang disajikan, ketegangan tiba-tiba dipercikan oleh tokoh Waska yang kejam, tegas, penuh kebecian dan ambisius, tetapi kadang berubah menjadi begitu lucu, menjelma ke dalam sosok lain, yakni Semar. Waska digambarkan mempunyai dua keperibadian: sebagai pemimpin gerombolan perampok, dan sebagai Semar, tokoh lucu yang memberikan deskrifsi jalannya cerita yang kadang berisi kritikan atas keadaan sosial, dan menariknya, tokoh Semar kerap berinteraksi langsung dengan penonton.

Teater ini sendiri sarat akan balutan humor, musik dan gerakan tari yang esentrik, meski menceritakan kehidupan para perampok. Ironisnya, para perampok ini begitu menyayangi dan mengagumi Waska, pemimpin gerombolan perampok dalam cerita ini. Bahkan tak hanya para perampok, beberapa kaum marjinal pun menyanginya seperti tukang jamu, anak-anak jalanan. Waska sudah dianggap sebagai ayah mereka mereka sendiri.

Kepiawaian Arifin C Noor dalam menggarap naskah patut diacungi jempol. Pasalnya, karakter Waska sebagai pemimpin geromobalan perampok yang ambisius dan tangguh tergambar dengan kuat. Hal itu dapat terlihat ketika Waska berjuang dengan gigih melawan penyakitnya yang sangat parah, hingga ia sekarat, tetapi ia tetap tidak mau menyerah dengan penyakitnya. Waska tak ingin mati sebelum ambisinya tercapai, yakni merampok toko-toko, pabrik-pabrik, bank atau apapun yang bisa dirampok. Waska ingin menciptakan benih-benih penerusnya dan menebarkan kejahatan ke tiap sudut kota.

Berkat jerih payah anak buahnya yakni, Ronggo dan Borok, Waska berhasil selamat dari kematian, karena mereka berhasil mendapatkan ramuan ajaib dari orang pintar yakni “jamu dadar bayi.” Salah-satu bahan Ramuan ajaib ini adalah daging bayi. Ronggo dan Borok memperoh bahan ramuan tersebut dengan menggali kuburan bayi yang baru meninggal dunia.

Walhasil ambisi Waska pun tercapai. Bahkan Waska, Ronggo dan Borok akhirnya hidup abadi. Waska beserta anak buanya berhasil merampok apapun, lagi dan lagi tanpa henti. Namun lamban laun ia dan anak buahnya mulai letih dan akhirnya hingga satu persatu anak buahnya mati, hanya tinggal ia, Ronggo dan Borok. Bertahun-tahun lamanya mereka hidup dalam kesepian dan kobosanan yang menggerogoti sampai mereka pun mencoba bunuh diri, tetapi selalu gagal. Mereka bersedih kenapa tak mati-mati.

Suatu hari tanpa sengaja melihat anak-anak buah mereka yang telah mati. Namun mereka ternyata telah menjadi arwah. Baru kemudian mereka benar-benar mendapati sosok nyata anak-anak buah mereka. Akan tetapi, ternyata sosok-sosok itu bukanlah anak-anak buah mereka, melainkan sosok anak-anak dan cucu-cucu dari anak-anak buah mereka yang telah mati

Rasa letih, bosan dan kesepian akhirnya dapat sedikit bisa terobati ketika rasa ngantuk menghinggapi. Bagi mereka ngantuk adalah anugerah yang tak terkira. Entah berapa tahun lamanya mereka tidak pernah tidur. Oleh karenanya, mereka merasa sangat senang ketika mulai mengantuk dan mereka pun kemudian tertidur. Suasana pun menjadi hening, sampai akhirnya keheninagan berubah menjadi kegaduhan kala mereka terbangun dari tidurnya.

Bersama anak-anak buah yang baru Waska, Ronggo dan Borok Kemudian merampok lagi, lagi, lagi dan lagi sampai mereka letih. Begitu seterusnya, selalu berulang lagi tiada pernah berhenti. Kebosanan yang abadi.
***

Oleh pemilik blog ini
Reaksi:

1 komentar:

Silakan beri komentar