Kamis, 02 Oktober 2014

(Tips) Cara Benar Menjaga AC Mobil agar Tetap Dingin












Agar AC bisa memberikan kenyamanan terus-menerus kepada pengemudi dan penumpang mobil, ada beberapa perawatan yang harus dilakukan secara teratur. Pendapat itu dikemukan oleh Edo, Kepala Bengkel Dwi Guna, di kawasan Haji Nawi, Jakarta Selatan.

Berkala
Lakukan servis atau perawatan berkala setiap 8 hingga 12 bulan sekali. Kendati demikian ditambahkan oleh Edo, "Saat ini jarak tempuh tidak bisa menjadi tolak ukur karena kondisi jalan yang macet menyebabkan kerja AC semakin lama."

Indikator AC sudah waktunya diservis adalah suhu yang dihasilkan tidak sedingin sebelumnya. Biasanya disebabkan evaporator mulai kotor. "Ciri lain, bau tidak sedap yang keluar dari kotoran di evaporator. Beban kerja sistem pun menjadi berat," urai Edo.

Perbaikan
Jika memang dinyatakan ada kerusakan atau mulai menurun performanya, langkah perbaikan wajib dilakukan. Sebelum diputuskan untuk dibongkar, sebaiknya periksa dulu sistem sirkuit AC. Evaporator adalah target utama untuk dibersihkan karena kerap kotor. Selain itu, juga harus dilakukan penambahan oli untuk kompresor. "Komponen yang wajib diganti setiap servis adalah dryer karena cara kerjanya sama dengan filter bensin," papar Edo.

Freon juga perlu diisi ulang karena saat disevis pasti ada yang terbuang. Proses pembersihan evaporator membutuhkan waktu 3 jam lebih, dengan catatan tidak ada kerusakan komponennya. Sedangkan biaya perawatan, mulai dari Rp 400.000 untuk buatan Jepang, hingga Rp 1,5 juta merek buagtan Eropa dengan konstruksi lebih ribet. Itu pun untuk jasa kerja dan freon. Sementara kalau dryer diganti, biaya befrkisar dari Rp 175.000 -750.000 tergantung merek dan model mobilnya.

Dipanaskan

Menurut Edo, bila mobil yang tidak dipakai selama sebulan, mesin sebaiknya dihidupkan (dipanaskan) dan AC diiaktifkan. Tujuannya, untuk menghindari pengendapan oli di kompresor. Pasalnya, pada kondisi tersebut bila AC dihidupkan akan terjadi gesekan pada permukaan komponen kompresor yang saling bersentuhan. Karena keseringan, rusak deh itu kompresor!

Kompas.com

Kecepatan Internet Indonesia Nomor 101 Dunia

Lembaga penyedia layanan cloud global, Akamai Technologies Inc, kembali merilis laporan State of the Internet. Seperti biasa, laporan edisi terbaru Akamai untuk kuartal II 2014 turut menjabarkan hasil riset kecepatan akses internet di berbagai wilayah di seluruh dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Di negeri ini, Akamai mencatat kecepatan akses internet rata-rata sebesar 2,5 Mbps, naik 5,1 persen dari angka 2,4 Mbps yang tercatat pada kuartal sebelumnya.

Angka 2,5 Mbps yang tercatat pada kuartal II 2014 sudah jauh lebih tinggi dibandingkan enam bulan sebelumnya, pada kuartal IV 2013, yang menunjukkan bahwa kecepatan akses internet rata-rata Indonesia terpantau hanya sebesar 1,6 Mbps.

Meski mengalami peningkatan kecepatan, peringkat internet Indonesia justru turun dari urutan ke-93 menjadi urutan ke-101 di seluruh dunia karena beberapa negara lain mencatat kenaikan kecepatan lebih tinggi.
Akamai Technologies Inc. Tabel kecepatan akses internet rata-rata di wilayah Asia Pasifik di laporan State of the Internet Akamai untuk kuartal-2 2014

kompas.com
Vietnam, misalnya, mencatat kenaikan kecepatan akses internet rata-rata sebesar 42 persen dari 2,0 Mbps pada kuartal I 2014 menjadi 2,9 Mbps sehingga peringkatnya naik mengalahkan Indonesia.

Di wilayah Asia Pasifik, kecepatan akses internet rata-rata di Indonesia hanya lebih kencang dari India yang duduk di urutan terbawah dengan catatan 2,0 Mbps. Negara berikutnya yang terdapat di ranking kedua terbawah, Filipina, menorehkan angka kecepatan yang sama dengan Indonesia.

Adapun urutan teratas antara lain diduduki Korea Selatan dan Jepang, yang sekaligus memegang predikat sebagai penyedia akses internet terkencang di dunia.

Tips & Triks Mengganti Warna 'Costumize' Folder Pada Windows

Saat ini tersedia banyak aplikasi yang dapat digunakan untuk membuat tampilan komputer terlihat lebih menarik, salah satunya adalah folder colorizer. Aplikasi ini akan membuat tampilan folder lebih menarik karena kita bisa mengganti folder dengan berbagai warna. 

Selain tampilan menjadi lebih menarik dan juga dapat memudahkan untuk dalam pencarian file tertentu yang kita prioritaskan. Kita bisa memberikan warna khusus pada folder tertentu, sehingga akan mudah untuk mengidentifikasi sejumlah file yang terdapat folder dengan warna-warna tertentu.

Silakan Download Aplikasinya di sini 

Setelah Aplikasi terinstal, klik kanan pada folder ingin diganti warnanya. Lalu akan terlihat pilihan baru di menu konteks yaitu: Warnai!. Sekarang memilih warna yang ingin Anda tetapkan ke folder ini.

Meskipun aplikasi ini gratis, saat pertama digunakan, perangkat ini akan meminta id email Anda untuk aktivasi. Tapi tidak perlu khawatir karena kita tidak perlu mengkonfirmasi aktivasi dengan masuk ke akun email Anda. Bahkan jika Anda tidak ingin berbagi email id Anda dengan pengembang software ini pun tidak masalah. Software ini diaktifkan secara otomatis setelah Anda memasukkan id email. Jadi Anda cukup memasukkan id email palsu saja.  

 





Rabu, 01 Oktober 2014

Sekilas Tentang Add-Ons Mozila Firefox (Apa itu Add-Ons?)



A. APA ITU ADD-ONS?

Pengaya tambahan yang bisa diinstal tambahan untuk proyek-proyek Yayasan Mozilla. Pengaya memungkinkan pengguna untuk menambah atau menambah fitur-fitur aplikasi, menggunakan tema sesuai dengan keinginan mereka, dan menangani jenis materi yang baru.






Tipe-tipe add-ons:

Ekstensi

Ekstensi dapat digunakan untuk memodifikasi perilaku fitur yang ada ke aplikasi tersebut atau menambahkan fitur yang sama sekali baru. Ekstensi sangat populer dengan Firefox, karena pengembang Mozilla berniat untuk mengembangkan browser menjadi aplikasi yang cukup minimalis untuk mengurangi bug, sementara tetap fleksibilitas, sehingga pengguna individu dapat menambahkan fitur yang mereka inginkan.

Plugin

Plugin umum termasuk Acrobat Reader, Flash Player, Java, Quicktime, RealPlayer, Shockwave, dan Windows Media Player.

Persona

Skin tambahan yang dapat dipasang untuk add-on Anda.

Tema

Berbeda dengan Persona yang hanya memberikan latar belakang bergambar untuk Menu Bar browser Anda, tema biasanya juga merubah tombol2 atau button pada browser Anda.

Download Minilyrics Terbaru 7.6.0.44 Full Crack, Patch, Gratis (Software Karaoke)

Minilyrics software yang sudah tidak asing bagi sobat yang senang karokean. Minilyrics ini berfungsi untuk menampilkan lirik yang sedang diputar. Untuk mendapatkan lirik lagu yang diinginkan, cukup dengan browsing lirik pada menu di aplikasi ini, maka Minilyrics akan mencari secara otomatis lirik lagu yang sedang diputar.

Download di sini

Kumpulan Kata Bijak Aristoteles (Tokoh Dunia)

Ketika kamu berhasil teman-temanmu akhirnya tahu siapa kamu, Ketika kamu gagal kamu akhirnya tahu siapa sesungguhnya teman-temanmu.
#Aristoteles

Hope is a waking dream
Harapan adalah impian yang terbangun 
#Aristoteles

Sukses adalah apa yang kita kerjakan berulangkali. Dengan demikian, kecemerlangan bukan tindakan, tetapi kebiasaan. 
#Aristoteles

Janganlah berputus asa. Tetapi kalau anda sampai berada dalam keadaan putus asa, berjuanglah terus meskipun dalam keadaan putus asa. 
#Aristoteles

Kesenangan di pekerjaan menempatkan kesempurnaan dalam pekerjaan. 
#Aristoteles

The antidote for fifty enemies is one friend
 Jika Anda memiliki 50 musuh, penawarnya adalah seorang teman. 
#Aristoteles

Orang yang paling sempurna bukanlah orang dengan otak yang sempurna, melainkan orang yang dapat mempergunakan sebaiknya-baiknya dari bagian otaknya yang kurang sempurna.
#Aristoteles

Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.
#Aristoteles

Kebahagiaan adalah kesenangan yang dicapai oleh manusia menurut kehendak masing-masing.
#Aristoteles

“Siapapun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, bukanlah hal mudah.” #Aristoteles

Apa itu teman? Satu jiwa yang mendiami dua tubuh.
#Aristoteles

Dalam hal-hal yang mampu kita lakukan, juga tersembunyi kemampuan kita untuk tidak melakukannya. #Aristoteles

Orang yang mampu memerintah dengan paling baik harus memerintah.
#Aristoteles

Meskipun hukum-hukum sudah dituliskan, bukan berarti tak dapat diubah. 
#Aristoteles

Kemenangan dalam bekerja, membuat pekerjaan itu sempurna. 
#Aristoteles

Pendidikan adalah perbekalan terbaik saat lanjut usia. 
#Aristoteles

Diri kita dibentuk dari apa yang kita lakukan berulang kali; sedangkan kesuksesan bukan merupakan usaha dan tindakan melainkan akibat dari suatu kebiasaan. 
#Aristoteles

coolstuff.me

Mak Wati, penjual gorengan di DPR yang anaknya S2 di Jerman

Setiap hari kerja, Watiyah (60) alias Mak Wati datang ke Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Bukan karena dia anggota DPR, Mak Wati datang ke rumah wakil rakyat tersebut hanya untuk menjajakan makanan. Di gedung DPR, Mak Wati biasa berjualan di tiap lantai di gedung Nusantara I.

Berbagai makanan basah dia jajakan, seperti lontong sayur dan gorengan. Soal harga, Mak Wati menjual mulai Rp 500 sampai Rp 7.000 dengan total pendapatan sekitar Rp 150.000 per hari. Mak Wati yang memiliki lima orang anak, sebelumnya tak menyangka anak terakhirnya, Riska Panca Widowati (23) dapat melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Konstanz, Jerman.

Dia menceritakan, awalnya ketika Riska lulus Sastra Jerman di Universitas Negeri Jakarta pada 2007 silam, dia sempat melarang putri bungsunya itu melanjutkan kuliah ke luar negeri. Maklum sebagai orangtua, Mak Wati merasa ngeri dengan kehidupan dunia Barat yang identik dan terlanjur dicap dengan kebebasan yang berlebihan.

Namun, pemahaman Mak Wati terbuka, ketika dirinya mendapat banyak masukan dari kerabat dan orang dekatnya. Tak lama setelah itu, dia merestui putrinya terbang ke Jerman. "Saya enggak tahu beasiswanya dari mana. Anak saya enggak ngajuin. Tapi ditawarin kuliah di Konstanz, tinggalnya di asrama," kata Mak Wati di Komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (8/5).

Mak Wati merasa bangga dengan tingkat pendidikan putrinya. Terlebih kondisi keuangan keluarganya yang serba pas-pasan, suaminya Wagimin hanya buruh bangunan. Hal itulah yang membuat Mak Wati bangga kepada putrinya. Untuk mengobati rasa rindu kepada Riska, Mak Wati sering berkomunikasi melalui Skype. Sambil santai di rumahnya di sekitaran Cidodol Jakarta Selatan, Mak Wati mengaku betah bila ngobrol-ngobrol dengan putrinya itu.

Kini, kuliah Riska memasuki semester terakhir. Rencananya, September depan dia kembali ke Indonesia. Mak Wati berharap pendidikan tinggi yang diraih putri bungsunya itu dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

merdeka.com

Mahasiswi Ubaya bikin alas kaki berbahan gedebok (Kisah Inspiratif)

Mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) Mely Prasetyo, berhasil merancang alas kaki atau sandal berbahan olahan gedebok atau pelepah dan pohon pisang. Dikutip dari Antara, gadis kelahiran Surabaya 1991 silam itu menjelaskan, biasanya material alas kaki terbuat dari kayu, anyaman jerami, kain tenun, metal, kulit hewan, dan karet. "Karena itu saya mencoba merancang dengan bahan yang belum pernah ada," katanya di kampus setempat, Rabu.

Dia tertarik memanfaatkan gedebok bukan hanya karena belum pernah dipakai sandal. Lebih dari itu, bahan gedebok ini banyak ditemui di Surabaya, terutama di sepanjang jalan dari rumah menuju kampus. "Di Pasar Keputran juga banyak gedebok, saya sering melihat gedebok itu dibuang begitu saja. Karena itu saya berpikir memanfaatkan sebagai bahan membuat sandal khas Indonesia," kata gadis yang mengaku suka "fashion" itu.

Bungsu dari tiga bersaudara itu menjelaskan, hasil olahan gedebok yang sudah muncul di kalangan masyarakat adalah meja. "Pelepah pisang termasuk material ramah lingkungan, kuat, mudah dibentuk, ringan, mudah didaur ulang, dan aman," katanya.

Proses pengolahan pelepah pisang menjadi sandal ada lima tahap; pertama pelepah pisang dikupas, lalu dipotong dalam ukuran kecil sekitar satu centimeter. Selanjutnya potongan gedebok direbus selama 15 menit, lalu dikeringkan di udara terbuka, bukan dijemur di bawah terik matahari. Berikutnya proses pewarnaan dengan pewarna tekstil dalam air mendidih selama 30 menit hingga sehari. Terakhir proses finishing.

Caranya, pelepah pisang yang sudah kering, berwarna, dan berbentuk potongan kecil itu dilekatkan dengan lem pada alas kaki pada sepatu berbahan texon. Texon harus sudah dibentuk sesuai ukuran kaki. Untuk memperkuat, bagian pinggir pelepah pisang pada texon dijahit, lalu dipernis untuk mempercantik. "Tali pengikat atau bagian atas sandal juga dibuat dari potongan pelepah pisang, tetapi cara melekat dua pelepah pisang dengan posisi berlawanan agar tidak mudah rapuh," katanya.

Berapa harga produksi?"Kalau produksi sendiri seperti saya, harganya mahal bisa Rp 500 ribuan, padahal harga bahan baku cukup Rp 100 ribu, tetapi kalau diproduksi massal jauh lebih murah," katanya.

merdeka.com

Anak UGM, Modal Rp 280 Ribu beromzet Rp 2,2 M/Tahun (Inspirasi Bisnis)

Bisnis yang dijalankan Arie Setya Yudha, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2008 ini sudah tembus pasar dunia. Omzet per bulannya sekarang berkisar Rp 185 juta. Jika awalnya bisnis yang dirintis tahun 2009 ini hanya sendirian kini Arie sudah dibantu 17 karyawan dengan 10 staf dan 7 bagian produksi.

Berangkat dari hobi bermain airsofgun, bisnis seragam militer yang digeluti Arie akhirnya berkembang seperti sekarang ini. Sayangnya, ketika itu untuk bermain airsofgun perlu biaya banyak. Akhirnya, dengan modal uang Rp 280.000 Arie membeli bahan baku berupa kain dan menjahitkannya ke penjahit. "Pakaian yang sudah jadi itu saya jual lagi di internet sebagai modal. Ternyata responnya luar biasa," kenang Arie.

Tidak disangka, dengan kualitas desain dan jahitan yang ditawarkan di media online peminat seragam militer Arie juga datang dari pasar luar negeri. Banyaknya ulasan terhadap produk yang dihasilkan maka seragam militer karya Arie ini pun dilirik pasar domestik, salah satunya Polri. "Gegana Brimob Polri mempercayakan desain seragam taktis kepada kita untuk salah satu detasemennya," kata mahasiswa asal Pekanbaru ini dikutip oleh Humas UGM Satria Ardhi Nugraha.

 Di semester tiga Arie pun mendirikan PT Molay Satrya Indonesia yang bergerak di bidang pengadaan, desain, dan pembuatan perlengkapan taktis terutama seragam taktis. Menurut Arie selain dari kepolisian, produk yang ia namakan Molay tersebut juga diminati oleh tentara, salah satunya TNI-AL dari batalyon Intai Amfibi Marinir. Kini, produk Molay baik seragam, rompi, topi dan tas sudah merambah di berbagai negara di dunia, seperti AS, Kanada, Austria, Vietnam, Jerman, Italia dan Arab.

Setiap bulan kurang lebih 200 stel pakaian berhasil mereka produksi. Itu pun masih jauh dari permintaan yang bisa mencapai lebih dari 500. "Kuncinya kualitas dan harganya bisa bersaing dengan produk luar," tuturnya. Bisnis yang dikelola Arie ini 80 persen menggunakan basis internet untuk promosi maupun mencari bahan, seperti kain.

Ia mengaku Ilmu Komunikasi yang dipelajarinya cukup membantu khususnya dalam promosi (iklan) serta desain. Rencananya, usai lulus nanti Arie tetap akan mengembangkan bisnis yang cukup prospek ini. "Harus lebih berkualitas misalnya rompi tidak panas kalau dipakai. Jadi harus jeli ketika mendesain serta mempromosikannya," ujar Arie.

merdeka.com

Selasa, 30 September 2014

Kumpulan Kisah Inspiratif ide Bisnis (Inspirasi Peluang Usaha)

Anda ingin memulai bisnis, tapi masih bingung mau bisnis apa? Ingin mulai dari mana? Selain itu juga, Anda merasa tidak punya cukup modal dan mungkin juga kemampuan untuk memulainya. Pikiran-pikiran tersebut sering muncul ketika kita ingin mulai merintis usaha. Apalagi jika usaha tersebut benar-benar dimulai dari nol, dengan modal terbatas dan bahkan pengetahuan terbatas atas bidang usaha yang ingin Anda geluti.

Untuk membangun usaha mulailah dengan membangun pikiran-pikiran yang positif. Dan positifnya: Tidak semua pengusaha sukses diawali dengan modal yang besar. Banyak pengusaha sukses merintis usahanya dari nol, dangan modal yang terbatas. Dan yang perlu diketahui bahwa kata “modal” tidak selalu di artikan dengan uang. Modal bisa diartikan mental, relasi, ide, dan sebagainya.

Ada yang sukses berkat mental yang kuat, belajar dari kegagalan dan kegagalan sampai akhirinya meraih sukses. Ada juga yang sukses berkat mental yang kuat dan kemampuan dalam membangun relasi . Ada yang sukses berkat mental yang kuat dan ide usaha yang kreatif, menciptakan peluang usaha “zero competitor” (menciptakan produk baru yang belum ada dipasaran), atau juga mengembangkan inovasi dari produk yang ada.

Berikut ini adalah beberapa contoh kisah sukses dalam merintis usaha. Semoga dapat memberikan inspirasi dan motivasi untuk Anda. Klik judul di bawah ini atau silahkan klik Kisah Sukses Bisnis

#Anak UGM, Modal Rp 280 Ribu beromzet Rp 2,2 M/Tahun (Inspirasi Bisnis)
 #Kisah Sukses Pengusaha Keramik

Kisah sukses pengusaha keramik Arwana (Inspirasi Bisnis)

Kunci sukses usaha, bukan hanya mencari untung. Tetapi harus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang hidup di daerah-daerah terpencil. Sehingga, bisa memberdayakan SDM lokal serta pintar dalam mencari pangsa pasar.

Tandean Rustandy yang merintis usaha pabrik keramik, PT Arwana Citramulia Tbk sejak 21 tahun lalu, mengaku dalam perusahaannya, menciptakan budaya pekerja dari posisi paling bawah. Sehingga, tidak ada yang namanya pekerja langsung pemimpin, semua harus dari bawah. Bahkan, kata dia, Arwana bukanlah berasal dari nama ikan. Melainkan singkatan dari Arab, Jawa dan China (Arwana).

Namun saat ini Arwana sudah bisa sukses, karena marketnya menengah ke bawah dan ke kampung-kampung. Meskipun sudah melantai di bursa tetapi, dia menganggap belum dikatakan sukses, baru beranjak dewasa, perlu banyak belajar. "Lihatlah Nokia, sudah berdiri tahun 1845, market cap sempat tinggi, tapi sekarang sudah turun," kata Direktur utama, Tandean Rustandy dalam acara Investor Summit and Capital Market 2014 di Jakarta, Kamis (18/9).

Tetapi, perusahaan yang dirintisnya menjadi yang pertama dengan memiliki single brand terbesar di Indonesia. Pasalnya, industri ini bergerak di sektor manufaktur dan Indonesia masuk sebagai emerging market. "Jarang sekali industri manufaktur pakai brand dia nya sendiri, banyak pakai brand orang lain. Kalau kita satu-satunya pakai brand sendiri, sehingga kalau ada gejolak enggak pernah kena. Kita enggak pernah lakukan PHK," katanya.

Perusahaan, kata dia, jangan bekerja seperti tukang jahit yang hanya menerima bahan setengah jadi lalu di pasarkan. Arwana melakukan semuanya dari nol hingga lakukan distribusi. "Kami itu rangking 15 besar sebagai perusahaan keramik. Kami cost leader dan efisien bukan hanya di Indonesia, kami bukan jago kandang, kami bisa bicara di luar negeri." Dirinya membandingkan perusahaan keramik di Thailand yakni Dynasty Tiletop, nett sell nya USD 4,50 sedangkan Arwana USD 3, sementara nett profit margin Dynasty sekira 17 persen, sementara Arwana 18,3 persen. "Investor jangan terlalu enggak pede dengan emiten lokal. Produk kita fokus menengah ke bawah, karena masyarakat kita masih ada yang miskin," katanya.

Selain itu, dirinya mengklaim Arwana merupakan satu-satunya produsen keramik dengan 5 lokasi. Pada tahun 1995 sebelum Arwana masuk ke pasar bursa saham Indonesia dengan menjadi perusahaan go public, Arwana belum bisa masuk ke kota-kota besar. "Kami dibuang ke tepi-tepi. Waktu krisis kami tetap tumbuh. Pas tahun 2001, kami melantai di bursa, bukan mencari dana. Waktu kita melantai, kita buka harga Rp 400, banyak yang tertawai kami, tapi kami ingin menjadi perusahaan publik untuk keterbukaan GCG," katanya.

Dia berharap pada pemerintahan baru dapat menyelesaikan persoalan perekonomian menjadi lebih baik, walaupun rupiah mengalami fluktuasi. "Kita percaya bahwa pemerintah yang akan datang fokus untuk buat jadi lebih baik dan stabil. Kita hidup di Indonesia kan bukan baru setahun ini, sudah lama. Rupiah kan seperti roll coaster. Ada Up ada down," kata dia.

Merdeka.com

Minggu, 07 Maret 2010

MENYOAL BAHASA GAUL

Salahkah menggunakan bahasa gaul? Sebelum menjawab pertanyaan mari kita cermati asal-usul dan penyebab berkembangannya bahasa ini. Bukankah dalam menganalis suatu masalah akan lebih baik jika kita dapat mengidentifikasi terlebih dahulu masalah tersebut. Saya pikir begitu.

Bahasa gaul awalnya campuran antara bahasa etnis Betawi dengan Melayu. Lama-kelaman bahasa ini semakin dinamis karena ibu kota adalah wadah bertemunya beragam etnis. Konsekuensinya, bahasa ini kian kaya dengan serapan dari berbagai bahasa daerah. Tidak hanya itu, kini bahasa ini semakin identik dengan istilah asing dari negeri Britis dan Paman Sam. Oleh karenanya tidak heran kalau bahasa ini kian cepat berkembang.

Hal lain yang juga memengaruhi perkembangan bahasa gaul adalah faktor psikologis pengguna bahasa sendiri. Seseorang yang ingin diakui dalam kehidupan sosial (pergaulan) di masyarakat tertentu, cenderung akan mengikuti pola yang ada pada masyarakat tersebut, tak terkecuali bahasa. Ketika sesorang ingin dikatakan gaul, maka kemungkinan besar ia akan berusaha berprilaku seperti orang yang dianggapnya anak) gaul.

Pada umumnya bahasa gaul dinilai lebih bergengsi di mata masyarakat (umunya remaja) dibandingkan bahasa daerah atau pun bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahasa ini pertama kali berkembang di ibu kota. Remaja pada umumnya mengganggap remaja ibu kota memiliki prestise yang lebih tinggi, lebih “keren,”sehingga bahasa mereka pun dianggap lebih bergengsi

Selain itu, perkembangan bahasa ini juga tidak terlepas dari peran media, khususnya media elektronik. Lihat saja tontonan di televisi. Berapa banyak acara yang menyuguhkan penggunaan bahasa yang baku. Meskipun ada, saya pikir itu bukan acara yang menarik bagi kebanyakan remaja, misal “berita.” Kebanyakan tontonan yang digemari remaja menggunakan bahasa gaul, sebut saja, salah satu acara di televisi yang pada pembukan dan penutup acaranya kerap menggunakan istilah asing: ”Hello gays, wallcome to.../ Oke, see you next week and keep away from druge.”

Bahasa adalah hak dari pengguna bahasa itu sendiri. Terserah pengguna bahasa ingin menggunakan bahasa apa. Oleh karenanya, Saya pikir tidak menjadi masalah kalau kita menggunakan bahasa gaul, asalkan kita tidak lupa bagaimana menggunakan bahasa yang baku. Ya, yang penting kita tahu waktu dan tempatnya sajalah, karena bagaimanapun juga bahasa merupakan identitas suatu bangsa!

Selasa, 02 Februari 2010

Nur Alias Celeng Alias Gepeng Alias Bopeng Alias Gareng

Mungkin orang tuanya pun tak pernah terpikir kalau anaknya akan memiliki “gelar” sepanjang ini: Nur alias Celeng alias Gepeng alias Bopeng alias Gareng, gelar yang sangat panjang bukan? Dulu diberi nama Nur Asyamsiah Nurdin saja sakit-sakitan. Orang-orang tua dulu bilang: “Kepangjangan nama sih, cari nama yang singkat saja!” Dan singkat kata pula, jadilah dia dipanggil Nur, yang artinya cahaya.

Nama yang indah bukan? Tapi jangan pernah berpikir kalau Nur itu cantik! Khususnya bagi Anda yang merasa laki-laki, tapi terserah juga sih kalau Anda mau dibilang punya kelainan. Nur seorang lelaki.

Jadi begini ceritanya. Mau tahu ceritanya? atau merasa buang-buang waktu saja? Silakan klik back untuk kembali ke halaman muka atau ke rubrik yang lainnya. Kalau tidak, begini ceritanya. Tolong Kawan baca pelan-pelan agar cerita terkesan lebih dramatis!

*****

Alkisah, sebuah kenyataan telah membuat seorang anak pengusaha kaya terpaksa mengais-ngais sampah untuk mencari makan, sampai akhirnya terjebak ke dalam lembah hitam. Nur namanya.

Sepiring nasi, tahu, tempe, kangkung dan sambal mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan. Biasa rutinitas siang, berkujung ke warteg langganan. Perutku memang sudah kenyang, tapi otakku masih keroncongan, mumet. Tak ada inspirasi di batok kepalaku yang memang kosong kurang pengetahuan. Padahal tiap minggu aku selalu rajin mengirimkan tulisan ke media dan rajin juga mendapatkan balasan: Tulisan ini akan selalu terbit di hati Anda. “Cape dwueh!”

Kulayangkan pandang pada mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, berimajinasi. Tiba-tiba, kurang ajar! Seorang pemuda memecahkan gelembung-gelembung imajinasiku. Menggerakan-gerakan tangan dan melongok-longokan kepalanya ke arahku.

“Ada apa bang, mo kenalan?”colotehnya, serasa ia tak punya dosa.
“Enggak,” aku agak malu bercampur kesal.
“Kok, dari tadi ngeliatin saya terus.”

Buset! Ni orang sinting apa? gerutuku dalam hati. Apa dia kira aku gay. Kurang ajar! ia langsung menyodorkan tangannya, untuk beberapa detik aku diamkan, tapi aku juga merasa tidak enak jika tak menyambutnya. Toh mungkin dia cuma iseng.

“Nur,” ujarnya.
“Anggi,” balasku.

Aku mendengar orang-orang disekitarku cekikikan menahan tawa. Mungkin dalam hati mereka, Masa dua pria tampan nan rupawan bernama seperti perempuan. Kurang ajar!

Awalnya ia memang sangat menyebalkan, tapi ternyata lama-lama mengasikan. Jangan tanya mengapa karena ceritanya akan panjang. Intinya kami saling bercerita dan bertukar pandang, kemudian merasa punya banyak kesamaan. Titik.

Nur, sebenarnya anak orang terpandang. Ayahnya adalah seorang wirausahawan yang cukup gemilang, sebelum keranjingan menjadi anggota dewan, tapi sayang gagal dalam pemilihan, dan kemudian menderita ganguan kejiwaan.

Ibunya Nur kemudian yang menjadi tulang punggung keluarga, mengadu nasib di negeri Onta. Awalnya tiap bulan Nur mendapat kabar dan kirman meski tak seberapa, tapi setahun kemudian tak lagi ada telepon tentangga yang berdering untuknya. Lengkap sudah malapeka dan Nur tak bisa berbuat-apa.

Tidak saja kesepian, Nur juga kelaparan. Nur pernah mengais-ngais sampah untuk mencari makan, menjadi gelandangan, sampai ahirnya terjerumus ke dalam kubangan kejahatan. Nur adalah residivis kawakan. Ia sudah sering keluar masuk lembaga pemasyarkatan. Dikerjar-kejar polisi baginya, mungkin hanya main kucing-kucingan. Bahkan rumah AKBP. Khasan Atman Suparman pernah ia garap habis-habisan. Gila kan? Ia memiliki empat buah KTP dan empat nama julukan, Celeng, Gepeng, Bopeng dan Gareng yang didapat dari perjalanan hidupnya yang melelahkan. Semua julukan ada catatan historisnya yang panjang, tapi lain kali sajalah aku ceritakan.

Nur selalu berpindah-pindah, tapi jika ada waktu ia selalu mampir ke kosanku, sayangnya sudah lama ia tak datang ke kosanku, dan entah kenapa aku merindukannya... bahkan sangat merindukannya (tolong jangan diartikan negatif). Aku seperti telah kehilangan kakakku sendiri. Nur selalu “bekerja” sendiri, tapi jika mendapatkan hasil selalu ia bagi-bagi. Robin Hood-lah bahasa kerennya atau si Pitung kalau dalam ranah domestik, dan ia pun kerap menjenguk ayahnya di rumah sakit penyembuhan mental, kalau tidak ingin menyebut rumah sakit jiwa, jika dirasa kondisi cukup aman.

Bagaimana aku tahu kalau ia seorang residivis? Begini Kawan, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga, itu kata peribahasa. Ternyata benar juga.

Malam itu... bulan sedang di atas kepala, daun-daun genit melambai-lambai digoda sang angin, gemerisiknya menghiasi keheningan malam, dingin mendekap hingga ke dalam tulang, mengerutkan kulit dan bibir yang menggigil tertikam angin, sekilas burung penjaga malam terbang melintasi berarak awan di bawah bulan, kemudian hilang, kesunyian membentang sepanjang mata memandang, keheningan yang mencekam, sempurna, kembali pada titik nol, seperti saat kita kembali pada fitrah kita nanti.

Aku sih waktu itu memang mau memutar arah saja, cari suasana, dalam perjalan pulang sehabis membeli kopi dan rokok, biasa untuk menemani menonton sepak bola. Soalnya Liga Champion sedang panas-panasnya. Biasanya aku jarang lewat dari jalan itu. Aku menginap di kosan temanku yang letaknya tak jauh dari perumahan itu.

Aku tidak sengaja memergokinya ketika sedang menggergaji kunci ganda sepeda motor di sebuah perumahan elit. Kami saling bersitatap. Aku terkejut pun dengan dia, tapi ia kemudian bersikap seolah tak melihat keberadaanku, sejenak aku diam terpaku, lalu segera beranjak pura-pura tidak tahu. Aku pikir setelah itu ia tidak berani datang ke kosanku. Ternyata aku salah!

Ada beberapa alasan kenapa waktu itu aku diam saja. Apa Kawan pikir karena aku takut? Ya, Kawan benar, tapi alasan yang paling utama karena aku merasa berhutang budi. Ia sangat baik kepadaku. Ia sering meminjamiku uang, bahkan memberiku uang. Kawan tahulah bagaimana kehidupan anak kos yang serba ngepas.

Di samping itu, aku tahu Nur sebenarnya orang baik. Pernah suatu ketika aku mengendarai sepeda motor bersamanya. Ketika sampai di tikungan sekejap seorang pengendara motor di belakangku menyalib dengan kecepatan super tinggi, mungkin ia ingin menjadi pembalap moto GP, ternyata datang mobil dari arah yang berlawanan. Pengendara itu pun terkapar. Aku sekilas melihatnya. Kasihan memang, tapi tetap memacu sepada motorku. Tiba-tiba Nur memintaku berhenti, lebih tepatnya memaksaku, karena aku menolak. Aku tak ingin repot terkena masalah, tapi ia tetap memaksa. Aku pun berhenti dan memutar arah.

“Emangnya dia siape lu?” ujarku.
“Dia orang Sob.”
“Guwe tahu, lagian yang nabraknya juga kabur, orang-orang yang laen juga pada diem aja! nanti kita kena masalah, repot! udah deh!”
“Gimana kalo yang tabrakan itu guwe?” aku tersentak dengan pertanyaannya.
“Ya, pasti guwe tolonglah, lu kan temen guwe.”
“Gimana kalo lu belum kenal guwe?” pertanyaannya monohok jantungku. Aku diam tak bisa berkata-kata.

Kami pun mengantarkan si korban ke rumah sakit. Nur menelpon keluarga korban. Ia mengetahui nomor keluarga korban dari handphone korban. Aku tak pernah menyangka akan diajari nilai-nilai kemanusiaan oleh seorang residivis. Ternyata hatinya begitu mulia. Aku baru sadar betapa tak berprikemanusiaannya aku selama ini. Masihkah pantas aku disebut manusia atau seorang mahasiswa?

Mungkin Kawan juga ingin tahu kenapa Nur sangat begitu baik padaku? Tak lain dan tak bukan karena wajahku mirip dengan adiknya yang sepuluh tahun lalu sudah ditelan bumi. Ia merasa menemukan keluarganya yang hilang. Aku pun tadinya tidak percaya, kupikir ia hanya mengada-ada.

“Ini poto ade guwe.”

Astaga! wajahku yang tampan nan rupawan ini ternyata punya kembaran. Aku seperti sedang bercermin, mirip sekali denganku. Sejak kejadian itulah ia mulai benar-benar terbuka tentang latar belakangnya, dan “profesinya” yang sebenarnya. Entah apa perasaaanku waktu itu aku tak tahu persis. Semua bercampur aduk. Aku merasa sangat terkejut, iba, sekaligus bangga, maksudnya bukan atas profesinya, tapi banggga atas perjuangan hidupnya, dan yang paling membuatku tercengang, jauh di dalam palung hatinya yang terdalam ia punya cita-cita mulia, ingin menjadi wartawan. Gila kan? seorang residivis ingin menjadi wartawan.

Mungkin memang ada sisi positifnya. Jika Nur menjadi wartawan berita kriminal. Ia akan mudah mengendus berita, ia tidak akan kepusingan karena mentok dikejar deadline, ia punya kelebihan yang tidak dimiliki wartawan lain, yakni pernah langsung terjun di dunia kriminal. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling bijaksana.

Aku yakin yakin kalau Nur pada dasarnya orang yang baik. Keadaan dan ketidakpedulian yang memaksanya menjadi demikian. Kalau bahasa yang pernah aku dengar di TV sih bengini: Kita tidak miskin tapi dimiskinkan! Sistem yang membuat kita menjadi miskin!”. Mungkin juga sebenarnya Nur tidak kriminal, tapi secara tidak langsung dikriminalkan. Aduh, aku ini lagaknya sudah seperti seorang filosof saja, padahal cuma mahasiswa ingusan yang kerap kali kerepotan membayar tunggakan. Analogi yang mungkin ngawur, tapi biarlah, yang penting aku sudah bertutur dengan jujur, tiada maksud sok berbudi luhur. Memang agak sensitif juga kalau berbicara masalah “kriminal,” soalnya sekarang masih hangat istilah “kriminalisasi,” baik di media cetak maupun elektronik. Loh, kok nyambungnya ke situ, ini kan cepen! akh, sebelum tambah ngawur, nanti malah dikira ikut campur tapi gak ngatur, lebih baik aku lanjutkan saja ceritanya.

*****
Suasana yang sama memang kerap terjadi lebih dari sekali. Seperti ini misalnya: Malam itu... bulan sedang di atas kepala, daun-daun genit melambai-lambai digoda sang angin, gemerisiknya menghiasi keheningan malam, dingin mendekap hingga ke dalam tulang, mengerutkan kulit dan bibir yang menggigil tertikam angin, sekilas burung penjaga malam terbang melintasi berarak awan di bawah bulan, dan hilang, kesunyian membentang sepanjang mata memandang, keheningan yang mencekam, sempurna, kembali pada titik nol, seperti saat kita kembali pada fitrah kita nanti.

Sekarang kita sudah tiba pada bagian yang dramatis Kawan.

Tunai sudah rinduku. Nur datang ke kosanku. Aku beranjak ke kamar mandi, karena karena piring dan gelas berserakan belum dicuci. Aku mencuci dua buah gelas untuk menyeduh kopi.

“Guubbbrakkkk! Jangan bergerak!”

Berteriak seorang pria berambut panjang yang bersenapan laras panjang, mendobrak pintu kamar kosku dengan tendangan. Aku yang hendak masuk ke kamar kosku mematung, Kedua gelas yang aku pegang bergelontangan, tangan dan kakiku gemetaran. Kegaduhan membuat semua orang terbangun. Salah satu orang yang berambut cepak menjambak rambut Nur menyeretnya dengan paksa. Nur memegangi tangan seseorang yang menjambak rambutnya, berjalan terseok-seok setengah terbungkuk-bungkuk. Nur menoleh kearahku. Matanya memelas.

Salah satu temannya lagi menendang Nur dari belakang. Nur tersungkur, beberapa rambutnya masih tersisa di tangan orang yang menjambaknya, tercabut secara paksa. Nur mengerang kesakitan. Nur digelandang dengan tendangan, pukulan, bahkan sempat batok kepalanya diadukan dengan tembok. Wajah Nur yang tampan nan rupawan hancur lebur berantakan.

“Lari!”

Nur hanya terdiam duduk merunduk dengan dua tangan menelungkup kepala. Aku yang sejak tadi mematung berlari ke arah sumber suara bersama tetangga-tetangga kamar kosku. Hatiku teriris sembilu. Tak tega aku melihatnya, tapi mungkin ini terakhir aku melihatnya.

“Lari! Lari! atau kutembak! Lari!”

Teriak salah seorang di antara mereka, sambil melayangkan tendangan ke kepala. Nur kembali tersungkur. ia sekali lagi menoleh ke arahku. Tatapannya begitu sayu. Kemudian tersenyum. Senyum kesedihan, seolah mengatakan Selamat tinggal Kawan.

Ia pun berlari dengan putus asa. Salah satu di antara mereka mengangkat senapan dan selongsong peluru berjatuhan. Tiga butir peluru menembus angkasa. Nur kian berlari sejadi-jadinya. Kemudian pria itu dengan cepat membidik ke arah Nur, tepat mengarah dada.

Seseorang mengetuk pintu kamar kosku, kuhentikan jemariku yang sedari tadi menari-nari di atas keyboard.

“Nur! “ aku terkejut bukan kepalang.
“Lama tak jumpa Sob,” senyumnya mengembang. Aku beranjak dan langsung memeluknya. Oh! betapa aku merindukannya.
“Masuk!”
“Lagi nulis?” ia menengok, melihat tulisanku.
“O... iya,” ujarku agak gelagapan. Cepat-cepat kugerakan mouse mengklik tombol close pada microsof word.
“Kenapa ditutup, pelit amat, nulis apa? cerpen?”
“Iya, tapi belum beres akh malu, nanti aja kalo udah diterbitin. Itu juga kalo ada yang mau nerbitin. Hehe..”

Jadi begitu Kawan, alkisah tetang Nur alias Celeng alias Gepeng alias Bopeng alias Gareng. Ketika pria berambut panjang itu sudah membidik tepat ke arahnya, suatu keajaiban datang. Rombongan sepeda motor yang sedang berkonvoi tiba-tiba melintas dengan kecepatan super tinggi... “Huuh!... Heran,” begitu banyak orang yang ingin menjadi pembalap moto GP, tapi tidak tahu di mana tempat untuk beraksi. Walhasil mereka tanpa sadar menghalangi pandangan pria itu.

Aku begitu merindukannya Kawan, tiga tahun sudah aku merasa sangat kehilangan. Tolong jangan katakan pada siapa pun kalau aku menceritakan kisahnya padamu Kawan. Biarlah menjadi kotak rahasia antara kita yang akan selalu tersimpan dalam-dalam. Please!
***


Oleh yang punya blog

Kompas.com, Selasa, 2 Februari 2010

Minggu, 31 Januari 2010

Percakapan Pengantin

PERCAKAPAN mereka adalah gayung bersambut sepasang hati yang marun merahnya. Percakapan yang mengetuk gendang telinga penduduk langit. Percakapan sederhana dari sebuah kampung yang tak tertitik dalam peta, tak tertilik oleh sesiapa, pun tak terbetik dalam kabar. Namun, bila para nabi dan istri mereka, para sahabat nabi dan istri mereka, para tabi'in dan istri mereka, juga para wali dan istri mereka kita lupakan, maka percakapan pengantin yang belum genap setengah hari itu adalah mantra paling mustajab dalam peradaban. Jadi, petiklah pelajaran berkasih yang menjuntai dari dahan keajaiban yang tumbuh dari pohon ketulusan yang mereka tanam.

SEPATUTNYA, perkawinan mereka adalah pertautan tak lazim. Oh, mereka sama-sama tulikah? Sama-sama pengkor kakinyakah? Sama-sama juling matanyakah? Tidak. Mereka tak berkekurangan serupa itu. Mereka masih dapat mendengar dengan jernih, berjalan tanpa sengal, dan melihat dengan terang. Mereka dapat saling meningkahi setiap tutur.

Ah, bila pun berpadunya hati mereka mengandung pikatan, siapa yang memedulikannya. Laki-laki tukang parang. Perempuan tukang ladang. Perihal apa yang layak dipicing untuk memaku mata pada perkawinan itu? Dua anak manusia yang memakai mulut jiran untuk menyambung undangan, baru menghelat cinta di hadapan penghulu, baru membongkar tarup di pekarangan rumah....

Maka, helat itu adalah perayaan yang jauh dari ingar-bingar sebuah perkawinan. Tetamu yang datang kurang dari seperempat undangan. Lebih ramai oleh anak-anak yang merincah. Bermain kejar-kejaran, menanti ayam kampung telanjang ditiris dari kuali, bergelak dengan mulut penuh remahan ubi jalar…. sebagian bapak-bapak dan ibu-ibu bagai bersepakat menajur rencana lain pada Ahad itu.

Ya, perkawinan sepasang yatim-piatu itu dilindas teriknya cuaca. Terpanggang sengat yang menudung bumi. Namun begitu, pantang mereka merunduk dagu, melumur asam di muka, apalagi menanak dengki di dada, pada tak seberapa orang yang datang. Gula-gula masih tertabur di sepasang katupan bibir, melengkung di bawah hidung yang bagai mengendus tabiat buruk orang-orang kampung....

"AH, aku bersyukur sekali, Dik. Teman-teman pandai besi banyak yang membantu hajatan tadi. Walapun kau tahu, mereka hanya tak enak hati melakukannya. Karena Kakak karib mereka dalam memanggang besi." Lelaki itu baru saja mengatup pintu kamar.

Mempelai wanita yang sedari tadi duduk di depan kaca, menoleh. "Aku mengerti, Kak," jawabnya setelah mendengar lenguhan napas suaminya barusan. Ah, kau pasti sangat lelah, batinnya.

Tak banyak memang yang membantu perhelatan mereka. Bahkan saat bemasak, satu hari menjelang perayaan perkawinan, hanya segelintir yang datang. Tak tampak pesirah--kepala puak, kadus, lurah, dan orang-orang kantor kecamatan--yang biasanya membuka acara dengan sambutan-sambutan.

"Inilah nasib orang tak bersanak. Di tengah orang-orang kampung pun, kita bagai tak punya nasab kerabat." Laki-laki itu sudah berdiri di belakang istrinya. Matanya menatap mata perempuan itu yang terpantul di cermin.

Perempuan itu balas menatap, juga dari pantulan cermin. "Bila saja, aku tak pernah menangkap basah ibu-ibu tengah mengundang orang-orang di hajatan anaknya, mungkin aku takkan pernah mencecap lemaknya gulai umbut."

"Kau sangat suka gulai umbut, Dik?" Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya. Kali ini ia tatap langsung mata istrinya.

"O, bukan. Bukan itu maksudku, Kak!" Perempuan itu buru-buru membuang muka. Tampaknya ia belum terbiasa diperangkap mata lelaki. "Mereka mengundangku hanya menenggang, sama seperti kawan-kawan pandai besimu itu...."

"Lalu?" Laki-laki itu menepuk kecil bahu istrinya.

Perempuan itu berjalan menuju kelambu. Menyingkapnya. Duduk di tepi ranjang. Suaminya mengikuti. Kini mereka hampir berhimpitan. Hanya terluang setengah lengan jarak mereka kini.

Perempuan itu menatap mata suaminya. "Inilah nasib hidup tak berbapak, tak beribu, Kak. Bagaimana akan kita diundang orang dalam hajatan, bila orangtua sudah ditanam ketika kaki belum lunas melangkah?"

Laki-laki itu mengangguk, bagai memersilahkan istrinya meneruskan kata-katanya.

"Ah, budi memang harus dibalas budi. Madu jua harus dibalas madu...." Mata perempuan itu basah.

"Jangan sedih, Dik!" Laki-laki itu menyeka mata istrinya. "Malu pada Tuhan. Buruk alamatnya, bila di malam punai, mata kita berinai-rinai."

"Malam punai?" Perempuan itu mengenyitkan dahi. "Apanya yang punai, Kak, bila jemari kita pun tanpa inai? Aku pun tak tahu mengapa ladangku terpisah jauh dari ladang-ladang yang lain. Kakak tahu kan, hanya beberapa orang yang membantuku menugal tahun ini. Itu pun harus diupah segera bila serombongan padi bunting itu mulai merunduk."

Laki-laki itu menarik kedua ujung bibirnya ke tepi. Bagai berharap, senyumnya akan menyiram galau istrinya yang menggelegak.

"Dulu, aku tak pernah percaya pada kata-kata Wak Jasun, Dik. Ramainya hajatan orang kampung adalah buah tabiat bapak-ibu mereka. Bila kerap orangtua mereka menyambut undangan; rajin menjinjing ayam kampung, dan tak lalai mengantar beberapa canting padi dayang rindu... ke rumah hajat, maka, lapanglah jalan perkawinan anak mereka. Alamatnya, orang-orang kampung akan bersicepat mengisi buku tamu. Tarup yang ditegak pun bagai nak rubuh. Ambal yang dibentang bagai mengecil. Penganan yang terhidang dirasa selalu kurang. Ai, hajatan bertabuh-riang. Banyak nian tetamu yang datang. Berlimpahan uang disumbang. Ayam-ayam berjejalan dalam kandang. Beras-beras menggunung malam-siang. Terbayarlah semua galau yang membikin badan kadang meriang. Lunaslah hutang. Tersiarlah kabar bahwa hajatan itu elok tak kepalang...."

Perempuan itu meneguk liur. Lalu menengadah ke langit-langit.

"Apa yang kau pandang, Dik?" Laki-laki itu menggamit tangan istrinya. "Seandainya cicak-cicak itu mengerti percakapan kita, apakah mereka bisa berkabar?"

Perempuan itu balas menggamit. "Ya, bukan perihal cicak-cicak itu tak kuasa berkabar, Kak." Ia menoleh suaminya. "Namun, kita sama malangnya dengan mereka. Apakah kita bisa berkabar? Boleh menuntut atas perlakuan tak lazim ini? O bukan, perlakuan ini bukan tak lazim, Kak!"

Laki-laki itu balas menoleh.

"Perlakuan ini tak berhakim, Kak!" Perempuan itu meringis.

"Dik," Dielusnya kepala istrinya yang tak bersanggul lagi. "Kelak, bila kita bersua dengan bapak dan emak. Kita tanyakan saja pada mereka. Mengapa mereka tak menunggu kita besar dulu baru berjazirah ke Lubuk Senalang? Mengapa mereka tak menyambut undangan orang-orang kampung dulu, agar kawinan anaknya tak kerontang serupa tadi siang? Oh, mereka jua tak meninggalkan kabar bahwa bunga sedap malam yang mencuat dekat nisannya, adalah taklimat agar kita jangan mengeram durja."

Perempuan itu tertawa. Dijatuhkannya leher di bahu lelaki itu. "Bisa saja kau bermain kata, Kak." Dicubitnya sebelah lengan suaminya.

"Jadi, Dik. Lekaslah kita kubur muram. Kakak yakin, bujang-bujang kampung tak tahu bahwa kau adalah kembang tanjung di lereng Bukit Bakung...." Masih dibelainya rambut perempuan itu.

Perempuan itu tersenyum sendiri. Tersanjung oleh pujian lelaki tempatnya bersandar kini.

"...hanya bujang yang berperangai sultan saja yang kuasa menderik tebing licin di bukit itu, bukan?"

Laki-laki itu membuka-buka mulutnya--berteriak tanpa pekik--bagai merasakan geli oleh cubitan sang istri di dadanya.

"Oh, hendak tertawa aku, Dik, bila ingat bagaimana kita menanak rindu. Kita hanya bercinta dari silauan mata, tangan yang bertepuk, dan kening yang bersitindih. Tuhan benar-benar menyayangi kita kan, Dik?" Diciumnya kini kening istrinya.

Perempuan itu mendongak. "Ya, Kak. Tuhan telah mengirimkan lelaki yang juga berkekurangan sepertiku agar kita tak saling menguak aib yang menyertai lidah-lidah kita. Maka, senyummu adalah seroja yang bertaburan, desahmu adalah pengaduan, gamitan tanganmu adalah permohonan, belaianmu adalah hiburan, tatapanmu adalah tangkai kesepian yang harus segera dipetik. Betul seperti itu kan, Kak?"

Kini, balas lelaki itu yang menggelitik pinggang istrinya. "Aku yang harusnya menjadi pujangga di malam ini. Mengapa pula kau yang merayuku, hah?"

Perempuan itu mengambil bantal dan memukulkannya dengan manja ke punggung suaminya. "Siapa yang merayumu, tukang parang! Dasar, perasaan tak berpantang!"

Bergelutlah mereka malam itu. Sumringah rayalah ranjang itu. Ranjang yang menjadi saksi percakapan ajaib sepasang pengantin. Maka, derit peraduan itu adalah lintang pukang cinta yang pecah geladak, lenguhan dan erangan pengantin baru yang hendak mengangkat seperiuk rindu di atas nyala tanakan yang berarang-arang....

Sementara itu, makin pekat kelam yang menangkup malam, segaris cahaya bening nila dari sebuah rumah papan, menguncup tajam menembus langit, berlapis-lapis langit. Mengabar pada penghuni yang takjub seketika. Siapa yang bermikraj setelah Muhammad?

RUMAH papan itu dikerumuni orang-orang kampung. Takzimnya, tak ada yang aneh dari rumah itu. Almanak bergambar seorang artis dangdut dengan gitarnya masih bertengger dekat jam dinding yang tinggal satu jarumnya. Piring-piring seng masih tertata rapi di rak aluminium yang berkarat salah satu tiangnya. Gorden merah yang sudah lusuh masih menjuntai di kusen pintu kamar. Parang-parang pesanan penduduk masih terbaris di sudut dapur. Arit, pangkur, dan terindak, caping dari daun bengkuang, masih mencangkung dekat jamban belakang. Hanya satu pemandangan yang agak tak biasa. Di dalam kamar. Seprai anyar itu sudah kusut. Bantal-bantal berserakan. Kelambu pula tersingkap setengah.

"Ke mana pengantin baru tu minggat?"

"Oi, sudah kalian tengok di seberang? Apa tukang parang itu memukul besi di gubuk simpang? Apa perempuan itu sudah berladang dekat Belalau?"

Orang-orang menggeleng. "Tak ada, Pak Pesirah. Mereka hilang!"

"Mungkinkah berbulan madu?"

Orang-orang tergelak serta merta. Berbulan madu? Nak ke mana tukang parang dan tukang ladang merayakan perkawinan? Ke bulankah? Ke langitkah?

"Sudahlah!" Pesirah melerai tawa orang-orang yang berkerumun. "Ambil saja pelajaran. Bila menggelar sedekahan, undang saja yang bapak-ibunya pernah meramaikan hajatan kita atau orangtua kita. Bila tak, tak usahlah kalian anggap. Tak perlu pula menenggang, hingga merasa perlu berhormat pada undangan yang diantarnya. Ini adat kampung. Pusaka nenek moyang! Nah, tukang kabar pula, walapun pengantin itu jiran, tak lihat kalian macam mana ganjilnya mereka? Bukan hanya perkara tak berbapak-tak beribu, tapi, pernah tercatat dalam adat bahwa bujang bisu meminang gadis bisu, hah?"

Tetamu hajatan kemarin dan para tukang kabar, merunduk. Ah, memang salah kami, Pak Pesirah.

Orang-orang bubar. Kembali ke rumah masing-masing. Mengurung perasaan ganjil yang berlipat-lipat. Bukan memikirkan petuah kepala puak, namun masih memercik galau itu. Ke mana sepasang pengantin bisu mengeret badan di malam punai? Ke bulankah? Ke langitkah?

Lubuklinggau, 01 November 2009
***

Oleh Benny Arnas, lahir di Ulak Surung, perkampungan di utara Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 8 Mei 1984.

Koran Tempo,  31 Januari 2010

Wali Kota Sampah

SAYA sangat yakin para penguasa di Tangerang dan Tangerang Selatan tidak berpikir bahwa kita hidup pada 1629. Saya hakulyakin bahwa tak ada satu pihak yang merasa sedang bermain peran sebagai pasukan Mataram dan lainnya menjadi pemegang kekuasaan Batavia. Perang lebih dari 380 tahun yang lalu itu berakhir begini: dalam serangan pamungkas, Dipati Ukur, panglima Sunda yang memimpin pasukan Mataram, meracuni Sungai Ciliwung yang mengalir ke Batavia.

Kota yang kini ibu kota negara itu menurut sejarah gagal ditaklukkan, tapi gubernur jenderal Belanda yang mendirikan Batavia, Jan Pieterszoon Coen, tewas akibat kolera. Saya tak tahu pasti apakah Dipati Ukur menuangkan sejenis racun dalam jumlah banyak ke Ciliwung ataukah ia membuang timbunan sampah-sampah busuk ke aliran sungai yang membelah Batavia itu. Yang pasti, bakteri kolera mudah berjangkit di kawasan dengan air tercemar dan sanitasi buruk.

Saya khawatir timbunan sampah yang sekarang mengepung Tangerang Selatan ini bakal mengundang banyak bakteri, mungkin bukan sekadar kolera. Sampah bertumpuk di kompleks-kompleks perumahan, di pinggir jalan, di banyak tempat lain. Di Pasar Ciputat, selain di sekitar lokasi, di trotoar pembatas jalan pun sampah teronggok. Semakin hari jumlahnya semakin banyak. Sudah enam bulan ini sampah Pasar Ciputat tidak diangkut secara rutin. Bau amis, anyir, busuk, meruap ke seantero kawasan.

Dulu Bandung pernah bergelar “lautan sampah”, dan sekarang gelar itu sudah pantas disandangkan pada Tangerang Selatan. Sungguh ironis, kota yang belum “seumur jagung”, belum punya dewan perwakilan rakyat, belum punya wali kota definitif, sudah harus “berenang sendirian” untuk menanggulangi lautan sampah. Kenyamanan hidup warga kota yang merupakan kawasan terakhir “pemekaran” wilayah di Indonesia itu sirna setelah pemerintah daerah Tangerang menarik 40-an truk sampah. Truk itu dulu secara rutin mengangkut sampah di kawasan yang berpenduduk 1,2 juta orang tersebut.

Penguasa sementara Tangerang Selatan menyiapkan truk pengganti, walau tak sebanyak yang dulu ada. Tapi problem utama muncul tiba-tiba: sampah tak bisa lagi dibuang di tempat milik pemerintah daerah Tangerang. Dibuang di satu tempat di Bogor juga ditolak. Tangerang Selatan belum punya tempat pembuangan sendiri. Lokasi tersedia, tapi penduduk setempat memprotes. Tak ada orang yang mau hidup dekat dengan sampah. Kepala Dinas Kebersihan Tangerang Selatan, juga penjabat wali kota, pusing tujuh keliling.

Inilah contoh pemekaran yang kurang mulus. Provinsi Banten dan Tangerang berebut menempatkan wali kota sementara. Kendati bukan “wakil” Tangerang yang sekarang menjabat, pemda Tangerang seharusnya ikut turun tangan soal sampah ini. Sebagian pajak penduduk Ciputat, Pamulang, dan sekitarnya ini masih mengalir ke kas Tangerang.

Oktober nanti wali kota definitif Tangerang Selatan akan dipilih langsung. Siapa saja boleh maju. Penjabat sementara wali kota Shaleh M.T., Rano Karno yang sekarang Wakil Bupati Tangerang, atau Airin Rachmi yang kerabat Gubernur Banten, silakan maju. Tapi saya--dan saya kira banyak yang lain--sebagai penduduk Tangerang Selatan hanya akan memilih “wali kota sampah”: dia yang sanggup menyelamatkan kawasan ini dari timbunan lautan sampah.***


Toriq Hadad Wartawan Tempo

Koran Tempo, 31 Januari 2010

Selasa, 26 Januari 2010

Buruk

Tak ada berita baik di negeri ini. Semuanya buruk. Memang, jurnalistik klasik sudah memfatwakan hal itu, yang buruk sangat baik diberitakan. Bad is news, kata bahasa kerennya.

Rupanya, ini dipegang oleh para jurnalis sampai saat ini. Bahkan narasumber, dan mereka yang sengaja mendekatkan diri agar dijadikan narasumber, menyiapkan di kepalanya apa yang buruk-buruk. Mereka sadar betul, jika berani mengatakan yang buruk, pasti jadi news. Artinya, wajahnya terpampang di media massa dan televisi. Perhatikan belakangan ini, betapa banyak orang yang berpredikat “pengamat” dan “ahli”. Entah apa yang diamatinya, dan keahliannya pun tak perlu dibuktikan dengan karya. Yang penting bisa bicara menggebu.

Ke mana pun melangkah, kita seperti dikejar berita buruk. Apalagi menjelang 100 hari pemerintahan SBY jilid dua, tak satu pun berita baik jadi headline. Bangun pagi ada berita tanah longsor, siang hari penculikan bayi, sore hari bentrokan mahasiswa dengan polisi. Berita buruk saling bersaing merebut kapling: penjara bak hotel mewah, pembobolan anjungan tunai mandiri, bonek Persebaya yang rusuh. Lalu, di malam hari--kadang sampai larut--sidang Pansus Century yang selalu menyalah-nyalahkan. Perjalanan demokrasi kita baru sampai ke tahap ini: ramai-ramai memilih orang untuk kemudian kita salah-salahkan ramai-ramai.


Persaingan berita buruk itu pun luar biasa, dan membuat narasumber berita buruk merasa gerah. Bambang Soesatyo, anggota Pansus dari Golkar yang pernah jadi wartawan, misalnya, curiga jangan-jangan temuan Satuan Tugas Makelar Kasus (ini nama tak resmi tapi populer) tentang “penjara mewah” itu hanya pengalihan dari isu Pansus Century. Artinya, Bambang berharap berita buruk dari Pansus Century tetap menjadi berita utama negeri ini, jangan direcoki berita buruk lainnya. Kecurigaan ini menuai sindiran, apakah gempa di Haiti, penculikan bayi, korban mutilasi Babe, juga pengalihan dari isu Pansus Century? Belakangan muncul “sindiran balik”, yakni pembobolan di anjungan tunai mandiri (ATM) sesungguhnya sudah terjadi sejak dulu dan berdampak “sistemik”, cuma berita itu menghilang karena berhasil dialihkan oleh isu Pansus Century. Anda boleh tertawa atau mengelus dada, inilah risiko sebuah negeri yang menempatkan berita buruk sebagai berita utama.

Presiden SBY pun kerap terpancing, beliau menyebutkan: itu berita fitnah, itu mengadu domba, itu politik kotor, itu memprihatinkan. SBY ibarat menari dalam gendang orang lain. Mungkin lebih bijak jika yang “menari” itu bawahan SBY, sementara beliau berfokus pada pekerjaan utama bagaimana menyuguhkan yang terbaik untuk negeri ini.

Yang lebih bijak lagi “anak-anak bangsa” (sudah lama saya tak dengar istilah ini), bagaimana menyuguhkan berita buruk dalam sudut pandang (angle) yang baik. Pansus Century bukan untuk menyalah-nyalahkan, melainkan mengetahui di mana kekurangan kita dalam mengelola keuangan negara. Penculikan bayi bisa jadi berita baik tentang bagaimana kita belajar menjaga persalinan di puskesmas dan rumah sakit. Pembobolan ATM, kenapa harus memberi angle yang membuat nasabah panik, kenapa tidak menebarkan kebaikan kepada nasabah dengan memberitahukan apa yang harus diwaspadai? Bukankah bertebarannya ATM sampai ke luar kota, dari sudut pandang lain, adalah simbol kesejahteraan masyarakat?


Berita buruk bisa kita pandang dari sisi baiknya--kalau kita mau--tanpa harus menutupi keburukan itu. Jangan beri predikat tanah air ini sebagai “negeri terburuk”. Right or wrong is my country. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mencintai negeri ini?


Oleh Putu Setia

Koran Tempo, 24 Januari 2010

Minggu, 06 Desember 2009

Sebelas Potong Jiwa

Dia menghampiriku, duduk dan mengambil sebatang rokok yang masih kuhisap. Bibirnya yang basah memainkan kepulan-kepulan asap. Membentuk lingkaran bulat yang indah dan perlahan-lahan lenyap saat menerpa wajahku. Bibir yang mempesona Aku terperangah, tapi hanya terucap dalam hati. Entah mengapa aku merasakan adanya kedekatan emosional yang luar biasa dengannya, padahal aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Dia begitu cantik. Jantungku berdebar-debar. Ditambah tak secarik kain pun membatasi mataku melihat indah tubuhnya. Aku menarik napas panjang, meneguk air liurku dan membenarkan posisi dudukku.Aku merasakan buah dadanya yang menyentuh dadaku. Napasku semakin tidak beraturan. Ia menatapku dan dengan lembut mengelus dan mengangkat daguku, hingga aku dapat mencium aroma napasnya bersama kepulan asap yang ia tiupkan ke wajahku. Betapa tubuh yang sempurna. Nyaris begitu sempurna andai saja ia memiliki mata.Ia buta, tepatnya tidak punya bola mata. Di sekitar tulang matanya hanya ada lubang yang begitu dalam menghitam
“Siapa kamu?”
“Tak perlu kau tahu, dan apakah kau selama ini pernah merasa perlu untuk tahu?” Dia menjawab dengan sedikit mendesah. Sambil mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku gelagapan.
“Aku tak tak mengerti apa maksudmu?”
“Apa selama ini kau pernah mencoba untuk mengerti?” Suaranya sangat lembut menggoda, namun ia selalu balik bertanya sembari memaikan kepulan asap dengan bibirnya.
“Kenapa kau selalu balik bertanya?”
“Kenapa kau harus selalu bertanya….! Apakah salama ini kau pernah bertanya pada kami?”
“Kami? Apa maksudmu dengan kami? Kami apa?” Aku semakin tidak mengerti setiap perkatananya.
“Ha..ha..ha..!” Dia tertawa “Kenapa kau masih banyak bertanya. Nikmati saja. Apakah selama ini kau pernah bertanya sebelum menikmati apa yang kau ingini” Dia sedikit membuatku kesal, tapi mungkin ia benar. Nikmati saja. Ia telah memberiku kenikmatan di saat aku membutuhkannya. Kenapa aku harus banyak bertanya.
Ia beranjak dari tempat dudukku. Berpidah pada sofa di depanku. Kembali ia duduk sambil menyilangkan kaki.”Huhh..” Aku menghembuskan napas panjang. Keseruput kopi yang sudah terasa agak dingin. Menyalakan sebatang rokok. Betapa birahiku masih menyala-nyala. Ia hanya tersenyum. Sedikit mengigit bibir bawahnya, menggoda. Aku memandangi lekat wajahnya sesekali melirik memandangi buah dadanya.
“Kau suka?”Ucapnya dengan lembut dan lagi-lagi mendesah. Aku sedikit terkejut. Apakah ia dapat melihatku? Bukankah ia tidak memiliki bola mata. Atau ia bisa membaca apa yang ada dalam benakku?
“Sebenarnya siapa kamu dan apa maumu?”
“Seharusnya kau bertanya apa maumu bukan apa mauku?”
“Baiklah, mauku kau jangan balik bertanya jika aku bertanya. Paling tidak kau beritahu siapa namamu.”
“Kau belum memberiku nama.” Jawabnya enteng.
“Haahh..! Aku menghembuskan napas sedikit kesal. “Memangnya siapa aku. Kenapa aku harus memberikanmu nama?”
“Apakah semua lelaki sepertimu?” Ia memotong dengan cepat pertanyaanku.
“Apa maksudmu?” Aku balik bertanya.
“Apa arti seorang wanita bagimu?”
“Bagiku wanita adalah sebuah maha karya yang sangat indah.”
“Hanya itukah?”
“Tidak juga…. tapi aku tak perlu menyebutkan semuanya kelebihan wanita bagiku kan?.”
“Terserah, kau memang biasa berbuat sesuka hatimu.” Nada bicaranya terkesan selalu memojokanku.
“Kenapa sejak tadi nada bicaramu selalu terkesan men-jusde- ku. Apakah kau mengenalku? Apakah aku mengenalmu?”
“Aku mengenalmu dan kau mengenalku”
“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Aku memang merasa punya kedekatan emosional dengannya, tapi aku merasa tidak pernah berteman atau berkenalan dengan orang gadis buta.”
“Aku tidak buta” Jawabnya, ia terlihat sedikit tersinggung Astaga, aku terkejut. Ternyata ia benar-benar bisa membaca pikiranku.
Siapa wanita ini sebenarnya. Aku mengenal bibirnya, buah dadanya, rambutnya, kakinya, tangannya, hampir seluruh anggota tubuhnya aku kenal, tapi aku tidak tahu siapa wanita ini sebenarnya. Aku benar-benar tidak ingat..
“Kenapa kau begitu mudah melupakan kami. Apakah semua lelaki sepertimu?”Aku semakin bingung atas segala pertanyaannya. Aku tidak pernah bertemu dengannya bagaiman aku bisa melupakannya. Jika ia bisa membaca pikiranku seharusnya ia tahu kalau aku tidak berbohong, dan yang lebih membuatku bingung kenapa ia selalu mengatakan “kami.” Apa maksudnya dengan “kami”?
Lantai marmer tiba-tiba penuh dengan genangan air. Air keluar dari rambut, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan pahanya dan punggung kaki. Sekejap lantai marmer penuh genangan air. Aku terperangah. Aku mulai merasa ketakutan, sekaligus iba. Ia terlihat sangat sedih. Apakah ia sedang menagis. Tanganku gemetar, gigi-gigiku saling beradu. Wanita macam apa dia?
“Kenapa kalian laki-laki selalu menjadikan kami sebagai objek?” Aku hanya diam. “Jawaaabbb..!! Ia membentakku. Ia tiba-tiba menjadi garang.
“Karena wan…nita itu indah.”Aku menjawab terbata-bata.
“Sebatas itukah…?” Suaranya menjadi pelan tertahan. Memelas.
“Wanita juga selalu menarik.”
“Ohhh… Atas dasar itukah kalian laki-laki berhak melakukan apapun pada kami. Memperkosa tubuh kami, memperkosa pikiran kami, memperkosa hak-hak kami.”
“Aku tidak pernah memperkosa siapa pun.” Bantahku cepat.
“O, yahh..!” Dengan nada meledek. Ia bangkit dan berdiri, mencabut kedua telinganya. “Lalu ini apa namanya? Kalian lelaki tidak hanya memperkosa kami. Kalian menghancuran kami hingga kami seolah tidak. Hingga ada seolah tidak ada.
Kau telah menggagahi dan mengobrak-abrik tubuh kami. Memperkosa rambut kami, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan paha dan punggung kaki kami.” Ia terus mengoceh sambil mencabuti satu persatu anggota tubuhnya Sampai terakhir hanya tinggal tangan dan mulutnya saja. Potongan-potongan tubuhnya bergelatakan di lantai yang becek oleh genangan air mata. Kakiku bergetar hebat sampai lemas tak sanggup berdiri. Baru kali ini aku melihat hal yang sangat mengerikan samacam ini.
Potongan-potongan tubuh tersebut mencair bersama genangan air mata. Air mata itu melahapnya satu persatu, seolah hidup, dan tiba-tiba air bergerak ke atas, seperti air yang mendidih. Membentuk gelembung-gelembung yang kemudian mengejawantah menjadi sosok wanita-wanita yang aku kenal. Hellen, Sri, Monika, Lilis, Dewi, Maya, Sinta, Lia, Windi, Anita dan Marni, tapi mereka sangat menyeramkan. Mata dan lidah mereka mengeluarkan api. Mereka mendekatiku dengan kedua tangan yang terangkat, siap mencekikku seperti vampir. Aku tak sanggup berlari. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Suara mereka semakin dekat. Mereka selalu berteriak.
“Kenapa kalian selalu memperkosa kami!”
Mentari pagi mengirimkan sinarnya yang menembus kaca jendela ketubuhku. Aku sedikit memijat-mijat mataku Sebuah kuas kecil dengan cat minyak yang sudah mengering masih aku genggam. Tepat di depan mataku kulihat sosok wanita telanjang tanpa bola mata sedang berdiri di atas taman yang sangat indah. Handphone-ku berbunyi. Frans, kolektor lukisan yang juga teman baikku meng-sms.
” Gmn Mas, sudah dpt model bwt lukisannya? Klo blm sy sdh punya, nmanya Dina matanya teduh tapi bersinar. Mudah2an matanya cocok bwt lukisan Mas. Klo mau nanti sy knlkan.”

***

Oleh pemilik blog ini
Jurnal Bogor, 25 October 2009

Gemuruh Century

Mendadak saya dipanggil Romo Imam ke pedepokannya. Pasti penting. "Saya akan membentuk tim pemantau dan pengawas tim-tim yang memantau dan mengawasi kasus Bank Century. Nanak harus ikut," kata Romo Imam, yang memanggil saya dengan sebutan "nanak". Itu artinya putra spiritual.

"Maaf, Romo bicaranya belepotan, ini tim apa?" tanya saya. Romo tertawa: "Nama tim itu tak salah. Sekarang kan dibentuk bermacam-macam tim, ada yang menyebut dirinya Tim Pengawas Angket Century, ada Koalisi Pengawal Angket Century, ada Tim Penelusuran Talangan Century, dan banyak lagi. Juga ada Tim 9, yang menepuk dada sebagai inisiator angket Century. Nah, tim yang dibentuk Romo itu memantau dan mengawasi tim-tim ini. Kalau namanya seperti belepotan, ya, sebut saja tim sebelas."

"Kenapa tim sebelas?" tanya saya lagi. Romo menjawab: "Supaya lebih tinggi, kan sudah pernah ada Tim 8, lalu Tim 9. Tim 10 untuk cadangan, nah, Tim 11 tugasnya memantau semua tim yang nomornya lebih kecil."

Dalam hati saya tertawa. "Romo, boleh tahu, kok kita ikut-ikutan ribut soal ini?" Romo menjelaskan dengan serius: "Ini untuk pembelajaran demokrasi dan mencerdaskan rakyat. Yang bikin runyam mengusut Bank Century itu adalah banyaknya pemantau partikelir yang punya agenda terselubung. Ada yang agendanya menjadikan panggung ini sebagai proyek mendongkrak peringkat kepolitisiannya. Mereka anak-anak muda yang tak mau dikatakan menjadi politisi mendompleng ketenaran ayahnya, dan kini membuktikan mereka bisa berkiprah. Ini bagus dan wajar. Lalu ada anak muda di luar parlemen yang kerjanya memang begitu melulu, apa-apa dipermasalahkan dengan aksi, siapa pun yang memimpin negeri ini. Mereka ini tak mau masuk jalur formal, misalnya bergabung ke partai politik dengan alasan macam-macam, seperti partai itu tak sehat, nepotisme, dan sebagainya. Sejatinya, mereka ini memang tak akan mampu meraup konstituen untuk bisa lolos jadi wakil rakyat. Jadi, bermimpilah tentang jalan pintas. Mereka mengira, pengerahan sepuluh ribu orang sudah bisa mewakili aspirasi seluruh rakyat. Padahal untuk menjadi wakil rakyat di kabupaten saja sudah harus mendapat suara 30 ribuan."

Saya diam, takut mengganggu Romo. "Yang unik, tokoh sepuh dan tokoh yang sudah jelas tak dikehendaki oleh rakyat untuk memimpin negeri ini, buktinya kalah pada pemilihan umum, masih juga bermimpi untuk tampil di panggung kekuasaan dengan cara-cara pintas. Dalam kasus Bank Century ini mereka mendesak supaya kasus itu diusut tuntas seolah-olah memberi kesan ada orang yang tak mau kasus ini diusut tuntas. Ini kan tak mendidik, wong Presiden sudah lebih dulu bilang, usut secara terbuka dan tuntas."

Saya terpaksa menyela, supaya Romo agak turun tensinya: "Maaf beribu maaf, Romo. Tampaknya Romo kurang setuju angket Century atau kasus ini dibuka atau...."

"Stop," Romo berteriak. "Nanak selalu curiga, itulah bahayanya menonton acara debat ala televisi. Romo seribu persen setuju kasus Century dibuka. Tapi jangan dengan gemuruh seperti ini, suaranya keras padahal belum bekerja. Parlemen, silakan buat angket. Kepolisian, kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi, silakan bekerja. Jika ditemukan ada yang salah, proses secara hukum. Sekarang ini belum bekerja sudah memvonis, ini pembodohan untuk rakyat. Hentikan memanipulasi suara rakyat. Katakan ada sejuta orang ke jalan, itu kan baru 0,5 persen penduduk Indonesia. Yang 99,5 persen itu ingin tenang bekerja, tapi korupsi tetap diberantas supaya mereka lebih sejahtera."

***

Oleh Putu Setia

Koran Tempo, 6 Desember 2009

Mata

IA suka memandang mata perempuan itu, tetapi tiap kali dia pandang ia lihat jarak terentang di antara mereka, bak nganga bukaan dinding kuburan. Tidak. Mata perempuan itu mungkin mirip danau yang teduh tetapi jauh, nun di sana, dibatasi jurang gelap hutan-belantara. Makanya setelah tersenyum lelaki itu selalu melengos dan menggeleng-geleng.

"Kenapa?" tanya perempuan itu dengan kening berkerut setiap dia berbuat begitu.

"Tidak, tidak."

"Tapi kau selalu melengos usai tersenyum memandang mataku."

"Oh. Jangan tersinggung," kata lelaki itu khawatir. "Matamu indah. Mata terindah yang pernah kulihat."

Perempuan itu tak terkejut mendengarnya. Lelaki itu pernah mengatakannya, tak pula sekali. Banyak orang juga memuji matanya. Kata mereka matanya pesona luar biasa yang dia miliki di samping tubuhnya yang sempurna. "Sulit menentukan mana yang lebih unggul, tapi aku cenderung memilih matamu," kata mereka.

"Terima kasih," katanya kepada laki-laki itu. "Itu sudah kau katakan. Yang belum kenapa kau selalu melengos dan menggeleng-geleng usai melihat mataku?"

Laki-laki itu bertahan untuk tak menjawab. Dia berkelit ke sana kemari dan untuk beberapa kali ia berhasil. Tetapi, suatu kali ketika perempuan itu kembali bertanya malah terasa mendesak, dia cuma bisa berucap, "Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu."

Sebetulnya bukan karena tidak tahu. Dia merasa takut, juga malu, sebab jarak itu selalu muncul tiap kali ia memandang mata perempuan itu. Pernah ia urai rasa takut serta rasa malu itu satu per satu, seperti si penggamang melihat ke bawah dari pesawat terbang atau berjalan di jembatan penyeberangan di siang bolong, sewaktu kendaraan seliweran di bawah. Hasilnya justru rasa gelisah yang payah. Tubuhnya berpeluh, bergetar, bibirnya pucat. Kalau sudah begitu perempuan itu justru tidak tahan, lantas melenakannya kembali dalam pelukan. "Sudah, sudah. Cup, cup," katanya membujuk. "Oh, panasnya tubuhmu," bisik perempuan itu lagi dengan lembut. "Istirahatlah, aku akan selalu ada di dekatmu."

Laki-laki itu merasa amat tenang berada dalam pelukan. Seolah waktu membeku, matahari tak mengalir, jarak itu tinggal maya. Ia dan perempuan itu bak dua belahan yang dipertemukan kembali oleh tangan Tuhan. Ia saksikan embun di ujung daun, putik-putik mekar menjadi bunga, burung-burung bersiul pada dahan-dahan pohon yang rimbun. Didengarnya gemericik air, entah di mana, penuh irama. Laki-laki itu sadar belum lagi berada di surga namun ia sungguh amat bersuka-cita.

Karenanya, betapa dia amat berduka waktu perempuan itu, suatu ketika dan dalam keadaan seperti itu juga, berkata dengan suara tetap terdengar lembut dan lunak, "Sayang, apakah menurutmu aku seperti sayur yang tidak kau dapatkan di rumah?" Pertanyaan itu sungguh merusak, tak ubahnya mendung mencemari siang.

"Mengapa bertanya seperti itu?" tanya lelaki itu terbata-bata. Di samping sedih, ia merasa sangat tidak berharga. Ia melihat dirinya seperti lelaki-lelaki lain yang warna usia mereka juga menguning, tapi suka beternak pikiran seperti yang dikatakan perempuan itu dalam kepala mereka. Padahal, dia merasa, bahkan amat yakin pula, perhatiannya pada perempuan itu tak didasari pikiran kotor seperti yang ada dalam kepala para lelaki itu. Melainkan karena sesuatu yang indah, meski tak dapat dia jelaskan dengan ringkas. Tapi apakah segala sesuatu harus diberi penjelasan, apalagi dengan ringkas? Ah, ia akan lebih suka kalau disamakan dengan tokoh yang dimainkan Richard Burton dalam film Circle Two, sedangkan perempuan itu tokoh yang diperankan Tatum O'Neal meski umur si perempuan belasan tahun lebih tua dari tokoh gadis dalam film lama itu.

"Ah, tidak, tidak," jawab perempuan itu tersipu-sipu. "Cuma ingin tahu saja, kok. Tetapi sudahlah, jangan pikirkan. Forget it."

Sesaat dia masih sibuk meredakan dada yang dideburi gelombang. Lalu, perlahan-lahan, diciumnya kembali aroma bunga-bunga. Maka ia minta perempuan itu untuk tidak lagi sekali-kali berucap demikian. "Jangan ulangi lagi, ya," katanya. Perempuan bertubuh lampai itu menjawab dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, juga disertai senyum yang menawan, "Tidak, tidak. Aku tak akan meragukanmu lagi."

Mata lelaki itu bercahaya. Dan makin bersinar saat si perempuan menambahkan, "Sebetulnya, aku juga merasa tidak mungkin kau menganggap aku bagai sayur yang tidak kau dapatkan di rumah."

Saat itu sebetulnya sudah dia dengar kembali gemericik air penuh irama, entah di mana, burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Tapi lelaki itu coba bertahan, justru karena dia ingin berada di tempat yang lebih sedap lagi. "Ei, ei," dia bilang. "Kok masih disebut-sebut ibarat itu?"

Dan perempuan itu lalu membawanya ke puncak yang lebih sedap lagi sewaktu berucap, "Maaf." Ia juga tersenyum, bermanja-manja. Bagai belum cukup, dia raih kepala lelaki itu ke pangkuan.

Langit cerah. Burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Air gemericik, entah di mana, penuh irama. Matahari bagai tidak mengalir. Dan dengan mencuri-curi dia pandang pula mata perempuan itu. Meski tak lama-lama, dengan begitu tidak dapat utuh menikmati keindahan mata itu, tapi dia bisa mengelak dari jarak yang meresahkan, malah kerap menegakkan bulu romanya.

Mestinya begitu terus. Tepatnya, lelaki itu berharap keadaan seperti itu tetap awet, sebutlah bak air telaga yang tak beriak. Tapi di lain hari perempuan itu kembali bertanya, seolah ada yang tak mati-mati dalam pikiran dan hatinya. "Kadang-kadang," dia bilang, "aku suka bertanya-tanya, apakah rasa sayangmu kepadaku sebesar rasa sayang yang aku rasakan kepadamu?"

"Ei, mengapa kau ini," balas lelaki itu. "Untuk apa lagi itu kau tanya-tanya. Tentu saja sama. Ah, jangan-jangan malah lebih. Ya, aku rasa pasti lebih besar."

Perempuan itu tersenyum. Lesung-pipinya selalu membayang bila dia tersenyum, membuat cekungan indah di raut wajah, tapi saat itu si lelaki melihat ada yang tak beres. Meski sekilas, mata perempuan itu dilihatnya tak berbinar, walau redup benar juga tidak.

"Mengapa senyummu seperti itu?" dia bilang.

"Menurutmu seperti apa?"

"Seperti...."

"Ah, sudahlah," tukas si perempuan tak sabar. "Aku hanya merasa, ada yang tidak kau katakan." Ia tak menangis tapi suaranya bergetar. "Maksudku, ada yang tetap belum kau sampaikan kepadaku. Padahal, kau tahu, oh... betapa aku amat mencintaimu."

Lelaki itu tak berkomentar.

"Mengapa kau selalu tersipu dan buang muka setelah memandang mataku?" Kini pertanyaan itu terdengar seperti tuntutan.

Lelaki itu tidak juga menjawab. Mati-matian ia bertahan tetap diam. Tidak semua yang ada dalam hati dan pikiran harus diucapkan, bahkan kepada kekasih sekalipun. Ada hal-hal pelik yang justru menuntut dipertahankan, tetap ingin jadi milik sendiri, tidak sudi dibagi-bagi.

"Jawablah," kata perempuan itu.

Lelaki itu kukuh tak menjawab.

Sejak itu si perempuan memakai kacamata hitam, dengan aneka model, membuat ia terlihat semakin cantik laiknya hari di pucuk matahari. Meski banyak orang menyesali, menilai aneh, lantaran matanya yang indah tidak tampak lagi bahkan seperti sengaja dia sembunyikan, namun perempuan itu tak peduli.

Dia memang masih muda, 33, sedang laki-laki itu mendaki 55. Lelaki itu sering berpikir perempuan itu pantasnya adik, atau keponakannya. Di kampung-kampung, dulu, mereka lazim ayah-anak. Berpikir sampai di situ biasanya lelaki itu kian tersiksa karena jarak itu justru bertambah jelas, serupa jalan yang menyembul dari balik kabut. Panjang, berliku-liku pula. Saat ia 22 tahun, perempuan itu baru saja hadir melihat dunia. Sungguh tidak tahu dia mereka bakal jumpa kelak, 33 tahun setelah masa kelahiran perempuan itu. Oh, 33 tahun! Alangkah sayup pangkalnya, jauh sekali. Ya, sangat jauh jarak terentang di antara mereka. Ia sekarang berjalan menuju petang, si perempuan justru sedang mendaki bahu hari.

"Kenapa kau selalu berkacamata?" tanya lelaki itu suatu kali, setelah tercengang-cengang karena tiap jumpa dilihatnya perempuan itu tak lepas-lepas dari kacamata hitam, bahkan saat berbaring di sebelahnya sebelum bercinta.

"Supaya kau tak selalu melengos dan menggeleng-geleng habis menatap mataku."

"Tapi... rasanya sayang sekali. Matamu indah."

"Hatimu juga indah, tetapi toh tak seluruhnya dapat kubaca."

Laki-laki itu terdiam. Betapa ia sangat mencintai perempuan itu, cinta sekali, juga ingin sekali memandang matanya lama-lama. Tetapi, ia tahu yang terakhir itu pun sesuatu yang rumit. Jadi, tinggal pilih. Keduanya tak bisa. Tidak ada yang dapat dimiliki dengan utuh-sempurna.

Sayup-sayup, lelaki itu kemudian merasa berterima kasih. Walau mata perempuan itu terlihat samar dari balik kacamata dia tak takut-takut lagi menatapnya. Tak melengos, juga tak menggeleng-geleng setelahnya. Malah berani-beraninya dia merapatkan bibir ke mata yang dilapis kaca itu, seolah-olah hendak mengecupnya. "Ciumlah, kecuplah," pinta perempuan itu penuh harap.

"Nanti kacanya buram. Eh, jadi sengaja kau tutupi keindahan matamu, ya?"

"Aku pun tak punya pilihan," sahut perempuan itu. "Ciumlah, akan aku seka nanti pakai tisu. Lakukanlah, tinggal itu yang belum. Oh, tinggal mataku yang belum kau cium. Lakukan, lakukanlah!"

Laki-laki itu mendekatkan bibirnya dan diciumnya mata perempuan itu dari balik kacamata. Matanya pejam saat melakukannya, bagai mereguk keindahan mata itu dalam-dalam, sepenuh perasaan. Perempuan itu menarik napas lega, lantas berbisik-bisik dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, "Oh, betapa aku mencintaimu. Betapa aku sangat mencintaimu...." Di dalam hatinya lelaki itu juga berbisik-bisik.

Jakarta, 17.9.09


***
Adek Alwi bermukim di Jakarta. Pernah menjadi pemimpin redaksi harian Sinar Pagi.

Koran Tempo, 6 Desember 2009

EMPAT KEMUNGKINAN TEMPAT SUAMI IBUKU BERADA

1.dia memang pergi ke negeri tetangga
dan mungkin masih berada di sana
ingin menghabiskan seluruh jatah:
usia dan ingatan tentang rumah
atau dia menunggu seseorang atau surat
datang mengajak pulang--apakah dia
lupa surat benci yang tak punya alamat?
sekarang rambut ibu yang memanjang
demi dibelai angin dan angan dibelai
mulai putih dan patah sehelai demi sehelai
tapi mengapa suaminya betah di pelarian?

2.ibu percaya seseorang bisa tersesat,
singgah atau sengaja sembunyi
di kartu keluarga orang lain
dia tua sekarang. jalan pulang
mungkin telah terlalu panjang
bagi kaki dan keinginannya
yang semakin pendek
dan rindu, meski tak mampu dikalahkan,
bisa dialihkan ke tempat pulang berbeda

3.apakah semua rumah sakit
bersedia menampung penderitaan?
jika dia menderita, oleh usia tua
atau rindu, mungkinkah dia
tak melupakan letak rumah sakit
seperti yang dilakukan ingatannya
kepada rumah yang sakit dia tinggalkan?
dia mungkin menumpang di situ
--sementara
atau menggelimpang di satu penjuru
penjara?

4.padahal ibu meminta dia membawa rumah kami
di tubuhnya--dan tak seorangpun perlu menanti
sebab bahkan petualang membawa kampungnya
ke mana-mana, agar pergi dan kembali
tak perlu diterjemahkan berbeda
mungkin ia telah melihat rumah
semakin menjauh dari dirinya
dan berpikir pulang ke kampung
yang lebih dekat dari tubuhnya:
tanah
--dan ibu hanya akan berziarah
ke dalam puisi anaknya

MENGINGAT SATU PUISI

Puisi itu mulai bicara dengan mengutip pepatah

dari negeri yang gemar berperang, negeri para

gembala domba yang mempunyai musim parah.

Kemudian istirahat sejenak, seperti menghirup

suara untuk menghibur kelelahan atau mirip

musafir yang menduga-duga letak ujung jalan.

Kalimat-kalimat berikutnya mengalir bak bah

yang tak mencintai rimbun belukar tepi sungai--

terburu-buru bagai seorang pembenci matahari

pukul 12 siang musim kemarau. Keindahannya

hanya aku terima karena menangkap kelebat

kalimat-kalimat dan bayangan-bayangan kata

yang mencuri kecupan di bibir benda-benda.

Tapi menjelang pergi, puisi itu bicara perlahan,

tenang seperti langit digenangi warna-warni tua

sorehari. Dan meski tak dikatakannya, aku bisa

melihat dengan jelas bulu-bulu halus yang lepas

dari sayap burung-burung yang pulang ke sarang,

kembang yang siap menjatuhkan diri diam-diam,

juga banyak peristiwa kecil di masa kanakku.

Saat merantau ke masa lampau itulah, tanpa

aku sadari, puisi itu pergi, menyisakan cuma

malam dan tebing yang memantul-mantulkan

panggilan yang entah dari mana pangkalnya--

juga aku yang dengan cepat merindukannya.

RENCANA MENGEDIT SATU PUISI

Aku mau menukar bangku taman itu

dengan sepasang kursi kayu sederhana

dan memikirkan warna yang sebanding

dengan dingin dinding atau mungkin

akhirnya aku biarkan saja telanjang.

Sofa yang nampak ganjil itu tentu

akan aku singkirkan ke gudang--

terlalu mewah. Mengganggu tamu,

mengganggu sepasang matamu.

Dan perempuan asing tanpa nama,

yang duduk membenahi rambutnya

di beranda, perlukah aku cari seorang

lelaki untuk menemaninya atau sendiri

akan membuat dia menjadi lebih ada?

Suara burung, dikirim dari sekurung

sangkar atau dahan pohon ketapang?

Juga lagu murung itu, datang dari tivi,

kamar mandi atau pulang dari masa lalu?

Masih tentang perempuan itu, ketika

memandang langit yang memendung,

apakah di matanya aku luapkan hujan?

Atau, ah, aku lupakan saja hujan mata?

Atau mengikuti saran seorang teman

untuk membersihkan saja mendung itu

dengan senyum atau musim kemarau

kemudian aku berjuang melupakannya

seperti melupakan senja dan kenangan

yang terlalu sering diserang keharuan?

Setelah itu, akan aku hapus seluruh

jejak yang bisa membuatmu curiga

aku sembunyi dalam puisi itu. Tapi,

apakah itu betul perlu dilakukan?

JAM BERAPA SEMALAM MATAKU MATI TERPEJAM

setiap malam

selalu ada saat ketika percakapan

kita terhenti dan aku tertidur

aku tidak pernah paham

kenapa aku tak mampu merasakan

kapan tepatnya detik-detik jam

menjatuhkan aku ke dalam

kubur tidur

juga tidak pernah bisa

mengingat-ingatnya

tidak ada orang, tidak ada

kecuali engkau yang tahu

waktu saat aku meninggalkanmu

masih dengan mata dan senyum

menyala dalam gelap

engkau selalu bertahan dan memilih

tidur setelah membereskan rambutku,

mengecup dua kali di keningku

lalu mengucap doa di kupingku

yang tak lagi peduli apa-apa

aku rindu engkau menyambut

aku bangun dengan pertanyaan:

jam berapa semalam

mataku mati terpejam?

aku rindu engkau menyebut

angka-angka waktu, jawaban

sambil tersenyum menyiapkan

sarapan yang hangat,

Nek.


****
M. Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Sehari-hari bekerja sebagai pustakawan di Kafe Baca Biblioholic di Makassar.

Koran Tempo, 6 Desember 2009