Senin, 23 November 2009

Sastra Anak Solusi Bahasa Televisi

“Apalah daya,” mungkin itu alasan sejumlah orang tua, saat tidak mampu sepenuh waktu mengawasi tontonan anaknya yang kerap tidak mendidik. Sehingga anak cenderung berprilaku tidak sopan, baik dalam perbuatan maupun ucapan. Memang pada realitanya, sejumlah orang tua menghadapi dilema, misal mereka yang kedua-keduanya pekerja. Paling-paling pada malam atau hari libur hari saja ada waktu di rumah, sehingga sulit mengawasi tontonan anaknya. Akan tetapi, bukan menjadi alasan orang tua tidak bisa mendidik anak dengan baik.

Benarkah perilaku anak dipengaruh oleh tontonan yang anak lihat? Baca sajalah kutipan dibawah ini. Saya sebenarnya ngeri kalau membacanya.

Hasil penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak pada tahun 2006, televisi menjadi santapan anak-anak selama 3,5 jam sampai 5 jam per hari. Media audio visual itu bebas merasuki pikiran manusia lewat tayangan-tayangannya yang kurang secara kualitas. Anak-anak usia dini mahir mengucapkan kata-kata yang tidak pantas (tidak sopan untuk diucapkan).

Itu tahun 2006 apalagi sekarang? dan itu baru dari segi ucapan, belum lagi dalam segi perilaku. Seperti anak usia dini melakukan tindak kekerasan. Memang, tidak semuanya disebabkan dari televisi. Akan tetapi televisi juga berperan dalam hal ini, terutama dalam hal bahasa anak. Sangat disayangkan sejumlah bahasa televisi yang sebenarnya tidak patut ternyata sudah dikuasai oleh anak. Oleh karenanya, saya tidak heran ketika prasa ini: “Kita! elo aja kali” meluncur dari bibir mungil seorang anak kecil. Akan tetapi, ya, tetap saja saya merasa miris. Kata-kata itu mungkin tidak terlalu “parah,” bahkan ada yang lebih teramat tidak sopan lagi. Namun tidak perlulah kiranya saya sebutkan.

Lalu solusinya bagaimana?

Saya bukan Kak Seto, tapi sedikit memberikan masukan tak apalah kiranya. Semoga saja berguna. Masa kanak-kanak adalah masa di mana anak akan menyerap apapun yang anak dapatkan, maka tak heran jika anak kerap meniru apapun yang ia peroleh. Hal itu alamiah, tidak hanya bahasa, tapi juga perilaku atau tindakan. Oleh karenanya, berikanlah masukan-masukan yang positif. Dalam hal ini seperti apa? Silakan baca paparan di bawah ini.

Bagi orang tua yang merasa memenuhi “kriteria” pada pembahasan awal di atas, usahakan untuk terus mengajak berkomunikasi anak. Ya, meski Anda pekerja, bukan berarti tidak ada waktu sama sekali kan? Minimal malam hari, sebelum tidur atau hari libur. Ajak anak bercerita tentang hari-hari yang telah dilaluinya. Di saat bercerita itulah kita bisa “memperbaiki” bahasa anak. Tentu dengan penuh perhatian, jangan sampai teguran kita terkesan terlalu mengoreksi, nanti anak malah malas bercerita. Dengan seringnya Anda berkominikasi, paling tidak Anda sudah memberikan contoh berbahasa yang baik bagi anak. Di samping itu dengan bercerita anak belajar merekonstruksi apa yang ia alami. Hal ini dapat mengasah daya ingat anak.

“Dongeng sebelum tidur, “ ada baiknya jika tidak hanya menjadi syair sebuah lagu. Ini juga tak kalah penting. Bacakan dongeng pada anak sebelum tidur. Kenapa? Bahasa dalam dongeng umumnya bahasa yang baik, dalam arti sopan. Secara tidak langsung kita mengajarkan kesopanan dalam cara bertutur pada anak, Plus nilai-nilai pendidikan lain yang terkandung dalam cerita dongeng sendiri. Di samping itu nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam dongeng akan menjadi sugesti yang positif bagi anak. Seperti apa kata Romi Rafael, jika kita mendapatkan sugesti yang positif sebelum tidur, maka ketika bangun pikiran kita akan terbuka ke arah yang positif. Bukan bermaksud meminta untuk menghipnotis anak Anda, tetapi memberikan sugesti yang baik, nilai-nilai yang positif.

Akan labih baik lagi jika Anda dapat membimbing anak untuk senang menulis. Bagaimana caranya? Sekarang sedang marak istilah “sastra anak,” yakni bacaan-bacaan sastra yang dikhusukan untuk anak? Akh, itukan hanya bacaannya, tetap saja menulis karya sastra itu sulit. Apa anak saya bisa? Jika Anda berpikir demikian, maka coba pikir ulang lagi. Bahkan ada anak yang berusia delapan tahun sudah dapat membuat novel, hebat kan? Bagaimana bisa? Ya bisa. Karya sastra adalah karya yang sangat membutuhkan imajinasi. “Ini modal penting.” Bukankah masa kecil adalah masa yang paling penuh dengan imajinasi? Mobil-mobilan saja dalam imajinasi anak dapat dibuat terbang atau berubah menjadi pesawat terbang. Bahkan anak kadang berimajinasi bisa terbang. Padahal mungkin anak sendiri tidak sadar kalau sedang berimajinasi. Ternyata sejak kecil kita telah memiliki modal penting untuk menulis, “yakni imajinasi.” Luar biasa kan? Jadi menurut saya sangat tepat jika kita mengajarkan anak untuk menulis. Tentu siapa sih yang tidak ingin anaknya seperti yang saya sebutkan di atas, maka mulailah mengajarkan anak untuk menorehkan imajinasinya ke dalam bentuk tulisan.

Penulis manapun pasti terpengaruh penulis-penulis lainnya. Maksudnya, secara tidak langsung pasti ada gaya atau ide-ide, yang memengaruhi penulis dari apa yang ia baca. Relevansinya apa? Umumnya bahasa dalam karya sastra adalah bahasa yang baik. Ketika anak senang membaca karya sastra, maka saat anak menulis, anak akan terpangaruh untuk menulis dan bertutur dengan bahasa yang baik. Siapa tahu juga anak Anda bisa menjadi penulis cilik yang berbakat. Kiranya begitu!

***

Oleh pemilik blog ini
Reaksi:

1 komentar:

  1. salam sahabat
    wah bagus artikelnya saya terinspirasi pada kalimat''memperbaiki''bahasa anak.oh iya saya dah follow kalo sedia follow balik buat saya ya thnxs n goodluck

    BalasHapus

Silakan beri komentar