<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650</id><updated>2011-12-08T05:03:53.609-08:00</updated><category term='Catatanku'/><category term='Esai'/><category term='Cerpen'/><category term='Makalah'/><category term='Linguistik'/><category term='puisi'/><category term='Tugas Handout Dasar-dasar Jurnalistik'/><title type='text'>TAMAN CATATAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-5942812178509069389</id><published>2010-03-07T04:52:00.000-08:00</published><updated>2010-04-19T02:47:09.408-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><title type='text'>MENYOAL BAHASA GAUL</title><content type='html'>Salahkah menggunakan bahasa gaul? Sebelum menjawab pertanyaan mari kita cermati asal-usul dan penyebab berkembangannya bahasa ini. Bukankah dalam menganalis suatu masalah akan lebih baik jika kita dapat mengidentifikasi terlebih dahulu masalah tersebut. Saya pikir begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa gaul awalnya campuran antara bahasa etnis Betawi dengan Melayu. Lama-kelaman bahasa ini semakin dinamis karena ibu kota adalah wadah bertemunya beragam etnis. Konsekuensinya, bahasa ini kian kaya dengan serapan dari berbagai bahasa daerah. Tidak hanya itu, kini bahasa ini semakin identik dengan istilah asing dari negeri Britis dan Paman Sam. Oleh karenanya tidak heran kalau bahasa ini kian cepat berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang juga memengaruhi perkembangan bahasa gaul adalah faktor psikologis pengguna bahasa sendiri. Seseorang yang ingin diakui dalam kehidupan sosial (pergaulan) di masyarakat tertentu, cenderung akan mengikuti pola yang ada pada masyarakat tersebut, tak terkecuali bahasa. Ketika sesorang ingin dikatakan gaul, maka kemungkinan besar ia akan berusaha berprilaku seperti orang yang dianggapnya anak) gaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya bahasa gaul dinilai lebih bergengsi di mata masyarakat (umunya remaja) dibandingkan bahasa daerah atau pun bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahasa ini pertama kali berkembang di ibu kota. Remaja pada umumnya mengganggap remaja ibu kota memiliki prestise yang lebih tinggi, lebih “keren,”sehingga bahasa mereka pun dianggap lebih bergengsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, perkembangan bahasa ini juga tidak terlepas dari peran media, khususnya media elektronik. Lihat saja tontonan di televisi. Berapa banyak acara yang menyuguhkan penggunaan bahasa yang baku. Meskipun ada, saya pikir itu bukan acara yang menarik bagi kebanyakan remaja, misal “berita.” Kebanyakan tontonan yang digemari remaja menggunakan bahasa gaul, sebut saja, salah satu acara di televisi yang pada pembukan dan penutup acaranya kerap menggunakan istilah asing: ”Hello gays, wallcome to.../ Oke, see you next week and keep away from druge.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa adalah hak dari pengguna bahasa itu sendiri. Terserah pengguna bahasa ingin menggunakan bahasa apa. Oleh karenanya, Saya pikir tidak menjadi masalah kalau kita menggunakan bahasa gaul, asalkan kita tidak lupa bagaimana menggunakan bahasa yang baku. Ya, yang penting kita tahu waktu dan tempatnya sajalah, karena bagaimanapun juga bahasa merupakan identitas suatu bangsa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-5942812178509069389?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/5942812178509069389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/03/menyaol-bahasa-gaul.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/5942812178509069389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/5942812178509069389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/03/menyaol-bahasa-gaul.html' title='MENYOAL BAHASA GAUL'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7720742655759627569</id><published>2010-02-11T06:05:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T06:14:30.333-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Tindak Tutur Masyarakat Baduy Suatu Tinjauan Pragmatik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;BAB I&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.1. Latar Belakang Masalah &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam memahami suatu wacana tidak hanya bisa dikaji secara struktural. Oleh karenanya, para ahli bahasa fungsional berpendapat bahwa untuk memahami suatu wacana atau tindak tutur kita juga melihat konteks atau situasi tuturan. Pada tahun 1923 Vilem Matheius, guru besar Universitas Caroline mendirikan aliran Praha. Aliran ini menitikberatkan telaah pada fungsi-fungsi bahasa, baik fungsi bahasa dalam masyarakat maupun dalam kesusastraan, dan problem-promblem aspek-aspek serta tingkatan-tingkatan bahasa ditinjau dari sudut pandang fungsinya. Konsep ini menekankan pentingnya satuasi dalam memandang suatu objek studi. Ini berarti supaya mengerti fungsi bahasa sebagai alat, maka mesti dilihat dalam tiga faktor, yakni dalam situasi ujaran: (1) penutur, (2) penanggap tutur, dan (3) sesuatu atau objek. Chaedar Alwasilah (1993).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu disiplin ilmu bahasa yang dalam dua dekade terakhir disadari peranannya dalam upaya lebih memahami fungsi hakiki bahasa sebagai pembawa amanat dan berbagai maksud di dalam tindak komunikasi adalah pragmatik.  Menurut  Leech  (1989, dalam Wijana 1996)  pragmatik  adalah  studi  makna  dalam kaitannya  dengan  situasi  ujaran. Pemahaman  konteks  sangat  diperlukan  dalam  analisis  pragmatik.  Konteks  ialah  segala  aspek  yang  berkaitan  dengan  lingkungan  fisik  dan  sosial  sebuah  tuturan.  Leech mengartikan  konteks  sebagai  pengetahuan  latar  belakang  tuturan  yang  sama-sama  dimiliki  baik  oleh  penutur maupun  oleh lawan tutur dalam menafsirkan  makna.  Dengan  demikian,  konteks  dapat  mengacu  pada adat  istiadat,  dan  budaya  masyarakat.  Konteks  pun  dapat  mengacu  pada  kondisi  fisik,  mental,  serta  pengetahuan yang ada di benak penutur maupun lawan tutur. Unsur waktu dan tempat terkait  erat dengan  hal-hal  tersebut. Oleh karena  itu, konteks  sangat  besar  andilnya  dalam penginterpretasian maksud penutur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Leech, menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam setiap  percakapan,  tuturan selalu  memuat tujuan yang  hendak  dicapai penutur.  Tujuan  dapat  berupa  tujuan  personal  yang  dicerminkan  oleh  proposisi pada tuturan atau berupa tujuan sosial seperti menaati prinsip pragmatik  yang  berupa  Prinsip kerja sama dan  prinsip  sopan  santun.  Tujuan  personal  lazimnya  dicapai melalui tujuan-tujuan sosial.  Dalam hal ini Leech  merasa lebih  tepat  memakai istilah tujuan atau fungsi daripada memakai makna yang  dimaksud penutur. Berkaitan erat dengan  tujuan  adalah  tindak  tutur,  terutama  tindak  ilokusi  atau  yang  biasanya  hanya  disebut  ilokusi. Tindak itu berperan  menegosiasikan suatu proposisi di antara penutur dan lawan tutur dalam  komunikasi, Leech, (1993). Oleh karenanya, dalam mengkaji tuturan dari hasil wawancara dengan masyarakat Baduy penulis merasa tepat menggunakan analisis pragmatik. Hal ini bertujuan untuk mengungkapkan maksud dari setiap tuturan yang penulis dapatkan dari percakapan dengan masyarakat Baduy.   &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Selengkapnya Klik &lt;a href="http://www.4shared.com/file/219743811/391ea422/Pragmatik.html" style="color: red;"&gt;di Sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7720742655759627569?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7720742655759627569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-1.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7720742655759627569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7720742655759627569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/02/bab-i-pendahuluan-1.html' title='Tindak Tutur Masyarakat Baduy Suatu Tinjauan Pragmatik'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-3405139106667330700</id><published>2010-02-02T11:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T11:26:21.911-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Nur Alias Celeng Alias Gepeng Alias Bopeng Alias Gareng</title><content type='html'>Mungkin  orang tuanya pun tak pernah terpikir kalau anaknya akan memiliki “gelar” sepanjang ini: Nur alias Celeng alias Gepeng alias Bopeng alias Gareng, gelar yang sangat panjang bukan? Dulu diberi nama Nur Asyamsiah Nurdin saja sakit-sakitan. Orang-orang tua dulu bilang: “Kepangjangan nama sih, cari nama yang singkat saja!” Dan singkat kata pula, jadilah dia dipanggil Nur, yang artinya cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama yang indah bukan? Tapi jangan pernah berpikir kalau Nur itu cantik! Khususnya bagi Anda yang merasa laki-laki, tapi terserah juga sih kalau Anda mau dibilang punya kelainan. Nur seorang lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begini ceritanya. Mau tahu ceritanya? atau merasa buang-buang waktu saja? Silakan klik back  untuk kembali ke halaman muka atau ke rubrik yang lainnya. Kalau tidak, begini ceritanya. Tolong Kawan baca pelan-pelan agar cerita terkesan lebih dramatis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, sebuah kenyataan telah membuat seorang anak pengusaha kaya terpaksa mengais-ngais sampah untuk mencari makan, sampai akhirnya terjebak ke dalam lembah hitam. Nur namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepiring nasi, tahu, tempe, kangkung dan sambal mengisi perutku yang sedari tadi keroncongan. Biasa rutinitas siang, berkujung ke warteg langganan. Perutku memang sudah kenyang, tapi otakku masih keroncongan, mumet. Tak ada inspirasi di batok kepalaku yang memang kosong kurang pengetahuan. Padahal tiap minggu aku selalu rajin mengirimkan tulisan ke media dan rajin juga mendapatkan balasan: Tulisan ini akan selalu terbit di hati Anda.  “Cape dwueh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulayangkan pandang pada mobil dan sepeda motor yang berlalu lalang, berimajinasi. Tiba-tiba, kurang ajar! Seorang pemuda memecahkan gelembung-gelembung imajinasiku. Menggerakan-gerakan tangan dan melongok-longokan kepalanya ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa bang, mo kenalan?”colotehnya, serasa ia tak punya dosa.&lt;br /&gt;“Enggak,” aku agak malu bercampur kesal.&lt;br /&gt;“Kok, dari tadi ngeliatin saya terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buset! Ni orang sinting apa? gerutuku dalam hati. Apa dia kira aku gay. Kurang ajar! ia langsung menyodorkan tangannya, untuk beberapa detik aku diamkan, tapi aku juga merasa tidak enak jika tak menyambutnya. Toh mungkin dia cuma iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nur,” ujarnya.&lt;br /&gt;“Anggi,” balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar orang-orang disekitarku cekikikan menahan tawa. Mungkin dalam hati mereka, Masa dua pria tampan nan rupawan bernama seperti perempuan. Kurang ajar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ia memang sangat menyebalkan, tapi ternyata lama-lama mengasikan. Jangan tanya mengapa karena ceritanya akan panjang. Intinya kami saling bercerita dan bertukar pandang, kemudian merasa punya banyak kesamaan. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur, sebenarnya anak orang terpandang. Ayahnya adalah seorang wirausahawan yang cukup gemilang, sebelum keranjingan menjadi anggota dewan, tapi sayang gagal dalam pemilihan, dan kemudian menderita ganguan kejiwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya Nur kemudian yang menjadi tulang punggung keluarga, mengadu nasib di negeri Onta. Awalnya tiap bulan Nur mendapat kabar dan kirman meski tak seberapa, tapi setahun kemudian tak lagi ada telepon tentangga yang berdering untuknya. Lengkap sudah malapeka dan Nur tak bisa berbuat-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja kesepian, Nur juga kelaparan. Nur pernah mengais-ngais sampah untuk mencari makan, menjadi gelandangan, sampai ahirnya terjerumus ke dalam kubangan kejahatan. Nur adalah residivis kawakan. Ia sudah sering keluar masuk lembaga pemasyarkatan. Dikerjar-kejar polisi baginya, mungkin hanya main kucing-kucingan. Bahkan rumah AKBP. Khasan Atman Suparman pernah ia garap habis-habisan. Gila kan? Ia memiliki empat buah KTP dan empat nama julukan, Celeng, Gepeng, Bopeng dan Gareng yang didapat dari perjalanan hidupnya yang melelahkan. Semua julukan ada catatan historisnya yang panjang, tapi lain kali sajalah aku ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur selalu berpindah-pindah, tapi jika ada waktu ia selalu mampir ke kosanku, sayangnya sudah lama ia tak datang ke kosanku, dan entah kenapa aku  merindukannya... bahkan sangat merindukannya (tolong jangan diartikan negatif). Aku seperti telah kehilangan kakakku sendiri. Nur selalu “bekerja” sendiri, tapi jika mendapatkan hasil selalu ia bagi-bagi. Robin Hood-lah bahasa kerennya atau si Pitung kalau dalam ranah domestik, dan ia pun kerap menjenguk ayahnya di rumah sakit penyembuhan mental, kalau tidak ingin menyebut rumah sakit jiwa, jika dirasa kondisi cukup aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku tahu kalau ia seorang residivis? Begini Kawan, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga, itu kata peribahasa. Ternyata benar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu... bulan sedang di atas kepala, daun-daun genit melambai-lambai digoda sang angin, gemerisiknya menghiasi keheningan malam, dingin mendekap hingga ke dalam tulang, mengerutkan kulit dan bibir yang menggigil tertikam angin, sekilas burung penjaga malam terbang melintasi berarak awan di bawah bulan, kemudian hilang, kesunyian membentang sepanjang mata memandang, keheningan yang mencekam, sempurna, kembali pada titik nol, seperti saat kita kembali pada fitrah kita nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sih waktu itu memang mau memutar arah saja, cari suasana, dalam perjalan pulang sehabis membeli kopi dan rokok, biasa untuk menemani menonton sepak bola. Soalnya Liga Champion sedang panas-panasnya. Biasanya aku jarang lewat dari jalan itu. Aku menginap di kosan temanku yang letaknya tak jauh dari perumahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sengaja memergokinya ketika sedang menggergaji kunci ganda sepeda motor di sebuah perumahan elit. Kami saling bersitatap. Aku terkejut pun dengan dia, tapi ia kemudian bersikap seolah tak melihat keberadaanku, sejenak aku diam terpaku, lalu segera beranjak pura-pura tidak tahu. Aku pikir setelah itu ia tidak berani datang ke kosanku. Ternyata aku salah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan kenapa waktu itu aku diam saja. Apa Kawan pikir karena aku takut? Ya, Kawan benar, tapi alasan yang paling utama karena aku merasa berhutang budi.  Ia sangat baik kepadaku.  Ia sering meminjamiku uang, bahkan memberiku uang. Kawan tahulah bagaimana kehidupan anak kos yang serba ngepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, aku tahu Nur sebenarnya orang baik. Pernah suatu ketika aku mengendarai sepeda motor bersamanya. Ketika sampai di tikungan sekejap seorang pengendara motor di belakangku menyalib dengan kecepatan super tinggi, mungkin ia ingin menjadi pembalap moto GP, ternyata datang mobil dari arah yang berlawanan. Pengendara itu pun terkapar. Aku sekilas melihatnya. Kasihan memang, tapi tetap memacu sepada motorku. Tiba-tiba Nur memintaku berhenti, lebih tepatnya memaksaku, karena aku menolak. Aku tak ingin repot terkena masalah, tapi ia tetap memaksa. Aku pun berhenti dan memutar arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emangnya dia siape lu?” ujarku.&lt;br /&gt;“Dia orang Sob.”&lt;br /&gt;“Guwe tahu,  lagian yang nabraknya juga kabur,  orang-orang yang laen juga pada diem aja! nanti kita kena masalah, repot! udah deh!”&lt;br /&gt;“Gimana kalo yang tabrakan itu guwe?” aku tersentak dengan pertanyaannya.&lt;br /&gt;“Ya, pasti guwe tolonglah, lu kan temen guwe.”&lt;br /&gt;“Gimana kalo lu belum kenal guwe?” pertanyaannya monohok jantungku. Aku diam tak bisa berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun mengantarkan si korban ke rumah sakit. Nur menelpon keluarga korban. Ia mengetahui nomor keluarga korban dari handphone korban. Aku tak pernah menyangka akan diajari nilai-nilai kemanusiaan oleh seorang residivis. Ternyata hatinya begitu mulia. Aku baru sadar betapa tak berprikemanusiaannya aku selama ini. Masihkah pantas aku disebut manusia atau seorang mahasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Kawan juga ingin tahu kenapa Nur sangat begitu baik padaku? Tak lain dan tak bukan karena wajahku mirip dengan adiknya yang sepuluh tahun lalu sudah ditelan bumi. Ia merasa menemukan keluarganya yang hilang. Aku pun tadinya tidak percaya, kupikir ia hanya mengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini poto ade guwe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga! wajahku yang tampan nan rupawan ini ternyata punya kembaran. Aku seperti  sedang bercermin, mirip sekali denganku. Sejak kejadian itulah ia mulai benar-benar terbuka tentang latar belakangnya, dan “profesinya” yang sebenarnya. Entah apa perasaaanku waktu itu aku tak tahu persis. Semua bercampur aduk. Aku merasa sangat terkejut, iba, sekaligus bangga, maksudnya bukan atas profesinya, tapi banggga atas perjuangan hidupnya, dan yang paling membuatku tercengang, jauh di dalam palung hatinya yang terdalam ia punya cita-cita mulia, ingin menjadi wartawan. Gila kan? seorang residivis ingin menjadi wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang ada sisi positifnya. Jika Nur menjadi wartawan berita kriminal. Ia akan mudah mengendus berita, ia tidak akan kepusingan karena mentok dikejar deadline, ia punya kelebihan yang tidak dimiliki wartawan lain, yakni pernah langsung terjun di dunia kriminal. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin yakin kalau Nur pada dasarnya orang yang baik. Keadaan dan ketidakpedulian yang memaksanya menjadi demikian. Kalau bahasa yang pernah aku dengar di TV sih bengini: Kita tidak miskin tapi dimiskinkan! Sistem yang membuat kita menjadi miskin!”. Mungkin juga sebenarnya Nur tidak kriminal, tapi secara tidak langsung dikriminalkan. Aduh, aku ini lagaknya sudah seperti seorang filosof saja, padahal cuma mahasiswa ingusan yang kerap kali kerepotan membayar tunggakan. Analogi yang mungkin ngawur, tapi biarlah, yang penting aku sudah bertutur dengan jujur, tiada maksud sok berbudi luhur. Memang agak sensitif juga kalau berbicara masalah “kriminal,” soalnya sekarang masih hangat istilah “kriminalisasi,” baik di media cetak maupun elektronik. Loh, kok nyambungnya ke situ, ini kan cepen! akh, sebelum tambah ngawur, nanti malah dikira ikut campur tapi gak ngatur, lebih baik aku lanjutkan saja ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Suasana yang sama memang kerap terjadi lebih dari sekali. Seperti ini misalnya: Malam itu... bulan sedang di atas kepala, daun-daun genit melambai-lambai digoda sang angin, gemerisiknya menghiasi keheningan malam, dingin mendekap hingga ke dalam tulang, mengerutkan kulit dan bibir yang menggigil tertikam angin, sekilas burung penjaga malam terbang melintasi berarak awan di bawah bulan, dan hilang, kesunyian membentang sepanjang mata memandang, keheningan yang mencekam, sempurna, kembali pada titik nol, seperti saat kita kembali pada fitrah kita nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita sudah tiba pada bagian yang dramatis Kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunai sudah rinduku. Nur datang ke kosanku. Aku beranjak ke kamar mandi, karena karena piring dan gelas berserakan belum dicuci. Aku mencuci dua buah gelas untuk menyeduh kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guubbbrakkkk! Jangan bergerak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berteriak seorang pria berambut panjang yang bersenapan laras panjang, mendobrak pintu kamar kosku dengan tendangan. Aku yang hendak masuk ke kamar kosku mematung, Kedua gelas yang aku pegang bergelontangan, tangan dan kakiku gemetaran. Kegaduhan membuat semua orang terbangun. Salah satu orang yang berambut cepak menjambak rambut Nur menyeretnya dengan paksa. Nur memegangi tangan seseorang yang menjambak rambutnya, berjalan terseok-seok setengah terbungkuk-bungkuk. Nur menoleh kearahku. Matanya memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu temannya lagi menendang Nur dari belakang. Nur tersungkur, beberapa rambutnya masih tersisa di tangan orang yang menjambaknya, tercabut secara paksa. Nur mengerang kesakitan. Nur digelandang dengan tendangan, pukulan, bahkan sempat batok kepalanya diadukan dengan tembok. Wajah Nur yang tampan nan rupawan hancur lebur berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur hanya terdiam duduk merunduk dengan dua tangan menelungkup kepala. Aku yang sejak tadi mematung berlari ke arah sumber suara bersama tetangga-tetangga kamar kosku. Hatiku teriris sembilu. Tak tega aku melihatnya, tapi mungkin ini terakhir aku melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lari!  Lari! atau kutembak! Lari!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriak salah seorang di antara mereka, sambil melayangkan tendangan ke kepala. Nur kembali tersungkur. ia sekali lagi menoleh ke arahku. Tatapannya begitu sayu. Kemudian tersenyum. Senyum kesedihan, seolah mengatakan Selamat tinggal Kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berlari dengan putus asa. Salah satu di antara mereka mengangkat senapan dan selongsong peluru berjatuhan. Tiga butir peluru menembus angkasa. Nur kian berlari sejadi-jadinya. Kemudian pria itu dengan cepat membidik ke arah Nur, tepat mengarah dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mengetuk pintu kamar kosku, kuhentikan jemariku yang sedari tadi menari-nari di atas keyboard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nur! “ aku terkejut bukan kepalang.&lt;br /&gt;“Lama tak jumpa Sob,” senyumnya mengembang. Aku beranjak dan langsung memeluknya.  Oh!  betapa aku merindukannya.&lt;br /&gt;“Masuk!”&lt;br /&gt;“Lagi nulis?” ia menengok, melihat tulisanku.&lt;br /&gt;“O... iya,” ujarku agak gelagapan. Cepat-cepat kugerakan mouse mengklik tombol close pada microsof word.&lt;br /&gt;“Kenapa ditutup, pelit amat, nulis apa? cerpen?”&lt;br /&gt;“Iya, tapi belum beres akh malu, nanti aja kalo udah diterbitin. Itu juga kalo ada yang mau nerbitin. Hehe..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitu Kawan, alkisah tetang Nur alias Celeng alias Gepeng alias Bopeng alias Gareng. Ketika pria berambut panjang itu sudah membidik tepat ke arahnya, suatu keajaiban datang. Rombongan sepeda motor yang sedang berkonvoi tiba-tiba melintas dengan kecepatan super tinggi... “Huuh!... Heran,” begitu banyak orang yang ingin menjadi pembalap moto GP, tapi tidak tahu di mana tempat untuk beraksi. Walhasil mereka tanpa sadar menghalangi pandangan pria itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu merindukannya Kawan, tiga tahun sudah aku merasa sangat kehilangan. Tolong jangan katakan pada siapa pun kalau aku menceritakan kisahnya padamu Kawan. Biarlah menjadi kotak rahasia antara kita yang akan selalu tersimpan dalam-dalam.  Please!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh yang punya blog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kompas.com,                          Selasa, 2 Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-3405139106667330700?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/3405139106667330700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/02/mungkin-orang-tuanya-pun-tak-pernah.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3405139106667330700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3405139106667330700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/02/mungkin-orang-tuanya-pun-tak-pernah.html' title='Nur Alias Celeng Alias Gepeng Alias Bopeng Alias Gareng'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-2296061834939354846</id><published>2010-01-31T20:17:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T20:23:44.125-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Percakapan Pengantin</title><content type='html'>PERCAKAPAN mereka adalah gayung bersambut sepasang hati yang marun merahnya. Percakapan yang mengetuk gendang telinga penduduk langit. Percakapan sederhana dari sebuah kampung yang tak tertitik dalam peta, tak tertilik oleh sesiapa, pun tak terbetik dalam kabar. Namun, bila para nabi dan istri mereka, para sahabat nabi dan istri mereka, para tabi'in dan istri mereka, juga para wali dan istri mereka kita lupakan, maka percakapan pengantin yang belum genap setengah hari itu adalah mantra paling mustajab dalam peradaban. Jadi, petiklah pelajaran berkasih yang menjuntai dari dahan keajaiban yang tumbuh dari pohon ketulusan yang mereka tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPATUTNYA, perkawinan mereka adalah pertautan tak lazim. Oh, mereka sama-sama tulikah? Sama-sama pengkor kakinyakah? Sama-sama juling matanyakah? Tidak. Mereka tak berkekurangan serupa itu. Mereka masih dapat mendengar dengan jernih, berjalan tanpa sengal, dan melihat dengan terang. Mereka dapat saling meningkahi setiap tutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bila pun berpadunya hati mereka mengandung pikatan, siapa yang memedulikannya. Laki-laki tukang parang. Perempuan tukang ladang. Perihal apa yang layak dipicing untuk memaku mata pada perkawinan itu? Dua anak manusia yang memakai mulut jiran untuk menyambung undangan, baru menghelat cinta di hadapan penghulu, baru membongkar tarup di pekarangan rumah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, helat itu adalah perayaan yang jauh dari ingar-bingar sebuah perkawinan. Tetamu yang datang kurang dari seperempat undangan. Lebih ramai oleh anak-anak yang merincah. Bermain kejar-kejaran, menanti ayam kampung telanjang ditiris dari kuali, bergelak dengan mulut penuh remahan ubi jalar…. sebagian bapak-bapak dan ibu-ibu bagai bersepakat menajur rencana lain pada Ahad itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perkawinan sepasang yatim-piatu itu dilindas teriknya cuaca. Terpanggang sengat yang menudung bumi. Namun begitu, pantang mereka merunduk dagu, melumur asam di muka, apalagi menanak dengki di dada, pada tak seberapa orang yang datang. Gula-gula masih tertabur di sepasang katupan bibir, melengkung di bawah hidung yang bagai mengendus tabiat buruk orang-orang kampung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AH, aku bersyukur sekali, Dik. Teman-teman pandai besi banyak yang membantu hajatan tadi. Walapun kau tahu, mereka hanya tak enak hati melakukannya. Karena Kakak karib mereka dalam memanggang besi." Lelaki itu baru saja mengatup pintu kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelai wanita yang sedari tadi duduk di depan kaca, menoleh. "Aku mengerti, Kak," jawabnya setelah mendengar lenguhan napas suaminya barusan. Ah, kau pasti sangat lelah, batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak memang yang membantu perhelatan mereka. Bahkan saat bemasak, satu hari menjelang perayaan perkawinan, hanya segelintir yang datang. Tak tampak pesirah--kepala puak, kadus, lurah, dan orang-orang kantor kecamatan--yang biasanya membuka acara dengan sambutan-sambutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah nasib orang tak bersanak. Di tengah orang-orang kampung pun, kita bagai tak punya nasab kerabat." Laki-laki itu sudah berdiri di belakang istrinya. Matanya menatap mata perempuan itu yang terpantul di cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu balas menatap, juga dari pantulan cermin. "Bila saja, aku tak pernah menangkap basah ibu-ibu tengah mengundang orang-orang di hajatan anaknya, mungkin aku takkan pernah mencecap lemaknya gulai umbut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sangat suka gulai umbut, Dik?" Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya. Kali ini ia tatap langsung mata istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, bukan. Bukan itu maksudku, Kak!" Perempuan itu buru-buru membuang muka. Tampaknya ia belum terbiasa diperangkap mata lelaki. "Mereka mengundangku hanya menenggang, sama seperti kawan-kawan pandai besimu itu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu?" Laki-laki itu menepuk kecil bahu istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu berjalan menuju kelambu. Menyingkapnya. Duduk di tepi ranjang. Suaminya mengikuti. Kini mereka hampir berhimpitan. Hanya terluang setengah lengan jarak mereka kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menatap mata suaminya. "Inilah nasib hidup tak berbapak, tak beribu, Kak. Bagaimana akan kita diundang orang dalam hajatan, bila orangtua sudah ditanam ketika kaki belum lunas melangkah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu mengangguk, bagai memersilahkan istrinya meneruskan kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, budi memang harus dibalas budi. Madu jua harus dibalas madu...." Mata perempuan itu basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan sedih, Dik!" Laki-laki itu menyeka mata istrinya. "Malu pada Tuhan. Buruk alamatnya, bila di malam punai, mata kita berinai-rinai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam punai?" Perempuan itu mengenyitkan dahi. "Apanya yang punai, Kak, bila jemari kita pun tanpa inai? Aku pun tak tahu mengapa ladangku terpisah jauh dari ladang-ladang yang lain. Kakak tahu kan, hanya beberapa orang yang membantuku menugal tahun ini. Itu pun harus diupah segera bila serombongan padi bunting itu mulai merunduk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu menarik kedua ujung bibirnya ke tepi. Bagai berharap, senyumnya akan menyiram galau istrinya yang menggelegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu, aku tak pernah percaya pada kata-kata Wak Jasun, Dik. Ramainya hajatan orang kampung adalah buah tabiat bapak-ibu mereka. Bila kerap orangtua mereka menyambut undangan; rajin menjinjing ayam kampung, dan tak lalai mengantar beberapa canting padi dayang rindu... ke rumah hajat, maka, lapanglah jalan perkawinan anak mereka. Alamatnya, orang-orang kampung akan bersicepat mengisi buku tamu. Tarup yang ditegak pun bagai nak rubuh. Ambal yang dibentang bagai mengecil. Penganan yang terhidang dirasa selalu kurang. Ai, hajatan bertabuh-riang. Banyak nian tetamu yang datang. Berlimpahan uang disumbang. Ayam-ayam berjejalan dalam kandang. Beras-beras menggunung malam-siang. Terbayarlah semua galau yang membikin badan kadang meriang. Lunaslah hutang. Tersiarlah kabar bahwa hajatan itu elok tak kepalang...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu meneguk liur. Lalu menengadah ke langit-langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang kau pandang, Dik?" Laki-laki itu menggamit tangan istrinya. "Seandainya cicak-cicak itu mengerti percakapan kita, apakah mereka bisa berkabar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu balas menggamit. "Ya, bukan perihal cicak-cicak itu tak kuasa berkabar, Kak." Ia menoleh suaminya. "Namun, kita sama malangnya dengan mereka. Apakah kita bisa berkabar? Boleh menuntut atas perlakuan tak lazim ini? O bukan, perlakuan ini bukan tak lazim, Kak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu balas menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perlakuan ini tak berhakim, Kak!" Perempuan itu meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik," Dielusnya kepala istrinya yang tak bersanggul lagi. "Kelak, bila kita bersua dengan bapak dan emak. Kita tanyakan saja pada mereka. Mengapa mereka tak menunggu kita besar dulu baru berjazirah ke Lubuk Senalang? Mengapa mereka tak menyambut undangan orang-orang kampung dulu, agar kawinan anaknya tak kerontang serupa tadi siang? Oh, mereka jua tak meninggalkan kabar bahwa bunga sedap malam yang mencuat dekat nisannya, adalah taklimat agar kita jangan mengeram durja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tertawa. Dijatuhkannya leher di bahu lelaki itu. "Bisa saja kau bermain kata, Kak." Dicubitnya sebelah lengan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, Dik. Lekaslah kita kubur muram. Kakak yakin, bujang-bujang kampung tak tahu bahwa kau adalah kembang tanjung di lereng Bukit Bakung...." Masih dibelainya rambut perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tersenyum sendiri. Tersanjung oleh pujian lelaki tempatnya bersandar kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...hanya bujang yang berperangai sultan saja yang kuasa menderik tebing licin di bukit itu, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu membuka-buka mulutnya--berteriak tanpa pekik--bagai merasakan geli oleh cubitan sang istri di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, hendak tertawa aku, Dik, bila ingat bagaimana kita menanak rindu. Kita hanya bercinta dari silauan mata, tangan yang bertepuk, dan kening yang bersitindih. Tuhan benar-benar menyayangi kita kan, Dik?" Diciumnya kini kening istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mendongak. "Ya, Kak. Tuhan telah mengirimkan lelaki yang juga berkekurangan sepertiku agar kita tak saling menguak aib yang menyertai lidah-lidah kita. Maka, senyummu adalah seroja yang bertaburan, desahmu adalah pengaduan, gamitan tanganmu adalah permohonan, belaianmu adalah hiburan, tatapanmu adalah tangkai kesepian yang harus segera dipetik. Betul seperti itu kan, Kak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, balas lelaki itu yang menggelitik pinggang istrinya. "Aku yang harusnya menjadi pujangga di malam ini. Mengapa pula kau yang merayuku, hah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu mengambil bantal dan memukulkannya dengan manja ke punggung suaminya. "Siapa yang merayumu, tukang parang! Dasar, perasaan tak berpantang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergelutlah mereka malam itu. Sumringah rayalah ranjang itu. Ranjang yang menjadi saksi percakapan ajaib sepasang pengantin. Maka, derit peraduan itu adalah lintang pukang cinta yang pecah geladak, lenguhan dan erangan pengantin baru yang hendak mengangkat seperiuk rindu di atas nyala tanakan yang berarang-arang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, makin pekat kelam yang menangkup malam, segaris cahaya bening nila dari sebuah rumah papan, menguncup tajam menembus langit, berlapis-lapis langit. Mengabar pada penghuni yang takjub seketika. Siapa yang bermikraj setelah Muhammad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMAH papan itu dikerumuni orang-orang kampung. Takzimnya, tak ada yang aneh dari rumah itu. Almanak bergambar seorang artis dangdut dengan gitarnya masih bertengger dekat jam dinding yang tinggal satu jarumnya. Piring-piring seng masih tertata rapi di rak aluminium yang berkarat salah satu tiangnya. Gorden merah yang sudah lusuh masih menjuntai di kusen pintu kamar. Parang-parang pesanan penduduk masih terbaris di sudut dapur. Arit, pangkur, dan terindak, caping dari daun bengkuang, masih mencangkung dekat jamban belakang. Hanya satu pemandangan yang agak tak biasa. Di dalam kamar. Seprai anyar itu sudah kusut. Bantal-bantal berserakan. Kelambu pula tersingkap setengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke mana pengantin baru tu minggat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oi, sudah kalian tengok di seberang? Apa tukang parang itu memukul besi di gubuk simpang? Apa perempuan itu sudah berladang dekat Belalau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang menggeleng. "Tak ada, Pak Pesirah. Mereka hilang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkinkah berbulan madu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tergelak serta merta. Berbulan madu? Nak ke mana tukang parang dan tukang ladang merayakan perkawinan? Ke bulankah? Ke langitkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah!" Pesirah melerai tawa orang-orang yang berkerumun. "Ambil saja pelajaran. Bila menggelar sedekahan, undang saja yang bapak-ibunya pernah meramaikan hajatan kita atau orangtua kita. Bila tak, tak usahlah kalian anggap. Tak perlu pula menenggang, hingga merasa perlu berhormat pada undangan yang diantarnya. Ini adat kampung. Pusaka nenek moyang! Nah, tukang kabar pula, walapun pengantin itu jiran, tak lihat kalian macam mana ganjilnya mereka? Bukan hanya perkara tak berbapak-tak beribu, tapi, pernah tercatat dalam adat bahwa bujang bisu meminang gadis bisu, hah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetamu hajatan kemarin dan para tukang kabar, merunduk. Ah, memang salah kami, Pak Pesirah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang bubar. Kembali ke rumah masing-masing. Mengurung perasaan ganjil yang berlipat-lipat. Bukan memikirkan petuah kepala puak, namun masih memercik galau itu. Ke mana sepasang pengantin bisu mengeret badan di malam punai? Ke bulankah? Ke langitkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubuklinggau, 01 November 2009&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Oleh Benny Arnas&lt;/b&gt;, lahir di Ulak Surung, perkampungan di utara Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 8 Mei 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo,&amp;nbsp;&lt;/b&gt; 31 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-2296061834939354846?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/2296061834939354846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/percakapan-mereka-adalah-gayung.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2296061834939354846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2296061834939354846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/percakapan-mereka-adalah-gayung.html' title='Percakapan Pengantin'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7702088548166226111</id><published>2010-01-31T19:47:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T20:20:29.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Wali Kota Sampah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SAYA sangat yakin para penguasa di Tangerang dan Tangerang Selatan tidak berpikir bahwa kita hidup pada 1629. Saya hakulyakin bahwa tak ada satu pihak yang merasa sedang bermain peran sebagai pasukan Mataram dan lainnya menjadi pemegang kekuasaan Batavia. Perang lebih dari 380 tahun yang lalu itu berakhir begini: dalam serangan pamungkas, Dipati Ukur, panglima Sunda yang memimpin pasukan Mataram, meracuni Sungai Ciliwung yang mengalir ke Batavia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kota yang kini ibu kota negara itu menurut sejarah gagal ditaklukkan, tapi gubernur jenderal Belanda yang mendirikan Batavia, Jan Pieterszoon Coen, tewas akibat kolera. Saya tak tahu pasti apakah Dipati Ukur menuangkan sejenis racun dalam jumlah banyak ke Ciliwung ataukah ia membuang timbunan sampah-sampah busuk ke aliran sungai yang membelah Batavia itu. Yang pasti, bakteri kolera mudah berjangkit di kawasan dengan air tercemar dan sanitasi buruk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya khawatir timbunan sampah yang sekarang mengepung Tangerang Selatan ini bakal mengundang banyak bakteri, mungkin bukan sekadar kolera. Sampah bertumpuk di kompleks-kompleks perumahan, di pinggir jalan, di banyak tempat lain. Di Pasar Ciputat, selain di sekitar lokasi, di trotoar pembatas jalan pun sampah teronggok. Semakin hari jumlahnya semakin banyak. Sudah enam bulan ini sampah Pasar Ciputat tidak diangkut secara rutin. Bau amis, anyir, busuk, meruap ke seantero kawasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu Bandung pernah bergelar “lautan sampah”, dan sekarang gelar itu sudah pantas disandangkan pada Tangerang Selatan. Sungguh ironis, kota yang belum “seumur jagung”, belum punya dewan perwakilan rakyat, belum punya wali kota definitif, sudah harus “berenang sendirian” untuk menanggulangi lautan sampah. Kenyamanan hidup warga kota yang merupakan kawasan terakhir “pemekaran” wilayah di Indonesia itu sirna setelah pemerintah daerah Tangerang menarik 40-an truk sampah. Truk itu dulu secara rutin mengangkut sampah di kawasan yang berpenduduk 1,2 juta orang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penguasa sementara Tangerang Selatan menyiapkan truk pengganti, walau tak sebanyak yang dulu ada. Tapi problem utama muncul tiba-tiba: sampah tak bisa lagi dibuang di tempat milik pemerintah daerah Tangerang. Dibuang di satu tempat di Bogor juga ditolak. Tangerang Selatan belum punya tempat pembuangan sendiri. Lokasi tersedia, tapi penduduk setempat memprotes. Tak ada orang yang mau hidup dekat dengan sampah. Kepala Dinas Kebersihan Tangerang Selatan, juga penjabat wali kota, pusing tujuh keliling.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah contoh pemekaran yang kurang mulus. Provinsi Banten dan Tangerang berebut menempatkan wali kota sementara. Kendati bukan “wakil” Tangerang yang sekarang menjabat, pemda Tangerang seharusnya ikut turun tangan soal sampah ini. Sebagian pajak penduduk Ciputat, Pamulang, dan sekitarnya ini masih mengalir ke kas Tangerang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oktober nanti wali kota definitif Tangerang Selatan akan dipilih langsung. Siapa saja boleh maju. Penjabat sementara wali kota Shaleh M.T., Rano Karno yang sekarang Wakil Bupati Tangerang, atau Airin Rachmi yang kerabat Gubernur Banten, silakan maju. Tapi saya--dan saya kira banyak yang lain--sebagai penduduk Tangerang Selatan hanya akan memilih “wali kota sampah”: dia yang sanggup menyelamatkan kawasan ini dari timbunan lautan sampah.***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Toriq Hadad &lt;/b&gt;Wartawan Tempo&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo, 31 Januari 2010&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7702088548166226111?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7702088548166226111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/wali-kota-sampah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7702088548166226111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7702088548166226111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/wali-kota-sampah.html' title='Wali Kota Sampah'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-1627435260570923911</id><published>2010-01-26T03:11:00.000-08:00</published><updated>2010-01-26T03:15:20.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Buruk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak ada berita baik di negeri ini. Semuanya buruk. Memang, jurnalistik klasik sudah memfatwakan hal itu, yang buruk sangat baik diberitakan. &lt;i&gt;Bad is news&lt;/i&gt;, kata bahasa kerennya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rupanya, ini dipegang oleh para jurnalis sampai saat ini. Bahkan narasumber, dan mereka yang sengaja mendekatkan diri agar dijadikan narasumber, menyiapkan di kepalanya apa yang buruk-buruk. Mereka sadar betul, jika berani mengatakan yang buruk, pasti jadi &lt;i&gt;news&lt;/i&gt;. Artinya, wajahnya terpampang di media massa dan televisi. Perhatikan belakangan ini, betapa banyak orang yang berpredikat “pengamat” dan “ahli”. Entah apa yang diamatinya, dan keahliannya pun tak perlu dibuktikan dengan karya. Yang penting bisa bicara menggebu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ke mana pun melangkah, kita seperti dikejar berita buruk. Apalagi menjelang 100 hari pemerintahan SBY jilid dua, tak satu pun berita baik jadi &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt;. Bangun pagi ada berita tanah longsor, siang hari penculikan bayi, sore hari bentrokan mahasiswa dengan polisi. Berita buruk saling bersaing merebut kapling: penjara bak hotel mewah, pembobolan anjungan tunai mandiri, bonek Persebaya yang rusuh. Lalu, di malam hari--kadang sampai larut--sidang Pansus Century yang selalu menyalah-nyalahkan. Perjalanan demokrasi kita baru sampai ke tahap ini: ramai-ramai memilih orang untuk kemudian kita salah-salahkan ramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persaingan berita buruk itu pun luar biasa, dan membuat narasumber berita buruk merasa gerah. Bambang Soesatyo, anggota Pansus dari Golkar yang pernah jadi wartawan, misalnya, curiga jangan-jangan temuan Satuan Tugas Makelar Kasus (ini nama tak resmi tapi populer) tentang “penjara mewah” itu hanya pengalihan dari isu Pansus Century. Artinya, Bambang berharap berita buruk dari Pansus Century tetap menjadi berita utama negeri ini, jangan direcoki berita buruk lainnya. Kecurigaan ini menuai sindiran, apakah gempa di Haiti, penculikan bayi, korban mutilasi Babe, juga pengalihan dari isu Pansus Century? Belakangan muncul “sindiran balik”, yakni pembobolan di anjungan tunai mandiri (ATM) sesungguhnya sudah terjadi sejak dulu dan berdampak “sistemik”, cuma berita itu menghilang karena berhasil dialihkan oleh isu Pansus Century. Anda boleh tertawa atau mengelus dada, inilah risiko sebuah negeri yang menempatkan berita buruk sebagai berita utama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Presiden SBY pun kerap terpancing, beliau menyebutkan: itu berita fitnah, itu mengadu domba, itu politik kotor, itu memprihatinkan. SBY ibarat menari dalam gendang orang lain. Mungkin lebih bijak jika yang “menari” itu bawahan SBY, sementara beliau berfokus pada pekerjaan utama bagaimana menyuguhkan yang terbaik untuk negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang lebih bijak lagi “anak-anak bangsa” (sudah lama saya tak dengar istilah ini), bagaimana menyuguhkan berita buruk dalam sudut pandang (&lt;i&gt;angle&lt;/i&gt;) yang baik. Pansus Century bukan untuk menyalah-nyalahkan, melainkan mengetahui di mana kekurangan kita dalam mengelola keuangan negara. Penculikan bayi bisa jadi berita baik tentang bagaimana kita belajar menjaga persalinan di puskesmas dan rumah sakit. Pembobolan ATM, kenapa harus memberi &lt;i&gt;angle&lt;/i&gt; yang membuat nasabah panik, kenapa tidak menebarkan kebaikan kepada nasabah dengan memberitahukan apa yang harus diwaspadai? Bukankah bertebarannya ATM sampai ke luar kota, dari sudut pandang lain, adalah simbol kesejahteraan masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berita buruk bisa kita pandang dari sisi baiknya--kalau kita mau--tanpa harus menutupi keburukan itu. Jangan beri predikat tanah air ini sebagai “negeri terburuk”. &lt;i&gt;Right or wrong is my country&lt;/i&gt;. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mencintai negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Putu Setia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Koran Tempo, 24 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ts-1-2" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Geneva,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: xx-small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-1627435260570923911?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/1627435260570923911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/buruk.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/1627435260570923911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/1627435260570923911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/buruk.html' title='Buruk'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-2806853651356598470</id><published>2010-01-21T02:03:00.001-08:00</published><updated>2011-09-05T21:25:42.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Deja vu’</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;dalam kutukan bulan Juli, kuuntai perih.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;kuukir namamu pada batang eucalyptus purba.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;semoga nanti kau singgah di sana.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;membawa kesejukan oasemu di matamu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;setiap waktu, kubercumbu dengan rindu membatu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;kutukan yang memaksaku setia meneguk bayang matamu,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;canda tawamu, gerak bibirmu,bahkan warna lipstikmu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;semua tentangmu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;sungguh! menggoda tuk mengoyak luka. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;celakanya, kutahu kau senang menggoda,dan mudah tergoda.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;bermain ludah dari bibir satu ke bibir lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;begitu mudah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;aku hanya bisa menelan ludah. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;sudah!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;kuharap cukup sudah,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;tapi kata itu hanya mampu menjadi doa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;doa yang t'lah lama terujar sudah,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;dari balik puisi,dari balik mantra yang kuharap dapat menghapus dahaga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;namun sia-sia. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;kau tahu? mataku buta sudah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;kucongkel dengan rintik rindu yang menggunung membeku,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;agar tiada lagi kulihat kau sedang berdua.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;dan telinga ini kubanting-banting dalam amukan perih,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;hingga tiada lagi kudengar kau bermain ludah. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;aku menunggu lama sudah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;lewati siang dan malam yang silih berganti menjemput senja.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;¼ abad sudah cukup usia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;letih kuberkaca dalam wajah kering mengangga,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;penuh retakan di berbagai celah bagai sebuah puzzle.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;ingin kucongkel retakan paling kering di wajahku,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;dan kuberikan padamu,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;agar kau tahu berapa lama sudah aku menunggu,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;agar kau tahu di setiap malam aku terjaga,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;dan terpaksa menyeret langkah membawa mimpi yang masih mengendap di kepala ke beranda,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;bercumbu dengan deja vu’ hingga malam menjemput subuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;kupandangi lekat potomu,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;lalu kita berbagi cerita suka dan duka,&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;dalam  pertanyaan dan jawabanku sendiri!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Bandung, Maret, 13-2011.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-2806853651356598470?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/2806853651356598470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/retakan-di-wajah.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2806853651356598470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2806853651356598470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2010/01/retakan-di-wajah.html' title='Deja vu’'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-613537125069898926</id><published>2009-12-10T02:23:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T19:58:02.652-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><title type='text'>Membakar  Semangat Dengan Opini Untuk HAM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keberhasilan yang dicapai media dalam mengangkat suatu isu pada dasarnya ditentukan oleh masyarakat sendiri. Semakin besar perhatian masyarakat semakin sering berita itu diangkat. Semakin sering berita sering berita diangkat semakin besarlah kemungkinan tercapainya tujuan media dalam mangangkat berita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, tidak heran jika kasus pencemaran nama baik yang menjerat Prita Mulyani karena keluhannya melalui e-mail sudah seperti serial melodrama, berminggu-minggu menghiasi layar televisi. Bahkan masyarakat sampai menggalang dukungan kepada Prita melalui situs jejaring internet (Face Book). Begitupun dengan kasus Nenek Minah yang terpaksa mencuri tiga buah kakau dan penahan terhadap petinggi KPK oleh Kepolisian. Hal itu karena perhatian masyarakat begitu besar terhadap masalah di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walhasil, berkat pemberitaan oleh media— status Prita berubah dari tahanan rumah tahanan (rutan) menjadi tahanan kota. Coba saja jika kasus tersebut tidak terekspos oleh media dan tidak berkembang opini publik yang menuntut keadilan terhadap kasus yang menjerat Prita, mungkin ibu dua anak ini masih merasakan pengapnya dinding penjara. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitupun halnya dengan kasus Nenek Minah, berkat dukungan dari masyarakat akhirnya perempuan renta ini tidak harus merasakan dinginnya sel penjara, mungkin jika tidak ada dukungan dari masyarakat ia akan dipenjara selama enam bulan sesuai dengan tuntutan jaksa. Sama halnya dengan kasus cicak versus buaya, akhirnya presiden membentuk tim delapan untuk menangani masalah ini, dan akhirnya dua petinggi KPK ini kembali aktif seperti semula. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dukungan publik sangat berperan dalam masalah di atas. Dukungan biasanya berupa pernyataan simpati atau opini. Memang opini itu sifatnya subjektif, maka tidak heran jika ada yang khawatir dengan semakin berkembangnya opini publik pada hal-hal kasus-kasus di atas. Dengan alasan opini masyarakat yang mendukung salah satu pihak belumlah tentu benar, karena keputusan benar atau tidak pengadilanlah yang memutuskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal tersebut memang benar. Namun, ketika putusan pengadilan tidak mencerminkan rasa keadilan, maka opini inilah yang akan bergerak untuk menuntut rasa keadilan. Opini yang berkembang seperti pada kasus-kasus di atas adalah opini yang bersumber dari hati nurani. Hati nurani hanya akan tergerak ketika rasa keadilan mulai terkoyak. Seperti kata Gunawan Muhammad bahwa hati nurani itu dekat dengan rasa keadilan. Kata “rasa” di sini menekankan pada perasaan (hati nurani). Opini seperti ini tidak akan begitu merebak jika putusan hakim mencerminkan rasa keadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkaca pada masalah di atas jelas membuktikan peran media dan opini publik sangat besar dalam mewujudan rasa keadilan. Oleh karena itu, pada hari ini adalah momentum yang tepat untuk menghidupkan isu-isu tentang HAM dengan opini untuk menuntut keadilan. Mudah-mudahan saja mendapatkan perhatian besar dari masyarakat. Dengan demikian, maka media akan lebih sering memberitakan masalah HAM.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini penting karena pemerintah dan para penegak hukum sepertinya baru akan serius menangani penyelesaian masalah HAM jika sudah terdesak oleh sentimen negatif dari publik. Kita tidak akan pernah bisa melangkah ke depan jika jaminan terhadap HAM di negara ini lemah. Oleh karenanya, tidak boleh ada kata “yang lalu biarlah berlalu.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-613537125069898926?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/613537125069898926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/membakar-semangat-dengan-opini-untuk.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/613537125069898926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/613537125069898926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/membakar-semangat-dengan-opini-untuk.html' title='Membakar  Semangat Dengan Opini Untuk HAM'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-704838950018206660</id><published>2009-12-06T21:45:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:46:33.126-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Sebelas Potong Jiwa</title><content type='html'>Dia menghampiriku, duduk dan mengambil sebatang rokok yang masih kuhisap.  Bibirnya yang basah memainkan kepulan-kepulan asap. Membentuk lingkaran bulat yang indah dan perlahan-lahan lenyap saat menerpa wajahku. Bibir yang mempesona Aku terperangah, tapi hanya terucap dalam hati. Entah mengapa aku merasakan adanya kedekatan emosional yang luar biasa dengannya, padahal aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.&lt;br /&gt;Dia begitu cantik. Jantungku berdebar-debar. Ditambah tak secarik kain pun membatasi mataku melihat indah tubuhnya. Aku menarik napas panjang, meneguk air liurku dan membenarkan posisi dudukku.Aku merasakan buah dadanya yang menyentuh dadaku. Napasku semakin tidak beraturan. Ia menatapku dan dengan lembut mengelus dan mengangkat daguku, hingga aku dapat mencium aroma napasnya bersama kepulan asap yang ia tiupkan ke wajahku. Betapa tubuh yang sempurna. Nyaris begitu sempurna andai saja ia memiliki mata.Ia buta, tepatnya tidak punya bola mata. Di sekitar tulang matanya hanya ada lubang yang begitu dalam menghitam&lt;br /&gt;“Siapa kamu?”&lt;br /&gt;“Tak perlu kau tahu, dan apakah kau selama ini pernah merasa perlu untuk tahu?” Dia menjawab dengan sedikit mendesah. Sambil mendekatkan bibirnya dengan bibirku. Aku gelagapan.&lt;br /&gt;“Aku tak tak mengerti apa maksudmu?”&lt;br /&gt;“Apa selama ini kau pernah mencoba untuk mengerti?” Suaranya sangat lembut menggoda, namun ia selalu balik bertanya sembari memaikan kepulan asap dengan bibirnya.&lt;br /&gt;“Kenapa kau selalu balik bertanya?”&lt;br /&gt;“Kenapa kau harus selalu bertanya….! Apakah salama ini kau pernah bertanya pada kami?”&lt;br /&gt;“Kami? Apa maksudmu dengan kami? Kami apa?” Aku semakin tidak mengerti setiap perkatananya.&lt;br /&gt;“Ha..ha..ha..!”  Dia tertawa “Kenapa kau masih banyak bertanya. Nikmati saja. Apakah selama ini kau pernah bertanya sebelum menikmati apa yang kau ingini” Dia sedikit membuatku kesal, tapi mungkin ia benar. Nikmati saja. Ia telah memberiku kenikmatan di saat aku membutuhkannya. Kenapa aku harus banyak bertanya.&lt;br /&gt;Ia beranjak dari tempat dudukku. Berpidah pada sofa di depanku. Kembali ia duduk sambil menyilangkan kaki.”Huhh..” Aku menghembuskan napas panjang. Keseruput kopi yang sudah terasa agak dingin. Menyalakan sebatang rokok. Betapa birahiku masih menyala-nyala. Ia hanya tersenyum. Sedikit mengigit bibir bawahnya, menggoda. Aku memandangi lekat wajahnya sesekali melirik memandangi buah dadanya.&lt;br /&gt;“Kau suka?”Ucapnya dengan lembut dan lagi-lagi mendesah. Aku sedikit terkejut. Apakah ia dapat melihatku? Bukankah ia tidak memiliki bola mata. Atau ia bisa membaca apa yang ada dalam benakku?&lt;br /&gt;“Sebenarnya siapa kamu dan apa maumu?”&lt;br /&gt;“Seharusnya kau bertanya apa maumu bukan apa mauku?”&lt;br /&gt;“Baiklah, mauku kau jangan balik bertanya jika aku bertanya. Paling tidak kau beritahu siapa namamu.”&lt;br /&gt;“Kau belum memberiku nama.” Jawabnya enteng.&lt;br /&gt;“Haahh..! Aku menghembuskan napas sedikit kesal. “Memangnya siapa aku. Kenapa aku harus memberikanmu nama?”&lt;br /&gt;“Apakah semua lelaki sepertimu?” Ia memotong dengan cepat pertanyaanku.&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” Aku balik bertanya.&lt;br /&gt;“Apa arti seorang wanita bagimu?”&lt;br /&gt;“Bagiku wanita adalah sebuah maha karya yang sangat indah.”&lt;br /&gt;“Hanya itukah?”&lt;br /&gt;“Tidak juga…. tapi aku tak perlu menyebutkan semuanya kelebihan wanita bagiku kan?.”&lt;br /&gt;“Terserah, kau memang biasa berbuat sesuka hatimu.” Nada bicaranya terkesan selalu memojokanku.&lt;br /&gt;“Kenapa sejak tadi nada bicaramu selalu terkesan men-jusde- ku. Apakah kau mengenalku? Apakah aku mengenalmu?”&lt;br /&gt;“Aku mengenalmu dan kau mengenalku”&lt;br /&gt;“Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Aku memang merasa punya kedekatan emosional dengannya, tapi aku merasa tidak pernah berteman atau berkenalan dengan orang gadis buta.”&lt;br /&gt;“Aku tidak buta” Jawabnya, ia terlihat sedikit tersinggung Astaga, aku terkejut. Ternyata ia benar-benar bisa membaca pikiranku.&lt;br /&gt;Siapa wanita ini sebenarnya. Aku mengenal bibirnya, buah dadanya, rambutnya, kakinya, tangannya, hampir seluruh anggota tubuhnya aku kenal, tapi aku tidak tahu siapa wanita ini sebenarnya. Aku benar-benar tidak ingat..&lt;br /&gt;“Kenapa kau begitu mudah melupakan kami. Apakah semua lelaki sepertimu?”Aku semakin bingung atas segala pertanyaannya. Aku tidak pernah bertemu dengannya bagaiman aku bisa melupakannya. Jika ia bisa membaca pikiranku seharusnya ia tahu kalau aku tidak berbohong, dan yang lebih membuatku bingung kenapa ia selalu mengatakan “kami.” Apa maksudnya dengan “kami”?&lt;br /&gt;Lantai marmer tiba-tiba penuh dengan genangan air. Air keluar dari rambut, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan pahanya dan punggung kaki. Sekejap lantai marmer penuh genangan air. Aku terperangah. Aku mulai merasa ketakutan, sekaligus iba. Ia terlihat sangat sedih. Apakah ia sedang menagis. Tanganku gemetar, gigi-gigiku saling beradu. Wanita macam apa dia?&lt;br /&gt;“Kenapa kalian laki-laki selalu menjadikan kami sebagai objek?” Aku hanya diam. “Jawaaabbb..!! Ia membentakku. Ia tiba-tiba menjadi garang.&lt;br /&gt;“Karena wan…nita itu indah.”Aku menjawab terbata-bata.&lt;br /&gt;“Sebatas itukah…?” Suaranya menjadi pelan tertahan. Memelas.&lt;br /&gt;“Wanita juga selalu menarik.”&lt;br /&gt;“Ohhh… Atas dasar itukah kalian laki-laki berhak melakukan apapun pada kami. Memperkosa tubuh kami, memperkosa pikiran kami, memperkosa hak-hak kami.”&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah memperkosa siapa pun.” Bantahku cepat.&lt;br /&gt;“O, yahh..!” Dengan nada meledek. Ia bangkit dan berdiri, mencabut kedua telinganya. “Lalu ini apa namanya? Kalian lelaki tidak hanya memperkosa kami. Kalian menghancuran kami hingga kami seolah tidak. Hingga ada seolah tidak ada.&lt;br /&gt;Kau telah menggagahi dan mengobrak-abrik tubuh kami. Memperkosa rambut kami, alis, kuping, hidung, bibir, leher, buah dadanya, tangan, betis dan paha dan punggung kaki kami.” Ia terus mengoceh sambil mencabuti satu persatu anggota tubuhnya Sampai terakhir hanya tinggal tangan dan mulutnya saja. Potongan-potongan tubuhnya bergelatakan di lantai yang becek oleh genangan air mata. Kakiku bergetar hebat sampai lemas tak sanggup berdiri. Baru kali ini aku melihat hal yang sangat mengerikan samacam ini.&lt;br /&gt;Potongan-potongan tubuh tersebut mencair bersama genangan air mata. Air mata itu melahapnya satu persatu, seolah hidup, dan tiba-tiba air bergerak ke atas, seperti air yang mendidih. Membentuk gelembung-gelembung yang kemudian mengejawantah menjadi sosok wanita-wanita yang aku kenal. Hellen, Sri, Monika, Lilis, Dewi, Maya, Sinta, Lia, Windi, Anita dan Marni, tapi mereka sangat menyeramkan. Mata dan lidah mereka mengeluarkan api. Mereka mendekatiku dengan kedua tangan yang terangkat, siap mencekikku seperti vampir. Aku tak sanggup berlari. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Suara mereka semakin dekat. Mereka selalu berteriak.&lt;br /&gt;“Kenapa kalian selalu memperkosa kami!”&lt;br /&gt;Mentari pagi mengirimkan sinarnya yang menembus kaca jendela ketubuhku. Aku sedikit memijat-mijat mataku  Sebuah kuas kecil dengan cat minyak yang sudah mengering masih aku genggam. Tepat di depan mataku kulihat sosok wanita telanjang tanpa bola mata sedang berdiri di atas taman yang sangat indah. Handphone-ku berbunyi. Frans, kolektor lukisan yang juga teman baikku meng-sms.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;” Gmn Mas, sudah dpt model bwt lukisannya? Klo blm sy sdh punya, nmanya Dina matanya teduh tapi bersinar. Mudah2an matanya cocok bwt lukisan Mas. Klo mau nanti sy knlkan.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;***&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh pemilik blog ini&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jurnal Bogor, 25 October 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-704838950018206660?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/704838950018206660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/dia-menghampiriku-duduk-dan-mengambil.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/704838950018206660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/704838950018206660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/dia-menghampiriku-duduk-dan-mengambil.html' title='Sebelas Potong Jiwa'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7904424239724491095</id><published>2009-12-06T21:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:31:20.514-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Gemuruh Century</title><content type='html'>Mendadak saya dipanggil Romo Imam ke pedepokannya. Pasti penting. "Saya akan membentuk tim pemantau dan pengawas tim-tim yang memantau dan mengawasi kasus Bank Century. Nanak harus ikut," kata Romo Imam, yang memanggil saya dengan sebutan "nanak". Itu artinya putra spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, Romo bicaranya belepotan, ini tim apa?" tanya saya. Romo tertawa: "Nama tim itu tak salah. Sekarang kan dibentuk bermacam-macam tim, ada yang menyebut dirinya Tim Pengawas Angket Century, ada Koalisi Pengawal Angket Century, ada Tim Penelusuran Talangan Century, dan banyak lagi. Juga ada Tim 9, yang menepuk dada sebagai inisiator angket Century. Nah, tim yang dibentuk Romo itu memantau dan mengawasi tim-tim ini. Kalau namanya seperti belepotan, ya, sebut saja tim sebelas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tim sebelas?" tanya saya lagi. Romo menjawab: "Supaya lebih tinggi, kan sudah pernah ada Tim 8, lalu Tim 9. Tim 10 untuk cadangan, nah, Tim 11 tugasnya memantau semua tim yang nomornya lebih kecil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya tertawa. "Romo, boleh tahu, kok kita ikut-ikutan ribut soal ini?" Romo menjelaskan dengan serius: "Ini untuk pembelajaran demokrasi dan mencerdaskan rakyat. Yang bikin runyam mengusut Bank Century itu adalah banyaknya pemantau partikelir yang punya agenda terselubung. Ada yang agendanya menjadikan panggung ini sebagai proyek mendongkrak peringkat kepolitisiannya. Mereka anak-anak muda yang tak mau dikatakan menjadi politisi mendompleng ketenaran ayahnya, dan kini membuktikan mereka bisa berkiprah. Ini bagus dan wajar. Lalu ada anak muda di luar parlemen yang kerjanya memang begitu melulu, apa-apa dipermasalahkan dengan aksi, siapa pun yang memimpin negeri ini. Mereka ini tak mau masuk jalur formal, misalnya bergabung ke partai politik dengan alasan macam-macam, seperti partai itu tak sehat, nepotisme, dan sebagainya. Sejatinya, mereka ini memang tak akan mampu meraup konstituen untuk bisa lolos jadi wakil rakyat. Jadi, bermimpilah tentang jalan pintas. Mereka mengira, pengerahan sepuluh ribu orang sudah bisa mewakili aspirasi seluruh rakyat. Padahal untuk menjadi wakil rakyat di kabupaten saja sudah harus mendapat suara 30 ribuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diam, takut mengganggu Romo. "Yang unik, tokoh sepuh dan tokoh yang sudah jelas tak dikehendaki oleh rakyat untuk memimpin negeri ini, buktinya kalah pada pemilihan umum, masih juga bermimpi untuk tampil di panggung kekuasaan dengan cara-cara pintas. Dalam kasus Bank Century ini mereka mendesak supaya kasus itu diusut tuntas seolah-olah memberi kesan ada orang yang tak mau kasus ini diusut tuntas. Ini kan tak mendidik, wong Presiden sudah lebih dulu bilang, usut secara terbuka dan tuntas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terpaksa menyela, supaya Romo agak turun tensinya: "Maaf beribu maaf, Romo. Tampaknya Romo kurang setuju angket Century atau kasus ini dibuka atau...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stop," Romo berteriak. "Nanak selalu curiga, itulah bahayanya menonton acara debat ala televisi. Romo seribu persen setuju kasus Century dibuka. Tapi jangan dengan gemuruh seperti ini, suaranya keras padahal belum bekerja. Parlemen, silakan buat angket. Kepolisian, kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi, silakan bekerja. Jika ditemukan ada yang salah, proses secara hukum. Sekarang ini belum bekerja sudah memvonis, ini pembodohan untuk rakyat. Hentikan memanipulasi suara rakyat. Katakan ada sejuta orang ke jalan, itu kan baru 0,5 persen penduduk Indonesia. Yang 99,5 persen itu ingin tenang bekerja, tapi korupsi tetap diberantas supaya mereka lebih sejahtera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Oleh Putu Setia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo, 6 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7904424239724491095?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7904424239724491095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/gemuruh-century.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7904424239724491095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7904424239724491095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/gemuruh-century.html' title='Gemuruh Century'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-3573423933232924679</id><published>2009-12-06T21:27:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:32:35.633-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Mata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;IA suka memandang mata perempuan itu, tetapi tiap kali dia pandang ia lihat jarak terentang di antara mereka, bak nganga bukaan dinding kuburan. Tidak. Mata perempuan itu mungkin mirip danau yang teduh tetapi jauh, nun di sana, dibatasi jurang gelap hutan-belantara. Makanya setelah tersenyum lelaki itu selalu melengos dan menggeleng-geleng.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya perempuan itu dengan kening berkerut setiap dia berbuat begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau selalu melengos usai tersenyum memandang mataku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh. Jangan tersinggung," kata lelaki itu khawatir. "Matamu indah. Mata terindah yang pernah kulihat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tak terkejut mendengarnya. Lelaki itu pernah mengatakannya, tak pula sekali. Banyak orang juga memuji matanya. Kata mereka matanya pesona luar biasa yang dia miliki di samping tubuhnya yang sempurna. "Sulit menentukan mana yang lebih unggul, tapi aku cenderung memilih matamu," kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih," katanya kepada laki-laki itu. "Itu sudah kau katakan. Yang belum kenapa kau selalu melengos dan menggeleng-geleng usai melihat mataku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu bertahan untuk tak menjawab. Dia berkelit ke sana kemari dan untuk beberapa kali ia berhasil. Tetapi, suatu kali ketika perempuan itu kembali bertanya malah terasa mendesak, dia cuma bisa berucap, "Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya bukan karena tidak tahu. Dia merasa takut, juga malu, sebab jarak itu selalu muncul tiap kali ia memandang mata perempuan itu. Pernah ia urai rasa takut serta rasa malu itu satu per satu, seperti si penggamang melihat ke bawah dari pesawat terbang atau berjalan di jembatan penyeberangan di siang bolong, sewaktu kendaraan seliweran di bawah. Hasilnya justru rasa gelisah yang payah. Tubuhnya berpeluh, bergetar, bibirnya pucat. Kalau sudah begitu perempuan itu justru tidak tahan, lantas melenakannya kembali dalam pelukan. "Sudah, sudah. Cup, cup," katanya membujuk. "Oh, panasnya tubuhmu," bisik perempuan itu lagi dengan lembut. "Istirahatlah, aku akan selalu ada di dekatmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu merasa amat tenang berada dalam pelukan. Seolah waktu membeku, matahari tak mengalir, jarak itu tinggal maya. Ia dan perempuan itu bak dua belahan yang dipertemukan kembali oleh tangan Tuhan. Ia saksikan embun di ujung daun, putik-putik mekar menjadi bunga, burung-burung bersiul pada dahan-dahan pohon yang rimbun. Didengarnya gemericik air, entah di mana, penuh irama. Laki-laki itu sadar belum lagi berada di surga namun ia sungguh amat bersuka-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, betapa dia amat berduka waktu perempuan itu, suatu ketika dan dalam keadaan seperti itu juga, berkata dengan suara tetap terdengar lembut dan lunak, "Sayang, apakah menurutmu aku seperti sayur yang tidak kau dapatkan di rumah?" Pertanyaan itu sungguh merusak, tak ubahnya mendung mencemari siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa bertanya seperti itu?" tanya lelaki itu terbata-bata. Di samping sedih, ia merasa sangat tidak berharga. Ia melihat dirinya seperti lelaki-lelaki lain yang warna usia mereka juga menguning, tapi suka beternak pikiran seperti yang dikatakan perempuan itu dalam kepala mereka. Padahal, dia merasa, bahkan amat yakin pula, perhatiannya pada perempuan itu tak didasari pikiran kotor seperti yang ada dalam kepala para lelaki itu. Melainkan karena sesuatu yang indah, meski tak dapat dia jelaskan dengan ringkas. Tapi apakah segala sesuatu harus diberi penjelasan, apalagi dengan ringkas? Ah, ia akan lebih suka kalau disamakan dengan tokoh yang dimainkan Richard Burton dalam film Circle Two, sedangkan perempuan itu tokoh yang diperankan Tatum O'Neal meski umur si perempuan belasan tahun lebih tua dari tokoh gadis dalam film lama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak, tidak," jawab perempuan itu tersipu-sipu. "Cuma ingin tahu saja, kok. Tetapi sudahlah, jangan pikirkan. Forget it."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat dia masih sibuk meredakan dada yang dideburi gelombang. Lalu, perlahan-lahan, diciumnya kembali aroma bunga-bunga. Maka ia minta perempuan itu untuk tidak lagi sekali-kali berucap demikian. "Jangan ulangi lagi, ya," katanya. Perempuan bertubuh lampai itu menjawab dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, juga disertai senyum yang menawan, "Tidak, tidak. Aku tak akan meragukanmu lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata lelaki itu bercahaya. Dan makin bersinar saat si perempuan menambahkan, "Sebetulnya, aku juga merasa tidak mungkin kau menganggap aku bagai sayur yang tidak kau dapatkan di rumah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu sebetulnya sudah dia dengar kembali gemericik air penuh irama, entah di mana, burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Tapi lelaki itu coba bertahan, justru karena dia ingin berada di tempat yang lebih sedap lagi. "Ei, ei," dia bilang. "Kok masih disebut-sebut ibarat itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perempuan itu lalu membawanya ke puncak yang lebih sedap lagi sewaktu berucap, "Maaf." Ia juga tersenyum, bermanja-manja. Bagai belum cukup, dia raih kepala lelaki itu ke pangkuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit cerah. Burung-burung bersiul di dahan pohon yang rimbun. Air gemericik, entah di mana, penuh irama. Matahari bagai tidak mengalir. Dan dengan mencuri-curi dia pandang pula mata perempuan itu. Meski tak lama-lama, dengan begitu tidak dapat utuh menikmati keindahan mata itu, tapi dia bisa mengelak dari jarak yang meresahkan, malah kerap menegakkan bulu romanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya begitu terus. Tepatnya, lelaki itu berharap keadaan seperti itu tetap awet, sebutlah bak air telaga yang tak beriak. Tapi di lain hari perempuan itu kembali bertanya, seolah ada yang tak mati-mati dalam pikiran dan hatinya. "Kadang-kadang," dia bilang, "aku suka bertanya-tanya, apakah rasa sayangmu kepadaku sebesar rasa sayang yang aku rasakan kepadamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ei, mengapa kau ini," balas lelaki itu. "Untuk apa lagi itu kau tanya-tanya. Tentu saja sama. Ah, jangan-jangan malah lebih. Ya, aku rasa pasti lebih besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu tersenyum. Lesung-pipinya selalu membayang bila dia tersenyum, membuat cekungan indah di raut wajah, tapi saat itu si lelaki melihat ada yang tak beres. Meski sekilas, mata perempuan itu dilihatnya tak berbinar, walau redup benar juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa senyummu seperti itu?" dia bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurutmu seperti apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, sudahlah," tukas si perempuan tak sabar. "Aku hanya merasa, ada yang tidak kau katakan." Ia tak menangis tapi suaranya bergetar. "Maksudku, ada yang tetap belum kau sampaikan kepadaku. Padahal, kau tahu, oh... betapa aku amat mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tak berkomentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa kau selalu tersipu dan buang muka setelah memandang mataku?" Kini pertanyaan itu terdengar seperti tuntutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tidak juga menjawab. Mati-matian ia bertahan tetap diam. Tidak semua yang ada dalam hati dan pikiran harus diucapkan, bahkan kepada kekasih sekalipun. Ada hal-hal pelik yang justru menuntut dipertahankan, tetap ingin jadi milik sendiri, tidak sudi dibagi-bagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jawablah," kata perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu kukuh tak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu si perempuan memakai kacamata hitam, dengan aneka model, membuat ia terlihat semakin cantik laiknya hari di pucuk matahari. Meski banyak orang menyesali, menilai aneh, lantaran matanya yang indah tidak tampak lagi bahkan seperti sengaja dia sembunyikan, namun perempuan itu tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang masih muda, 33, sedang laki-laki itu mendaki 55. Lelaki itu sering berpikir perempuan itu pantasnya adik, atau keponakannya. Di kampung-kampung, dulu, mereka lazim ayah-anak. Berpikir sampai di situ biasanya lelaki itu kian tersiksa karena jarak itu justru bertambah jelas, serupa jalan yang menyembul dari balik kabut. Panjang, berliku-liku pula. Saat ia 22 tahun, perempuan itu baru saja hadir melihat dunia. Sungguh tidak tahu dia mereka bakal jumpa kelak, 33 tahun setelah masa kelahiran perempuan itu. Oh, 33 tahun! Alangkah sayup pangkalnya, jauh sekali. Ya, sangat jauh jarak terentang di antara mereka. Ia sekarang berjalan menuju petang, si perempuan justru sedang mendaki bahu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau selalu berkacamata?" tanya lelaki itu suatu kali, setelah tercengang-cengang karena tiap jumpa dilihatnya perempuan itu tak lepas-lepas dari kacamata hitam, bahkan saat berbaring di sebelahnya sebelum bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Supaya kau tak selalu melengos dan menggeleng-geleng habis menatap mataku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi... rasanya sayang sekali. Matamu indah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hatimu juga indah, tetapi toh tak seluruhnya dapat kubaca."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu terdiam. Betapa ia sangat mencintai perempuan itu, cinta sekali, juga ingin sekali memandang matanya lama-lama. Tetapi, ia tahu yang terakhir itu pun sesuatu yang rumit. Jadi, tinggal pilih. Keduanya tak bisa. Tidak ada yang dapat dimiliki dengan utuh-sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup, lelaki itu kemudian merasa berterima kasih. Walau mata perempuan itu terlihat samar dari balik kacamata dia tak takut-takut lagi menatapnya. Tak melengos, juga tak menggeleng-geleng setelahnya. Malah berani-beraninya dia merapatkan bibir ke mata yang dilapis kaca itu, seolah-olah hendak mengecupnya. "Ciumlah, kecuplah," pinta perempuan itu penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti kacanya buram. Eh, jadi sengaja kau tutupi keindahan matamu, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pun tak punya pilihan," sahut perempuan itu. "Ciumlah, akan aku seka nanti pakai tisu. Lakukanlah, tinggal itu yang belum. Oh, tinggal mataku yang belum kau cium. Lakukan, lakukanlah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu mendekatkan bibirnya dan diciumnya mata perempuan itu dari balik kacamata. Matanya pejam saat melakukannya, bagai mereguk keindahan mata itu dalam-dalam, sepenuh perasaan. Perempuan itu menarik napas lega, lantas berbisik-bisik dengan suara seperti biasa, lunak dan lembut, "Oh, betapa aku mencintaimu. Betapa aku sangat mencintaimu...." Di dalam hatinya lelaki itu juga berbisik-bisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 17.9.09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Adek Alwi&lt;/b&gt; bermukim di Jakarta. Pernah menjadi pemimpin redaksi harian Sinar Pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo, 6 Desember 2009&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-3573423933232924679?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/3573423933232924679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/ia-suka-memandang-mata-perempuan-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3573423933232924679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3573423933232924679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/ia-suka-memandang-mata-perempuan-itu.html' title='Mata'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7597545024633308537</id><published>2009-12-06T21:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:34:09.494-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>EMPAT KEMUNGKINAN TEMPAT SUAMI IBUKU BERADA</title><content type='html'>1.dia memang pergi ke negeri tetangga&lt;br /&gt;dan mungkin masih berada di sana&lt;br /&gt;ingin menghabiskan seluruh jatah:&lt;br /&gt;usia dan ingatan tentang rumah&lt;br /&gt;atau dia menunggu seseorang atau surat&lt;br /&gt;datang mengajak pulang--apakah dia&lt;br /&gt;lupa surat benci yang tak punya alamat?&lt;br /&gt;sekarang rambut ibu yang memanjang&lt;br /&gt;demi dibelai angin dan angan dibelai&lt;br /&gt;mulai putih dan patah sehelai demi sehelai&lt;br /&gt;tapi mengapa suaminya betah di pelarian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.ibu percaya seseorang bisa tersesat,&lt;br /&gt;singgah atau sengaja sembunyi&lt;br /&gt;di kartu keluarga orang lain&lt;br /&gt;dia tua sekarang. jalan pulang&lt;br /&gt;mungkin telah terlalu panjang&lt;br /&gt;bagi kaki dan keinginannya&lt;br /&gt;yang semakin pendek&lt;br /&gt;dan rindu, meski tak mampu dikalahkan,&lt;br /&gt;bisa dialihkan ke tempat pulang berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.apakah semua rumah sakit&lt;br /&gt;bersedia menampung penderitaan?&lt;br /&gt;jika dia menderita, oleh usia tua&lt;br /&gt;atau rindu, mungkinkah dia&lt;br /&gt;tak melupakan letak rumah sakit&lt;br /&gt;seperti yang dilakukan ingatannya&lt;br /&gt;kepada rumah yang sakit dia tinggalkan?&lt;br /&gt;dia mungkin menumpang di situ&lt;br /&gt;--sementara&lt;br /&gt;atau menggelimpang di satu penjuru&lt;br /&gt;penjara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.padahal ibu meminta dia membawa rumah kami&lt;br /&gt;di tubuhnya--dan tak seorangpun perlu menanti&lt;br /&gt;sebab bahkan petualang membawa kampungnya&lt;br /&gt;ke mana-mana, agar pergi dan kembali&lt;br /&gt;tak perlu diterjemahkan berbeda&lt;br /&gt;mungkin ia telah melihat rumah&lt;br /&gt;semakin menjauh dari dirinya&lt;br /&gt;dan berpikir pulang ke kampung&lt;br /&gt;yang lebih dekat dari tubuhnya:&lt;br /&gt;tanah&lt;br /&gt;--dan ibu hanya akan berziarah&lt;br /&gt;ke dalam puisi anaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGINGAT SATU PUISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi itu mulai bicara dengan mengutip pepatah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari negeri yang gemar berperang, negeri para&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gembala domba yang mempunyai musim parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian istirahat sejenak, seperti menghirup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suara untuk menghibur kelelahan atau mirip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musafir yang menduga-duga letak ujung jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat berikutnya mengalir bak bah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tak mencintai rimbun belukar tepi sungai--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terburu-buru bagai seorang pembenci matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pukul 12 siang musim kemarau. Keindahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya aku terima karena menangkap kelebat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalimat-kalimat dan bayangan-bayangan kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang mencuri kecupan di bibir benda-benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menjelang pergi, puisi itu bicara perlahan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tenang seperti langit digenangi warna-warni tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sorehari. Dan meski tak dikatakannya, aku bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melihat dengan jelas bulu-bulu halus yang lepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari sayap burung-burung yang pulang ke sarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembang yang siap menjatuhkan diri diam-diam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga banyak peristiwa kecil di masa kanakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat merantau ke masa lampau itulah, tanpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sadari, puisi itu pergi, menyisakan cuma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam dan tebing yang memantul-mantulkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panggilan yang entah dari mana pangkalnya--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga aku yang dengan cepat merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA MENGEDIT SATU PUISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau menukar bangku taman itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan sepasang kursi kayu sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan memikirkan warna yang sebanding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan dingin dinding atau mungkin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya aku biarkan saja telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofa yang nampak ganjil itu tentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan aku singkirkan ke gudang--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terlalu mewah. Mengganggu tamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengganggu sepasang matamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perempuan asing tanpa nama,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang duduk membenahi rambutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di beranda, perlukah aku cari seorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki untuk menemaninya atau sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan membuat dia menjadi lebih ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara burung, dikirim dari sekurung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sangkar atau dahan pohon ketapang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga lagu murung itu, datang dari tivi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamar mandi atau pulang dari masa lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang perempuan itu, ketika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memandang langit yang memendung,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah di matanya aku luapkan hujan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, ah, aku lupakan saja hujan mata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mengikuti saran seorang teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk membersihkan saja mendung itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan senyum atau musim kemarau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian aku berjuang melupakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti melupakan senja dan kenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang terlalu sering diserang keharuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, akan aku hapus seluruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jejak yang bisa membuatmu curiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sembunyi dalam puisi itu. Tapi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah itu betul perlu dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAM BERAPA SEMALAM MATAKU MATI TERPEJAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selalu ada saat ketika percakapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita terhenti dan aku tertidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tidak pernah paham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa aku tak mampu merasakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kapan tepatnya detik-detik jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjatuhkan aku ke dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubur tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga tidak pernah bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengingat-ingatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak ada orang, tidak ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kecuali engkau yang tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu saat aku meninggalkanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih dengan mata dan senyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyala dalam gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;engkau selalu bertahan dan memilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidur setelah membereskan rambutku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengecup dua kali di keningku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu mengucap doa di kupingku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tak lagi peduli apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu engkau menyambut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bangun dengan pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam berapa semalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mataku mati terpejam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rindu engkau menyebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angka-angka waktu, jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil tersenyum menyiapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sarapan yang hangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;M. Aan Mansyur&lt;/b&gt; lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Sehari-hari bekerja sebagai pustakawan di Kafe Baca Biblioholic di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo, 6 Desember 2009&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7597545024633308537?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7597545024633308537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/empat-kemungkinan-tempat-suami-ibuku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7597545024633308537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7597545024633308537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/empat-kemungkinan-tempat-suami-ibuku.html' title='EMPAT KEMUNGKINAN TEMPAT SUAMI IBUKU BERADA'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-6538632130287788573</id><published>2009-12-01T00:56:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T20:06:57.261-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><title type='text'>APREASIASI TEATER “UMANG-UMANG”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku ingin hidup seribu tahun lagi,” begitu penggalan puisi karya penyair penomenal, Chairil Anwar. Di tengah penyakit yang menderanya Chairil berharap bisa hidup seribu tahun lagi, dan mungkin sebagian orang pun demikian, ingin berumur pangjang bahkan mungkin ingin hidup abadi, karena bagi sebagaian orang kehidupan abadi itu menyenangkan. Atau mungkin karena kebanyakan orang takut mati sehingga mereka berharap dapat hidup abadi. Padahal mau tidak mau kematian itu pasti datang, karena tidak satu pun makhluk bernyawa bisa menghindar dari kamatian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi bagi Waska, Ronggo dan Borok hal itu justru sebaliknya. Mereka menjungkirbalikan pandangan tersebut. Keabadian itu tidak menyenangkan, keabadian itu sebuah siksaan, kematian bagi mereka adalah jalan keluar dari sebuah siksaan menuju ketenangan, sehingga berkali-kali mereka mencoba bunuh diri, tetapi selalu gagal. Akhirnya mereka pun hidup dalam kebosanan yang luar biasa menyiksa. Kebosanan dan kesepian yang lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Begitu  mengerikan dan terjadi berulang-ulang tanpa akhir.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paragraf di atas adalah gambaran sebagian pesan yang disampaikan dari pementasan teater berjudul “umang-umang,” yang disutradarai oleh Dedi Warsana. Teter ini dipentaskan Senin 20, 21 November 2009, di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dan rencananya akan dipentaskan juga di Gedung Dewan Kesenian Cianjur (GDKC) 5, 6 Desember 2009.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketegangan, kekalutan, kebengisan, keserakahan dan kelucuan berbaur menjadi satu dalam teater ini. Ketika ketegangan memuncak humor segar dilontarkan, dan kadang sebaliknya, ketika penonton larut dalam oleh humor yang disajikan, ketegangan tiba-tiba dipercikan oleh tokoh Waska yang kejam, tegas, penuh kebecian dan ambisius, tetapi kadang berubah menjadi begitu lucu, menjelma ke dalam sosok lain, yakni Semar. Waska digambarkan mempunyai dua keperibadian: sebagai pemimpin gerombolan perampok, dan sebagai Semar, tokoh lucu yang memberikan deskrifsi jalannya cerita yang kadang berisi kritikan atas keadaan sosial, dan menariknya, tokoh Semar kerap berinteraksi langsung dengan penonton.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teater ini sendiri sarat akan balutan humor, musik dan gerakan tari yang esentrik, meski menceritakan kehidupan para perampok. Ironisnya, para perampok ini begitu menyayangi dan mengagumi Waska, pemimpin gerombolan perampok dalam cerita ini. Bahkan tak hanya para perampok, beberapa kaum marjinal pun menyanginya seperti tukang jamu, anak-anak jalanan. Waska sudah dianggap sebagai ayah mereka mereka sendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepiawaian Arifin C Noor dalam menggarap naskah patut diacungi jempol. Pasalnya, karakter Waska sebagai pemimpin geromobalan perampok yang ambisius dan tangguh tergambar dengan kuat. Hal itu dapat terlihat ketika Waska berjuang dengan gigih melawan penyakitnya yang sangat parah, hingga ia sekarat, tetapi ia tetap tidak mau menyerah dengan penyakitnya. Waska tak ingin mati sebelum ambisinya tercapai, yakni merampok toko-toko, pabrik-pabrik, bank atau apapun yang bisa dirampok. Waska ingin menciptakan benih-benih penerusnya dan menebarkan kejahatan ke tiap sudut kota.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkat jerih payah anak buahnya yakni, Ronggo dan Borok, Waska berhasil selamat dari kematian, karena mereka berhasil mendapatkan ramuan ajaib dari orang pintar yakni “jamu dadar bayi.” Salah-satu bahan Ramuan ajaib ini adalah daging bayi. Ronggo dan Borok memperoh bahan ramuan tersebut dengan menggali kuburan bayi yang baru meninggal dunia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Walhasil ambisi Waska pun tercapai. Bahkan Waska, Ronggo dan Borok akhirnya hidup abadi. Waska beserta anak buanya berhasil merampok apapun, lagi dan lagi tanpa henti. Namun lamban laun ia dan anak buahnya mulai letih dan akhirnya hingga satu persatu anak buahnya mati, hanya tinggal ia, Ronggo dan Borok. Bertahun-tahun lamanya mereka hidup dalam kesepian dan kobosanan yang menggerogoti sampai mereka pun mencoba bunuh diri, tetapi selalu gagal. Mereka bersedih kenapa tak mati-mati.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari tanpa sengaja melihat anak-anak buah mereka yang telah mati. Namun mereka ternyata telah menjadi arwah. Baru kemudian mereka benar-benar mendapati sosok nyata anak-anak buah mereka. Akan tetapi, ternyata sosok-sosok itu bukanlah anak-anak buah mereka, melainkan sosok anak-anak dan cucu-cucu dari anak-anak buah mereka yang telah mati&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasa letih, bosan dan kesepian akhirnya dapat sedikit bisa terobati ketika rasa ngantuk menghinggapi. Bagi mereka ngantuk adalah anugerah yang tak terkira. Entah berapa tahun lamanya mereka tidak pernah tidur. Oleh karenanya, mereka merasa sangat senang ketika mulai mengantuk dan mereka pun kemudian tertidur. Suasana pun menjadi hening, sampai akhirnya keheninagan berubah menjadi kegaduhan kala mereka terbangun dari tidurnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersama anak-anak buah yang baru Waska, Ronggo dan Borok Kemudian merampok lagi, lagi, lagi dan lagi sampai mereka letih. Begitu seterusnya, selalu berulang lagi tiada pernah berhenti.  Kebosanan yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Oleh pemilik blog ini&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-6538632130287788573?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/6538632130287788573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/apreasiasi-teater-umang-umang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6538632130287788573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6538632130287788573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/12/apreasiasi-teater-umang-umang.html' title='APREASIASI TEATER “UMANG-UMANG”'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-8334167764146704573</id><published>2009-11-30T02:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T03:58:48.924-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>PRAGMATIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apa itu pragmatik? dan pentingkah pragmatik itu?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Setiap teori (penemuan) dalam bidang apapun selalu mengalami perkembangan, tidak terkecuali dalam bidang bahasa. Pragmatik adalah kelanjutan dari teori bahasa sebelumnya (teori struktural). Teori ini lahir karena ketidakpuasan para ahli bahasa terhadap teori struktural. Kenapa? Teori struktural dinilai tidak dapat menjawab permasalahan yang ada. Kenapa? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Break&lt;/span&gt; sebentar...! Apakah tulisan ini menurut Anda terlalu banyak kata “kenapa”? Memang ini disengaja, agar kita terus bertanya dan tidak cepat percaya tanpa mencerna dengan sejelas-jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi  yang belum tahu apa itu teori “struktural” mungkin dalam hal ini struktural bisa dikatakan “aturan bahasa atau struktur bahasa,” teori struktural ada sebelum pragmatik lahir, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dedengkot&lt;/span&gt; teori ini bernama Ferdinand de Saussure. Kembali lagi ke topik, intinya adalah kajian secara struktural mempunyai keterbatasan untuk menjelaskan permasalahan bahasa. Misal,  kalimat di bawah ini jika di kaji dengan teori struktural:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1) Jam berapa sekarang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Menurut Anda apakah seseorang yang menuturkan kalimat tersebut bermaksud menanyakan waktu? Ya, jika menggunakan analisis struktual, karena struktural hanya menganilisis berdasarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teks &lt;/span&gt;(apa yang ada di dalam teks/makna teks). Akan tetapi, jika analisisnya pragmatik kalimat di atas belum tentu bermaksud menanyakan waktu, artinya bisa ya bisa tidak. Pragamatik tidak hanya menganalisis berdasarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teks&lt;/span&gt;, tetapi juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;konteks &lt;/span&gt;(apa yang ada di luar teks). Bisa saja kalimat itu sebuah sindiran atau teguran, bahkan larangan dari si penutur. Misalnya saja kalimat tersebut dilontarkan seorang dosen kepada mahasiswanya yang terlambat mengikuti kuliah. Kalimat tersebut bisa saja bermaksud menegur mahasiswa tersebut secara tidak langsung karena sudah terlambat lebih dari satu jam misalnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2) Hari ini kita lakukan operasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kajian secara struktural hanya dapat menjelaskan mana subjek, predikat objek dan sebagainya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hari ini&lt;/span&gt; = keterangan waktu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kita&lt;/span&gt;= subjek, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melakukan&lt;/span&gt;= predikat,  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;operasi &lt;/span&gt;= pelangkap. Jika dilihat dari segi makna, tak lebih dari seseorang yang ingin melakukan tindakan (operasi). Operasi apa? Struktural tidak sampai menelisik sampai ke sana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebatas itu saja “mungkin” analisis struktural, saya katakan mungkin karena memang analisis struktural tidak hanya secara sintaksis saja, ada beberapa analisis lainnya. Akan tetapi, saya ambil salah satu pendekatannya saja. Kalimat di atas akan berbeda jika dikaji secara pragmatik. Pragmatik akan melibatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;konteks &lt;/span&gt;di luar teks itu sendiri, dalam hal ini adalah siapa penutur kalimat tersebut. Kalimat “operasi” ini siapa yang menuturkan. Apakah seorang dokter, prajurit, atau mungkin maling?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika yang menuturkannya dokter, maka kata operasi ini berarti melakukan bedah, amputasi atau sebagainya; Jika yang menuturkannya adalah seorang prajurit, maka bisa berarti penyerangan, penyergapan a; dan jika yang menuturkannya adalah seorang maling, maka bisa berarti tindakan pencurian atau perampokan dan sebagainya, pokoknya yang berhubungan dengan tindak kriminal-lah kiranya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3) Bola biliar mencium Juned.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika dianalisis secara struktural hasilnya begini: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bola biliar&lt;/span&gt;= subjek, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mencium&lt;/span&gt;= predikat, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Juned&lt;/span&gt; = objek. Kalimat ini tidak berterima jika dianalisis secara struktural, karena ciri distingtif (ciri pembeda) subjek tidak boleh (-) artinya subjek tidak boleh berupa benda mati, yang benar adalah Juned mencium bola biliar. Kalimat contoh (3) di atas pun terdengar tidak logis jika tidak melibatkan konteks, bagaimana mungkin bola mencium seseorang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi dalam pragmatik kalimat di atas bisa berterima. Jika konteks kalimat di atas begini: teman Juned menyodok bola biliar terlalu keras, atau terkena bagian bawah bola biliar, kemudaian bola terpental ke muka Juned, dan mengakibatkan muka Juned menjadi lebam , maka teman Juned yang satunya lagi ketika bercerita kepada temannya yang lain mengatakan kalau bola biliar mencium Juned. Bisa jadi itu sebuah ejekan kepada temannya Juned karena hal itu dinilai suatu tindakan yang memalukan (ketahuan amatirlah, mungkin begitu), atau mungkin ejekan kepada Juned yang sedang ketiban sial. Jadi kalimat ini berterima jika dikaji dengan pragmatik, karena pragmatik tidak mengkaji benar dan salah suatu tuturan, tetapi mengkaji maksud dari sebuah tuturan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu pentingkah pragmatik? Jawabannya relatif tergantung pendapat masing-masing, tetapi yang pasti apa yang kita tuturkan belum tentu sesuai dengan yang kita maksud. Hal ini bisa saja menimbulkan kesalahpahaman. Pragmatik mengkaji tidak hanya sebatas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teks&lt;/span&gt;, tetapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;konteks&lt;/span&gt;, dalam hal ini bukan hanya makna, tetapi maksud sebenarnya dari tuturan. Oleh karenanya, pragmatik mampu menjelaskan permasalahan bahasa secara utuh, dan menurut saya ini penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh pemilik blog ini&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-8334167764146704573?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/8334167764146704573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/pragmatik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8334167764146704573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8334167764146704573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/pragmatik.html' title='PRAGMATIK'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-8512416829797703497</id><published>2009-11-30T02:07:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:34:40.617-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>'Tancep Kayon'</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi yang gemar menonton pertunjukan wayang kulit, ada istilah tancep kayon. Arti sebenarnya adalah menancapkan kayon, yaitu wayang yang merupakan simbol gunungan. Makna simbolisnya adalah perpindahan adegan, misalnya, dari kisah para kesatria Pandawa menjadi kisah para Kurawa. Tapi tancep kayon juga bisa bermakna pertunjukan selesai. Penonton pulang dengan kesannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena wayang adalah gambaran "bhuwana alit" atau dunia yang kecil, dalam "bhuwana agung" atau kisah keseharian umat manusia, begitu banyak ada kisah yang silih berganti. Tapi intinya tetap perang antara kebenaran dan ketidakbenaran. Lakon Komisi Pemberantasan Korupsi versus Polisi dan Kejaksaan hanya satu contoh. Tokohnya banyak, yang mendompleng ingin jadi tokoh juga banyak. Di satu sisi ada Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah. Di seberangnya ada Kapolri, Kabareskim, Jaksa Agung. Lalu di antara dua sisi itu ada Buyung Nasution dengan Tim 8, ada Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md., dan masih banyak pendekar lainnya, baik yang terang-terangan memihak salah satu maupun sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba tancep kayon, setidaknya diniatkan begitu. Lalu siapa yang benar dan salah? Tak ada. Selain ini kecanggihan Ki Dalang, tradisi pergelaran memang demikian. Penonton dibiarkan "pulang" dengan pikiran mengambang, tergantung bagaimana dia melihat pertunjukan itu. Bibit dan Chandra boleh merasa menang karena perkara mereka sudah pasti tak ke pengadilan. Polisi juga merasa menang karena berhasil menyusun berkas penyidikan dan diserahkan ke institusi penuntutan tanpa ada yang kurang. Kejaksaan juga menang karena berhasil mendapatkan berkas penuntutan yang bukti-buktinya lengkap. Bahwa prosesnya tak ke pengadilan, Kejaksaan tentu bisa berkata dengan sombong: "Bukti cukup dan lengkap, tapi ada arahan agar kami tak meneruskan ke pengadilan. Bukan salah kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi kasus KPK versus Polisi dan Jaksa--seperti pergelaran wayang kulit--berakhir di awang-awang. Penonton yang kritis--karena itu jarang ada orang kritis nonton wayang kulit--yang ingin ada kemenangan dan kekalahan mutlak akan kecewa berat. Kayon sudah ditancapkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi pertunjukan dengan kisah yang lain pasti akan menyusul karena begitulah dunia wayang. Sebentar lagi akan muncul lakon Bank Century. Jika lakon KPK versus Polisi dan Jaksa menguras energi penonton tiga bulan--kita hitung dari dipanggilnya pimpinan KPK oleh polisi--kasus Bank Century bisa lebih lama. Tokohnya orang terkenal, Boediono yang kini wakil presiden dan Sri Mulyani yang Menteri Keuangan. Di seberang ada Panitia Angket DPR, orang-orang yang sedang mencari panggung. Di tengah-tengah--memihak ataupun mengaku netral--ada Badan Pemeriksa Keuangan, pengamat perbankan, pemilik dan nasabah bank, dan masih banyak lagi. Ini jadi pertunjukan menarik karena pasti penuh dengan dinamika--kata sederhananya: serang-menyerang. Tak mustahil, dengan alasan demi ketertiban masyarakat, kasusnya akan ditutup dengan gaya pergelaran wayang kulit, tancep kayon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang yang tak suka wayang kulit sulit sekali menerima kenyataan kenapa tontonan itu harus dipelototi semalam suntuk, begitu lamban. Persis dengan lakon di dunia nyata, penyelesaiannya amat lamban. Kita kehilangan banyak waktu. Kalau satu kasus diselesaikan tiga bulan--dengan hasil tak jelas pula--dalam 60 bulan, pemerintah hanya mengurusi 20 kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ke mana kita harus berguru masalah ketegasan, kecepatan, dan kepastian? Kita punya banyak teater tradisional, tak cuma gaya pergelaran wayang kulit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Putu Setia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo, Minggu, 29 November 2009 &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-8512416829797703497?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/8512416829797703497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/tancep-kayon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8512416829797703497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8512416829797703497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/tancep-kayon.html' title='&apos;Tancep Kayon&apos;'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-348506007508494156</id><published>2009-11-23T03:36:00.000-08:00</published><updated>2010-01-31T20:08:34.607-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatanku'/><title type='text'>Sastra Anak Solusi Bahasa Televisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apalah daya,” mungkin itu alasan sejumlah orang tua, saat tidak mampu sepenuh waktu mengawasi tontonan anaknya yang kerap tidak mendidik. Sehingga anak cenderung berprilaku tidak sopan, baik dalam perbuatan maupun ucapan. Memang pada realitanya, sejumlah orang tua menghadapi dilema, misal mereka yang kedua-keduanya pekerja. Paling-paling pada malam atau hari libur hari saja ada waktu di rumah, sehingga sulit mengawasi tontonan anaknya. Akan tetapi, bukan menjadi alasan orang tua tidak bisa mendidik anak dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Benarkah perilaku anak dipengaruh oleh tontonan yang anak lihat? Baca sajalah kutipan dibawah ini. Saya sebenarnya ngeri kalau membacanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hasil penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak pada tahun 2006, televisi menjadi santapan anak-anak selama 3,5 jam sampai 5 jam per hari. Media audio visual itu bebas merasuki pikiran manusia lewat tayangan-tayangannya yang kurang secara kualitas. Anak-anak usia dini mahir mengucapkan kata-kata yang tidak pantas (tidak sopan untuk diucapkan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu tahun 2006 apalagi sekarang? dan itu baru dari segi ucapan, belum lagi dalam segi perilaku. Seperti anak usia dini melakukan tindak kekerasan. Memang, tidak semuanya disebabkan dari televisi. Akan tetapi televisi juga berperan dalam hal ini, terutama dalam hal bahasa anak. Sangat disayangkan sejumlah bahasa televisi yang sebenarnya tidak patut ternyata sudah dikuasai oleh anak. Oleh karenanya, saya tidak heran ketika prasa ini: “Kita! elo aja kali” meluncur dari bibir mungil seorang anak kecil. Akan tetapi, ya, tetap saja saya merasa miris. Kata-kata itu mungkin tidak terlalu “parah,” bahkan ada yang lebih teramat tidak sopan lagi. Namun tidak perlulah kiranya saya sebutkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lalu solusinya bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya bukan Kak Seto, tapi sedikit memberikan masukan tak apalah kiranya. Semoga saja berguna. Masa kanak-kanak adalah masa di mana anak akan menyerap apapun yang anak dapatkan, maka tak heran jika anak kerap meniru apapun yang ia peroleh. Hal itu alamiah, tidak hanya bahasa, tapi juga perilaku atau tindakan. Oleh karenanya, berikanlah masukan-masukan yang positif. Dalam hal ini seperti apa? Silakan baca paparan di bawah ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi orang tua yang merasa memenuhi “kriteria” pada pembahasan awal di atas, usahakan untuk terus mengajak berkomunikasi anak. Ya, meski Anda pekerja, bukan berarti tidak ada waktu sama sekali kan? Minimal malam hari, sebelum tidur atau hari libur. Ajak anak bercerita tentang hari-hari yang telah dilaluinya. Di saat bercerita itulah kita bisa “memperbaiki” bahasa anak. Tentu dengan penuh perhatian, jangan sampai teguran kita terkesan terlalu mengoreksi, nanti anak malah malas bercerita. Dengan seringnya Anda berkominikasi, paling tidak Anda sudah memberikan contoh berbahasa yang baik bagi anak. Di samping itu dengan bercerita anak belajar merekonstruksi apa yang ia alami. Hal ini dapat mengasah daya ingat anak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dongeng sebelum tidur, “ ada baiknya jika tidak hanya menjadi syair sebuah lagu. Ini juga tak kalah penting. Bacakan dongeng pada anak sebelum tidur. Kenapa? Bahasa dalam dongeng umumnya bahasa yang baik, dalam arti sopan. Secara tidak langsung kita mengajarkan kesopanan dalam cara bertutur pada anak, Plus nilai-nilai pendidikan lain yang terkandung dalam cerita dongeng sendiri. Di samping itu nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam dongeng akan menjadi sugesti yang positif bagi anak. Seperti apa kata Romi Rafael, jika kita mendapatkan sugesti yang positif sebelum tidur, maka ketika bangun pikiran kita akan terbuka ke arah yang positif. Bukan bermaksud meminta untuk menghipnotis anak Anda, tetapi memberikan sugesti yang baik, nilai-nilai yang positif.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan labih baik lagi jika Anda dapat membimbing anak untuk senang menulis. Bagaimana caranya? Sekarang sedang marak istilah “sastra anak,” yakni bacaan-bacaan sastra yang dikhusukan untuk anak? Akh, itukan hanya bacaannya, tetap saja menulis karya sastra itu sulit. Apa anak saya bisa? Jika Anda berpikir demikian, maka coba pikir ulang lagi. Bahkan ada anak yang berusia delapan tahun sudah dapat membuat novel, hebat kan? Bagaimana bisa? Ya bisa. Karya sastra adalah karya yang sangat membutuhkan imajinasi. “Ini modal penting.” Bukankah masa kecil adalah masa yang paling penuh dengan imajinasi? Mobil-mobilan saja dalam imajinasi anak dapat dibuat terbang atau berubah menjadi pesawat terbang. Bahkan anak kadang berimajinasi bisa terbang. Padahal mungkin anak sendiri tidak sadar kalau sedang berimajinasi. Ternyata sejak kecil kita telah memiliki modal penting untuk menulis, “yakni imajinasi.” Luar biasa kan? Jadi menurut saya sangat tepat jika kita mengajarkan anak untuk menulis. Tentu siapa sih yang tidak ingin anaknya seperti yang saya sebutkan di atas, maka mulailah mengajarkan anak untuk menorehkan imajinasinya ke dalam  bentuk tulisan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penulis manapun pasti terpengaruh penulis-penulis lainnya. Maksudnya, secara tidak langsung pasti ada gaya atau ide-ide, yang memengaruhi penulis dari apa yang ia baca. Relevansinya apa? Umumnya bahasa dalam karya sastra adalah bahasa yang baik. Ketika anak senang membaca karya sastra, maka saat anak menulis, anak akan terpangaruh untuk menulis dan bertutur dengan bahasa yang baik. Siapa tahu juga anak Anda bisa menjadi penulis cilik yang berbakat. Kiranya begitu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh pemilik blog ini&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-348506007508494156?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/348506007508494156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/sastra-anak-solusi-bahasa-televisi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/348506007508494156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/348506007508494156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/sastra-anak-solusi-bahasa-televisi.html' title='Sastra Anak Solusi Bahasa Televisi'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-8575527960522765633</id><published>2009-11-23T03:33:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T01:28:38.354-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>JENJANG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;aku tak menutup pintu ketika kau melangkah tak menoleh lagi. kaubawa semua buaian tertinggal aku dalam kenangan. lalu ribu sepi hambur menusuk ranjang dan bimbang hanya potret buram saat kita berlarian merajut senja. tiada sisa selainnya, "turunlah!" &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;aku juga tak menutup pintu ketika kau mengetuknya lagi. siapakah menghitung musim&lt;br /&gt;kau bentangkan jalan-jalan dan pencarian. kau sesalkan arah dan tujuan. tapi bisakah&lt;br /&gt;kaujumlah perih membelit hari-hariku, "naiklah!" &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Payakumbuh 2009&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;PEMATANG&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;setiap siang sebelum petang kita selalu ke sana. aku dengan lelangkah tak beralas&lt;br /&gt;kau memakai rok kembang kanak-kanak. aku suka runduk padi yang menguning, katamu&lt;br /&gt;dalam lembar-lembar lugu. seekor belalang hijau kutangkap agar riangmu berasa lengkap&lt;br /&gt;gerombolan pipit sawah. pak tua bertopi pandan dan ibu dengan tali menggaro kaulukis&lt;br /&gt;sebelum usia gegas mengintai. di pematang ini kita tak pernah gamang, bila kelak waktu jadi sebimbang pimping, bisakah kita kabarkan rindu pada angin? kemudian sebelum sampai dusun (sebelum sampai senja), lukisan itu pun kau berikan. pajang ia di setiap lengang, ada kisah kita di dalamnya, ujarmu tak ragu &lt;br /&gt;ilalang dan uir-uir. undak-undak menuju sawah. di pematang itu aku berjalan pelan&lt;br /&gt;menjumlah jejak juga detak. janjimu pada usia terpenuhi. bersama panen penghabisan&lt;br /&gt;serta tumpukan jerami. kubayangkan kau tengah berlari di antara capung dan burung&lt;br /&gt;lihat, telah kulukis padi-padi yang menguning, sorakmu di ujung pematang. lalu meloncat ke dalam kelam. secepat itukah kesetiaan terlunasi? &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Payakumbuh 2009&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;SENJA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;di antara halimun bersungkup. dan jalan-jalan lengang tertutup gerimis. adakah kaulihat&lt;br /&gt;pelangi melengkung? ayun warna itu pernah membelai senja yang singkat di degup kita&lt;br /&gt;aku suka biru, seolah terasa lembah dan tenang. di kesiurnya berubung capung dan&lt;br /&gt;burung berputar-terbang berendahan, mereka membawa musim arbei dan galah, katamu&lt;br /&gt;dengan mata bermanik. kurasa ada kapal kecil tengah terapung dan berlayar entah ke&lt;br /&gt;mana. sedikit ombak dan riak, selayang gelombang juga bimbang. kulepaskan juga&lt;br /&gt;senyum untukmu. meski tak kukatakan bahwa aku lebih suka warna ungu &lt;br /&gt;pada senja yang lain aku di tepi pantai. laut masih begitu biru. langit juga begitu. perahu-&lt;br /&gt;perahu nelayan yang berangkat. lampu redup kedap-kedip. ada dua tiga camar masih&lt;br /&gt;beriangan. aku merasa tengah menunggu. mungkin sebuah kapal kecil menuju pantai&lt;br /&gt;dengan tiang bergoyang-goyang. bersama layar terkembang lebar. dan di atasnya berdiri&lt;br /&gt;manja seorang perempuan senja. bertatap sendu berselendang biru. tapi tak akan&lt;br /&gt;kusampaikan padanya tentang aku yang lebih suka warna ungu &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Payakumbuh 2009&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial; font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;JEJAK&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;ya, aku telah melewati jalan ini. berbimbang simpang, arah yang pecah bahkan wanita&lt;br /&gt;wanita dengan senyum menggoda. mungkin sudah kaubaca warna jejakku. atau malam&lt;br /&gt;malam hitam itu menyimpannya di lorong paling liar. menjelma nyanyian di bibir getir&lt;br /&gt;pengemis kurus dan tua: di sini aku pernah meninggalkannya. adakah nanti sekisar&lt;br /&gt;waktu, atau kurun menyapamu singgah. untuk mengeja bekas luka-lukaku &lt;br /&gt;ya, aku telah melewati jalan ini. mengikuti kesah yang tertanam dari debar. rabu-rabu&lt;br /&gt;rindu. juga berindang takut-cemas tumbuh di berbagai subuh. berderai di mata hiba&lt;br /&gt;kekanak jalan yang tak pulang. kulihat diri baur di sana dan bertanya-tanya: akukah yang&lt;br /&gt;mencarimu, atau sekadar jejak yang tak tampak? &lt;br /&gt;&lt;i&gt;Payakumbuh 2009&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;hr noshade="noshade" size="1" /&gt;&lt;b&gt;Iyut Fitra&lt;/b&gt; lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat dan menetap di kota kelahirannya.&lt;br /&gt;Kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah &lt;i&gt;Musim Retak&lt;/i&gt; (2006) dan &lt;i&gt;Dongeng-dongeng Tua&lt;/i&gt; (2009).&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left" class="ts-1-2" style="font-family: courier new;"&gt;&lt;div class="edisi"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Koran Tempo, 21 November  2009&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-8575527960522765633?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/8575527960522765633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/jenjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8575527960522765633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8575527960522765633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/jenjang.html' title='JENJANG'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7293976079134190985</id><published>2009-11-23T03:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:36:12.314-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Bidadariku</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;She's always different--now she's monochrome,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    just like the air--her shape forever shifting,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    her body quick.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;- Orsolya Karafiáth &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;IA selalu berbeda. Kini ia monokrom, seperti udara. Inilah kali pertama aku melihatnya seperti ini. Betapa indahnya. Betapa anggunnya. Betapa agungnya. Ia seperti baka: cahaya dan cuaca tak memengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Biasanya, begitu masuk ke ruangan ini, ia selalu menghampiriku: setelah kami saling tatap untuk beberapa saat, ia kemudian menceritakan apa saja yang terjadi padanya dalam satu atau beberapa hari terakhir--dan jika sudah begini, aku layaknya seorang pendeta agung yang menerima pengakuan dosa dari seorang jemaat tersayang. Atau, kadang ia nyerocos begitu saja tanpa kuketahui ujung-pangkalnya, dan aku sama sekali tak tahu apa yang sedang dibicarakannya. Kadang ia juga menceritakan padaku harapan-harapannya, mimpi-mimpinya, khayalan-khayalannya, kelak. Kadang kami hanya saling tatap, tanpa kata, tanpa suara, cuma saling pandang--sesekali ada sentuhan, belaian--dan itu sudah cukup buatku untuk mengetahui bagaimana keadaan dirinya saat itu. Kadang ia menemuiku dengan mata bengkak karena air mata, dan apa yang dilakukannya hanyalah memaki-maki apa saja, siapa saja, sambil memukul-mukulkan tangannya yang begitu lembut ke wajah dan tubuhku. Kadang ia datang dengan muka penuh senyuman, tapi sama sekali tak berbicara, hanya menatapku, mengelusku, dan aku tak tahu apa yang begitu menggembirakan hatinya hingga senyum selalu tergaris di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun hari ini lain. Ia masuk begitu saja ke dalam ruangan ini, bungkam, pucat, muram, murung, sama sekali tak menatapku, apalagi bicara padaku. Melihat gelagatnya ini, berbagai pertanyaan tentu saja segera mencuat dalam benakku. Ada apa? Kenapa? Tapi aku mencoba maklum. Ini mungkin sebuah kejutan baru buatku: ia memang selalu berbeda. Ya, berbeda. Selalu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dirinya saat pertama kali menemuiku. Saat itu umurnya mungkin baru sembilan atau sepuluh tahun. Namun dalam umur sedini itu, aku telah tahu bahwa semua--ya, semua--kesempurnaan seorang wanita akan muncul dalam dirinya. Rambutnya--yang saat itu belum begitu panjang--adalah malam pekat berbintang tanpa bulan: kilap-kilap kecil bertebaran dan kadang menyilaukan mataku. Jidatnya yang tak begitu lapang, yang sebagian tertutup poni rambutnya, adalah mahkota transparan berhias bulu-bulu kecil hitam keabuan. Kupingnya, bening mengembang, adalah sepasang bunga matahari di tengah hari. Hidungnya mungil mencuat, melekat tepat simetris di antara kedua pipinya, membuatku selalu ingin mengelusnya dari pangkal hingga ujung, lalu mencubitnya. Pipinya buah fuga yang terbelah tepat sama, rona merah keabuan tertebar di kedua lengkungnya. Bibirnya sepasang aliran sungai: tak ada riak, namun aku tahu di balik permukaan tenang itu ada arus yang selalu siap menghanyutkan siapa saja. Dan aku pun langsung jatuh hati padanya. Ya, langsung. Jatuh hati pada pandangan pertama. Sepanjang hidupku, tak pernah aku bertatapan dengan sosok yang menyimpan kesempurnaan fisik yang begitu pekat seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, kuamati semua perkembangan yang ada pada dirinya. Kucermati sekujur tubuhnya tiap kali kami bertemu. Wajahnya, lehernya, dadanya, lengannya, pinggulnya. Namun, di masa kanaknya ini, hari-hariku lebih banyak berisi kerinduan untuk bertemu dengannya. Kadang tiga atau empat hari penuh ia sama sekali tak menemuiku. Dan ketika ia tiba-tiba muncul menghampiriku, apa yang dilakukannya hanyalah menyisir rambut, atau membetulkan dasi merah putihnya, atau mengusir debu yang kebetulan nyasar masuk ke dalam matanya, tanpa sepatah kata pun yang muncul dari kedua belah bibir tipisnya itu. Dan apa yang dapat kulakukan hanyalah menatapnya, mengaguminya, tanpa tahu bagaimana perasaannya, atau bagaimana pikirannya tentangku. Di masa kanaknya ini aku merasa ia adalah sesosok peri yang tak sadar bahwa kelak ia akan jadi sesosok bidadari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PERTEMUANKU dengannya menjadi semakin sering terjadi saat ia berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Saat itu, jika aku tak salah ingat, sore hari sehabis asar. Ia tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam ruangan ini. Dengan napas terengah, setelah melemparkan tas dan topinya ke atas ranjang, ia serta-merta menghampiriku. Ia menatapku cukup lama, menyibak belahan rambutnya, mengelus rambutnya, mengusap kedua pipinya, bibirnya, dan setelah mendekatkan matanya ke wajahku beberapa saat, ia kemudian berbisik, seperti untuk dirinya sendiri, "Apakah aku cantik?" Tawaku segera saja meledak mendengar pertanyaan konyol itu, "Tentu saja! Dan bukan hanya cantik. Kau sempurna!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Hari ini ia mengatakan cinta padaku. Percayakah kau? Percayakah kau bahwa hari ini ia mengungkapkan perasaannya kepadaku? Anak yang menjadi buah bibir satu sekolah itu hari ini menyatakan cintanya padaku!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah peristiwa ini, setiap hari--dalam satu hari kadang bahkan puluhan kali--ia menemuiku. Tak bisa kugambarkan betapa girangnya aku melihat perubahan ini. Dapat kukatakan, pada masa remajanya inilah aku dapat mengamati, mengerti, memiliki, dirinya sepenuhnya: kini ia tak lagi peri. Ia telah sepenuhnya menjelma bidadari. Bidadari muda. Bidadari yang sedang mekar-mekarnya: rambutnya--yang tergerai sepanjang bahunya--kini adalah malam pekat berbintang berbulan, kilau kilap menyambar-nyambar menyilaukan mataku. Jidatnya yang tak begitu lebar, yang menghampar menopang belahan rambutnya, masih tampak sebagai mahkota yang semakin transparan, berhias bulu-bulu kecil hitam keabuan. Kupingnya yang bening mengembang, kini tampak bak sepasang sayap mungil. Hidungnya mungil mancung, dan masih selalu membuatku selalu ingin mengelusnya dari pangkal hingga ujung, lalu mencubitnya. Pipinya kini buah fuga matang yang terbelah tepat sama, rona merah kebiruan tertebar di kedua lengkungnya. Bibirnya masih sepasang aliran sungai: kini tampak tambah tenang, namun aku sadar arus di balik permukaan itu begitu derasnya, dan siap menghanyutkan siapa saja ke sebuah samudra.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa remajanya ini, seiring dengan pertemuan demi pertemuan yang semakin sering terjadi di antara kami, ada dua hal yang membuatku tak pernah merasa bosan menatapnya, mengamatinya, tiap kali kami bertemu: ia selalu tampak baru. Ya, aku merasa selalu ada yang berbeda pada dirinya tiap kali kami bertemu. Tidak seperti di masa kanaknya, di masa remaja ini aku merasa ia telah sadar bahwa ia adalah sesosok bidadari: sering, saat menjelang berangkat ke sekolah, ia mengoleskan sesuatu ke bibirnya, hingga bibir itu tampak segar berpendar. Setelah itu, ia biasanya merapatkan erat-erat kedua bibirnya, lalu mecucu, lalu mendaratkan sebuah atau dua buah kecupan ke kening atau pipiku. Sering juga ia melapisi wajahnya dengan suatu bubuk kuning kecokelatan, hingga kulit wajahnya yang telah halus itu jadi tambah licin dan bersinar. Pernah juga, di tengah hari bolong, ia tiba-tiba saja menghampiriku dengan muka semringah, lalu memamerkan sepasang anting baru di kedua telinganya, sambil berkata: "Ulang tahun yang indah. Hari ini dia memberiku hadiah yang juga indah."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal lain yang membuatku selalu senang saat bertemu dengannya di masa remajanya ini adalah bahwa ia mulai berani memperlihatkan lekuk-liuk tubuh indahnya di hadapanku. Kadang, saat benar-benar yakin bahwa di ruangan ini hanya ada kami berdua, ia bahkan melucuti semua pakaiannya di hadapanku, lalu dengan senyum terkulum ia melenggak-lenggok, berputar-putar, naik ke ranjang, telentang, nungging, meremas kedua payudaranya, meremas pantatnya dan memperlihatkannya kepadaku, lalu mengecup hidungku sambil berkata: "Ya, ya. Aku seksi. Aku cantik dan seksi. Aku wanita paling seksi di dunia ini. Ha ha."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan bukan hanya itu: pada masa akil-balignya ini ia juga mulai rutin menceritakan padaku berbagai hal yang terjadi padanya dari hari ke hari. Ya, berbagai hal, bahkan mungkin semua hal, baik yang membuatku gembira ataupun sedih saat mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seminggu setelah ia memamerkan anting hadiah ulang tahun dari kekasihnya itu, misalnya, ia menghampiriku sehabis magrib dengan mata berbinar dan wajah penuh senyuman. Setelah membersihkan wajahnya dengan beberapa tisu, ia kemudian menyisir rambutnya sambil bercerita padaku bahwa hari itu ia bersama kekasihnya pergi ke sebuah kebun binatang. Di sebuah bangku di sudut taman di kebun binatang itu, setelah ngobrol tentang berbagai hal dan saling mengucapkan rasa sayang, kekasihnya itu menciumnya. Dari mata dan garis wajahnya aku dapat membayangkan betapa bahagianya dirinya saat itu: itu adalah ciuman pertamanya dalam hidupnya: "Sayang, kamu nakal. Aku tahu kamu menipuku saat kau bilang sayang padaku. Tapi aku senang. Ya, ya, aku juga sayang kamu. Bangku di kebun binatang itu saksi bisu saat kau memerawani bibirku. Ha ha."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah juga ia memagut dirinya lama sekali di hadapanku. Sambil mengelus kedua pipinya, menyibakkan rambutnya ke sana ke mari, meremas kedua susunya, dan sesekali menebar senyuman riang disertai kerlingan mata nakal ke arahku, ia berbisik, "Maafkan aku Martin. Kamu sudah baik sekali padaku selama ini. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap padamu. Tapi kamu tahu sendiri aku sudah punya kekasih."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SEKALI waktu ia menghampiriku dengan mata nanar kemerahan dan wajah tegang memancarkan kebencian. Dan apa yang dilakukannya di hadapanku adalah memaki-maki seseorang, sambil jarinya menunjuk-nunjuk tajam ke mata, jidat, dan hidungku, "Rasain lu, Bajingan. Sekarang dipecat! Ngomongnya mau praktikum, eh, di dalam laboratorium malah gerayangan kurang ajar. Dasar guru bajingan!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di waktu lain ia telentang begitu lama di atas ranjang di hadapanku, kedua tangannya ia silangkan di bawah kepalanya. Matanya menerawang memelototi langit-langit ruangan ini, seperti merenungkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dan menghampiriku, lalu menatapku lama sekali, tanpa kata, tanpa suara. Ia terus saja mengamat-amati wajahku sambil sesekali menyentuh jidatku, pipiku, hidungku, bibirku, lalu berbisik, "Jadi apa ya kamu nanti? Model? Penyiar TV? Sebentar lagi kamu lulus dan kamu masih tak tahu mau jadi apa nanti...."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah, dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, hubungan kami semakin erat. Betapa tidak: dibanding orang-orang lain, aku bisa mengatakan bahwa akulah sosok yang paling ia percaya. Aku yakin hanya kepadakulah ia ungkapkan keluh-kesah terdalamnya, kekesalannya, kegembiraannya, kegusarannya, kebenciannya, dendamnya, kegilaannya, mimpi-mimpinya, keinginannya. Jika mau sombong, aku bisa mengatakan bahwa akulah sosok yang paling mengerti dirinya. Sering kali, di malam-malam sunyi, setelah lewat dinihari, saat aku yakin sebagian besar orang telah terlelap, ia menghampiriku, menatapku begitu lama, lalu membuka diri dan menceritakan rahasia-rahasia terdalamnya kepadaku. Rahasia-rahasia yang aku yakin bahkan tak pernah ia ungkap kepada siapa pun, termasuk kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, dalam beberapa hari ini ia benar-benar terlihat lain. Ia sering masuk begitu saja ke dalam ruangan ini, bungkam, pucat, muram, murung, sama sekali tak menatapku, apalagi bicara padaku. Kadang ia bahkan menangis berjam-jam di hadapanku sambil mengeluarkan umpatan-umpatan yang membingungkanku dan membuatku sedih, "Tua bangka bajingan! Sudah punya istri dua masih juga mau lagi. Mentang-mentang kaya! Kau pikir bisa membeliku dengan uang! Fuihh! Jangan bermimpi!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seminggu sebelum ia bersikap seperti ini, aku memang sering mendengar berbagai pertengkaran yang terjadi di rumah ini. Aku sangat sering mendengar ia berteriak-teriak dari ruangan sebelah, lalu berlari masuk ke dalam ruangan ini, melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, membenamkan wajahnya pada sebuah bantal, lalu menangis lama sekali, sama sekali tanpa menatapku, atau bicara padaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari ini aku juga sering melihat dua orang, lelaki dan perempuan, dua sosok yang ia panggil bapak dan ibu, masuk ke dalam ruangan ini dengan muka merah dan mata penuh amarah, dan apa yang sering mereka lakukan adalah berteriak-teriak dengan suara yang begitu tinggi, hingga kadang membuat tubuhku bergetar:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Anak tak tahu diri! Kamu bisa sekolah hingga lulus itu karena beliau yang membiayai!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana-mana anak perawan ya nurut sama orang tuanya! Kamu kok malah melawan! Dasar anak durhaka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan terakhir, kemarin malam, aku melihat dua orang lelaki masuk ke ruangan ini, membekapnya, lalu mengangkat tubuhnya entah ke mana. Aku masih sempat melihat ia meronta-ronta sekuat tenaga dan berusaha berteriak sejadi-jadinya, namun kedua laki-laki itu tampaknya begitu kuat membekap dan mengangkat tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga datanglah hari ini, hari saat ia tampak sama sekali terlihat lain, bahkan asing, dan aku hampir-hampir tak mengenalnya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia masuk ke ruangan ini dengan wajah yang amat sangat kuyu, rambut kusut mawut, dan pakaian yang koyak di beberapa bagian. Sambil berjalan gontai dan sesekali memegangi selangkangannya, ia mengemasi semua barangnya yang ada di dalam ruangan ini ke dalam sebuah tas besar, tanpa sama sekali menatap ke arahku, apalagi bicara padaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa saat kemudian ia mengambil sebuah kursi yang ada di sudut ruangan ini, menaruhnya tepat di tengah ruangan, lalu membuka lemari yang ada di depanku, mengeluarkan sebuah selendang panjang, dan dengan mimik muka yang benar-benar dingin, ia naik ke kursi itu, kemudian mengikatkan selendang itu ke salah satu kayu di langit-langit kamar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti yang kusangka, peristiwa yang terjadi kemudian adalah sebuah kejutan baru buatku: setelah memasukkan kepalanya ke dalam simpul ikatan yang telah ia buat di selendang yang menggantung itu, dengan kaki kanannya ia menendang sandaran kursi kayu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan, seiring dengan tubuhnya yang terayun-ayun di selendang itu, rona wajahnya berubah: merah pekat, kuning, kuning kemerahan, lalu perlahan membiru, memerah, membiru, merah kebiruan, lalu memutih, memucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, setelah tubuhnya sepenuhnya tak bergerak, ia jadi terlihat sama sekali berbeda: Kini ia monokrom, seperti udara. Inilah kali pertama aku melihatnya seperti ini. Betapa indahnya. Betapa anggunnya. Betapa agungnya. Aku merasa, kecantikannya kini tampak baka: udara dan cuaca tak memengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Budapest--Balatonfüred, Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Zaim Rofiqi&lt;/b&gt; giat di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dan Freedom Institute, sambil menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Buku puisinya, Lagu Cinta Para Pendosa (Pustaka Alvabet, 2009).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman; font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;                  &lt;br /&gt;&lt;div align="left" class="ts-1-2" style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="edisi"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Koran Tempo, 21 November 2009&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7293976079134190985?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7293976079134190985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/bidadariku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7293976079134190985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7293976079134190985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/bidadariku.html' title='Bidadariku'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-6343490008183295493</id><published>2009-11-23T02:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:36:40.493-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Kiamat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sembilan dari sepuluh orang yang saya wawancarai mengatakan bahwa kiamat itu pasti terjadi. Ini masalah keyakinan. Seorang tak mau menjawab dan menuduh saya mengalihkan perhatian dari isu Bibit dan Chandra, yang kini memasuki masa paling sulit bagi Presiden Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sembilan dari sepuluh orang itu juga menyebutkan bahwa kiamat menjadi rahasia Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu kapan terjadinya. "Bagaimana kalau terjadinya besok?" tanya saya. Hampir serempak mereka menjawab: "Jangan Senin besok, kita ingin lihat keputusan apa yang diambil Presiden pada kasus Bibit dan Candra." Bagaimana kalau 2011? Seseorang menjawab: "Jangan, tahun depan saya ikut pilkada. Kalau saya jadi bupati, kan cuma setahun menjabat, tak balik modal kampanye saya." Bagaimana kalau kiamat itu terjadi 21 Desember 2012? "Ah, itu takhayul," kata mereka serempak. "Itu kan versi film yang sudah tak dipercayai oleh para ulama kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya yakin kiamat pasti datang. Katanya rahasia Tuhan yang bisa terjadi kapan saja. Tapi kok mau mengatur sendiri, kapan kiamat itu tidak boleh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya lagi: "Apa yang Anda lakukan seandainya kiamat itu sudah dekat?" Pertanyaan ini tentu konyol. Itu berarti saya pun terjebak pada "ramalan", padahal kiamat kan rahasia Tuhan. Tapi, karena mereka mau menjawab, ya, kita dengarkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mau terbang ke berbagai tempat, ganti pesawat setiap turun di bandara, siapa tahu pas di atas awan kiamat datang, kan saya bisa lihat dari atas," kata seseorang. "Saya mau beli HP yang bisa untuk Facebook sebanyak-banyaknya, saya kasih teman-teman saya, agar ia segera mengomentari status saya kalau kiamat datang," kata yang lain. Yang satu lagi, lelaki bertato, menjawab agak lama: "Rasanya ingin memperkosa penyanyi dangdut, kan tak masuk penjara, wong kiamat...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stop," teriak saya. Meskipun ini bukan mewakili 200 juta penduduk negeri, saya semakin yakin bangsa ini sudah tak lagi religius, tapi konsumtif. Para pemuka agama acap kali berseru, "Hai umat manusia, berbuatlah saleh dan kebajikan, seolah-olah esok adalah hari akhir, hari kiamat." Kematian itu, kata pemuka agama, harus kita persiapkan. Matilah di jalan Tuhan, matilah pada saat kita sudah melaksanakan segala amal saleh dan melaksanakan semua perintah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng tentang kiamat--termasuk film--estinya menjadi cambuk buat kita agar berlaku saleh dan beramal baik. Imajinasi tentang "hari akhir" berkembang sesuai dengan tingkat pengetahuan. Masyarakat pedesaan di masa lalu melukiskan datangnya kiamat dengan pertunjukan seni yang memukau, misalnya, adegan gunung meletus, laharnya melanda umat manusia. Orang-orang saleh disambar bidadari, diterbangkan ke atas, sehingga tak merasakan pedihnya lahar panas seperti yang dialami orang-orang durjana. Mereka tak melahirkan imajinasi tentang meteor karena tak pernah baca kisah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di zaman modern, kiamat divisualkan dengan benturan berbagai benda planet yang menimbulkan gempa, tsunami, puting beliung, dan sejenisnya. Bumi porak-poranda, tak ada bidadari karena orang modern tak kenal Ken Subadra, Ken Sulasih, dan bidadari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, ketika tempat ibadah sedikit tapi umat religius, setiap orang seperti diajak berlomba dalam kebajikan begitu kelar menonton "drama" tentang kiamat. Orang berseru: "Ya Tuhan, ampuni hamba, jauhkan hamba dari dosa sebelum hari itu tiba." Kini, ketika rekaan datangnya kiamat difilmkan, orang berlomba bilang: jangan percaya. Tapi filmnya laris dan yang menonton pun tetap mengunyah popcorn. Kiamat cuma jadi hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh Putu Setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;                  &lt;br /&gt;&lt;div align="left" class="ts-1-2"&gt;&lt;div class="edisi"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Geneva,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 100%;"&gt;Koran Tempo, 21 November  2009&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-6343490008183295493?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/6343490008183295493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/kiamat.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6343490008183295493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6343490008183295493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/kiamat.html' title='Kiamat'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-6533417196922618880</id><published>2009-11-23T02:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T21:37:29.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'>Rekayasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada penutupan "Bulan Bahasa" kemarin, saya didapuk untuk memberi ceramah tentang bahasa Indonesia di hadapan pelajar sekolah menengah. Saya meminta para pelajar menentukan sendiri tema apa yang akan didiskusikan. "Saya ingin dibahas kata 'rekayasa'. Alasannya, kata itu ada unsur positif dan negatifnya," kata seorang siswa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;"Benar," jawab saya. "Menurut kamus, berkaitan dengan ilmu, rekayasa ada positifnya. Misalnya rekayasa genetika, rekayasa historis. Yang negatif, rekayasa berarti rencana jahat atau persekongkolan untuk merugikan pihak lain. Ingat, ada unsur jahat dan persekongkolan. Ada yang bisa memberi contoh kalimat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang siswi mengangkat tangan: "Dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi tersangka karena rekayasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya: "Di mana unsur jahat dan persekongkolannya?" Anak itu menjelaskan: "Awalnya pimpinan polisi merasa tersinggung oleh sebuah kasus, ini kejahatannya. Persekongkolannya, kan polisi jadi penyidik dan jaksa jadi penuntut, dua lembaga ini dikenal bersaing dengan Komisi dalam tugas memberantas korupsi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba contoh lain, saya takut kalimat seperti itu," kata saya. Seorang anak mengacungkan tangan dan berkata: "Polisi merekayasa undang-undang tentang KPK untuk melemahkan Komisi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana unsur jahatnya?" tanya saya. Anak itu menjawab: "Dalam undang-undang disebutkan, pimpinan Komisi bisa diberhentikan hanya ketika ia menjadi tersangka. Ini aneh, padahal tersangka belum tentu bersalah, kan ada praduga tak bersalah. Lagi pula status tersangka itu kan mudah amat. Seorang pimpinan Komisi bisa saja dilaporkan mencopet. Ada bukti atau tidak, polisi bisa menyidiknya dan dijadikanlah dia tersangka. Perkara nanti bebas di pengadilan, itu kan butuh waktu lama, apalagi kalau diulur-ulur. Yang penting sudah jadi tersangka, sudah diberhentikan, sudah ada pimpinan penggantinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memotong: "Di mana unsur persekongkolannya?" Anak itu menjawab: "Siapa tahu DPR sengaja membuat pasal ini agar polisi bisa merekayasanya untuk melemahkan kerja pesaingnya. Moga-moga hakim konstitusi memberangus pasal ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum. "Itu terlalu jauh, bisa jadi DPR kurang awas, lalu polisi memanfaatkan celahnya," kata saya. "Coba contoh yang lain, jangan menyangkut polisi, saya takut dijadikan tersangka dan ditahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini kan negara hukum, kenapa takut kalau tak bersalah?" celetuk seorang anak. "Betul," kata saya. "Seperti yang dikatakan Pak Presiden, hormati proses hukum. Masalahnya, hukum versi siapa. Polisi punya versi sendiri, instansi lain punya versi lain lagi. Muaranya memang pengadilan, tapi jalan ke sana kan melalui sel tahanan. Ingat anak-anak, ini ceramah bahasa, bukan ceramah politik, cari kalimat yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak berseru: "Jabatan wakil menteri hanya rekayasa." Saya jawab: "Kalimat yang bagus, tapi apa ada kebenaran dalam kalimat itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya dong, Pak," kata anak itu. "Menteri kan jatah partai dan pertemanan, sulit mendapatkan orang yang pas untuk jabatan yang pasti. Maka diadakan wakil menteri, dia inilah the real minister. Unsur jahatnya, uang rakyat makin terkuras untuk gaji yang tak perlu kalau saja sejak awal menteri itu orang yang pas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, ini politik lagi, cari kalimat yang lain," kata saya. Seorang siswi minta izin bicara. "Bapak merekayasa ceramah ini," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersinggung: "Kamu ngaco, mana unsur jahatnya?" Anak itu kalem menjawab: "Tampaknya Bapak mencari ide untuk tulisan Cari Angin lewat ceramah ini. Ini kan kepentingan pribadi, ini kejahatan moral. Hentikan rekayasa itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Oleh Putu Setia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Koran Tempo, Minggu, 01 November 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-6533417196922618880?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/6533417196922618880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/rekayasa-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6533417196922618880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6533417196922618880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/rekayasa-2.html' title='Rekayasa'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-1904446138616711377</id><published>2009-11-09T19:38:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T04:49:41.828-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi jelek lagi</title><content type='html'>DAHAGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kurebahkan segenap peluh&lt;br /&gt;kubentangkan kaki yang rapuh&lt;br /&gt;tapi tidak benakku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;liar merotasi dimensi yang konon tak terjelajahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin kuberhenti&lt;br /&gt;letih mencari&lt;br /&gt;namun dahaga kian menggila&lt;br /&gt;serasa meneguk birunya samudra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku t’lah basah di safana logika&lt;br /&gt;takan kutundukan kepala&lt;br /&gt;meski akan binasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejatinya aku pun sama&lt;br /&gt;bahkan malaikat pun bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;DOAKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila waktuku tiba&lt;br /&gt;kuingin tiada keraguan&lt;br /&gt;seperti yang Engkau janjikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila siang Kau buat jadi malam&lt;br /&gt;bintang seolah bersinar&lt;br /&gt;dengan  pikirnya adam pun paham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;andai masih ada burung pembawa berita&lt;br /&gt;kan kudekap dan kupeluk dengan berjuta tanya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-1904446138616711377?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/1904446138616711377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/puisi-jelek-lagi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/1904446138616711377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/1904446138616711377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/puisi-jelek-lagi.html' title='Puisi jelek lagi'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-4529920028881562182</id><published>2009-11-09T19:35:00.001-08:00</published><updated>2009-11-12T04:50:20.862-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi jelek</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;DAUN-DAUN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;lamatlamat lampu fakultas samarkan daundaun melayang terbanting angin terdampar di rambutku batu tanah dan selokan betapa rapuh dengan yang tak nampak saja berguguran daun yang sejukan mata esok jadi sampah bagitu mudah semua berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-4529920028881562182?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/4529920028881562182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/puisi-jelek.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/4529920028881562182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/4529920028881562182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/11/puisi-jelek.html' title='Puisi jelek'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7153195162637806175</id><published>2009-10-29T02:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T02:46:30.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen Feri M. Syukur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan yang Mengulur Nafas Panjang Seperti Mengulur Layang-Layang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin yang berdesir membelai poni yang tergerai menutupi dahi yang lebar dan beberapa titik jerawat menggerayang di antara alis berbulu hitam yang sedikit menyatu. Berkali-kali sang perempuan mengernyit dahi, menampak dua garis di antara gunung kecil wajahnya itu, dan terapit oleh tiga bongkahan kulit muka yang mengerut. Kau mengurut dada beberapa kali mengusap. Seolah luapan dada yang beronjak-lonjak itu hendak loncat dan kau-perempuan yang terlihat dari kejauhan, menahannya berapa jenak agar rongga dada yang menampung hati dan jantung itu tak pecah membuncah tumpah mendarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lihat langit di atas kepala yang mendung mengandung air, kelam, hitam, dan membawa beberapa rintik hujan yang sebagian sudah membasah pipi putih pulen yang menampang mengapit dua garis di bawah lubang pernapasanmu. Beberapa kali, semenjak aku duduk di sini, minum secangkir kopi susu di depan sebuah kaca jendela yang menghadap keluar, yang sisi-sisinya beberapa titik hujan yang jatuh dan memantul ke kaca mengembun, mengaburkan bayangmu, mengulur nafas panjang dalam berlomba dengan dada yang kembang kempis menahan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan sudah mulai besar, tanpa kilat, angin bergelombang memainkan ponimu, dan kedua lenganmu memeluk diri. Kau mulai gigil. Aku tak habis pikir, tentang kamu yang bersetia dengan gelombang dada, nafas panjang, dan beberapa usapan lembut tangan kanan yang menyeka air hujan yang jatuh di pipi dan dekat mata sedikit di samping dahi. Mungkinkah kamu sedang menunggu seseorang yang berjanji akan menemuimu di sudut jalan sana. Mungkinkah kau menunggu segerombolan kata menghambur dari pucuk hujan tentang kabar orang tuamu yang akan mengajakmu berkeliling kota, membeli es krim, duduk di taman, dan bercerita banyak tentang keluarga, pekerjaan, dan juga tentang kekasih yang tak kunjung membawa lamaran. Dan kemungkinan yang lain hinggap menumpuk di setiap ujung rambutku yang menambah saja kepala memberat. Aku mulai pusing dengan kemungkinan-kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam tas, sekotak rokok, di buka, tinggal sebatang rokok, merogoh, di taruh di muka mulut, merogoh saku baju kemeja, di ambil sebatang pematik api, beradu dengan kertas pemicu api, dekatkan pada mulut, rokok terbakar, dan aku menghisap asap itu dalam-dalam seolah takut kehilangan kekasih yang telah ku tunggu dengan tiga gelas kopi sejak siang menjelang sore tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang, setubuh perempuan duduk di belakang jok sopir, melihat jam berulang kali, menghela nafas beberapa kali, melihat keluar jendela, jalan tetap saja tak melaju, di depan jalan, dan mungkin di perempatan, ada kecelakaan, dan mungkin juga ada demo mengatas namakan rakyat, sedang rakyat kelelahan melihat, dan beberapa kali sang supir yang beberapa kali menyeka keringat karena jendela di tutup, sedang ac mati, mulai berbulir keringat. Sedang waktu terus menjerat kakiku yang mulai kesemutan. Tangan mulai kaku. Mulut beku, rokok menguntung debunya berjatuhan kebawah, sedikit tumpah ke sendok yang tergeletak di atas selembar tisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh, aku tak bisa mendengar apa yang dia katakan pada seorang lelaki dari toko roti seberang jalan yang membawakannya sebuah payung. Sejenak lelaki itu mematung di sana, ketika perempuan yang berbasuh hujan menggeleng, mengusap muka dari hujan, dan menolak payung yang ia bawakan.&lt;br /&gt;“Seharusnya kau terima payung itu, agar kau tak gigil dari bulir butir hujan yang bugil membugilmu dari balik baju yang mulai mengecil karena air mulai mencetak tubuhmu tak beruang nafas. Dadamu. Lehermu. Pinggulmu. Perutmu. Aku bisa lihat semua itu tanpa harus menunggumu membuka baju.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokokku sudah habis. Menguntung. Jatuh dekat kaki yang kesemutan. Kopi sudah jauh dingin. Dari panas yang menguap dan juga oleh angin yang mencumbu bibir cangkir. Di sisi dekat pegangan tangan ada noda tetesan air yang jatuh, bekas minum dan bekas bibir yang mencium dan meminum dari cangkir kopi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada mata yang sedari tadi melirik curi malu-malu. Dari  balik meja yang di hadapannya sebuah mesin kasir, melempar pandang pada tubuhku yang sedari tadi menghadap luar jendela, tak banyak bergerak, dan beberapa kali mengikuti gerakan si perempuan dengan bulir hujannya mengulur nafas seperti layang-layang yang di bebaskan terbang ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri tidak sadar, sampai akhirnya lamunanku tentang kekasihku yang tak kunjung datang itu seolah merubah rupa hadir di wujud perempuan di luar sana. Titik hitam di dahinya menyerupai dia. Pipi putih yang sempat beberapa kali aku kecup  itu menyerupai dirinya. Garis putih yang sering mendengus dan mengelus leher jenjangku saat lampu gelap dan pandangan gelap di antara kegiatan bioskop, seperti miliknya. Dan juga poni yang di mainkan angin di tatapan pertama seperti miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lipatan baju yang basah itu adalah lipatan dirinya saat berapa waktu lalu baju putihnya sempat ketinggalan di dalam tas sepulang kuliah aku strika dan taburi di setiap sudut kain dengan cumbuan dan parfum melati kesukaannya. Dan lipatan itu adalah lipatan yang sulit aku hilangkan, menyilang di lengan kanan dekat leher yang menggaris hingga sikut luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam tas, perempuan itu mengambil sesuatu, yang aku kira adalah ponsel. Benar nyatanya, dia mengambil ponselnya. Dengan menutupinya oleh tangan kiri, dia menekan tombol-tombol. Lalu menyimpannya dekat telinganya. Dan saat itu pula, ada getaran dan suara nada ponsel dari dalam saku kiriku. Aku raih dia, dan aku lihat nama yang tertera dalam layar ponsel. Darinya, kekasihku, dan aku lihat pula perempuan itu sedang bertelpon pula. Ah, mungkinkah dia itu adalah kekasihku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku angkat dia, dan mulut dia itu mulai bercakap, dari dalam ponselku pula, suara kekasihku yang bertalar gerimis hujan yang jatuh, beradu dengan bising jalan menyahut, bertanya posisiku dan juga mengurai maaf yang menjulang kelangit aka keterlambatannya datang. Di katakan olehnya tentang sebuah kecelakaan, dan juga genangan air yang menenggelamkan ban taksinya hingga harus hati-hati menumbus genangan hujan di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku hilang ruh yang mengembara menyusuri lekuk wajah bumi, kemudian turun di sebuah tempat, yang di mana di sana ada seorang perempuan berbasuh hujan. Sendiri. Gigil. Dan bugil. Seamsal aku duduk di sana, menawarkan rokok yang basah, kemudian menyalakan sebuah, dan menguaplah aroma kretek dan juga asap yang mengepul ke ujung pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelayan datang mendekat. Mengambil gelas kopi yang kosong dan menawarkan kembali segelas kopi, aku menutup telepon dengan tangan kiri, kemudian setengah berbisik yang dibalut senyum mengangguk. Lalu suara perempuan di ponselku mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai. Sekarang ada di seberang jalan. Aku menengok keluar jauh. Ada perempuan berpayung putih, berbaju putih, persis sepertiapa yang di pakai perempuan berbulir hujan, melewati jalan, melewati perempuan itu, melewati jendela yang sudah setengah kabur kabut hujan, d an melewati pintu, masuk berbelok ke kanan dan duduk di hadapanku dengan senyum maaf yang menggunung dan muntah ketelingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku ingat perempuan yang tadi dia lewati, kini tidak ada siapapun di sana. Tak ada perempuan yang mengulur nafas seperti laying-layang kelangit itu, yang sedari tadi tanpa di sadari telah menemaniku minum kopi tiga gelas, dan juga menghabiskan beberapa batang rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kekasihnya yang ia tunggu sudah datang. Mungkin orang tuanya sudah datang. Mungkin kekasih gelapnya sudah datang. Mungkin temannya sudah datang. Mungkin dia di curio rang. Mungkin lelah menunggu. Mungkin juga dia memutuskan untuk mati saja karena janji-janji dari orang yang dia harapkan tidak kunjung datang. Betapa janji itu tidak mudah di wujudkan. Karena di perjalanan sering juga ada angina yang memainkan poni. Hujan yang gigil, yang buat bugil. Ada macet yang membuat basuh keringat. Ada pula jalan yang terkadang menjadi jalur lajur air hujan ke muara, yang membawa beberapa sampah ke laut lepas. Dan juga ada kemungkinan-kemungkinan lain yang mengganggu.&lt;br /&gt;“Manis, rasanya aku sudah gigil ingin cepat mengisi perut dengan yang hangat-hangat. Kamu mau pesan apa manis? Biarkan aku yang bayar, sebagai tanda minta maafku padamu!” (Kepada perempuan yang mengulur sabar pada keteguhan, dan aku yang sabar berjuang. Puspita dan Aku.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/06/10/23485558/Perempuan.yang.Mengulur.Nafas.Panjang.Seperti.Mengulur.Layang-Layang"&gt;http://oase.kompas.com/read/xml/2009/06/10/23485558/Perempuan.yang.Mengulur.Nafas.Panjang.Seperti.Mengulur.Layang-Layang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7153195162637806175?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7153195162637806175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/10/perempuan-yang-mengulur-nafas-panjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7153195162637806175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7153195162637806175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/10/perempuan-yang-mengulur-nafas-panjang.html' title='Cerpen Feri M. Syukur'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-963098113293475715</id><published>2009-06-07T07:28:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T02:42:16.292-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Handout Dasar-dasar Jurnalistik'/><title type='text'>TUGAS HANDOUT 9</title><content type='html'>&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Tanpa Latar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah masih menggunakan langkah diplomatik untuk mempertahankan Blok Ambalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Tanpa Latar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung - Seorang anggota polisi dan sejumlah mahasiswa dari BEM se Bandung Raya terluka parah akibat bentrok dalam aksi demo yang menuntut penurunan harga BBM,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Latar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA (SI) – Pemerintah akan segera mengirimkan nota diplomatik kepada Malaysia sehubungan manuver kapal perang negeri jiran itu ke perairan Ambalat, Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Latar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada Departemen Luar Negeri agar lebih proaktif mengintensifkan perundingan batas wilayah dengan Malaysia, seiring dengan meningkatkan ketegangan di Blok Ambalat. Hal itu disampaikan dalam rapat terbatas di kantor kepresidenan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Latar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentrok antara mahasiswa yang menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan dan aparat kepolisian terjadi di sekitar kompleks Universitas Islam Negeri Yogyakarta, Sabtu (20/12). Dalam peristiwa itu, tiga mahasiswa dan empat polisi luka sehingga dilarikan ke rumah sakit. Salah satu perwakilan mahasiswa, Dadang Daru, mengatakan, pengesahan RUU BHP akan membuat jutaan anak miskin di Indonesia terancam tidak bisa kuliah karena biaya akan membengkak. ”Tidak ada kata lain, RUU BHP harus dibatalkan,” katanya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Latar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentrok mahasiswa dengan polisi kembali terjadi. Kali ini giliran mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas). Bentrokan terjadi saat polisi berusaha membubarkan puluhan mahasiswa yang melakukan aksi unjukrasa di pintu I Unhas Jl Perintis Kemerdekaan, Selasa (16/12). Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Makassar (Alarm) ini menolak rencana pengesahaan Rancangan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan ( RUU BHP) menjadi undang-undang (UU). Dari pantauan BKM di lokasi kejadian, bentrokan sempat berlangsung tiga kali dalam waktu yang berbeda. Bermula sekitar pukul 11.00 Wita. Saat itu puluhan mahasiswa yang melakukan orasi menolak BHP, yang rencananya akan disahkan bulan Desember ini. Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo telah melontarkan rencana pengesahan BHP di salah satu stasiun televisi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-963098113293475715?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/963098113293475715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/06/tugas-handout-9_07.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/963098113293475715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/963098113293475715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/06/tugas-handout-9_07.html' title='TUGAS HANDOUT 9'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-8578181110372958786</id><published>2009-06-07T07:18:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T07:22:28.390-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Handout Dasar-dasar Jurnalistik'/><title type='text'>TUGAS HANDOUT 10</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanpa Detil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manila, kamis - Aksi protes sekitar 200 mahasiswa Manila yang ditujukan kepada Presiden Gloria Macapagal-Arroyo, Kamis (13/10), berakhir dengan bentrokan yang menyebabkan lusinan orang terluka dan sekitar 10 mahasiswa ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Detil &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKASSAR -- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismu) Makassar bentrok dengan aparat kepolisian di depan kampus mereka di Jalan Sultan Alauddin kemarin. Enam orang terluka dari unsur mahasiswa, dosen, dan polisi. Korban luka akibat terkena lemparan batu dan dikeroyok. Empat mahasiswa yang terluka adalah Sulaiman, mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik (fisipol), memar di muka; Nawir, mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, luka di hidung; Abdul Halim Muchtar, mahasiswa fakultas agama Islam, luka di bagian pelipis kanan; dan Jumardi, mahasiswa fakultas ekonomi, luka di bagian kepala belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Detil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu lama, polisi yang baru tiba ini langsung mengejar mahasiswa. Tak ketinggalan personel Perintis. Mereka melakukan pengejaran dengan menggunakan motor. Tindakan represif polisi ini membuat mahasiswa kocar kacir. Batu pun kembali melayang di udara. Tidak berlangsung lama, bentrokan kedua inipun berhenti dengan sendirinya. Tapi itu tidak berlangsung lama. 15 menit kemudian mahasiswa kembali melakukan pelemparan ke arah polisi. Petugas balik mengejar mahasiswa hingga masuk ke dalam area kampus. Saat itu juga Satpam kampus langsung menutup pintu masuk. Tindakan Satpam ini membuat berang polisi. Mereka menuding Satpam yang jumlahnya belasan orang itu mencoba melindungi mahasiswa. Salah seorang Satpam bernama Ilham jadi korban amukan petugas yang tak lagi bisa menahan emosi. Polisi terus mengejar mahasiswa. Batu masih berseliweran.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Implisit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menko Polhukam Widodo AS menjelaskan, persoalan Ambalat adalah mengenai delimitasi batas maritim. Masalah Ambalat terjadi karena belum disepakatinya garis batas wilayah perairan,baik perairan kedaulatan maupun yurisdiksi di wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ekplisit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada wartawan, Widodo menjelaskan bahwa upaya perundingan dengan Malaysia dimulai sejak 2005. Total seluruhnya sudah dilakukan 23 kali pertemuan. "Bulan depan mungkin yang ke-24, perundingan akan dilakukan di Malaysia." Ia mengatakan, selama 23 kali perundingan itu, tidak satu pun kesepakatan dicapai soal batas di Blok Ambalat. Menteri Koordinator mengakui proses perundingan tidak mudah. Widodo mengungkapkan, perundingan dengan Malaysia tidak hanya mencakup kejelasan batas maritim di Blok Ambalat. Negosiasi yang berjalan itu mencakup semua segmen, yaitu batas maritim di Selat Malaka, Johor, Laut Cina Selatan, Laut Sulawesi, dan Blok Ambalat. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-8578181110372958786?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/8578181110372958786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/06/handout-10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8578181110372958786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8578181110372958786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/06/handout-10.html' title='TUGAS HANDOUT 10'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-2218547017641024479</id><published>2009-06-04T05:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T01:23:58.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Handout Dasar-dasar Jurnalistik'/><title type='text'>TUGAS HANDOUT  1</title><content type='html'>A. Alasan Ingin Menjadi Penulis Profesional&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Suatu kata apabila hanya diucapkan akan hilang terbawa angin, maka tuliskanlah agar abadi. Kalimat itulah yang mengispirasi saya untuk belajar menulis. Menulis berarti mengabadikan. Memotret penomena yang ada, baik fenomena sosial, politik, budaya dan sebagainya. Sebagaimana cita-cita luhur para penulis. Suatu tulisan dinilai baik atau sangat berharga apabila tulisan tersebut mampu membawa perubahan. Artinya dapat mempengaruhi pembaca untuk menjadi lebih baik. Bermanfaat bukan hanya untuk penulis sendiri tetapi juga orang lain, masa sekarang atau masa yang akan datang. Berangkat dari hal itulah saya ingin menjadi seorang penulis profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Ibnu Sina, Syeck Abdul khodir Jaelani, Syeck Nawawi, Aristoteles, Plato, Shakespear, Empu Sutasoma,  Ki Hajar Dewantara, R.A. Kartini, Budi Utomo, Muhammad Hatta, Khairil Anwar,Pramoedia Anantatoer. Mereka adalah orang-orang yang namanya tertulis abadi dalam tinta emas sejarah, meskipun orang-orang tersebut sudah tidak ada, tapi karyanya masih ada, abadi. Kenapa bisa abadi? Karena pikiran-pikiran jenius mereka diabadikan dalam suatu tulisan, dan berhasil membawa perubahan pada zamannya masing-masing dan bahkan menjadi rujukan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu menulis adalah budaya. Dengan menulis berarti kita melestarikan budaya. Mengutip pendapat koencaraningrat, wujud dari budaya tidak hanya dalam bentuk kongkret, seperti benda-benda peninggalan sejarah atau sebagainya tetapi juga dalam bentuk abstra, yakni activities atau kegiatan. Menulis adalah budaya bangsa. Kita tahu banyak peninggalan-peninggalan nenek moyang kita berupa tulisan atau karya-karya sastra tulis, seperti babad, mantra atau jenjawokan, primbon, gurindam, pribahasa dan sebagainya. Bukankah itu menggambarakan bahwa nenek moyang kita gemar menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;B. Upaya yang dilkukan untuk mejadi penulis profesional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menulis ada merekonstruksi apa yang ada di dalam otak kita kemudian dituangkan dalam media menjadi sebua tulisan. Apa yang akan kita tulis apabila data-data dalam microcip kita (otak) kita sangat minim. Mungkin bisa saja kita menulis walaupun pengetahuan kita sangat minim, tapi pasti tulisan kita tidak akan baik atau optimal. Jadi hal pertama yang saya lakukan adalah mengisi otak (microcip) saya dengan data-data yang diperlukan untuk menambah pengetahuan.  Dengan apa? Tentu salah satunya adalah dengan banyak membaca.  Jadi hal pertama yang saya lakukan adalah banyak membaca. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal yang kedua adalah meneguhkan hati. Kenapa? Karena sebagai penulis pemula tentu tulisan saya masih banyak kekurangannya. Hingga kita ragu atau takut untuk memublikasikan tulisan kita karena takut dikritik atau sebagainya. Andrea hirata pun awalnya bukan orang yang percaya diri untuk mengirimkan tulisan-tulisannya. Padahal setelah diterbitkan karya-karyanya adalah best seller.  Kritikan tidak sepenuhnya jelek, atau menjatuhkan. Kritikan kadang diperlukan untuk membangun. Namun tidak semua orang tahan kritik. Ada saja yang putus asa dan bahkan karena dikritik menjadi berhenti menulis. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk kegiatan sehar-hari, saya akan terus belajar menulis dan membaca buku-buku tentang kiat-kiat menulis yang baik. Menanamkan dalam hati untuk dapat menulis setiap hari, sedikit apapun tulisan saya baik berupa tulisan fiksi ataupun non fiksi. Disamping itu, tentu saja saya juga perlu banyak bertanya kepada orang-orang yang memang sudah berkompeten dalam bidang jurnalistik, dan membaca tulisan fiksi atapun non fiksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam satu minggu saya akan berusaha membuat minimal tiga tulisan yang diproyeksikan untuk dikirimkan ke media massa. Memang bukan ukuran suatu tulisan itu dianggap baik jika sudah ditebitkan di media masa, tapi hal ini juga untuk menjaga konsistensi saya dan menambah semangat saya. Tentu saya akan lebih senang jika tulisan-tulisan saya semakin banyak dibaca oleh publik dan mudah mudahan dapat bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Adapun untuk kegiatan tiap bulan, kami yang tergabung dalam Perhimpunan Anak Sastra Nondik A selalu mengadakan acara bedah buku. Tentu hal itu sangat bermanfaat tidak hanya manambah pengetahuan kami, akan tetapi juga membuat kami saling beradu argumen. Tak jarang dari perdebatan itu kami mendapatkan inspirasi untuk membuat sebuah tulisan.&lt;span class="fullpost"&gt;C. Penulis Idola &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penulis idola saya adalah goenawan Moehammad. Kenapa? Sebenarnya banyak alasan kenapa saya mengidolakan Goenawan Moehammad, akan tetapi karena dalam tugas handout dasar-dasar jurnalistik ini di batasi hanya dalam satu paragraf saja, maka saya akan menjabarkan garis-garis besarnya saja atau yang lebih umum saja. Goenawan muhammad adalah orang yang sangat idealis, maka tak heran jika tulisan-tulisannya bertemakan kehidupan sosial dan politik. Disamping tulisannya sangat kritis, lugas, padat, tajam, tulisanya juga sangat tepat membidik perasaan pembaca, bahkan terkadang saya merinding membaca tulisan-tulisannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-2218547017641024479?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/2218547017641024479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/06/tugas-handout-1_04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2218547017641024479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2218547017641024479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/06/tugas-handout-1_04.html' title='TUGAS HANDOUT  1'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-6801487014809601222</id><published>2009-05-06T11:38:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T05:20:49.457-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tugas Handout Dasar-dasar Jurnalistik'/><title type='text'>TUGAS HANDOUT  4</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;UJIAN NASIONAL DAN  SEJARAH&lt;br /&gt;Oleh Al-Mauki Solihin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Banyak pengamat yang mengkiritsi sistem Ujian Nasional (UN), bahkan ada yang ekstem mengatakan UN hanya sebuah guyonan. Guyonan yang tentu terlalu mahal dan sangat tidak perlu untuk lontarkan. Karena dari segi materi dana yang dikeluarkan untuk UN sangat besar. Belum lagi dari sisi non materi, hal ini menyangkut masa depan generasi bangsa. Hujan Kritik pun dijatuhkan bertubi-tubi pada Departemen Pendikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pelaksanaannya sistem ini tidak berjalan dengan baik, atau bahkan bisa dibilang amburadul. Nilai standar kelulusan siswa seharusnya menjadi tolak ukur, sejauh mana pihak terkait telah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara benar telah menjadi klise.&lt;br /&gt;Kecurangan demi kecurang ternyata menyeruak dalam pelaksanaanya. Ujian nasional telah menjadi momok yang tidak hanya mengerogoti kejururan siswa, tetapi juga kepala sekolah, guru, orang tua dan dinas pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kejujuran adalah investasi yang sangat berharga bagi generasi bangsa, yang kelak menjadi calon pemimpin bangsa. Bukankah pemimpin yang jujur adalah dambaan setiap masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celaknya lagi mutu pendidikan setelah diberlakukan UN menurun.  Dalam laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bidang pendidikan, United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), Kamis (29/11/07). Menunjukkan peringkat Indonesia turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. Bahkan negara tetangga kita yang dulu berkiblat pada kita mutu pendidikannya lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas jika para pengamat meragukan sistem pendidikan yang sekarang diterapkan. apakah hasil nilai UN pantas dijadikan standar mutu pedidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenaranya polemik ujian nasional bukanlah hal baru. Polemik ini terjadi dari pertama pertama kali sistem ini diberlakukan. Pro dan kontra terjadi. Banyak pihak yang menolak sistem ini dengan berbagai argumen.Diantara yang menolak beralasan bahwa bangsa kita belum siap untuk menjalankan sistem ini. Karena belum meratanya akses pendidikan, kesejahteraan guru, perbaikan gedung sekolah, pembiayaan pendidikan  dan seabreg lainnya permasalahan pendidikan lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hal ini seharusnya menjadi cerminan bagi kita untuk introspeksi. Kanapa hal ini bisa terjadi? Salah satu hal kenapa hal ini bisa terjadi adalah karena kita bukanlah bangsa yang menghargai sejarah. Mungkin para bapak bangsa akan menangis melihat carut marutnya bangsanya saat ini. Carut marut karena bangsanya tidak pernah belajar dari perlanan hidup para pahlawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakah kita belajar dari Sukarno, Hata, Syahrir. Mereka adalah bapak bangsa yang tidak hanya membebaskan kita dari belenggung penjajah, tetapi juga belenggu kebodohan. Apakah keadaan sosial politik ekonomi daat itu lebih baik dari sekarang? Apak infastruktur atau SDM dahulu lebih baik dari sekarang? Saya rasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kenapa mereka tercatat tidak hanya sebagai orang-orang yang tidak hanya berani tetapi juga cerdas? Jawabannya hanya satu, yakni mereka gila membaca. Mereka tidak pernah lepas dari yang namanya membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu sejarah mencatat sosok Bung Hatta adalah penggila berat buku. Kemana pun beliau pergi buku selalu menyertainya, termasuk ke pembuangan sekalipun. Pada waktu mau di buang ke Boven Digul, beliau meminta izin selama tiga hari kepada petugas untuk mengapak dulu buku-bukunya yang akan di pengasingan. Tidakah itu menjadi bukti kecintaan Bung Hatta dalam membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu Bung Hatta juga adalah sosok yang sangat disiplin. Kegiatannya sehari-hari terprogram dengan rapih, yang seharusnya menjadi contoh bagi kita semua. Begaimana kedisiplinan juga salah satu faktor penentu sebuah keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu sekolah di Dehag Bung Hatta membaca buku-buku mengenai mata pelajaran pada malam hari. Buku-buku lainnya, buku roman dan buku lainnya dibaca hari sesudah pukul 16.00 atau 16.30. Pada pukul 7 malam beliau mulai belajar di kamarku sampai jam 12 tengah malam. Kadang-kadang aku bekerja sampai pukul 2 tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sesungguhnya salah satu warisan beliau yang paling berharga bagi bangsa Indonesia: membaca. Sebagian besar catatan hidup Bung Hatta adalah membaca. Seharusnya hal ini menjadi contoh bagi kita sebagai anak bangsa, namun sayangnya minat membaca bangsa kita sangat rendah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-6801487014809601222?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/6801487014809601222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/05/sejarah-dan-ujian-nasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6801487014809601222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6801487014809601222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/05/sejarah-dan-ujian-nasional.html' title='TUGAS HANDOUT  4'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-2559377827073116603</id><published>2009-02-26T00:43:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T00:55:25.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sajak W.S. Rendra</title><content type='html'>SAJAK MATAHARI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari bangkit dari sanubariku.&lt;br /&gt;Menyentuh permukaan samodra raya.&lt;br /&gt;Matahari keluar dari mulutku,&lt;br /&gt;menjadi pelangi di cakrawala.&lt;br /&gt;Wajahmu keluar dari jidatku,&lt;br /&gt;wahai kamu, wanita miskin !&lt;br /&gt;kakimu terbenam di dalam lumpur.&lt;br /&gt;Kamu harapkan beras seperempat gantang,&lt;br /&gt;dan di tengah sawah tuan tanah menanammu !&lt;br /&gt;Satu juta lelaki gundul&lt;br /&gt;keluar dari hutan belantara,&lt;br /&gt;tubuh mereka terbalut lumpur&lt;br /&gt;dan kepala mereka berkilatan a&lt;br /&gt;memantulkan cahaya matahari.&lt;br /&gt;Mata mereka menyala&lt;br /&gt;tubuh mereka menjadi bara&lt;br /&gt;dan mereka membakar dunia.&lt;br /&gt;Matahri adalah cakra jingga&lt;br /&gt;yang dilepas tangan Sang Krishna.&lt;br /&gt;Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,&lt;br /&gt;ya, umat manusia !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogya, 5 Maret 1976&lt;br /&gt;Potret Pembangunan dalam Puisi&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAJAK PULAU BALI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab percaya akan keampuhan industri&lt;br /&gt;dan yakin bisa memupuk modal nasional&lt;br /&gt;dari kesenian dan keindahan alam,&lt;br /&gt;maka Bali menjadi obyek pariwisata.&lt;br /&gt;Betapapun :&lt;br /&gt;tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,&lt;br /&gt;Bali harus dibuka untuk pariwisata.&lt;br /&gt;Sebab :&lt;br /&gt;pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,&lt;br /&gt;dan maskapai penerbangan harus berjalan.&lt;br /&gt;Harus ada orang-orang untuk diangkut.&lt;br /&gt;Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.&lt;br /&gt;Dan waktu senggang manusia,&lt;br /&gt;serta masa berlibur untuk keluarga,&lt;br /&gt;harus bisa direbut oleh maskapai&lt;br /&gt;untuk diindustrikan.&lt;br /&gt;Dan Bali,&lt;br /&gt;dengan segenap kesenian,&lt;br /&gt;kebudayaan, dan alamnya,&lt;br /&gt;harus bisa diringkaskan,&lt;br /&gt;untuk dibungkus dalam kertas kado,&lt;br /&gt;dan disuguhkan pada pelancong.&lt;br /&gt;Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,&lt;br /&gt;di muka perkemahan kaum Badui,&lt;br /&gt;di sisi mana pun yang tak terduga,&lt;br /&gt;lebih mendadak dari mimpi,&lt;br /&gt;merupakan kejutan kebudayaan.&lt;br /&gt;Inilah satu kekuasaan baru.&lt;br /&gt;Begitu cepat hingga kita terkesiap.&lt;br /&gt;Begitu lihai sehingga kita terkesima.&lt;br /&gt;Dan sementara kita bengong,&lt;br /&gt;pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi,&lt;br /&gt;membawa bentuk kekuatan modalnya :&lt;br /&gt;lapangan terbang. “hotel - bistik - dan - coca cola”,&lt;br /&gt;jalan raya, dan para pelancong.&lt;br /&gt;“Oh, look, honey - dear !&lt;br /&gt;Lihat orang-orang pribumi itu!&lt;br /&gt;Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.&lt;br /&gt;Fantastic ! Kita harus memotretnya !&lt;br /&gt;................................&lt;br /&gt;Awas ! Jangan dijabat tangannya !&lt;br /&gt;senyum saja and say hello.&lt;br /&gt;You see, tangannya kotor&lt;br /&gt;Siapa tahu ada telor cacing di situ.&lt;br /&gt;…………………….&lt;br /&gt;My God, alangkah murninya mereka.&lt;br /&gt;Ia tidak menutupi teteknya !&lt;br /&gt;Look, John, ini benar-benar tetek.&lt;br /&gt;Lihat yang ini ! O, sempurna !&lt;br /&gt;Mereka bebas dan spontan.&lt;br /&gt;Aku ingin seperti mereka…..&lt;br /&gt;Eh, maksudku…..&lt;br /&gt;Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.&lt;br /&gt;Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.&lt;br /&gt;Look, now, John, jangan cemberut !&lt;br /&gt;Berdirilah di sampingnya,&lt;br /&gt;aku potret di sini.&lt;br /&gt;Ah ! Fabolous !”&lt;br /&gt;Dan Bank Dunia&lt;br /&gt;selalu tertarik membantu negara miskin&lt;br /&gt;untuk membuat proyek raksasa.&lt;br /&gt;Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.&lt;br /&gt;Dan kemajuan kita&lt;br /&gt;adalah kemajuan budak&lt;br /&gt;atau kemajuan penyalur dan pemakai.&lt;br /&gt;Maka di Bali&lt;br /&gt;hotel-hotel pribumi bangkrut&lt;br /&gt;digencet oleh packaged tour.&lt;br /&gt;Kebudayaan rakyat ternoda&lt;br /&gt;digencet standar dagang internasional.&lt;br /&gt;Tari-tarian bukan lagi satu mantra,&lt;br /&gt;tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.&lt;br /&gt;Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa,&lt;br /&gt;tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.&lt;br /&gt;Hidup dikuasai kehendak manusia,&lt;br /&gt;tanpa menyimak jalannya alam.&lt;br /&gt;Kekuasaan kemauan manusia,&lt;br /&gt;yang dilembagakan dengan kuat,&lt;br /&gt;tidak mengacuhkan naluri ginjal,&lt;br /&gt;hati, empedu, sungai, dan hutan.&lt;br /&gt;Di Bali :&lt;br /&gt;pantai, gunung, tempat tidur dan pura,&lt;br /&gt;telah dicemarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejambon, 23 Juni 1977.&lt;br /&gt;Potret Pembangunan dalam Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU TULIS PAMPLET INI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tulis pamplet ini&lt;br /&gt;karena lembaga pendapat umum&lt;br /&gt;ditutupi jaring labah-labah&lt;br /&gt;Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,&lt;br /&gt;dan ungkapan diri ditekan&lt;br /&gt;menjadi peng - iya - an&lt;br /&gt;Apa yang terpegang hari ini&lt;br /&gt;bisa luput besok pagi&lt;br /&gt;Ketidakpastian merajalela.&lt;br /&gt;Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki&lt;br /&gt;menjadi marabahaya&lt;br /&gt;menjadi isi kebon binatang&lt;br /&gt;Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,&lt;br /&gt;maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam&lt;br /&gt;Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.&lt;br /&gt;Tidak mengandung perdebatan&lt;br /&gt;Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan&lt;br /&gt;Aku tulis pamplet ini&lt;br /&gt;karena pamplet bukan tabu bagi penyair&lt;br /&gt;Aku inginkan merpati pos.&lt;br /&gt;Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku&lt;br /&gt;Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.&lt;br /&gt;Aku tidak melihat alasan&lt;br /&gt;kenapa harus diam tertekan dan termangu.&lt;br /&gt;Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.&lt;br /&gt;Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.&lt;br /&gt;Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?&lt;br /&gt;Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.&lt;br /&gt;Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.&lt;br /&gt;Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.&lt;br /&gt;Rembulan memberi mimpi pada dendam.&lt;br /&gt;Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah&lt;br /&gt;yang teronggok bagai sampah&lt;br /&gt;Kegamangan. Kecurigaan.&lt;br /&gt;Ketakutan.&lt;br /&gt;Kelesuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tulis pamplet ini&lt;br /&gt;karena kawan dan lawan adalah saudara&lt;br /&gt;Di dalam alam masih ada cahaya.&lt;br /&gt;Matahari yang tenggelam diganti rembulan.&lt;br /&gt;Lalu besok pagi pasti terbit kembali.&lt;br /&gt;Dan di dalam air lumpur kehidupan,&lt;br /&gt;aku melihat bagai terkaca :&lt;br /&gt;ternyata kita, toh, manusia !&lt;br /&gt;Pejambon Jakarta 27 April 1978&lt;br /&gt;Potret Pembangunan dalam Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-2559377827073116603?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/2559377827073116603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/sajak-ws-rendra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2559377827073116603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/2559377827073116603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/sajak-ws-rendra.html' title='Sajak W.S. Rendra'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-9199147674610648604</id><published>2009-02-26T00:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T03:10:16.550-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Bahasa dan Konteks Sosial</title><content type='html'>A. Keterkaitan bahasa dengan jenis kelamin (Gender)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aspek pembeda kebahasaan yang tidak selalu ada dalam bahasa, yaitu jenis kelamin, akan dibicarakan dalam materi ini. Menurut penelitian memang ada sejumlah masyarakat tutur pria berbeda dengan tutur wanita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam penelitian-linguistik kadang-kadang wanita tidak dipakai sebagai informan karena alasan-alasan tertentu. Multamia dan Basuki (1989)mengutip beberapa pandangan para pakar dialektologi “tradisional” tentang wanita yang akan dijadikan informan. Berkaitan dengan pengambilan responden /informan , Kurath (1939:43) mengemukakan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“…They should be male because in the Western nations women’s apeech tends to be more self-conscious and classconsious than men’s…”&lt;/span&gt; (… mereka, yaitu resonden, haruslah laki-laki karena dalam masyarakat barat tutur wanita itu cenderung lebih sadar-diri dan sadar-kelas dari pada tutur laki-laki…)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;B. Hubungan bahasa dengan jenis kelamin&lt;br /&gt;1. Gerak anggota badan dan ekspresi wajah&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan pria dan wanita itu mungkin tidak langsung menyangkut masalah bahasa atau strukturnya, melainkan hal-hal lain yang membarengi tutur. Hal-hal itu diantaranya gerak anggota badan (gesture) dan ekspresi wajah. Gesture adalah gerak anggota badan seperti kepala, tangan, jari yang menyertai tutur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai contoh tutur masyarakat Indonesia. kalau orang bertutur dan menyetujui atau membenarkan ucapan atau pendapat orang lain yang di ajak bicara, orang itu akan mengatakan, “ya”, dibarengi dengan anggukan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal ekspresi, di Indonesia wanita relatif lebih banyak “mempermainkan” bibir dan matanya dibandingkan dengan pria. Dalam bahasa Jawa ada sejumlah kata yang berkisar pada “permainan” mata atau bibir itu, yang mencerminkan ekspresi wajah dan banyak dikenakan pada wanita dari pada pria. Misalnya kalau jengkel, tidak berkenan, tersinggung, matanya akan mleruk (Jawa) atau mlerok (Jawa), sedangkan pria akan melotot&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;2. Suara dan intonasi&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang mengenal suara wanita dan pria karena secara umum bisa dikatakan volume suara pria relative lebih besar dari pada wanita. Dalam dunia seni suara kita kenal golongan suara pria dan wanita. Pada wanita misalnya ada suara alto dan sopran, pada pria ada suara tenor dam bas. Semua ini tentu berhubungan dengan organ-organ tubuh penghasil suara yang sedikit banyak berbeda pada pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita bisa melihat dalam intonasi, misalnya intonasi “memanjang”pada bagian akhir kalimat lebih banyak pada wanita. Dalam bahasa Indonesia kita kenal istilah “suara manja” yang khas pada wanita, atau aleman dalam bahasa Jawa, atau manying dalam bahasa Bali. Dalam dunia pewayangan kita mengenal gaya bicara Srikandi yang kenes dalam istilah Jawa (dengan intonasi turun naik cepat dan nyaring) di samping gaya bicara Sembadra yang lembut dan lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;3. Fenom sebagai ciri pembeda&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Vocal pada tutur wanita, dalam banyak logat atau ragam bahasa Inggris Amerika, telah ditemukan posisinya lebih “meminggir” atau “menepi” (lebih ke depad, ke belakang, lebih tinggi, atau lebih rendah) dibandingkan dengan vokal pria.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada dua fonem yang khusus untuk pria dan untuk wanita dalam bahasa Yukaghir, Asia Timur Laut. Keduanya dilafalkan sama oleh anak-anak. Lafal kanak-kanak ini sama dengan lafal yang dipakai oleh wanita dewasa dan berbeda pada wanita usia tua. Lafal pria dewasa berbeda dengan lafal pada waktu kanak-kanak mereka, dan berbeda pula ketika mereka sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Perkembangan ini dapat diskemakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kanak-kanak Dewasa Tua&lt;br /&gt;P : /tz/ , /dz/ /tj/ , /dj/ /cj/ , /jj/&lt;br /&gt;W : /tz/ , /dz/ /tz/ , /dz/ /cj/ , /jj/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tampak sekali pada gambar, bahwa wanita hanya sekali wajib mengubah lafalnya, yaitu dari masa dewasa ke masa usia tua, dan pria mengalami dua kali perubahan lafal fonem sepanjang peralihan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Ragam Bahasa Waria dan ”Gay”&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waria (singkatan dari wanita-pria) atau wadam (wanita adam atau Hawa-Adam) merujuk kepada orang yang secara biologis atau fisik berkelamin laki-laki tetapi berpenampilan (berpakaian dan berdandan) serta berperilaku seperti atau mengidentifikasikan diri sebagai perempuan. Gay (homoseks atau homo) merujuk kepada laki-laki yang menyukai sesama laki-laki secara emosional-seksual. Berikut uraian Dede Oetomo tentang bahasa mereka, yang sebenarnya termasuk “bahasa rahasia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dede Oetomo meneliti waria dan gay di Surabaya dan sekitarnya. Dede melihat waria biasanya merupakan kelas “bawah”, berasal dan beroperasi di kota kecil, sebagian “melacukan diri” di tempat-tempat tertentu dan sebagian lagi bekerja sebagai penata rambut dan sebagainya. Sesuai dengan kelas sosialnya, mereka lebih banyak ke bahasa jawa daripada bahasa indonesia. Bahasa mereka dapat ditinjau dari dua segi, yaitu (A) struktur pembentukan istilah dengan kaidah perubahan bunyi yang produktif dan teramalkan, dan (B) penciptaan istilah baru atau pemberian makna lain pada istilah umum yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada unsur (A) ada dua jenis pokok yaitu (A1) yang berdasarkan kata bahasa Jawa, dan (A2) yang berdasarkan kata-kata bahasa Indonesia. Unsur (A2) dapat dibedakan menjadi dua pula, yaitu (A2a) jenis kata-katanya berakhir dengan –ong dan (A2b) jenis kata-katanya yang berakhir dengan –s. kaum waria umumnya memakai A1, sedangkan gay memakai A1 maupun A2. jenis B dipakai oleh keduanya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Contoh A1:&lt;br /&gt;Banci  siban&lt;br /&gt;Lanang ‘laki-laki’  silan&lt;br /&gt;Payu ‘laku’  sipa&lt;br /&gt;Wedok ‘perempuan’  siwet&lt;br /&gt;Nyonya  sinyon&lt;br /&gt;Kaidah:&lt;br /&gt;ambil tiga bunyi pertama, konsonan (K) + vocal (V) + k&lt;br /&gt;tambah si di depan&lt;br /&gt;bunyi K-akhir disesuaikan dengan kaidah umum dalam bahasa Jawa: /y/ hilang, /ny/ menjadi /n/.&lt;br /&gt;Contoh A2:&lt;br /&gt;Banci  bencong&lt;br /&gt;Homo  hemong&lt;br /&gt;Maen ’bersetubuh’  meong&lt;br /&gt;Kaidah:&lt;br /&gt;ambil tiga bunyi pertama: atau dua, jika K2 tidak ada.&lt;br /&gt;Tambahkan –ong di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Keterkaitan Bahasa dan Usia&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usia merupakan salah satu rintangan sosial yang membedakan kelompok-kelompok manusia. Satu hal yang membedakan dialek sosial kelas buruh, atau dialek regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;a. Tutur Anak-Anak&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita dapat mengetahui dri penelitian Roger Brown dan Ursula Bellugi, yang disusutkan atau dihilangkan adalah kata-kata yang termasuk golongan fungtor atau kata tugas, seperti kata depan, kata sumbang, partikel, dan sebagainya. Fungtor adalah kata-kata yang tidak mempunyai arti sendiri dan biasanya hanya mempunyai fungsi gramatikal dalam sintaksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilihat dari ciri universal dalam tutur anak-anak ditinjau dari segi fonologi. Misalnya bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh gerak membuka dan menutupnya bibir yang biasa disebut bunyi bilabial, merupakan bunyi-bunyi yang sangat umum dihasilkan oleh anak-anak pada awal ujarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata yang biasanya dilatih oleh orang tua kepad anak-anaknya, yaitu: mik atau mimik ‘minum’ , maem ‘makan’ , bubuk ‘tidur’ ,eek ‘buang air besar’ , pipis ‘buang air kecil’ , pung atau pakpung ‘mandi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;b. Tutur Anak Usia SD&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tutur anak usia SD kebanyakan menggunakan bahasa ibu sendiri. Misalnya di Amerika anak-anak yang berbahasa-ibu bahasa Inggris diajar bahasa Inggris. Kebetulan anak ini berasal dari bahasa yang beragan bahasa baku, mereka tidak akan mengalami kesulitan. Tapi jika mereka berasal dari lingkungan nonbaku, mereka akan mengalami kesulitan.Dan yang kedua dengan menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa lain itu sebagai bahasa kedua (B2) atau bahasa Asing. Contohnya adalah anak-anak SD di Indonesia yang umumnya B1-nya bahasa daerah, kemudian memperoleh bahasa Indonesia, sebagai B2. pengajaran B2 ini yang menyebabkan munculnya kedwibahaswan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;c. Tutur Remaja&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa remaja mempunyai ciri antara lain petualangan, pengelompokan (klik), ”kenakalan”. Ciri ini tercermin dalam bahasa Indonesia, atau yang sering terjadi mereka sering mengeluarkan bahasa ”rahasia” yang hanya berlaku pada keLompok mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;penyisipan konsonan V + vokal&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum tahun 50 di kalangan remaja muncul kreasi menyisipkan konsonan v+vokal pada setiap kata yang dipakai. Vokal di belakang v itu sesuai dengan vokal suku kata yang disisipi. Konsonan v+vokal itu di tempatkan di belakang setiap suku kata , baik dalam bahasa daerah maupun BI.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Contoh:&lt;br /&gt;mavatava (ma + va) + (ta +va) Mata = ma +ta&lt;br /&gt;mavativi (ma +va) + (ti + vi ) Mati = ma + ti&lt;br /&gt;mavatavang. (ma + va) + (ta +va + ng) Matang = ma + tang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penggantian suku akhir dengan –sye&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang tahun 60 muncul bentuk lain, yang seluruh kata dalam kalimat diganti dengan cara ini dan diucapkan dengan cepat, maka seperti bahasa Cina.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Contoh:&lt;br /&gt;kunsyekunci&lt;br /&gt;tamsyetambah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membalik fenom-fenom dalam kata (ragam walikan)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa rahasia yang unik di kalngan remaja, disekitar tahun 1960 muncul di Malang, tetapi akhirnya juga meluas. Aturan umum dalam bahasa rahasia ini, dasarnya bisa bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Kata-kata ”dibaca” menurut urutan fonem daru belakang, dibaca terbalik (Jawa=walikan).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Mata  atam&lt;br /&gt;Sari  iras&lt;br /&gt;Tidak  kadit&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-9199147674610648604?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/9199147674610648604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/bahasa-dan-konteks-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/9199147674610648604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/9199147674610648604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/bahasa-dan-konteks-sosial.html' title='Bahasa dan Konteks Sosial'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-6040030947697431380</id><published>2009-02-26T00:22:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T00:59:16.289-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Emha Ainum Bajib</title><content type='html'>DARI BENTANGAN LANGIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bentangan langit yang semu&lt;br /&gt;Ia, kemarau itu, datang kepadamu&lt;br /&gt;Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang&lt;br /&gt;Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan&lt;br /&gt;menyapu hutan !&lt;br /&gt;Mengekal tanah berbongkahan !&lt;br /&gt;datang kepadamu, Ia, kemarau itu&lt;br /&gt;dari Tuhan, yang senantia diam&lt;br /&gt;dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa&lt;br /&gt;yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,&lt;br /&gt;1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTARA TIGA KOTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di yogya aku lelap tertidur&lt;br /&gt;angin di sisiku mendengkur&lt;br /&gt;seluruh kota pun bagai dalam kubur&lt;br /&gt;pohon-pohon semua mengantuk&lt;br /&gt;di sini kamu harus belajar berlatih&lt;br /&gt;tetap hidup sambil mengantuk&lt;br /&gt;kemanakah harus kuhadapkan muka&lt;br /&gt;agar seimbang antara tidur dan jaga ?&lt;br /&gt;Jakrta menghardik nasibku&lt;br /&gt;melecut menghantam pundakku&lt;br /&gt;tiada ruang bagi diamku&lt;br /&gt;matahari memelototiku&lt;br /&gt;bising suaranya mencampakkanku&lt;br /&gt;jatuh bergelut debu&lt;br /&gt;kemanakah harus juhadapkan muka&lt;br /&gt;agar seimbang antara tidur dan jaga&lt;br /&gt;surabaya seperti ditengahnya&lt;br /&gt;tak tidur seperti kerbau tua&lt;br /&gt;tak juga membelalakkan mata&lt;br /&gt;tetapi di sana ada kasihku&lt;br /&gt;yang hilang kembangnya&lt;br /&gt;jika aku mendekatinya&lt;br /&gt;kemanakah haru kuhadapkan muka&lt;br /&gt;agar seimbang antara tidur dan jaga ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,&lt;br /&gt;1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;BEGITU ENGKAU BERSUJUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang&lt;br /&gt;yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid&lt;br /&gt;Setiap kali engkau bersujud, setiap kali&lt;br /&gt;pula telah engkau dirikan masjid&lt;br /&gt;Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid&lt;br /&gt;telah kau bengun selama hidupmu?&lt;br /&gt;Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu&lt;br /&gt;meninggi, menembus langit, memasuki&lt;br /&gt;alam makrifat&lt;br /&gt;Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika&lt;br /&gt;bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud&lt;br /&gt;Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada&lt;br /&gt;ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan&lt;br /&gt;Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan&lt;br /&gt;ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang&lt;br /&gt;Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk&lt;br /&gt;cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara&lt;br /&gt;adzan&lt;br /&gt;Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid&lt;br /&gt;Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang&lt;br /&gt;Allah, engkaulah kiblat&lt;br /&gt;Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang&lt;br /&gt;didengar Allah, engkaulah tilawah suci&lt;br /&gt;Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai&lt;br /&gt;Allah, engkaulah ayatullah&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud,&lt;br /&gt;karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi&lt;br /&gt;dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud&lt;br /&gt;menjadilah engkau masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1987&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOA SEHELAI DAUN KERING&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Janganku suaraku, ya 'Aziz&lt;br /&gt;Sedangkan firmanMupun diabaikan&lt;br /&gt;Jangankan ucapanku, ya Qawiy&lt;br /&gt;Sedangkan ayatMupun disepelekan&lt;br /&gt;Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah&lt;br /&gt;Sedangkan kasih sayangMupun dibuang&lt;br /&gt;Jangankan sapaanku, ya Matin&lt;br /&gt;Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan&lt;br /&gt;Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka&lt;br /&gt;Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus&lt;br /&gt;Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka&lt;br /&gt;Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban&lt;br /&gt;Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati&lt;br /&gt;Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali&lt;br /&gt;Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti&lt;br /&gt;Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu&lt;br /&gt;Sedangkan IbrahimMu dibakar&lt;br /&gt;Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut&lt;br /&gt;Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian&lt;br /&gt;Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Jabbar Mutakabbir&lt;br /&gt;Engkau Maha Agung dan aku kerdil&lt;br /&gt;Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan&lt;br /&gt;Engkau Maha Kuat dan aku lemah&lt;br /&gt;Engkau Maha Kaya dan aku papa&lt;br /&gt;Engkau Maha Suci dan aku kumuh&lt;br /&gt;Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya&lt;br /&gt;Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar&lt;br /&gt;Rasul kekasihMu maíshum dan aku bergelimang hawaí&lt;br /&gt;Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab&lt;br /&gt;Wahai Mannan wahai Karim&lt;br /&gt;Wahai Fattah wahai Halim&lt;br /&gt;Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu&lt;br /&gt;Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu&lt;br /&gt;Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-6040030947697431380?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/6040030947697431380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-emha-ainum-bajib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6040030947697431380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6040030947697431380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-emha-ainum-bajib.html' title='Puisi Emha Ainum Bajib'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-1510280119952939033</id><published>2009-02-26T00:10:00.000-08:00</published><updated>2009-04-10T02:55:14.066-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Chairil Anwar</title><content type='html'>KRAWANG-BEKASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi&lt;br /&gt;tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.&lt;br /&gt;Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,&lt;br /&gt;terbayang kami maju dan mendegap hati ?&lt;br /&gt;Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi&lt;br /&gt;Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak&lt;br /&gt;Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.&lt;br /&gt;Kenang, kenanglah kami.&lt;br /&gt;Kami sudah coba apa yang kami bisa&lt;br /&gt;Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa&lt;br /&gt;Kami cuma tulang-tulang berserakan&lt;br /&gt;Tapi adalah kepunyaanmu&lt;br /&gt;Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan&lt;br /&gt;Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan&lt;br /&gt;atau tidak untuk apa-apa,&lt;br /&gt;Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata&lt;br /&gt;Kaulah sekarang yang berkata&lt;br /&gt;Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi&lt;br /&gt;Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak&lt;br /&gt;Kenang, kenanglah kami&lt;br /&gt;Teruskan, teruskan jiwa kami&lt;br /&gt;Menjaga Bung Karno&lt;br /&gt;menjaga Bung Hatta&lt;br /&gt;menjaga Bung Sjahrir&lt;br /&gt;Kami sekarang mayat&lt;br /&gt;Berikan kami arti&lt;br /&gt;Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian&lt;br /&gt;Kenang, kenanglah kami&lt;br /&gt;yang tinggal tulang-tulang diliputi debu&lt;br /&gt;Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(194&lt;br /&gt;Brawidjaja,&lt;br /&gt;Jilid 7, No 16,&lt;br /&gt;1957)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CINTAKU JAUH DI PULAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintaku jauh di pulau,&lt;br /&gt;gadis manis, sekarang iseng sendiri&lt;br /&gt;Perahu melancar, bulan memancar,&lt;br /&gt;di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.&lt;br /&gt;angin membantu, laut terang, tapi terasa&lt;br /&gt;aku tidak ‘kan sampai padanya.&lt;br /&gt;Di air yang tenang, di angin mendayu,&lt;br /&gt;di perasaan penghabisan segala melaju&lt;br /&gt;Ajal bertakhta, sambil berkata:&lt;br /&gt;“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”&lt;br /&gt;Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!&lt;br /&gt;Perahu yang bersama ‘kan merapuh!&lt;br /&gt;Mengapa Ajal memanggil dulu&lt;br /&gt;Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!&lt;br /&gt;Manisku jauh di pulau,&lt;br /&gt;kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1946&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAJURIT JAGA MALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?&lt;br /&gt;Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,&lt;br /&gt;bermata tajam&lt;br /&gt;Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya&lt;br /&gt;kepastian&lt;br /&gt;ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini&lt;br /&gt;Aku suka pada mereka yang berani hidup&lt;br /&gt;Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam&lt;br /&gt;Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……&lt;br /&gt;Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(194&lt;br /&gt;Siasat,&lt;br /&gt;Th III, No. 96&lt;br /&gt;1949)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai kelam&lt;br /&gt;belum buntu malam&lt;br /&gt;kami masih berjaga&lt;br /&gt;–Thermopylae?-&lt;br /&gt;- jagal tidak dikenal ? -&lt;br /&gt;tapi nanti&lt;br /&gt;sebelum siang membentang&lt;br /&gt;kami sudah tenggelam hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman Baru,&lt;br /&gt;No. 11-12&lt;br /&gt;20-30 Agustus 1957&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENJA DI PELABUHAN KECIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kali tidak ada yang mencari cinta&lt;br /&gt;di antara gudang, rumah tua, pada cerita&lt;br /&gt;tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut&lt;br /&gt;menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut&lt;br /&gt;Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang&lt;br /&gt;menyinggung muram, desir hari lari berenang&lt;br /&gt;menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak&lt;br /&gt;dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.&lt;br /&gt;Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan&lt;br /&gt;menyisir semenanjung, masih pengap harap&lt;br /&gt;sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan&lt;br /&gt;dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1946&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOA&lt;br /&gt;kepada pemeluk teguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;Dalam termangu&lt;br /&gt;Aku masih menyebut namamu&lt;br /&gt;Biar susah sungguh&lt;br /&gt;mengingat Kau penuh seluruh&lt;br /&gt;cayaMu panas suci&lt;br /&gt;tinggal kerdip lilin di kelam sunyi&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;aku hilang bentuk&lt;br /&gt;remuk&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;aku mengembara di negeri asing&lt;br /&gt;Tuhanku&lt;br /&gt;di pintuMu aku mengetuk&lt;br /&gt;aku tidak bisa berpaling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 November 1943&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAJAK PUTIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersandar pada tari warna pelangi&lt;br /&gt;Kau depanku bertudung sutra senja&lt;br /&gt;Di hitam matamu kembang mawar dan melati&lt;br /&gt;Harum rambutmu mengalun bergelut senda&lt;br /&gt;Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba&lt;br /&gt;Meriak muka air kolam jiwa&lt;br /&gt;Dan dalam dadaku memerdu lagu&lt;br /&gt;Menarik menari seluruh aku&lt;br /&gt;Hidup dari hidupku, pintu terbuka&lt;br /&gt;Selama matamu bagiku menengadah&lt;br /&gt;Selama kau darah mengalir dari luka&lt;br /&gt;Antara kita Mati datang tidak membelah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERIMAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kau kembali&lt;br /&gt;Dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;Aku masih tetap sendiri&lt;br /&gt;Kutahu kau bukan yang dulu lagi&lt;br /&gt;Bak kembang sari sudah terbagi&lt;br /&gt;Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kembali&lt;br /&gt;Untukku sendiri tapi&lt;br /&gt;Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 1943&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMPA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada sri&lt;br /&gt;Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.&lt;br /&gt;Lurus kaku pohonan. Tak bergerak&lt;br /&gt;Sampai ke puncak. Sepi memagut,&lt;br /&gt;Tak satu kuasa melepas-renggut&lt;br /&gt;Segala menanti. Menanti. Menanti.&lt;br /&gt;Sepi.&lt;br /&gt;Tambah ini menanti jadi mencekik&lt;br /&gt;Memberat-mencekung punda&lt;br /&gt;Sampai binasa segala. Belum apa-apa&lt;br /&gt;Udara bertuba. Setan bertempik&lt;br /&gt;Ini sepi terus ada. Dan menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji&lt;br /&gt;Aku sudah cukup lama dengan bicaramu&lt;br /&gt;dipanggang diatas apimu, digarami lautmu&lt;br /&gt;Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945&lt;br /&gt;Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu&lt;br /&gt;Aku sekarang api aku sekarang laut&lt;br /&gt;Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat&lt;br /&gt;Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar&lt;br /&gt;Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &amp;amp; berlabuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(194&lt;br /&gt;Liberty,&lt;br /&gt;Jilid 7, No 297,&lt;br /&gt;1954)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIPONEGORO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa pembangunan ini&lt;br /&gt;tuan hidup kembali&lt;br /&gt;Dan bara kagum menjadi api&lt;br /&gt;Di depan sekali tuan menanti&lt;br /&gt;Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.&lt;br /&gt;Pedang di kanan, keris di kiri&lt;br /&gt;Berselempang semangat yang tak bisa mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJU&lt;br /&gt;Ini barisan tak bergenderang-berpalu&lt;br /&gt;Kepercayaan tanda menyerbu.&lt;br /&gt;Sekali berarti&lt;br /&gt;Sudah itu mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJU&lt;br /&gt;Bagimu Negeri&lt;br /&gt;Menyediakan api.&lt;br /&gt;Punah di atas menghamba&lt;br /&gt;Binasa di atas ditindas&lt;br /&gt;Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai&lt;br /&gt;Jika hidup harus merasai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju&lt;br /&gt;Serbu&lt;br /&gt;Serang&lt;br /&gt;Terjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Februari 1943)&lt;br /&gt;Budaya,&lt;br /&gt;Th III, No. 8&lt;br /&gt;Agustus 1954&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU (SEMANGAT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;‘Ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt;Tidak juga kau&lt;br /&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;Aku tetap meradang menerjang&lt;br /&gt;Luka dan bisa kubawa berlari&lt;br /&gt;Berlari&lt;br /&gt;Hingga hilang pedih peri&lt;br /&gt;Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-1510280119952939033?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/1510280119952939033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-chairil-anwar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/1510280119952939033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/1510280119952939033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-chairil-anwar.html' title='Puisi Chairil Anwar'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-4435331640570503538</id><published>2009-02-25T23:06:00.002-08:00</published><updated>2009-11-23T03:05:11.710-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Sosiolinguistik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sumbangan Sosiolinguistik Terhadap&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengajaran Bahasa&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;A. Variabel dan pembelajaran Bahasa&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam proses belajar-mengajar bahasa ada sejumlah variabel, baik bersifat linguistik maupun yang bersifat nonlinguistik, yang dapat menentukan keberhasilan proses belajar mengajar itu. Variabel-variabel itu bukan merupakan hal yang terlepas dan berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan hal yang saling berhubungan, berkaitan, sehingga merupakan satu jaringan sistem.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keberhasilan belajar bahasa, yaitu yang disebut asas-asas belajar, yang dapat dikelompokkan menjadi asas-asas yang bersifat psikologis anak didik, dan yang bersifat materi linguistik. Asas-asas yang yang bersifat pskologis itu, antara lain adalah motivasi, pengalaman sendiri, keingintahuan, analisis sintesis dan pembedaan individual.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Motivasi lazim diartikan sebagai hal yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Maka untuk berhasilnya pengajaran bahasa, murid-murid sudah harus dibimbing agar memiliki dorongan untuk belajar. Jika mereka mempunyai dorongan untuk belajar. Tanpa adanya kemauan, tak mungkin tujuan belajar dapat dicapai. Jadi, sebelum proses belajar mengajar dimulai, atau sebelum berlanjut terlalu jauh, sudah seharusnya murid-murid diarahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengalaman sendiri atau apa yang dialami sendiri akan lebih menarik dan berkesan daripada mengetahui dari orang, karena pengetahuan atau keterangan yang didapat dan dialami sendiri akan lebih baik daripada hanya mendengar keterangan guru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keingintahuan merupakan kodrat manusia yang dapat menyebabkan manusia itu menjadi maju. Pada anak-anak usia sekolah rasa keingintahuan itu sangat besar. Rasa keingintahuan ini dapat dikembangkan dengan memberi kesempatan bertanya dengan meneliti apa saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan pembelajaran bahasa&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang yang belajar bahasa dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang belajar hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan adapula yang belajar de dengan berbagai tujuan khusus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan pendidikan bahasa itu harus dikaitkan dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan intitusional, lalu dikaitkan pula dengan status politis (nasional, daerah atau asing) bahasa yang dipelajari, dan kemudian dikaitkan pula dengan fungsi-fungsi bahasa yang diperlukan. Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran bahasa dengan baik, maka tujuan itu harus pula dikaitkan dengan status atau kedudukan bahasa itu secara nasional. Di Indonesia ada tiga macam bahasa dengan status yang berbeda, yaitu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;1. Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;2. Bahasa daerah&lt;br /&gt;3. Bahasa asing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Status bahasa indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa resmi negara . jadi bahasa Indonesia adalah bahasa yang harus digunakan dalam situasi resmi kenegaraan, dan bahasa yang harus digunakan penutur intrabangsa. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia harus menjadi salah satu identitas secara nasional. Bahasa daerah yaitu bahasa ibu atau bahasa pertama bagi sebagian besar rakyat indonesia, adalah bahasa yang dapat digunakan dalam interaksi intra suku, baik dalam situasi resmi maupun tidak bersifat kedaerahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor terakhir dalam menentukan tujuan pengajaran adalah fungsi-fungsi bahasa. Terutama adalah fungsi penalaran, fungsi interpersonal, dan fungsi kebudayaan. Yang dimaksud fungsi kebudayaan adalah bahwa bahasa itu dapat digunakan untuk berpikir secara baik. Yang dimaksud fungsi interpersonal, fungsi untuk berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, yaitu anggota masyarakat disekitarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan fungsi kebudayaan adalah fungsi bahasa untuk menerima dan mengungkap kebudayaan, termasuk mengenai bidang keilmuan dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun banyak pakar lain yang mengemukakan adanya berbagai fungsi bahasa lainnya, kiranya fungsi penalaran, fungsi interpersonal, dan fungsi kebudayaan atau pendidikan inilah yang harus secara intensif diberikan kepada siswa. Dengan menguasai ketiga fungsi ini, maka fungsi-fungsi lain akan dapat diketahui dan dikuasainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa-bahasa daerah tidak ada yang menjadi bahasa nasional, tetapi kelestariannya dijamin di dalam undang-undang dasar 1945. Bahasa daerah dapat digunakan dalam komunikasi intrasuku, baik dalam percakapan sehari-hari, maupun percakapan resmi kedaerahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kebijaksanaan pendidikan nasional yang kini di anut adalah bahwa bahasa daerah boleh digunakan sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar dari kelas satu sampai dengan kelas tiga, agar penerimaan bahan dasar dapat diterima dengan baik oleh murid-murid. Disamping itu bahasa daerah juga bisa diajarkan sebagai pelajaran di daerah-daerah merasa perlu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa asing di Indonesia mempunyai kedudukan sebagai bahasa yang perlu diketahui sebagai interaksi antar bangsa dan untuk menyerap ilmu dan teknologi yang banyak di tulis dalam bahasa asing. Oleh karena itu pendidikan atau pengajaran bahasa asing tidak perlu diberikan pada sekolah dasar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Label: Linguistik 0 komentar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-4435331640570503538?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/4435331640570503538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/sosiolinguistik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/4435331640570503538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/4435331640570503538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/sosiolinguistik.html' title='Sosiolinguistik'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-8805277328888597856</id><published>2009-02-21T00:16:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T02:56:33.607-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Muhammad Irsyad</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-7_InqNjI/AAAAAAAAAEg/zXOI_HC9FoU/s1600-h/IRSAD.JPG"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305165579385714226" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 127px; cursor: pointer; height: 95px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-7_InqNjI/AAAAAAAAAEg/zXOI_HC9FoU/s320/IRSAD.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Catatan Desember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Andai kau mengerti kerinduan pada matamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Telah mengajariku membaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;setiap lelehan hujan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menulis di daun-daun jatuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Juga telah berkali menjatuhkanku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada lubang sumur yang dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Meremukkan belulang menjadi serpihan huruf&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Yang selalu kuhamparkan padamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Yang entah kau letakkan dengan hati-hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Di meja kerjamu, atau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kau letakkan dalam perapian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bersama keriput kayu bakar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tak apa. Setidaknya puisiku pernah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menghangatkanmu di suatu malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Di bulan Desember yang beku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Setianawati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aku tak peduli lagi tubuhmu terbang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dibawa burung-burung ke selatan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;mencapai sunyi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Atau wajahmu dimakan ikan di permukaan sungai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Atau suaramu menjadi nafas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;bagi pohon-pohon pinus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aku tak mau lagi peduli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tapi sisakan matamu untukku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karena pada matamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kutemukan makna pulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-8805277328888597856?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/8805277328888597856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-muhammad-irsyad.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8805277328888597856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8805277328888597856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-muhammad-irsyad.html' title='Puisi Muhammad Irsyad'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-7_InqNjI/AAAAAAAAAEg/zXOI_HC9FoU/s72-c/IRSAD.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-8063157046324817020</id><published>2009-02-21T00:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T04:47:45.195-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sajak-sajak Irsyad</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah kemana aku akan pulang&lt;br /&gt;jika rumah yang ingin kutuju&lt;br /&gt;harus menutup pintunya&lt;br /&gt;untuk kudatangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sini, aku serupa barisan awan&lt;br /&gt;di mana ia berhenti mengalir&lt;br /&gt;sebab di langit tak ada muara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sajak malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau mengecup malam&lt;br /&gt;bagitu lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti ibu mengecup kening&lt;br /&gt;anaknya yang baru lahir&lt;br /&gt;setetes sunyi mengendap&lt;br /&gt;di dinding dan sudut kamar&lt;br /&gt;kau mengecup malam&lt;br /&gt;begitu liar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti sepasang burung&lt;br /&gt;sebelum menjatuhkan diri ke tanah&lt;br /&gt;tidurlah. jangan melihatku seperti itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;setelah parfum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: nur wafa&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;setelah parfum, apalagi yang memaksaku&lt;br /&gt;menulis semacam sajak&lt;br /&gt;sedang kata di atas daunan&lt;br /&gt;telah memudar&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;aroma tubuhmu kembali menari dalam ingatanku &lt;br /&gt;dilatari musik masa lalu&lt;br /&gt;ada api yang harus dinyalakan&lt;br /&gt;ada rindu yang mesti dipadamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;catatan subuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selalu ada rindu yang diam-diam&lt;br /&gt;sembunyi di balik rimbunan kata&lt;br /&gt;yang kutulis di batu-batu&lt;br /&gt;karena daunan telah habis memuat&lt;br /&gt;baris demi baris hujan yang kuletakkan&lt;br /&gt;di pintu kamarmu&lt;br /&gt;sebagai pengganti apa yang tak bisa kuucapkan&lt;br /&gt;atau sebagai ucapan selamat pagi:&lt;br /&gt;mengecup keningmu yang basah&lt;br /&gt;ketika matamu menatap cahaya pertama&lt;br /&gt;di belantara subuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ceritakan lagi padaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ceritakan lagi padaku tentang&lt;br /&gt;suatu malam yang membuatmu resah&lt;br /&gt;atau ceritakan padaku tentang&lt;br /&gt;laut-laut yang ingin kaudatangi&lt;br /&gt;sungguh, aku senang melihat tiga kerutan&lt;br /&gt;di sudut matamu ketika kau tertawa&lt;br /&gt;setelah kau ceritakan kelakuan kita di masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini, ketika tiga kerutan itu&lt;br /&gt;menjelma pagi&lt;br /&gt;aku selalu menunggu embun&lt;br /&gt;mengetuk jendela kamarku&lt;br /&gt;meninggalkan namamu yang kutulis&lt;br /&gt;di pagi-pagi lalu&lt;br /&gt;dan akan menghilang ketika&lt;br /&gt;cahaya pertama membias&lt;br /&gt;di atas gelas tehku&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dua pertanyaan untuk satu nama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika angin tak sanggup menggeraikan rambutku&lt;br /&gt;ketika aroma tanah dihujan pertama: nopember&lt;br /&gt;menggeliat seperti wangi subuh&lt;br /&gt;pucuk rumputan hanya sekejap menyimpan embun&lt;br /&gt;sungai tak lagi lengang&lt;br /&gt;cekikik gadis-gadis dan kecipak air&lt;br /&gt;terdengar lagi&lt;br /&gt;sekarang kau di mana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rimbun cahaya senja&lt;br /&gt;pertengahan nopember&lt;br /&gt;anak-anak riang bermain dibawa hujan&lt;br /&gt;paruh burung-burung kecil menyulam rumput kering&lt;br /&gt;lalu segera melaksanakan tugas alam&lt;br /&gt;beranak pinak sebanyak yang alam ingin&lt;br /&gt;apakah kau baik-baik saja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irsyad, lahir di Malangbong, Garut, 15 Nopember 1989. Mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Bergiat di ASAS-UPI.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam Pos Minggu, 10 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-8063157046324817020?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/8063157046324817020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/senja-jingga-detik-demi-detik-jarum-jam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8063157046324817020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/8063157046324817020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/senja-jingga-detik-demi-detik-jarum-jam.html' title='Sajak-sajak Irsyad'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7129181659989595703</id><published>2009-02-21T00:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T02:57:28.324-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Restu Mustikasari</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-8XuOgNSI/AAAAAAAAAEo/9u1OSaAk9Os/s1600-h/RESTU+MUSTIKA+SARI.JPG"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305166001797608738" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 95px; cursor: pointer; height: 119px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-8XuOgNSI/AAAAAAAAAEo/9u1OSaAk9Os/s320/RESTU+MUSTIKA+SARI.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;Saat waktuku setitik lagi di dunia ini&lt;br /&gt;Banyak harap yang aku ingin&lt;br /&gt;Beri aku kata kejujuran untuknya…&lt;br /&gt;Agar kelak ku pergi tinggalkannya..&lt;br /&gt;Tak ku tinggalkan kesedihanku padanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai cahaya surga-Mu…&lt;br /&gt;Berikan aku jalan tuk semua ini..&lt;br /&gt;Bantu aku menjawab semua kebingungannya karnaku…&lt;br /&gt;Kelak kepergianku nanti&lt;br /&gt;Ingin ku jawab semua tanyanya akanku…&lt;br /&gt;Tanpa kesedihan kokoh diantaranya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin ku lihat senyum indah itu….&lt;br /&gt;Terukir lagi dihatiku..&lt;br /&gt;Tuk ku bawa diwaktu-Nya nanti…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa&lt;br /&gt;Bandung, 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dinginnya malam…&lt;br /&gt;Mengajak ku merenung tentang dirimu,&lt;br /&gt;Tentang asa rindu akan dirimu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perahu di angan ku laju bebas…&lt;br /&gt;Membawa butir-butir kenangan indah bersama mu&lt;br /&gt;Terajut dalam cipta mimpi tidur ku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Lamunan&lt;br /&gt;Bandung, 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7129181659989595703?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7129181659989595703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-restu-mustikasari.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7129181659989595703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7129181659989595703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-restu-mustikasari.html' title='Puisi Restu Mustikasari'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-8XuOgNSI/AAAAAAAAAEo/9u1OSaAk9Os/s72-c/RESTU+MUSTIKA+SARI.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7691039931069348930</id><published>2009-02-20T23:56:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T04:06:30.046-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Bahasa dan Budaya</title><content type='html'>Telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis hanya ada pada manusia. Implementasinya manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan, sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu semua. Bahasa hidup di dalam masyarakat dan dipakai oleh warganya untuk berkomunikasi. Kelangsungan hidup sebuah bahasa sangat dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi dalam dan dialami penuturnya. Dengan kata lain, budaya yang ada di sekeliling bahasa tersebut akan ikut menentukan wajah dari bahasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Bahasa&lt;br /&gt;Istilah bahasa dalam bahasa Indonesia, sama dengan language, dalam bahasa Inggris, taal dalam bahasa Belanda, sprache dalam bahasa Jerman, lughatun dalam bahasa Arab dan bhasa dalam bahasa Sansekerta. Istilah-istilah tersebut, masing-masing mempunyai aspek tersendiri, sesuai dengan pemakainya, untuk menyebutkan suatu unsur kebudayaan yang mempunyai aspek yang sangat luas, sehingga merupakan konsep yang tidak mudah didefinisikan. Seperti yang diungkapkan oleh para ahli:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. menurut Sturtevent berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang sewenang-wenang, berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosial untuk kerjasama dan saling berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menurut Chomsky language is a set of sentences, each finite length and contructed out of a finite set of elements.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menurut Keraf, bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi definisi tentang bahasa yang dikemukakan oleh para ahli bahasa. Setiap batasan yang dikemukakan tersebut, pada umumnya memiliki konsep-konsep yang sama, meskipun terdapat perbedaaan dan penekanannya. Terlepas dari kemungkinan perbedaan tersebut, dapat disimpulkan sebagaimana dinyatakan Linda Thomas dan Shan Wareing dalam bukunya Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan bahwa salah satu cara dalam menelaah bahasa adalah dengan memandangnya sebagai cara sistematis untuk menggabungkan unit-unit kecil menjadi unit-unit yang lebih besar dengan tujuan komunikasi. Sebagai contoh, kita menggabungkan bunyi-bunyi bahasa (fonem) menjadi kata (butir leksikal) sesuai dengan aturan dari bahasa yang kita gunakan. Butir-butir leksikal ini kemudian digabungkan lagi untuk membuat struktur tata bahasa, sesuai dengan aturan-aturan sintaksis dalam bahasa.&lt;br /&gt;Dengan demikian bahasa merupakan ujaran yang diucapkan secara lisan, verbal secara arbitrer. Lambang, simbol, dan tanda-tanda yang digunakan dalam bahasa mengandung makna yang berkaitan dengan situasi hidup dan pengalaman nyata manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pengertian Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adapun Gooddenough sebagaimana disebutkan Mudjia Rahardjo dalam bukunya Relung-relung Bahasa mengatakan bahwa budaya suatu masyarakat adalah apa saja yang harus diketahui dan dipercayai seseorang sehingga dia bisa bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat, bahwa pengetahuan itu merupakan sesuatu yang harus dicari dan perilaku harus dipelajari dari orang lain bukan karena keturunan. Karena itu budaya merupakan “cara” yang harus dimiliki seseorang untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep ini kebudayaan dapat dimaknai sebagai fenomena material, sehingga pemaknaan kebudayaan lebih banyak dicermati sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat. Karenanya tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat akan terikat oleh kebudayaan yang terlihat wujudnya dalam berbagai pranata yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol bagi tingkah laku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Menurut Canadian Commision for UNESCO seperti yang dikutip oleh Nur Syam mengatakan kebudayaan adalah sebuah sistem nilai yang dinamik dari elemen-elemen pembelajaran yang berisi asumsi, kesepakatan, keyakinan dan aturan-aturan yang memperbolehkan anggota kelompok untuk berhubungan dengan yang lain serta mengadakan komunikasi dan membangun potensi kreatif mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi-definisi di atas dan pendapat para ahli lainnya dapat dikelompokkan menjadi 6 golongan menurut Abdul Chaer yaitu:&lt;br /&gt;1. Definisi deskriptif yakni definisi yang menerangkan pada unsur-unsur kebudayaan.&lt;br /&gt;2. Definisi historis yakni definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyarakatan.&lt;br /&gt;3. Definisi normatif yakni definisi yang menekankan hakekat kebuadayaan sebagai aturan hidup dan tingkah laku.&lt;br /&gt;4. Definisi psikologis yakni definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam menyesuaikan diri kepada lingkungan, pemecahan persoalan dan belajar hidup.&lt;br /&gt;5. Definisi sturktural definisi yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola teratur.&lt;br /&gt;6. Definisi genetik yang menekankan pada terjadinya kebudayaan sebagai hasil karya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial, oleh para anggota suatu masyarakat. Sehingga suatu kebudayaan bukanlah hanya akumulasi dari kebiasaan dan tata kelakuan tetapi suatu sistem perilaku yang terorganisasi. Dan kebudayaan melingkupi semua aspek dan segi kehidupan manusia, baik itu berupa produk material atau non material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, yang terdiri dari berbagai budaya, menjadikan perbedaan antar-kebudayaan, justru bermanfaat dalam mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut. Pluralisme masyarakat dalam tatanan sosial agama, dan suku bangsa telah ada sejak jaman nenek moyang, kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan secara damai merupakan kekayaan yang tak ternilai dalam khasanah budaya nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Hubungan Antara Bahasa Dan Budaya&lt;br /&gt;Ada berbagai teori mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Ada yang mengatakan bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga tidak dapat dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan, sehingga segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa. Sebaliknya, ada juga yang mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara berpikir manusia atau masyarakat penuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan.10 Namun pendapat lain ada yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya sama tinggi. Masinambouw menyebutkan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua sistem yang melekat pada manusia. Kalau kebudayaan itu adalah sistem yang mengatur interaksi manusia di dalam masyarakat, maka kebahasaan adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai sarana berlangsungnya interaksi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian hubungan bahasa dan kebudayaan seperti anak kembar siam, du buah fenomena sangat erat sekali bagaikan dua sisi mata uang, sisi yang satu sebagai sistem kebahasaan dan sisi yang lain sebagai sistem kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Fenomena Antara Bahasa Dan Budaya&lt;br /&gt;Bahasa bukan saja merupakan "property" yang ada dalam diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang di dalamnya terkandung makna. Dari sudut pandang wacana, makna tidak pernah bersifat absolut; selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu kepada tanda-tanda yang terdapat dalam kehidupan manusia yang di dalamnya ada budaya. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain.11 Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam air dan biasa dimakan sebagai lauk; dalam bahasa Inggris sepadan dengan fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Tetapi kata iwak dalam bahasa jawa bukan hanya berarti ikan atau fish. Melainkan juga berarti daging yang digunakan juga sebagai lauk (teman pemakan nasi). Malah semua lauk seperti tahu dan tempe sering juga disebut iwak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal ini bisa terjadi ? semua ini karena bahasa itu adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. Dalam budaya masyarakat inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah, dan padi. Karena itu, kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain berarti gabah dan pada konteks lain lagi berarti beras atau padi. Lalu karena makan nasi bukan merupakan budaya Inggris, maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyarakatnya tidak berbudaya makan nasi; tidak ada kata yang menyatakan lauk atau iwak (bahasa Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin: brother dan sister. Padahal budaya Indonesia membedakan berdasarkan usia: yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Maka itu brother dan sister dalam bahasa Inggris bisa berarti kakak dan bisa juga berarti adik.&lt;br /&gt;Fenomena lain, misalnya budaya inggris dan budaya Indonesia memandang waktu sehari semalam yang 24 jam itu. Pukul satu malam budaya Inggris mengatakan Good morning alias selamat pagi; padahal budaya Indonesia mengatakan selamat malam karena memang masih malam, matahari belum terbit. Sebaliknya pukul sebelas siang, buadaya barat masih juga mengatakan selamat pagi; padahal budaya Indonesia mengucapkan selamat siang karena memang hari sudah siang, matahari sudah tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalam bahasa yang penuturnya terdiri dari kelompok-kelompok yang mewakili latar belakang budaya, pandangan hidup dan status sosial yang berbeda, maka makna sebuah kata bisa menjadi berbeda atau memiliki nuansa makna yang berlainan. Umpamanya kata butuh dalam masyarakat Indonesia di Pulau Jawa berarti perlu, tetapi dalam masyarakat Indonesia di Kalimantan berarti kemaluan. Demikian pula dalam bahasa jawa terdapat tingkat tutur ngoko, tingkat tutur madya, tingkat tutur karma misalnya kata aku, kulo, dalem kawula atau kata kowe, sampeyan, panjenengan, paduka. Tingkat tutur ngoko memiliki makna rasa tak berjarak antara orang pertama dengan orang kedua misalnya. karma adalah tingkat yang memancarkan arti penuh sopan santun antara sang penutur dengan mitranya. Madya adalah tingkat tutur menengah yang berada antara ngoko dan karma. Banyak orang menyebut bahwa tingkat tutur ini setengah sopan dan setengah tidak sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bogor memanggil remaja lelaki dengan panggilan Neng sedangkan panggilan itu biasanya untuk anak perempuan atau wanita muda di Bandung. Sedangkan orang makassar dan Ambon menggunakan kata bunuh (yang tentu sinonimnya matikan) untuk listrik, lampu televisi dan radio. Seperti dalam kalimat “tolong bunuh lampunya”, sudah siang. Sementara itu kata bujur yang berarti pantat bagi orang Sunda, ternyata berarti “terima kasih” bagi orang Batak (Karo), dan “benar” bagi orang Kalimantan Selatan (Banjarmasin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga bahasa Arab yang mempunyai puluhan nama untuk buah kurma mulai dari yang masih di pohon, yang baru dipetik, sampai yang telah kering. Seperti الجرام kurma kering, الرطب kurma matang, الفاخز kurma yang tidak ada isinya, الدمال kurma busuk, dan التمر kurma.&lt;br /&gt;Begitu juga bahasa jawa sebagaimana disebutkan Abdul Wahab, yang ada kaitannya dengan kelapa. Dalam bahasa Jawa kita mengenal janur (daun muda kelapa), blarak (daun tua kelapa), sada (lidi atau tulang daun kelapa), plapah (tempat daun kelapa melekat), tebah (sekumpulan lidi untuk menghalau atau menangkap lalat atau nyamuk), manggar (srangkaian kuntum bunga kelapa), mandha (tunas kelapa), bluluk ( buah kelapa yang masih sangat muda dan belum berair), cengkir (buah kelapa muda bertulang tempurung lunak tapi belum berdaging), degan (buah kelapa muda yang sudah bedaging lunak), krambil (kelapa ang sudah tua dan dapat dipakai sebagai bahan minyak goreng), glugu (batang kelapa sebagai bahan bangunan).Uraian di atas menunjukan bahwa tak diragukan lagi bahwa budaya suatu bangsa tercermin dalam bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa keistimewaan bahasa tersebut dipakai suatu bangsa, atau daerah tertentu untuk membatasi cara-cara berpikir dan pandangan bangsa atau daerah yang bersangkutan terhadap fenomena tempat mereka hidup. Dengan demikian sususan bahasa dan keistimewaan lain yang dimiliknya merupakan faktor dasar bagaimana suatu masyarakat memandang hakikat alam dan tempat mereka berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pengaruh Budaya Terhadap Perubahan Bahasa&lt;br /&gt;Pengaruh budaya terhadap bahasa dewasa ini banyak kita saksikan. Banyak kata atau istilah baru yang dibentuk untuk menggantikan kata atau istilah lama yang sudah ada. Hal tersebut karena dianggap kurang tepat, tidak rasional, kurang halus, atau kurang ilmiah. Misalnya kata pariwisata untuk menggantikan turisme, kata wisatawan untuk menggantikan turis atau pelancong. Kata darmawisata untuk mengganti kata piknik; dan kata suku cadang untuk mengganti kata onderdil. Kata-kata turisme, turis dan onderdil dianggap tidak nasional. Karena itu perlu diganti yang bersifat nasional. Kata-kata kuli dan buruh diganti dengan karyawan, babu diganti dengan pembantu rumah tangga, dan kata pelayan diganti dengan pramuniaga, karena kata-kata tersebut dianggap berbau feodal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan kata penjara diganti dengan lembaga pemasyarakatan, kenaikan harga diganti dengan penyesuaian harga, gelandangan menjadi tuna wisma, pelacur menjadi tunasusila adalah karena kata-kata tersebut dianggap halus ; kurang sopan menurut pandangan norma sosial. Proses penggantian nama atau penyebutan baru masih terus akan berlangsung sesuai dengan perkembangan pandangan dan norma budaya di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga bahasa yang diplesetkan yang tidak lepas dari perkembangan pengetahuan, pertukaran budaya, dan kemajuan informasi sekarang ini. Sebagaimana Mansoer Pateda mengatakan bahwa bahasa yang diplesetkan sangat berhubungan erat dengan perkembangan pemakai bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kemauannya.16 Misalnya kata kepala diplesetkan menjadi kelapa, tolong diplesetkan menjadi lontong, reformasi diplesetkan menjadi repot nasi, partisipasi diplesetkan menjadi partisisapi. Begitu juga dalam kalimat misalnya I am going to school menjadi ayam goreng to school.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Kesimpulan&lt;br /&gt;Di dunia terdapat berbagai kelompok manusia dengan budaya dan subbudaya yang berbeda, tidak mengherankan bila terdapat kata-kata yang kebetulan sama atau hampir sama tetapi dimaknai secara berbeda, atau kata-kata yang berbeda namun dimaknai secara sama. Konsekuensinya, dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda boleh jadi mengalami kesalahpahaman ketika mereka menggunakan kata yang sama. Oleh karenanya suatu masyarakat bahasa, dituntut adanya kesamaan atau keseragaman bahasa di antara para anggotanya. Tanpa adanya keseragaman bahasa, hubungan sosial akan runtuh, sebab di antara anggota masyarakat itu tidak akan terjadi saling mengerti dalam berkomunkasi verbal. Seperti halnya Masyarakat Indonesia yang majemuk yang sangat kaya dengan berbagai macam bahasa daerah memiliki bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian disisi lain perbedaan ini justru berfungsi mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut. Pluralisme masyarakat, dalam tatanan sosial, agama dan suku bangsa, telah ada sejak nenek moyang, kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan, merupakan kekayaan dalam khasanah budaya Nasional, bila identitas budaya dapat bermakna dan dihormati, bukan untuk kebanggaan dan sifat egoisme kelompok, apalagi diwarnai kepentingan politik. Permasalahan silang budaya dan bahasa dapat terjembatani dengan membangun kehidupan multi kultural yang sehat; dilakukan dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya. Yang dapat diawali dengan pengenalan bahasa dan ciri khas budaya tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sebagai orang terpelajar harus bisa memposisikan diri dengan memperhatikan beberapa hal sebagaimana Mudjia Rahardjo katakan bahwa penggunaan bahasa akan terus berbeda tergantung pada situasi, yaitu apakah situasi itu publik atau pribadi, formal atau informal, dengan siapa kita bicara, dan siapa yang mungkin ikut mendengarkan kata-kata itu. Satu hal yang tak terpisahkan dari pilihan-pilihan yang kita buat dalam penggunaan bahasa yaitu dimensi budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7691039931069348930?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/7691039931069348930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/bahasa-dan-budaya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7691039931069348930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7691039931069348930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/bahasa-dan-budaya.html' title='Bahasa dan Budaya'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-3128218872955004492</id><published>2009-02-20T23:33:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T02:58:23.962-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Ike Ayuwandari</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-8oe6mjgI/AAAAAAAAAEw/CI54iDkOGqc/s1600-h/IKE+AYU+WANDARI+iii.JPG"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305166289745382914" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 95px; cursor: pointer; height: 150px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-8oe6mjgI/AAAAAAAAAEw/CI54iDkOGqc/s320/IKE+AYU+WANDARI+iii.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepada Jambi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinang itu menghujan di ujung batang&lt;br /&gt;Tak ada riuh juga rusuh&lt;br /&gt;Lagumu selalu melayu dihatiku&lt;br /&gt;Elok mengalun bersama langkah beribu mata&lt;br /&gt;Menggali beribu rindu bagiku&lt;br /&gt;Mata Batang Hari siap membayang di langit-langit senja&lt;br /&gt;Mengundang eloknya jemari sang bidadari&lt;br /&gt;Berenang dan menari sampai pagi&lt;br /&gt;Mengiring mata pada diriku kini&lt;br /&gt;Mengenang Jambi tempat ku berkaca&lt;br /&gt;Bahwa pinang itu adalah rupa,&lt;br /&gt;Lirih disapuan selendang Si Kapur Sirih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kutemukan Sajak Pada Matamu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ombak itu bergemuruh dalam matamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sayup-sayup angin kian menyusup lewat kabut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Membungkus sebatang rindu dengan sayap kupu-kupu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menjahit malam dengan ribuan jarum yang tergenggam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mataku melukis di matamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dengan mewahnya cahaya merah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sedang cahaya itu bercerita pada langit,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tentang malam yang mengalun perlahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Atau tentang panas sang kemarau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Di atas meja, sajakku makin liat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tersumpal ombak-ombak kata yang likat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Membaur bagai embun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menitikkan hujan dan merobek awan biru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Yang mengalir deras dalam denyut nadimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bandung, 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-3128218872955004492?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/3128218872955004492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-ike-ayuwandari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3128218872955004492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3128218872955004492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-ike-ayuwandari.html' title='Puisi Ike Ayuwandari'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-8oe6mjgI/AAAAAAAAAEw/CI54iDkOGqc/s72-c/IKE+AYU+WANDARI+iii.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-4978757144840102694</id><published>2009-02-20T23:24:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T02:04:53.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Ferdinan De J Saragih</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-863exMvI/AAAAAAAAAE4/jnaNS8QLnME/s1600-h/FERDINAN+ii.JPG"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305166605577171698" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 95px; cursor: pointer; height: 124px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-863exMvI/AAAAAAAAAE4/jnaNS8QLnME/s320/FERDINAN+ii.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Duka dan Bahagia&lt;br /&gt;;Tua Gatuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a&lt;br /&gt;Adakah terang setelah gelap Begitu pagi setelah&lt;br /&gt;Malam, dukaku terlalu berat&lt;br /&gt;Tak terjamah olehku&lt;br /&gt;Apakah lusa dukaku bahagia&lt;br /&gt;Embun itu telah beranjak dan berhenti menetes&lt;br /&gt;Dunianya telah berbeda, embun itu&lt;br /&gt;tak akan menetes lagi ucap mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah lama sadar akan manusia&lt;br /&gt;Mengimaninya layaknya Tuhan&lt;br /&gt;Kini iman itu lesu termakan duka&lt;br /&gt;Menyelimuti seluruh jiwa yang lama terbuka&lt;br /&gt;Semua telah terlambat saja&lt;br /&gt;Namun apakah sia-sia&lt;br /&gt;Jika aku menyerahkan bunga-bunga&lt;br /&gt;Kepada embun yang telah tiada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari Rantau buat Ayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Malam itu tertatih menuju dininya hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Berarti pagi telah mengantarkanmu kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kepada dongeng masa kecil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kusebut sebagai kelahiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tanpa tercatat ingatanmu lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dongeng itu lama terseret&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari beribu catatan tentang anakmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kau lupa ulang tahunmu ayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karenaku dan saudaraku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kau mampu menghilangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Segala makna yang sangat berarti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Adakah kau menangis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jangan kau cekam tangis itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Biarkan masa kecilmu dimulai lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari pagi itu, hingga malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Natal, 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-4978757144840102694?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/4978757144840102694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-ferdinand-dj-siragih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/4978757144840102694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/4978757144840102694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-ferdinand-dj-siragih.html' title='Puisi Ferdinan De J Saragih'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-863exMvI/AAAAAAAAAE4/jnaNS8QLnME/s72-c/FERDINAN+ii.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-6010814641131360964</id><published>2009-02-20T23:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T02:59:03.609-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Zaenal Mutaqin</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-9HSMn4pI/AAAAAAAAAFA/KFndO4YtDCg/s1600-h/AKIN.JPG"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305166818907251346" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 128px; cursor: pointer; height: 160px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-9HSMn4pI/AAAAAAAAAFA/KFndO4YtDCg/s320/AKIN.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;untuk Heni Fujianti&lt;br /&gt;:Sajak Cintaku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kuingat dulu, ketika kita sama-sama bertengkar&lt;br /&gt;dan sama-sama benci, ketika&lt;br /&gt;itu pula aku memiliki perasaan ini. Yang bangkit lagi&lt;br /&gt;dalam ¼ gelas kopi bekas temanku,&lt;br /&gt;yang kuminum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini,dalam malam perenungan ini, aku&lt;br /&gt;terjaga dari tidurku. Meski kantuk terus bergelanyut&lt;br /&gt;dalam kelopak mataku.&lt;br /&gt;Kutulis sajak ini dalam pahit kopi. Dan secangkir daging&lt;br /&gt;mentah.&lt;br /&gt;Yang nantinya kumasak bersama garam hati,&lt;br /&gt;bersamamu, Sayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang,&lt;br /&gt;¼ gelas kopi ini mengandung rindu&lt;br /&gt;yang dalam. Menyisakan pahit dalam lidah manis&lt;br /&gt;ini.Yang manis pula&lt;br /&gt;pada saat lidahku bertemu dengan lidahmu&lt;br /&gt;nanti.&lt;br /&gt;Teringatku, pada saatnya nanti. Aku duduk&lt;br /&gt;di Masjid itu membacakan janji hidup bersama. Dan&lt;br /&gt;menyulam rotan cinta bersama&lt;br /&gt;¼ kopi manis bekas lidahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 08 Desember 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;SUDUT HATI DALAM SEGITIGA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aku hilang redam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bercampur debu matahari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jalanan. Pasir, kerikil dan juga sampah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hilang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sudah. Aku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Coba untuk memahami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sudut sisi hatimu yang berada di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hatiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sehingga bau asamku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tak lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Seharum bau kasturi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Deret demi deret&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hati dalam segitiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kini mengadu kepadaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Cuma mengadu. Dan cukup mengadu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bandung, Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-6010814641131360964?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/6010814641131360964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-zaenal-mutaqin.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6010814641131360964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6010814641131360964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-zaenal-mutaqin.html' title='Puisi Zaenal Mutaqin'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ-9HSMn4pI/AAAAAAAAAFA/KFndO4YtDCg/s72-c/AKIN.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-373848885989757386</id><published>2009-02-20T23:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T03:14:05.047-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Proses Morfologis Bahasa Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Morfologis adalah bagian dari kajian morfoligi, yakni ilmu yang mempelajari mengenai bentuk kaidah bahasa. Adapun proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari kesatuan yang lain yang merupakan bentuk dasarnya ( Ramlan: 1979). Bentuk dasar sendiri bisa berupa kata, seperti kata "berjalan" yang dibentuk dari kata "jalan, kata "menulis" dibentuk dari kata "tulis," "gedung-gedung" dari kata "gedung." Mungkin juga berupa pokok kata, atau istilah lainnya prakatagorial, misalnya kata "bertemu" dari pokok kata "temu," kata "mengalir" dari kata "alir;" mungkin berupa frase, misalnya frase "ketidakadilan" dibentuk dari frase tidak "adil."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasaIndonesia terdapat tiga proses morfologis, yaitu :&lt;br /&gt;1. Proses pembubuhan afiks (afiksasi)&lt;br /&gt;2. Proses pengulangan (reduplikasi)&lt;br /&gt;3. Proses pemajemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disamping tiga proses morfologis diatas, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disebut dengan proses perubaan zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, yakni kata yang termasuk golongan kata verbal transitip, seperti : makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya adalah kata verbal transitif (kata verbal yang dapat diikuti oleh objek dan dapat diubah menjadi kata verbal pasif). Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Membeli =&gt; dibeli&lt;br /&gt;Memperbaiki =&gt; diperbaiki&lt;br /&gt;Makan =&gt; dimakan&lt;br /&gt;Minum =&gt; diminum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Poses Pembubuhan Afiks (Imbuhan)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afik ber- pada kata jalan menjadi berjalan. Pada sepeda menjadi bersepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Bentuk tunggal =&gt; terdiri dari satu morfem, misalnya : makan, minum.&lt;br /&gt;Bentuk kompleks =&gt; terdiri lebih dari satu morfem : rumah makan, berlari,.&lt;br /&gt;Kata berlari terdiri dari dua morfem yakni morfem [ber-] dan morfem [lari].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar disebut bentuk dasar, dalam contoh di atas kata jalan adalah bentuk dasar dari berjalan, kata sepeda adalah bentuk dasar dari kata bersepeda&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bentuk afiksasi yang salah!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak jarang kita mendengar dipungkiri, atau kata mempesona. Kata-kata tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi, artinya sering diucapkan. Tapi apakah kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia? Berikut sedikit pembahasan:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Fonem /N/ pada morfem meN berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutiya berawal /p,b,f/.&lt;br /&gt;Misalnya : meN + pesan =&gt; memesan&lt;br /&gt;meN + pukul =&gt; memukul&lt;br /&gt;meN + potong =&gt; memotong&lt;br /&gt;meN + Pesona =&gt; memesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi sudah jelas bahwa kata yang benar adalah memesona, bukan mempesona. Lalu bagimana dengan kata dipungkiri? Kata dipungkiri adalah bentuk yang salah. Dalam KBBI tidak ada kata dasar pungkir yang ada adalah mungkir jadi bentuk yang benar adalah dimungkiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;2. Proses Pengulangan (Reduplikasi)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan suatu gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan tersebut disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Misalnya kata ulang rumah-rumah dibentuk dari kata dasar rumah, kata ulang berjalan jalan dibentuk dari kata berjalan kata ulang bolak balik berasal dari kata balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi kita sering terkecoh dengan bentuk yang mirip dengan kata ulang, tetapi susunguhnya bukanlah kata ulang, jika dilihat dari tinjauan deskriptif. Misalnya kata-kata berikut: sia-sia, huru-hara, mondar-mandir. Kata-kata tersebut bukanlah kata ulang, karena sebenarnya tidak ada satuan atau kata dasar yang diulang. kata sia-sa bukan berasal dari kata dasar sia, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ada kata dasar sia, begitupun dengan kata huru-hara, dan kata mondar-mandir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;3. Proses Pemajemukan&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bahasa Idonesia kerap sekali ditemukan gabungan dua kata yang membentuk makan baru. Kata yang terjadi dari gabungan dua kata tersebut lazim disebut dengan kata mejemuk. Rumah sakit, meja makan, kepala batu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Cara Membedakan Antara Kata Menjemuk Dengan Yang Bukan Kata Mejemuk?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misalnya saya beri contoh kursi malas dengan adik malas. Mana diantara contoh tersebut yang merupakan kata mejemuk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilihat dari kategori pengolongan kata, kata kursi malas dan adik malas terdiri dari kata benda dan kata sifat. Artinya keduanya mempunyai kemungkinan sebagai klausa dan sebagai frase.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kursi malas sebagi klausa, tentu dapat diikuti dengan kata itu, misalnya menjadi *kursi itu malas, kata malas dapat diikuti dengan kata sangat,tidak agak, *kursi itu sangat malas,* kursi itu agak malas. Jelaslah bahwa semua itu tidak lazim. berbeda halnya dengan adik malas, dapat diperluas menjadi *adik yang malas, atau adik itu sangat malas. Jadi jelas kursi malas bukanlah klausa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kursi malas itu fase, tentu dapat disela dengan kata yang, misalnya pada contoh tadi; adik malas dapat disisipi kata yang menjadi adik yang malas. Sedangkan kursi yang malas tidak lazim atau tidak berterima, oleh karena itu maka kursi malas bukanlah frase melaikan kata majemuk.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-373848885989757386?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/373848885989757386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/proses-morfologis-bi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/373848885989757386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/373848885989757386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/proses-morfologis-bi.html' title='Proses Morfologis Bahasa Indonesia'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-6815250935706681695</id><published>2009-02-19T03:42:00.000-08:00</published><updated>2009-04-18T01:00:42.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Kajian Folklor Puisi Sawer</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ1I_VzcEnI/AAAAAAAAACo/ct0UlEfMW_U/s1600-h/kertas+kuno.jpg"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304476189134164594" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 103px; cursor: pointer; height: 135px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ1I_VzcEnI/AAAAAAAAACo/ct0UlEfMW_U/s320/kertas+kuno.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:78%;" &gt;Oleh Melda Martini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAB I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:78%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.1 Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan dituruntemurunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). Kesusastraan, baik lisan maupun tulisan adalah ‘dunia’ ciptaan pengarang dengan mempergunakan medium bahasa (Suripan, 1991:1-2).&lt;br /&gt;Sastra lisan di dalam masyarakat tradisional bersifat komunal, artinya, milik bersama. Demikian juga dengan folklor, menurut Dananjaja (1984:2) folklore adalah&lt;br /&gt;sebagai kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat/ alat pembantu pengingat (memornic device). Dalam masyarakat yang bersifat komunal, pencipta folklor itu tidak diketahui.&lt;br /&gt;Puisi lisan, khususnya puisi sawer pengantin, dalam masyarakat penuturnya juga merupakan sastra lisan yang turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka. Di dalam puisi sawer pengantin terdapat banyak sekali nasihat-nasihat dan doa-doa yang ditujukan untuk kedua mempelai pengantin yang akan memulai bahtera rumah tangga. Nasihat-nasihat itu tentunya sangat penting bagi kedua mempelai yang akan memulai bahtera rumah tangga mereka maupun untuk suami istri yang telah menikah. Oleh karena itu, puisi sawer juga merupakan salah satu hal yang penting dalam sebuah pesta pernikahan, selain sebagai sebuah hiburan.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kebudayaan tradisional, saweran dan puisi sawernya merupakan kebudayaan yang harus terus dijaga dan tetap dilestarikan keberadaannya. Apalagi ditengah zaman yang masyarakatnya semakin melupakan kebudayaan tradisional dan lebih memilih kebudayaan modern sebagai acuan. Itulah sedikit alasan kenapa penulis memilih objek puisi sawer panganten sebagai bahan penelitian.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang dibahas di dalam makalah ini antara lain:&lt;br /&gt;1.2.1 Bagaimana struktur teks puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi dalam pernikahan di Kampung Cijolang, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut?&lt;br /&gt;1.2.2 Bagaimana fungsi puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi dalam pernikahan di Kampung Cijolang, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut?&lt;br /&gt;1.2.3 Bagaimana konteks penuturan puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi dalam sebuah pernikahan di Kampung Cijolang, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut?&lt;br /&gt;1.2.4 Bagaimana proses penciptaan puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi dalam pernikahan di Kampung Cijolang, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:78%;" &gt; &lt;span class="fullpost" style="font-weight: bold;"&gt;ANALISIS STRUKTUR, KONTEKS PENUTURAN, PROSES PENCIPTAAN, DAN FUNGSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" class="fullpost" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1 Puisi Sawer Panganten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teks yang dianalisis merupakan teks puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi dalam sebuah pernikahan di Kampung Cijolang, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut. Puisi sawer ini sebenarnya terdiri atas 100 bait (padalisan), namun dalam makalah ini penulis hanya akan menganalisis dua bait awal puisi sawer tersebut yang saling berkaitan. Bahasa yang digunakan dalam puisi sawer tersebut adalah bahasa Sunda. Analisis ini akan mengacu pada analisis struktur, konteks penuturan, proses penciptaan, dan fungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1 Analisis Struktur Lagu Sawer&lt;/span&gt; Analisis struktur teks akan meliputi analisis : formula sintaksis, formula bunyi, formula irama, diksi, dan tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.1 Analisis Struktur Lagu Sawer Bait Pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teks asli bait 1 Teks Terjemahan bait 1&lt;br /&gt;(1) Bismillah da ngawitan Bismillah mengawali&lt;br /&gt;(2) mugi gusti nangtayungan semoga tuhan meridhoi&lt;br /&gt;(3) euis asep nu rendengan euis asep yang berdampingan&lt;br /&gt;(4) mugia kasalametan semoga keselamatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.1.1 Formula Sintaksis&lt;/span&gt; Puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi ini sebenarnya mempunyai 100 bait (padalisan), tapi di dalam makalah ini penulis hanya akan menganalisis dua bait awal dari 100 bait lagu sawer tersebut. Penulis akan menganalisis pada tataran sintaksis, terutama lebih menyangkut aspek fungsi, kategori, dan peran komponen teks dua bait puisi sawer tersebut.&lt;br /&gt;Kalimat pertama merupakan kalimat yang dibentuk dengan konstruksi S+P yang terdapat pada larik pertama /bismillah ngawitan/. Pada larik ini terdapat dua kata dan enam suku kata. Bismillah menempati fungsi subjek yang berkategori nomina dan menempati peran sebagai penderita. Sedangkan frasa da ngawitan berfungsi sebagai predikat yang berkategori kata verbal dan berperan sebagai perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis sintaksis Bismillah Da ngawitan&lt;br /&gt;Fungsi S P&lt;br /&gt;Kategori N V&lt;br /&gt;peran Penderita Perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.1 Analisis Sintaksis kalimat pertama. Dari tabel di atas terlihat bahwa kata bismillah merupakan subjek pada konstruksi kalimat pertama yang berkategori kata benda (nomina). Peran dari subjek ini adalah sebagai penderita karena merupakan jawaban dari pertanyaan apa yang predikat (ngawitan). Sedangkan fungsi predikat diduduki oleh frasa verbal da ngawitan yang memiliki peran sebagai perbuatan karena menunjukan perbuatan.&lt;br /&gt;Kalimat kedua pada bait pertama puisi sawer ini terdapat pada larik kedua yaitu /mugi gusti nangtayungan/. Kalimat tersebut terdiri atas tiga kata dan delapan suku kata. Sedangkan konstruksi kalimatnya adalah S+P untuk lebih jelas perhatikan table berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis sintaksis Mugi gusti Nangtayungan&lt;br /&gt;Fungsi S P&lt;br /&gt;Kategori N V&lt;br /&gt;peran Pelaku Perbuatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.2 Analisis Sintaksis kalimat kedua. Kalimat kedua memiliki konstruksi S+P. Fungsi subjek ditempati oleh frasa mugi gusti yang berkategori frasa nomina dan berperan sebagai pelaku karena subjek melakukan perbuatan yang dinyatakan fungsi predikat /nagtayungan/. Predikat sendiri menduduki kategori kata kerja (verba) dan mempunyai peran sebagai perbuatan karena menunjukkan hal yang dilakukan pelaku.&lt;br /&gt;Kalimat ketiga pada bait pertama terdapat pada larik ketiga yaitu /euis asep nu rendengan/. Konstruksinya yaitu S+P. Fungsi subjek diisi oleh frasa euis asep yang berkategori kata benda (nomina) dan berperan sebagai pelaku. Sedangkan frasa nu rendengan menempati fungsi predikat, berkategori frasa verba dan menempati peran sebagai perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis sintaksis Euis asep Nu rendengan&lt;br /&gt;Fungsi S P&lt;br /&gt;Kategori N V&lt;br /&gt;peran Pelaku Perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.3 Analisis Sintaksis kalimat ketiga. Konstruksi kalimatnya adalah S+P. Fungsi subjek diisi oleh frasa euis asep yang menempati kategori frasa nomina dan berperan sebagai pelaku karena subjek melakukan perbuatan yang dinyatakan fungsi predikat nu rendengan. Sedangkan fungsi predikatnya diisi olek frasa nu rendengan yang berkategori frasa verba dan berperan sebagai perbuatan karena menunjukan hal yang dilakukan oleh pelaku.&lt;br /&gt;Larik keempat merupakan sebuah frasa nomina yaitu /mugia kasalametan/. Terdapat dua kata dan delapan suku kata dalam kalimat itu. Fungsinya sebagai predikat. Kategorinya adalah frasa nomina dan menempati peran sebagai perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis sintaksis Mugia kasalametan&lt;br /&gt;Fungsi P&lt;br /&gt;Kategori N&lt;br /&gt;Peran Perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.4 Analisis Sintaksis kalimat keempat. Konstruksi kalimatnya adalah P. Fungsi predikat ini diisi oleh frasa mugia kasalametan yang menempati kategori frasa nomina dan berperan sebagai perbuatan karena menunjukkan hal yang dilakukan.&lt;br /&gt;2.1.1.1.2 Formula Bunyi&lt;br /&gt;Pada puisi sawer panganten yang dituturkan oleh Pak Dadi ini terdapat bunyi-bunyi vokal dominan yang dikombinasikan dengan konsonan-konsonan tertentu. Seperti pada bait pertama, bunyi vokal yang dominan adalah bunyi vokal /a/ yang dikombinasikan dengan bunyi konsonan lain.&lt;br /&gt;Vokal yang dominan muncul pada larik pertama bait pertama ini adalah vokal /i/ dan /a/. Vokal /i/ dikombinasikan dengan konsonan /b/ dan /m/ pada kata bismillah, dan konsonan /w/ pada kata ngawitan. Efek yang duhasilkan dari kombinasi tersebut adalah pengucapan yang agak berat dan meninggi. Vokal /a/ juga berkombinasi dengan beberapa konsonan, diantaranya konsonan /l/ pada kata /bismillah/, konsonan /d/ pada kata /da/, dan konsonan /t/ pada kata /ngawitan/. Efek yang ditimbulkan adalah pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;Vokal yang muncul pada larik kedua adalah vokal /u/, /i/ dan /a/. Vokal /u/ berkombinasi dengan konsonan /m/ pada kata /mugi/, dan konsonan /g/ pada kata /gusti/. Efek yang diciptakan adalah pengucapan yang berat. Vokal /i/ dikombinasikan dengan konsonan /g/ pada kata /mugi/ dan konsonan /t/ pada kata /gusti/, efek yang dihasilkan adalah pengucapan yang berat dan meninggi. Sedangkan vokal /a/ berkombinasi dengan konsonan /n/, konsonan /t/, dan diftong /ng/ pada kata /nangtayungan/. Efek yang dihasilkan adalah pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;Vokal yang dominan muncul pada larik ketiga adalah vokal /e/ yang berkombinasi dengan konsonan /s/ pada kata /asep/ dan konsonan /r/ pada kata /sasarengan/. Efek yang ditimbulkan adalah pengucapan yang ringan. Selain itu, dalam larik ketiga ini terdapat vokal /eu/ yang berkombinasi dengan vokal /i/ dan konsonan /s/ pada kata /euis/. Kombinasi ini menimbulkan efek pengucapan yang berat tapi rendah.&lt;br /&gt;Vokal yang dominan muncul pada larik keempat adalah vocal /a/ yang dikombinasikan dengan konsonan /g/ dan vokal /i/ pada kata /mugia/ dan konsonan /k/,/s/,/l/,/t/ pada kata /kasalametan/. Kombinasi ini menimbulkan efek pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;Berikut hasil analisis bunyi vokal dan konsonan yang terdapat pada bait pertama puisi sawer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Bunyi vokal Bunyi konsonan&lt;br /&gt;1. /i/, /a/ /b/, /s/, /m/, /l/, /d/, /ng/, /w/, /t/, /n/&lt;br /&gt;2. /u/, /i/, /a/ /m/, /g/, /t/, /n/, /ng/, /y/&lt;br /&gt;3. /eu/, /i/, /a/, /e/, /u/, /s/, /p/, /n/, /r/, /d/, /ng/&lt;br /&gt;4. /u/, /i/, /a/, /e/ /m/, /g/, /k/, /s/, /l/, /t/, /n/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Table 2.1.1.1.5 Bunyi vokal dan konsonan pada teks puisi sawer bait pertama. Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa bunyi konsonan yang paling dominan muncul pada bait pertama adalah bunyi vokal /i/ dan /a/. Hal ini terlihat dari munculnya vokal /i/ dan /a/ pada setiap larik pada bait pertama tersebut. Efek yang dihasilakn dari kombinasi tersebut adalah pengucapan yang ringan dan meninggi. Vokal /a/ dan /i/ yang mendominasi pada teks ini dapat memudahkan proses penghafalan karena bunyi-bunyi vokal tersebut merupakan formulasi bunyi yang menimbulkan efek ringan.&lt;br /&gt;Konsonan yang paling banyak muncul adalah konsonan /m/ dan diftong /ng/. Konsonan /m/ muncul dalam larik pertama yang berkombinasi dengan vokal /i/ pada kata /bismillah/. Efek yang dihasilkan adalah pengucapan yang terasa berat dan meninggi. Sedangkan diftong /ng/ berkombinasi dengan vokal /a/ pada kata /ngawitan/. Kombinasi tersebut menimbulkan efek pengucapan yang ringan. Konsonan /m/ yang muncul dalam larik kedua berkombinasi dengan vokal /u/, dan diftong /ng/ berkombinasi dengan vokal /a/ pada kata /nangtayungan/. Diftong /ng/ yang muncul pada larik ketiga berkombinasi dengan vokal /a/ pada kata /rendengan/. Konsonan /m/ yang muncul pada larik keempat dikombinasikan dengan vokal /u/ pada kata /mugia/ dan vokal /e/ pada kata /kasalametan/, sedangkan diftong /ng/ yang muncul dikombinasikan dengan vokal /a/ pada kata /rendengan/. Efek-efek yang ditimbulkan oleh kombinasi aliterasi dan vokal-vokal pada bait pertama ini menimbulkan efek pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.1.3 Formula Irama&lt;/span&gt; Irama yang dipakai dalam menuturkan lagu sawer sebenarny bersifat arbitrer (mana suka), maksudnya, penutur puisi sawer dapat menggunakan irama yang dia mau. Namun, puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi memiliki irama tertentu dalam menuturkannya. Dalam irama tersebut terdapat pergantian naik-turun, keras-lembut, dan panjang-pendek ucapan bunyi bahasa yang dituturkan secara teratur.dalam hal ini, agar lebih jelas, teks yang dianalisis diberi tanda (─) untuk menandai nada yang panjang, tanda (∩) untuk menandai nada pendek, dan tanda (≥) untuk menandai nada sedang.&lt;br /&gt;Berikut formulasi irama pada teks puisi sawer bait pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah da ngawitan ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ≥ ∩&lt;br /&gt;Mugi gusti nagtayungan ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩&lt;br /&gt;Euis asep nu rendengan ∩ ≥ ∩ ≥ ∩ ∩ ∩ ∩&lt;br /&gt;Mugia kasalametan ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Table 2.1.1.1.6 Formulasi irama pada teks puisi sawer bait pertama. Dari gambaran nada-nada di atas, dapat dilihat deskripsi yang lebih spesifik. Nada yang mayoritas digunakan pada teks ini adalah nada pendek (∩), hal itu terlihat dari letak tanda (∩) disemua larik pada bait pertama, sedangkan nada sedang (≥) hanya ada pada suku kedua terakhir di larik pertama dan pada larik ketiga suku kata kedua dan keempat. Tidak terdapat nada panjang (─) pada bait pertama. Tidak ada penekanan pada pelafalan suku kata bait pertama ini karena penutur menuturkan puisi sawer ini dengan nada yang relatif cepat, hal itu terlihat dari nada-nada pendek yang digunakan pada teks di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.2 Analisis Struktur Puisi Sawer Bait Kedua&lt;/span&gt; Teks asli bait 2 Teks terjemahan bait 2&lt;br /&gt;(1) Salamet nu pangantenan selamat yang menjadi pengantin&lt;br /&gt;(2) Ulah aya kakirangan jangan ada kekurangan&lt;br /&gt;(3) Jeung tiasa sasarengan dan bisa bersama-sama&lt;br /&gt;(4) Sangkan jadi bageur agar menjadi baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.2.1 Formula Sintaksis&lt;/span&gt; Bait kedua puisi sawer panganten ini dibentuk oleh satu kalimat yang terdiri dari beberapa klausa. Klausa pertama bait kedua merupakan klausa yang berkonstruksi P+O, letaknya ada pada larik pertama yaitu /salamet nu pangantenan/ yang terdiri atas tiga kata dan delapan suku kata. Fungsi predikat diisi oleh kata /salamet/ yang berkategori kata sifat dan berperan sebagai perbuatan. Fungsi objek diisi oleh frasa /nu rendengan/ yang berkategori frasa verbal dan berperan sebagai penderita.&lt;br /&gt;`&lt;br /&gt;Analisis sintaksis salamet nu rendengan&lt;br /&gt;Fungsi P O&lt;br /&gt;Kategori A V&lt;br /&gt;Peran Perbuatan Penderita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.7 Analisis sintaksis klausa pertama. Kata /salamet/ pada larik pertama ini merupakan predikat yang berkategori kata sifat dan berperan sebagai perbuatan karena merupakan jawaban dari apa yang objek (nu rendengan). Fungsi objek diisi oleh frasa nomina nu rendengan dan berperan sebagai penderita karena merupakan jawaban dari apa yang predikat (salamet).&lt;br /&gt;` Larik kedua /ulah aya kakirangan/ merupakan klausa yang berkonstruksi P+O. Terdiri atas tiga kata dan delapan suku kata. Fungsi predikat diisi oleh frasa /ulah aya/ yang berrkategori frasa verbal dan menempati peran sebagai perbuatan. Fungsi objek diisi oleh kata /kakirangan/ yang berkategori kata benda (nomina) dan berperan sebagai penderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis sintaksis Ulah aya Kakirangan&lt;br /&gt;Fungsi P O&lt;br /&gt;Kategori V N&lt;br /&gt;peran Perbuatan Penderita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.8 Analisis sintaksis klausa kedua. Frasa /ulah aya/ merupakan predikat yang berkategori frasa verbal dan berperan sebagai perbuatan. Sedangkan fungsi objek diisi olek kata /kakirangan/ yang berkategori kata benda dan menempati peran sebagai penderita karena merupakan jawaban dari apa yang predikat (ulah aya).&lt;br /&gt;Larik ketiga /jeung tiasa sasarengan/ merupakan klausa yang berhubungan dengan klausa pada larik kedua. Terdiri atas tiga kata dan delapan suku kata. Konstruksinya adalah Konj+P . Kata /jeung/ berfungsi sebagai konjungsi dan berperan sebagai penghubung. Fungsi predikat diisi oleh frasa /tiasa kakirangan/ yang berkategori frasa verbal dan menempati peran sebagai perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis sintaksis jeung Tiasa sasarengan&lt;br /&gt;Fungsi Konj. P&lt;br /&gt;Kategori - V&lt;br /&gt;Peran Penghubung Perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.9 Analisis sintaksis klausa ketiga. Kata ./jeung/ merupakan kata penghubung intra kalimat yang berfungsi sebagai kata penghubung antara klausa pada larik kedua /ulah aya kakirangan/ dengan klausa pada larik ketiga /jeung tiasa sasarengan/. Fungsi predikat diisi oleh frasa /tiasa sasarengan/ yang berkategori frasa verbal dan berperan sebagai perbuatan karena menunjukan hal ynag dilakukan oleh objek.&lt;br /&gt;Larik keempat /sangkan jadi bageur/ berkonstruksi P+O. Terdiri atas tiga kata dan enam suku kata. Fungsi predikat diisi frasa /sangkan jadi/ yang berkategori kata kerja (verba) dan berperan sebagai perbuatan. Fungsi objek diisi oleh kata /bageur/ yang berkategori kata sifat dan berperan sebagai penderita.&lt;br /&gt;`&lt;br /&gt;Analisis sintaksis sangkan jadi bageur&lt;br /&gt;Fungsi P O&lt;br /&gt;Kategori V A&lt;br /&gt;peran perbuatan penderita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.1.10 Analisis sintaksis klausa keempat. Frasa /sangkan tiasa/ merupakan frasa yang mengisi fungsi perdikat, berkategori frasa verbal dan menempati peran sebagai perbuatan. Sedangkan kata /bageur/ yang mnempati fungsi objek berkategori kata sifat dan berperan sebagai penderita karena merupakan jawaban dari apa yang predikat (sangkan jadi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.2.2 Formula Bunyi&lt;/span&gt; Pada bait kedua, bunyi vokal yang dominan pada bait kedua adalah bunyi /a/ yang berkombinasi dengan bunyi konsonan tertentu.&lt;br /&gt;Bunyi vokal yang banyak muncul pada larik pertama bait kedua adalah vokal /a/ yang dikombinasikan dengan konsonan /s/ dan /l/ pada kata /salamet/ dan konsonan /m/, /p/, /ng/, dan /n/ pada kata /pangantenan/. Efek yang ditimbulkan oleh kombinasi ini adalah pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;Vokal /a/ merupakan vokal yang banyak muncul pada larik kedua, vokal tersebut dikombinasikan dengan konsonan /l/ pada kata /ulah/, konsonan /y/ pada kata /aya/, dan konsonan /k/, /r/, dan /ng/ pada kata /kakirangan/. Efek yang dihasilkan adalah pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;Vokal yang dominan muncul pada larik ketiga adalah vokal /a/, vokal tersebut dikombiansikan dengan konsonan /s/ pada kata /tiasa/, juga konsonan /s/ dan /ng/ pada kata /sasarengan/. Kombinasi tersebut menghasilkan efek pengucapan ynag ringan.&lt;br /&gt;Vokal yang banyak muncul pada larik keempat adalah vokal /a/. vokal tersebut berkombinasi dengan ; konsonan /s/, /k/ pada kata /sangkan/, konsonan /j/ pada kata jadi/, dan konsonan /b/ pada kata bageur/. Efek yang dihasilkan adalah pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;Berikut hasil analisis bunyi vokal dan konsonan yang terdapat pada bait kedua puisi sawer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Bunyi vokal Bunyi konsonan&lt;br /&gt;1. /a/, /u/, /e/ /s/, /l/, /m/, /t/, /n/, /p/, /ng/&lt;br /&gt;2. /u/, /a/, /i/ /l/, /h/, /y/, /k/, /r/, /ng/, /n/&lt;br /&gt;3. /eu/, /i/, /a/, /e/ /j/, /ng/, /t/, /s/, /r/, /n/&lt;br /&gt;4. /a/, /i/, /eu/ /s/, /ng/, /k/, /j/, /d/, /b/, /g/, /r/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Table 2.1.1.1.11 Bunyi vokal dan konsonan pada teks puisi sawer bait kedua. Dapat dilihat dari tabel di atas, vokal yang dominan muncul pada bait kedua ini adalah vokal /a/. Hal ini terlihat dari dominannya bunyi vokal /a/ dalam setiap larik pada bait kedua puisi sawer tersebut dan menghasilkan efek pengucapan yang ringan.&lt;br /&gt;Konsonan yang paling banyak muncul dalam bait kedua ini adalah konsonan /n/. Pada larik pertama, konsonan /n/ berkombinasi dengan vokal /u/ pada kata /nu/ dan vokal /a/ pada kata /pangantenan/. Konsonan /n/ pada larik kedua berkombinasi dengan vokal /a/ pada kata /kakirangan/. Pada larik ketiga, konsonan /n/ dikombinasikan dengan vokal /a/ pada kata /sasarengan/, dan konsonan /n/ pada larik keempat berkombinasi dengan vokal /a/ pada kata /sangkan/. Aliterasi yang dominant muncul dalam bait kedua ini menimbulkan efek pengucapan yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.2.3 Formula Irama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikut formulasi irama pada teks puisi sawer bait kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salamet nu pangantenan ∩ ∩ ∩ ≥ ∩ ∩ ∩ ─&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulah aya kakirangan ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jeung tiasa sasarengan ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ≥&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sangkan jadi bageur ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ∩ ─&lt;/span&gt; Table 2.1.1.1.12 Formulasi irama pada teks puisi sawer bait kedua. Nada yang mayoritas digunakan dalam bait kedua ini adalah nada pendek. Seperti halnya pada bait pertama, nada (∩) terlihat disetiap larik pada bait kedua ini. Sedangkan nada sedang (≥) hanya terdapat pada beberapa suku kata, yaitu pada suku kata ketiga larik pertama dan suku kata terakhir larik ketiga. Begitu pun dengan nada panjang (─), nada panjang hanya terdapat pada suku kata terakhir larik pertama dan suku kata terakhir pada bait keempat. Tidak terdapat penekanan pelafalan suku kata pada bait kedua. Di dalam bait kedua ini hanya ada nada-nada panjang pada akhir suku kata larik pertama dan akhir suku kata larik keempat, nada-nada tersebut menandai kata-kata yang penting untuk diingat oleh kedua mempelai pengantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.3 Diksi&lt;/span&gt; Bahasa yang digunakan dalam teks puisi sawer panganten ini adalah bahasa Sunda. Bahasa Sunda yang dipakai bias dikategorikan sebagai bahasa Sunda yang biasa. Artinya, bahasa yang digunakan merupakan bahasa umum yang biasa digunakan sehari-hari dakam berkomunikasi. Seperti pada kata-kata ngawitan (mengawali), sasarengan (bersama-sama), bageur (baik), dan sebagainya.&lt;br /&gt;Bahasa Sunda yang dipakai dalam teks puisi sawer ini merupakan bahasa Sunda lembut (lemes), yaitu bahasa Sunda yang biasa digunakan dalam konteks resmi dengan tujuan agar maksud yang disampaikan terdengar sopan. Misalnya kata-kata ngawitan, nagtayungan, kakirangan, sasarengan, bageur, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam teks puisi sawer panganten ini digunakan bahasa Sunda ragam sedang. Maksudnya, ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa komunikasi yang dipakai oleh masyarakat luas. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah dal proses bertutur dan menyampaikan pesan yang terkandung dalam teks puisi sawer tersebut. Hal itu terlihat dari kalimat pada bait pertama berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salamet nu pangantenan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulah aya kakirangan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jeung tiasa sasarengan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sngkan jadi bageur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ragam bahasa yang digunakan pada bait kedua ini merupakan bahasa yang bukan bahasa kiasan. Artinya, teks puisi sawer ini bisa dipahami dengan mudah oleh semua orang yang mendengar puisi sawer tersebut.&lt;br /&gt;Meskipun bahasa yang digunakan bukan bahasa yang puitis, namun terlihat adanya bahasa yang lembut dan komunikatif. Apalagi pada kata-kata yang maknanya memohon jepada Tuhan, kelembutan itu sangat terasa. Misalnya pada bait pertama berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillah ngawitan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mugi gusti nangtayungan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Euis asep nu rendengan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mugia kasalametan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Larik pertama dan kedua merupakan permohonan pada Tuhan dengan harapan Tuhan meridhoi kedua mempelai pengantin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.1.4 Tema&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari puisi sawer ini pada dasarnya adalah memberi nasihat. Banyak nasihat yang terkandung dalam teks puisi sawer ini. Nasihat-nasihatnya berupa nasihat kepada kedua mempelai untuk menjadi keluarga yang baik (bahagia). Selain itu, banyak doa-doa yang disampaikan kepada kedua mempelai.&lt;br /&gt;Analisis tema menggunakan teori Isotopi. Berikut penjelasan isotopi-isotopi pada teks puisi sawer panganten bait pertama dan kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Isotopi Ketuhanan&lt;br /&gt;Kata/frasa yang termasuk isotopi ketuhanan intensitas Denotatif (D)&lt;br /&gt;Konotatif (K) Komponen makna bersama&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan Gaib Sifat&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillah 1x D/K + - +&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mugi gusti 1x D/K + - +&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nangtayungan 1x D/K + - +&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.5.1 Isotopi Ketuhanan. Tabel diatas menggambarkan kata-kata yang mewakili isotopi ketuhanan. Dilihat dari komponen makna bersama, terlihat makna Tuhan mendominasi daripada makna gaib. Hal ini terjadi karena puisi sawer ini berisi permohonan kepada Tuhan. Motif yang ditimbulkan oleh isotopi ini adalah deskripsi tentang pengaruh Tuhan yang sangat penting dalam puisi sawer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Isotopi Kekuatan&lt;br /&gt;Kata/frasa yang termasuk isotopi kekuatan intensitas Denotatif (D)&lt;br /&gt;Konotatif (K) Komponen makna bersama&lt;br /&gt;Tuhan Gaib Sifat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nangtayungan 1x D/K + - +&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.5.2 Isotopi Kekuatan. Hanya ada satu kata yang mewakili isotopi kekuatan. Makna yang terlihat adalah makna Tuhan yang menggambarkan bahwa Tuhan mempengaruhi puisi sawer ini, hingga Tuhan harus meridhoi pernikahan kedua mempelai. Motif yang ditimbulkan oleh isotopi ini adalah deskripsi tentang kekuatan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Isotopi Perbuatan&lt;br /&gt;Kata/frasa yang termasuk isotopi perbuatan intensitas Denotative (D)&lt;br /&gt;Konotatif (K) Komponen makna bersama&lt;br /&gt;Perintah Aktivitas Sifat&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngawitan 1x D + + +&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu rendengan 1x D/K + + +&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nagtayungan 1x D/K + + +&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salamet nu pangantenan 1x D - + +&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiasa sasarengan 1x D/K + + +&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.5.3 Isotopi perbuatan. Pada tabel diatas terlihat aktivitas yang mendominasi. Selain itu ada makna perintah dan makna sifat yang menggambarkan adanya aktivitas yang sifatnya perintah. Motif yang ditimbulkan oleh isotopi perbuatan ini adalah deskripsi yang berkaitan dengan aktivitas yang dideskripsikan dalam puisi sawer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Isotopi Perasaan&lt;br /&gt;Kata/frasa yang termasuk isotopi perasaan intensitas Denotative (D)&lt;br /&gt;Konotatif (K) Komponen makna bersama&lt;br /&gt;Senang bahagia Sedih&lt;br /&gt;Bageur 1x D/K + + -&lt;br /&gt;salamet 1x D/K + + -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.5.4 Isotopi Perasaan. Hanya ada dua komponen yang termasuk isotopi perasaan, yaitu bageur dan salamet.kata-kata tersebut bisa bermakna senang dan bahagia, namun tidak sedih. Hal tersebut menunjukan bahwa dalam teks puisi sawer ini terkandung harapan-harapan yang berhubungan dengan kebaikan dan keselamatan kedua mempelai pengantin. Motif dari isotopi ini adalah gambaran mengenai harapan manusia (pengantin) yang dideskripsikan dalam puisi sawer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Isotopi Manusia&lt;br /&gt;Kata/frasa yang termasuk isotopi manusia intensitas Denotative (D)&lt;br /&gt;Konotatif (K) Komponen makna bersama&lt;br /&gt;Tubuh berakal aktivitas&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Euis asep 1x D/K + + -&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu rendengan 1x D/K + + +&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nu pngantenan 1x D/K + + +&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1.1.5.5 Isotopi manusia. Ada tiga frasa yang masuk ke dalam isotopi manusia ini. Komponen bersamanyaadalah tubuh, berakal, dan aktivitas. Semua komponen makna tersebut bias dikatakan seimbang mengisi komponen makna isotopi manusia. Hal tersebut menunujukan bahwa puisi sawer ini berisi harapan-harapan bagi manusia yang akan memulai kehidupan rumah tangga kedua mempelai. Motif dari isotopi manusia ini adalah deskripsi manusia sesuai dengan aktivitasnya yang dideskripsikan dalam puisi sawer ini.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, berikut adalah bagan dari analisis isotopi-isotopi yang membentuk motif-motif sehingga membentuk tema dari teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.2 Konteks Penuturan Puisi Sawer Panganten&lt;/span&gt; Ketika menganalisis puisi sawer, maka akan sangat berkaitan dengan penutur, petutur, waktu penuturan, dan bilamana puisi sawer tersebut dituturkan.&lt;br /&gt;Puisi sawer yang dianalisis oleh penulis adalah puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi dalam sebuah pernikahan di Kampung Cijolang, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut, pada hari Sabtu, tanggal 6 Desember 2008. Pak Dadi adalah seorang tukang sawer yang sering diminta jasanya untuk menyawer pengantin dalam beberapa pernikahan. Beliau merupakan salah satu tukang sawer laki-laki yang sangat berkompeten dan berpengalaman. Hal itu terlihat dari cara beliau menuturkan kidung dan puisi sawer tanpa melihat teks.&lt;br /&gt;Petutur yang biasa menjadi audiens dalam sebuah pernikahan adalah masyarakat sekitar tempat pernikahan, para tamu undangan, dan keluarga kedua mempelai pengantin. Yang menjadi petutur dalam saweran yang dilaksanakan pada tanggal 6 Desember ini, adalah masyarakat sekitar tempat pernikahan, khususnya anak-anak kecil dan ibu-ibu, dan keluarga kedua mempelai pengantin. Para tamu undangan tidak menyaksikan saweran tersebut karena mereka berada di tempat tamu undangan yang telah disediakan oleh panitia, sedangkan sawerannya dilaksanakan di depan mesjid tempat berlangsungnya akad nikah. Kedua keluarga mempelai pengantin bertugas untuk menyawer (melemparkan uang, beras, dan permen) kepada para petutur.&lt;br /&gt;Pada awal saweran, penutur puisi sawer membacakan doa-doa dan harapan-harapan bagi kedua mempelai, setelah itu, beliau menuturkan kidung terlebih dahulu, kemudian setelah itu puisi sawer dituturkan sebagai penutup. Karena permintaan dari kedua keluarga mempelai untuk mengakhiri saweran, maka sebelum puisi sawer dituturkan seluruhnya, saweran tersebut pun dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.3 Proses Penciptaan Puisi Sawer Panganten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut bagan proses penciptaan puisi sawer panganten :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Guru sawer - Tukang sawer - Petutur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagan 2.1.3 Proses penciptaan puisi sawer panganten. Proses penciptaan puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi ini adalah proses penciptaan terstruktur dan spontan. Menurut informan, proses penciptaan puisi sawer ini diawali dari guru sawer (juru sawer juga yang sekaligus menjadi guru bagi tukang sawer tersebut) yang mewariskan puisi sawer tersebut secara terstruktur kepada tukang sawer. Dikatakan terstruktur karena guru sawer mewariskan puisi sawer tersebut secara terstruktur melalui teks dan latihan.&lt;br /&gt;Selanjutnya proses penuturan puisi sawer secara spontan. Proses penuturan tersebut dilakukan secara spontan tanpa.melihat teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.1.4 Fungsi Puisi Sawer Panganten&lt;/span&gt; Teks puisi sawer panganten ini memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang terdapat pada teks puisi sawer ini antara lain: sebagai sistem proyeksi, sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial, sebagai bagian dari upacara pernikahan, dan sebagai hiburan.&lt;br /&gt;Sebagai sistem proyeksi, artinya, ketika puisi sawer dituturkan, tentunya si penutur mengharapkan kedua mempekai pengantin hidup bahagia, hingga dia menciptakan proyeksi baru dalam pikirannya.&lt;br /&gt;Sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial. Maksudnya, teks puisi sawer panganten ini berisi nasihat-nasihat yang sesuai dengan norma-norma sosial. Hal tersebut tentunya sangat berguna bagi kehidupan rumah tangga kedua mempelai pengantin.&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari upacara pernikahan. Puisi sawer panganten yang dituturkan oleh juru sawer (tukang sawer) merupakan bagian dari upacara pernikahan. Acara saweran dilaksanakan setelah acara akad nikah selesai dan puisi sawer tersebut dituturkan dalam acara saweran itu.&lt;br /&gt;Sebagai hiburan. Ketika acara saweran berlangsung, juru sawer (tukang sawer) menuturkan puisi sawer tersebut dengan irama yang menghibur. Selain itu, tradisi menyawer (melemparkan uang, beras, dan permen yang diiringi puisi sawer) juga menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak dan masyarakat sekitar tempat pernikahan yang menyaksikan acara saweran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:78%;" &gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:78%;" class="fullpost" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.1 Struktur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Struktur kalimat pada teks puisi panganten bait pertama dan kedua terdiri atas kalusa-klausa dan kalimat-kalimat terikat yang setiap larikya berhubungan. Terdapat empat larik dalam setiap baitnya dan dalam setiap kalimat di setiap larik selalu terdapat predikat, baik predikat yang berkategori nomina, verbal, maupun adjektival.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bunyi vokal yang dominan muncul dalam teks puisi sawer panganten bait pertama dan kedua ini adalah bunyi vocal /a/ dan /i/ yang dikombinasikan dengan berbagai konsonan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Irama ynag digunakan dalam menuturkan puisi sawer ini didominasi oleh nada pendek karena penutur menuturkan puisi sawer ini dengan nada yang relative cepat. Hal ini terlihat dari banyaknya nada pendek (∩) yang terdapat dalam analisis formula irama. Sedangkan nada panjang (≥) dan nada sedang (─) hanya digunakan dalam beberapa suku kata terakhir dan tengah saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Teks puisi sawer panganten ini menggunakan bahasa Sunda yang biasa, artinya, bahasa yang biasa digunakan masyarakat luas untuk berkomunikasi sehari-hari atau bisa juga dikatakan bahasa yang komunikatif. Hal itu terjadi karena dengan bahasa yang mudah dimengerti, maksud dari puisi tersebut juga akan mudah dipahami oleh para petutur. Bahasa Sunda yang dipakai bisa dikatakan sebagai bahasa Sunda ragam sedang yang lembut (lemes).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tema yang dianalisis menggunakan teori isotopi. Terdapat 5 isotopi dalam teks puisi sawer panganten ini, diantaranya ada isotopi ketuhanan, isotopi kekuatan, isotopi perasaan, isotopi pekerjaan, dan isotopi manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.2 Konteks Penuturan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Puisi sawer yang dianalisis oleh penulis adalah puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi dalam sebuah pernikahan di Kampung Cijolang, Kecamatan Bl. Limbangan, Kabupaten Garut, pada hari Sabtu, tanggal 6 Desember 2008. Beliau adalah seorang juru sawer yyang berpengalaman. Hal itu terlihat dari cara beliau menuturkan puisi sawer panganten tersebut tanpa menggunakan teks (naskah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sebelum menuturkan puisi sawer panganten, penutur terlebih dahulu membuka acara sawer tersebut dengan memanjatkan doa-doa dan menyanyikan kidung sawer pengantin. Setelah itu barulah puisi sawer dituturkan. Penutur hanya bertugas mengiringi acara saweran dengan menuturkan puisi sawer tersebut, sedangkan yang bertugas menyawer (melemparkan uang, beras, dan permen) adalah keluarga dari kedua mempelai pengantin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.3 Proses Penciptaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Proses penciptaan puisi sawer yang dituturkan oleh Pak Dadi ini adalah proses penciptaan terstruktur dan spontan. Menurut informan, proses penciptaan puisi sawer ini diawali dari guru sawer yang mewariskan puisi sawer tersebut secara terstruktur kepada tukang sawer. Dikatakan terstruktur karena guru sawer mewariskan puisi sawer tersebut secara terstruktur melalui teks dan latihan. Selanjutnya proses penuturan puisi sawer secara spontan. Proses penuturan tersebut dilakukan secara spontan tanpa.melihat teks.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.4 Fungsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Teks puisi sawer panganten ini memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang terdapat pada teks puisi sawer ini antara lain: sebagai sistem proyeksi, sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial, sebagai bagian dari upacara pernikahan, dan sebagai hiburan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-6815250935706681695?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/6815250935706681695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/kajian-folklor-puisi-sawer.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6815250935706681695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/6815250935706681695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/kajian-folklor-puisi-sawer.html' title='Kajian Folklor Puisi Sawer'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ1I_VzcEnI/AAAAAAAAACo/ct0UlEfMW_U/s72-c/kertas+kuno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-3774353852883058462</id><published>2009-02-13T10:10:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T03:16:53.768-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Bahasa Sebagai  Objek Studi Linguistik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa itu bahasa ? sebelum kita mendefinisikan bahasa alangkah baiknya jika kita melihat bahasa apa adanya, bagaimana hidup dan berkembangnya dalam kegiatan kita sehari-hari. Untuk melihat mekanisme bahasa ini kita perhatikan dua dikotomi yang diajukan oleh Ferdinand de Saussure. Dikotomi yang dimaksud ialah :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;1. langue- parole, dan&lt;br /&gt;2. tautan sintagmatik – tautan pragmatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;pelopor linguistic modern adalah sarjana Swiss, Fedinand de Saussure, dengan bukunya Cours delinguistque general (1916), yang terbit tiga tahun kemudian setelah ia meninggal. Yang terpenting dari topiknya adalah dikotomi antara langue dan parole, Saussure membedakan tiga istilah : langange, langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran), langue mengacu pada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parole.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langage adalah suatu kemampuan bahasa yang dimiliki setiap manusia yang sifatnya pembawaaan, tapi pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dan stimulus yang menunjang. Ringkasannya langage adalah bahasa pada umumnya. Orang bisu pun sama memilki langage ini, tapi karena umpamanya, gangguan pisiologis pada bagian tertentu maka dia tidak dapat berbicara secara normal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita pernah mendengar cerita tentang dua anak manusia yang dibesarkan oleh serigala di hutan India. Karena hidup dalam lingkungan serigala, maka kedua anak manusia tadi mengucapkan bunyi-bunyi yang tidak manusiawi. Tapi bunyi serigala. Contoh tersebut memperteguh gagasan bahwa faktor lingkungan berperan dalam perkembangan kebahasaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. LAGUAGE – PAROLE&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langue adalah totalitas dari kumpulan fakta satu bahasa. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. Gagasan ini bersingungan dengan competence yang diajukan Comsky. Menurut Saussure, langue ini ada dalam benak orang, bukan hanya abstraksi-abstraksi saja. Langue adalah sesuatu yang individual tapi juga sosial universal. Agar lebih jelasnya adalah sebagai berikut : satu masyarakat bahasa secara konvensional dan manasuka menyetujui satu totalitas aturan dalam berbahasa dan setiap anggota masyarakat ini mengerti totalitas ini, karena ia mempunyai langue tadi. Jadi lague itu sesuatu kemampuan berbahasa dengan pembawaaan yang telah membatin pada setiap manusia. Langue itu abstrak dan tertentu pada satu bangsa. Sebagai orang indonesia kita memiliki langue bahasa Indonesia, tapi kalau kita mempelajari bahasa Jerman maka langue kita bertambah, yaitu langue bahasa Jerman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tadi disebutkan bahwa langue itu berkadar sosial universal. Sebagai contoh perhatikan kata kerja to be yang mempunyai bentukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I am writing a letter now&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;She is writing a letter now&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;They are writing letter ow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data sederhana di atas kita dapat menyimpulkan.&lt;br /&gt;1. I menghendaki am, she, is dan they are&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Kegiatan yang sedang berlangsung dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan to be+ (verb) kata kerja + ing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. kata letter kalau didahului determiner a tidak memakai -s sedangkan bila didahului dengan many, letter menjadi letters.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nomor 1,2 dan 3 ini adalah pernyataan-pernyataan atau pemerian dari langue bahasa Inggris. Setiap penutur akan mengikuti langue ini agar ujarannya dapat dimengerti oleh orang lain. Secara kasar rumus langue satu masyarakat bahasa adalah:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Langue = tata bahasa + kosa kata + sistem pengucapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumus di atas abstrak, ia hanyalah konsep yang mendasari ucapan sehari-hari, yaitu yang mendasari parole. Parole itu adalah ujaran seseorang, yaitu apa yang diucapkan dan apa yang didengar oleh pihak penanggap ujaran. Parole sifatnya pribadi, dinamis, lincah, sosial, terjadi pada waktu, termpat dan suasana tertentu. Jadi nyata! Sedang langue abstrak. Parol inilah yang teramati langsug oleh para linguis, namun dari pengamatan inilah dapat disimpulkan aturan yang melandasi yaitu langue tadi. Parole ini sejalan dengan gagasan perpormance dari Comsky. Hubungan erat antara langue dan parole dalam proses komunikasi kurang lebih sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Urutan kegiatannya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Stimulus masuk ke dalam benak A, stimulus ini lalu ditanggapi dan ingin dinyatakan dalam ujaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Yang ingin diujarkan itu lalu dirumuskan dalam satu kerangka gagasan. Ini dinamai semantic encoding.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Lalu gagasan utuh disusun dalam bentuk bentuk kalimat yang gramatik (gramatical encoding).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Setelah tersusun secara gramatik lalu gagasan itu diucapkan (phonological encoding).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kegiatan 1-4 ini ialah kegiatan pra-bicara A dan kegiatan yang dimodali oleh langue.&lt;br /&gt;5. Maka terlahirlah ujaran-ujaran A, yaitu parole atau performance.&lt;br /&gt;6. Ujaran tadi terdengar oleh B. B mendapat stimulus fonologis atau phonological decoding.&lt;br /&gt;7. Apa yang didengar itu oleh B kemudian disampaikan dengan aturan gramatik. Cocok atau tidak? Apakah ujaran tadi pertanyaan, pernyataan, perngingkaran atau perintah. Lalu B menafsirkan ujaran tadi yaitu sematic decoding. Kegiatan 6,7 ini berlangsung karena B dan A mempunyai langue bahasa yang sama. Begitulah gambaran langue dan parole dalam proses berbahasa, dan dalam kenyataannya kegiatan 1-7 ini berlangsung cepat sesuai dengan kemampuan berbahasa kedua belah pihak : penutur dan penanggap tutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sintagmatik – Paradigmatik&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikotomi lain yang perlu disebut di sini adalah sintagmatik dan paragdigmatik. Menurut Saussure kalimat apapun adalah satu rangkain tanda-tada., yang satu sama lainnya mempunyai perbedaan dan setiap tanda itu memilki arti atas makna keseluruhan. Rangkain satu tanda dengan lainnya mempunyai satu tautan sintakgmatik (sintagmatic relasionship). Ingat kata sintaksis !&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini :&lt;br /&gt;1 2 3 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Amir must study now&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalimat ini terdiri dari empat tanda dan masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda. Kalimat diatas memberikan satu gagasan utuh yang didukung oleh keempat tanda tadi. Tautan sintagmatik antar keempat tanda itu diabsraksikan sebagai : N + auxelury verb + main verb + adverb of time atau kata benda + kata kerja bantu + kata kerja utama + keterangn waktu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sekarang urutannya kita susun sebagai berikut :&lt;br /&gt;2 1 3 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Must Amir study now&lt;br /&gt;4 3 1 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Now study Amir Now&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalimat (b) bisa dimengerti oleh orang asing karena tautan 2-1-3-4 tadi memang ada dalam langue Inggris, tautan sah. Sebaliknya (c) mempunyai 4-3-1-2 tidak ada dalam langue bahasa Inggris, jadi tautannya tidak sah. (a) dan (b) ternyata sesuai dengan gramatikal bahasa Inggris, mempola sistematik, sedangkan (c) tidak sesuai dengan pola tata bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sekarang kita perhatikan lagi contoh sebagai berikut :&lt;br /&gt;1 2 3 4&lt;br /&gt;He will go tomorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalimat ini terdiri dari empat tanda. Tiap tanda di atas adalah satu anggota dari kesatuan jenis katanya. He adalah anggota dari kesatuan kata ganti, will dari kata bantu, go dari kata kerja, tomorrow dari kata keterangan waktu. Setiap angggota kesatuan jenis kata ada tautannya dengan aggota lainnya dari kesatuan yang sama, artinya setiap anggota kesatuan bisa menempati posisi pada kalimat di atas. Tautan ini dinamai tautan paradigmatik. Kalimat tadi kalau dinyatakan dengan kesatuan jenis katanya akan dirumuskan sebagai berkut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kata ganti + kt. Kerja bantu + kt. kerja utama + kt. Keterangan&lt;br /&gt;He will go tomorrow&lt;br /&gt;1. They Must write Now&lt;br /&gt;2. She shall study next week&lt;br /&gt;3. We can swim next mont&lt;br /&gt;4. I could work next year&lt;br /&gt;5. You should walk today&lt;br /&gt;6. dst. dst. dst. dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tabel di atas hanya memuat lima kata untuk setiap jenis kata, dan masih banyak kata lainnya bisa dimasukan. Tabel diatas saja memungkinkan terbentuknya 5×5×5×5×= 625 kalimat, belum lagi pola-pola kalimat lain. Setiap hari kita berbicara dengan berbagai pola kalimat. Jadi kesimpulannya : dengan adanya tautan sistagmatik dan paradigmatik kita dapat membuat sejumlah kalimat yang tak terhingga. Kita tidak akan pernah bisa menghitug jumlah kalimat, karena kejadian (nikmat Tuhan) didunia tidak terhingga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mempelajari dua dikotomi di atas, kita mempunyai gambaran yang jelas mengenai bahasa yang menjadi objek studi para linguis. Bahasa ternyata mengandung hal-hal yang bisa diamati yaitu parole, dan yang mendasari yaitu langue, dan karena tautan sintagmatik dan paradigmatik maka bahasa menjadi suatu yang sangat produktif dan tak terhingga.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-3774353852883058462?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/3774353852883058462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/bahasa-sebagai-objek-studi-linguistik.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3774353852883058462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/3774353852883058462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/bahasa-sebagai-objek-studi-linguistik.html' title='Bahasa Sebagai  Objek Studi Linguistik'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-127569676525943506</id><published>2009-02-13T10:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T03:20:13.321-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Linguistik'/><title type='text'>Asal Usul Bahasa</title><content type='html'>1. Beberapa Teori Tradisional&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asal usul bahasa adalah aspek yang paling banyak dipertentangkan hingga hasil studinya pun tidak memuaskan, karena para penyelidik sulit mencapai kesepakatan tunggal. Bagaimana mulai ada bahasa? Ada tersedia beberapa teori asal bahasa, ada yang lucu, ada yang aneh, ada yang berbau ilmiah. Pada tahun 1866 masyarakat linguis Perancis melarang mendiskusikan asal usul bahasa karena itu hanya spekulasi yang tiadak ada artinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyelidikan antroplogi telah membuktikan bahwa kebanyakan kebudayaan primitif menyakini keterlibatan Tuhan, Dewa dalam permulaan sejarah berbahasa. Tuhanlah yang mengajarkan Nabi Adam nama-nama sebagaimana temaktub dalam kitab kejadian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And the Lord God having formed out of the ground all the beasts of the earth, and all the fowls of the air, brought them to Adam to see what he wold call them; for whatsoever Adam called any living creature the same is its name.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikatakan pula manusia diciptakan secara simultan, dan pada penciptaan ini pula dikaruniai ujaran sebagai anugrah Illahi, dan di surga Tuhan berdialog dengan Nabi Adam dalam bahasa Yahudi. Sebelum abad ke-18 teori-teori asal bahasa ini dikategorikan divine origin (Berdasarkan kepercayaan).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada abad ke-17, Andreas Kemke, seorang ahli filologi dari Swedia menyatakan di surga Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia. Nabi Adam berbahasa Denmark, sedangkan naga berbahasa Perancis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita di Mesir lain lagi. Pada abad ke-17 SM raja Mesir, Psammetichus mengadakan penyelidikan tentang bahasa pertama. Menurut sang raja kalau bayi dibiarkan ia akan tumbuh dan berbicara bahasa asal. Untuk penyelidikan tersebut diambilah dua bayi dari keluarga biasa, dan diserahkan kepada seorang pengembala untuk dirawatnya. Gembala tersebut dilarang berbicara sepatah kata pun kepada bayi-bayi tesebut. Setelah sang bayi berusia dua tahun, mereka dengan sepotan menyambut si gembala dengan kata ”Becos!”. Segera si penggembala tadi menghadap Sri Baginda dan diceritakannya hal tersebut. Psammetichus segera menelitinya dan berkonsultasi dengan para penasehatnya. Menurut mereka becos berarti roti dalam bahasa Phrygia; dan inilah bahasa pertama. Cerita ini diturunkan kepada orang-orang Mesir Kuno, hingga menurut mereka bahasa Mesirlah bahasa pertama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaisar Cina T’ien-tzu, anak tuhan, katanya mengajar bahasa pertama kepada manusia. Ada juga versi lain, seekor kura-kura diutus Tuhan membawa bahasa (tulisan) kepada orang-orang Cina. Di Jepang pun bahasa pertama dihubung-hubungkan dengan Tuhan mereka, Amaterasu. Orang-orang Babilonia pun percaya bahwa bahasa petama berasal dari Tuhan mereka, Nabu. Brahmana mengajarkan tulis menulis kepada ras Hindu. Dan masih banyak cerita-cerita yang bernada sama dengan berbagai kebudayan dahulu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada bagian akhir abad ke-18 spekulasi asal usul bahsa berpindah dari wawasan keagamaan, mistik, takhayul ke alam baru yang disebut organic phase (pase organic). Pertama dengan terbitnya Uber den organic phase (On the Origin of language) pada tahun 1772, karya Johann Gottfried Von Herder (1744-1803), yang mengemukakan bahwa tidaklah tepat bahasa sebagai anugrah Illahi. Menurut pendapatnya: bahasa lahir karena dorongan manusia untuk mencoba-coba berfikir. Bahasa adalah akibat hentakan yang secara insting seperti halnya janin dalam proses kelahiran. Teori ini bersamaan dengan mulai timbulya teori evolusi manusia yang diprakarsai oleh Immanuel Kant (1724-1804) yang kemudian disusul oleh Charles Darwin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Darwin (1809-1882) dalam Descent of Man (1871) kualitas bahasa manusia dengan bahasa binatang berbeda dalam tingkatannya saja. Bahasa manusia seperti halnya manusia itu sendiri berasal dari bentuk yang primitif., barangkali dari ekspresi emosi saja. Sebagai contoh perasaan jengkel atau jijik telahirkan dengan mengeluarkan udara dari hidung dan mulut, tedengar sebagai “Pooh” atau “Pish” !. Namun Mark Muler (1823-1900) ahli filologi dari Jerman tidak sependapat dengan Darwin, teori ini disebut dengan pooh-pohh theory. Teori Darwin juga tidak disetujui oleh para sarjana berikutnya termasuk Edward Sapir (1884-1939) dari Amerika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mark Muler memperkenalkan Dingdong Theory atau disebut juga nativistik theory. Teorinya sedikit sejalan dengan yang diajukan socrates bahwa lahir bahasa secara ilmiah. Menurut teori ini manusia mempunyai kemampuan insting yang istimewa untuk mengeluarkan ekspresi ujaran bagi setiap kesan sebagai stimulus dari luar. Kesan yang diterima lewat indra, bagaikan pukulan pada bel hingga mengeluarkan ucapan yang sesuai. Kurang lebih ada empat ratus bunyi pokok yang membentuk bahasa pertama ini. Sewaktu orang primitif dulu melihat seekor srigala, pandangan ini menggetarkan bel yang ada pada dirinya secara insting sehingga terucaplah kata ”Wolf” (serigala). Muller pada akhirya menolak teorinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teri lainnya disebut Yp-he-ho Theory. Teori ini menyimpulkan bahwa bahasa primitif dahulu bekerja sama. Kita pun mengalami kerja serupa, misalnya sewaktu mengangkat kayu kita secara spontan bersamaan mengeluarkan ucapan-ucapan tertentu, karena dorongan tekanan otot. Demikian juga orang primitif jaman dulu, sewaktu bekerja tadi, pita suara mereka bergetar sehingga telahirlah ucapan-ucapan khusus untuk setiap tindakan. Ucapan-ucapan tadi lalu menjadi nama untuk pekerjaan itu seperti Heave (angkat), rest! (diam) dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tori yang agak bertahan Bow-wow Theory, disebut juga Onomatopoetic atau Echoic theory. Menurut teori ini kata-kata yang pertama kali adalah tiruan terhadap guntur, huja, angin, sungai, ombak samudra dan lainnya. Mark Muller dengan sarkastis mengomentarinya bahwa teori ini hanya berlaku pada kokok ayam dan bunyi itik, padahal kegiatan bahasa banyak terjadi di luar kandang ternak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimanpun sedikitnya prosentase kata-kata tersebut, kita tidak mengingkari adanya kata-kata itu. Dalam bahasa inggris ada kata-kata bable, rattle, hiss, cuckoo, dan sebagainnya. Kosa kata dalam bahasa Indonesia juga memilki kata-kata seperti itu: menggelegar, bergetar, mendesir, mencicit, berkokok dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori lainnya lagi disebut gesture theory, yang mengatakan bahwa isyarat mendahului ujaran. Para pendukung teori ini menunjukan penggunaan isyarat oleh berbagai binatang, dan juga sistem isyarat yang dipakai oleh orang-orang primitif. Salah satu contoh adalah bahasa isyarat yang dipakai suku Indian di Amerika Utara. Sewaktu berkomuikasi dengan suku-suku lain yang tidak sebahasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;2. Pendekatan Modern&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia itu tercipata dengan perlengkapan fisik yang sangat sempurna hingga memungkinkan terjadinya ujaran (kemampuna berbahasa). Namun ujaran bukan hanya kerja organ fisik. Dalam proses ujaran, faktor-faktor psikologis pun terlibat. Sebagai contoh kita banyangkan satu telaga jernih yang dikelilingi pepohonan rindang yang dimukimi burung-burung dan marga satwa lainnya. Bagi seseorang mungkin telaga tadi membahayakan, bisa saja meneggelamkan, mematikan. Bagi yang lain mungkin telaga tadi jadi sumber kehidupan bagi anak istrinya. Mungkin ikannya banyak. Bagi yag lainnya mungkin merupakan sumber ilham, bisa dijadikan tempat untuk beristirahat, melemaskan otot-otot sambil menuggu kejatuhan inspirasi. Dalam batin ketiga orang ini ternyata ada kesan psikologis yang berbeda. Kesan-kesan ini mesti diucapkan dengan ujaran. Dengan perkata lain kesan-kesan ini mesti diungkapkan dengan simbol vokal, hingga terucapkan kata-kata umpamanya: bahaya, ngeri, dalam, dingin, menenggelamkan, hanyut, arus dan sebagainya; banyak ikan, bagus , luas, dan sebaginya; indah, dingin, sepoi-sepoi, ayem, tentram, sejuk, leluasa, damai, sumber ilham dan sebaginya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dari cintoh-contoh di atas west menyimpulkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Speech, as language, is the result of man’s ability to see phenomena symbolically and of the necessity to express his symbols¬¬1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(= ujaran , seperti halnya bahasa, adalah hasil kemampuan manusia untuk melihat gejala-gejala sebagai simbol-simbol dan keinginannya untuk simbol-simbol itu)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini para ahli atropologi menyimpulkan bahwa manusia dan bahasa berkembang bersama. Manusia itu ada di bumi kurang lebih satu juta tahun lamanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembanganya menjadi Homo Sapien juga mempengaruhi perkembangan bahasanya. Bentuk tubuh yang tegak, mata yang berbentuk stereoskopis dan celebra cortex yan tidak ada pada hewan lain telah banyak membantu evolusi manusia. Perkembangan otaknya merubah dia dari agak manusia menjadi manusia sesungguhnya. Mereka kini mempunyai kemampuan untuk menemukan dan mempergunakan alat-alat dan mulailah ia bicara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada juga yang mengatakan bahwa perkembangan bahasa manusia sama seperti halnya perkembangan bahasa bayi berkembang menjadi dewasa. Otto jespersen (1860-1943) melihat adanya persamaan antara bahasa bayi dan manusia dahulu. Bahasa manusia pertama hampir tidak mempunyai arti, seperti lagu saja sebagaimana ucapan-ucapan bayi. Lama kelamaan ucapan-ucapa tadi berkembang menuju kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu ada persolaa lain. Apakah bahasa itu lahir karena keinginan berkomunikasi dengan anggota masyarakat sosial atau karena dorongan individu, yaitu faktor psikologis di atas? Jadi bahasa dulu atau masyarakat dulu? Kalau mereka tidak hidup dalam masyarakat, maka bahasa tidak akan pernah lahir, tapi bagaimana hidup tanpa bahasa? Kini pertanyaannya seperti pertanyaan klasik, telur dulu atau ayam dulu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-127569676525943506?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamancatatan.blogspot.com/feeds/127569676525943506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/asal-usul-bahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/127569676525943506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/127569676525943506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/asal-usul-bahasa.html' title='Asal Usul Bahasa'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-5213342668990307627</id><published>2009-02-11T11:43:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T02:59:31.408-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Deti M. Puspita</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ--49fG05I/AAAAAAAAAFg/9myFR93-DKY/s1600-h/deti.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 100px; height: 145px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ--49fG05I/AAAAAAAAAFg/9myFR93-DKY/s320/deti.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305168771852718994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;Perjalanan 1&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Aku terdampar dalam senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ku kenal berpuluh pasang mata disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini terasing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau saban bulan aku menumpang langkahan kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi meniup membelai rambutku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutku yang klimis oleh bulir tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa dingin merembes menuju sumsum tulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merapatkan bulu-bulu tebal untuk melindungi ragawi yang malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah… sudah Maghrib rupanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gema adzan berseru dimana-mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dalam kesepian dan menuju gelap malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih belum beranjak jua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat pada sebuah cerita yang ku tulis sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga segera kembali seperti semula lagi!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-5213342668990307627?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/5213342668990307627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/5213342668990307627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-deti-m-puspita.html' title='Puisi Deti M. Puspita'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ--49fG05I/AAAAAAAAAFg/9myFR93-DKY/s72-c/deti.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-9044892924338420734</id><published>2009-02-11T11:20:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T04:37:29.695-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sajak-Sajak Ferdinan D.J Saragih</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sajak-Sajak Ferdinan D.J Saragih &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt; Kanvas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;deretan gunung telah kau sandarkan&lt;br /&gt;dengan jutaan pohon&lt;br /&gt;selusin rumah&lt;br /&gt;pada sebuah kanvas.&lt;br /&gt;tak lupa kau lukiskan sebuah rupa&lt;br /&gt;menari-nari&lt;br /&gt;atas  kesejukan itu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;kecurigaanku menguak&lt;br /&gt;tentang keegoisanmu&lt;br /&gt;seperti yang kulihat&lt;br /&gt;kekosongan di situ&lt;br /&gt;cahaya itu di geluti kegelapan&lt;br /&gt;tanpa secuil kesejukan&lt;br /&gt;seperti yang kau gambarkan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;lihat,&lt;br /&gt;di sini kota&lt;br /&gt;kesejukan yang kau lukiskan&lt;br /&gt;sebuah mimpi&lt;br /&gt;yang tak bisa kuhidupkan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bandung, 2009&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dinding Sajak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;dinding ini telah sesak&lt;br /&gt;dengan persetubuhan topik terdepan&lt;br /&gt;di gandrungi pemimpin&lt;br /&gt;negri ini&lt;br /&gt;yang di gores&lt;br /&gt;pada dinding sajak&lt;br /&gt;selama ber-abadabad&lt;br /&gt;dan kau tau&lt;br /&gt;semua itu penderitaan kami&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2009&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ruang Cinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;aku memendam rindu&lt;br /&gt;memberi hati&lt;br /&gt;bersandar di ruang cinta&lt;br /&gt;menunggu dari waktu kewaktu&lt;br /&gt;dan kau mengabaikan semua itu&lt;br /&gt;di saat gema suaramu&lt;br /&gt;mengembalikan ingatanku&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“memang, pagi ini masih basah&lt;br /&gt;sebelum embun di kemas oleh siang”&lt;br /&gt;ucapmu&lt;br /&gt;menatapku kosong&lt;br /&gt;dan kau berangsur hilang&lt;br /&gt;bersama kereta yang melaju&lt;br /&gt;meninggalkan ruang cinta&lt;br /&gt;abadi&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ruang Karya, 2009&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rindu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semakin jelas kudengar langkah&lt;br /&gt;meneguk racun ini.&lt;br /&gt;bayangan keriduan&lt;br /&gt;menyamarkan batinku&lt;br /&gt;menemuimu&lt;br /&gt;di sudut hidup&lt;/p&gt; &lt;p&gt;pagi ini belum juga berlalu&lt;br /&gt;selang-selang menjalariku&lt;br /&gt;menusuk sekeliling tubuh&lt;br /&gt;ah, dara&lt;br /&gt;biarkan kugubah&lt;br /&gt;bayangmu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bandung, 2009&lt;/p&gt; &lt;p&gt;**Ferdinan De J Saragih, lahir di Desa Sigodang (Sumut) 04 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Penyair, Pemerhati Bahasa, Budaya dan Lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jurnal Bogor, 12 April 2009&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-9044892924338420734?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/9044892924338420734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/9044892924338420734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/puisi-al-mauki-solihin.html' title='Sajak-Sajak Ferdinan D.J Saragih'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1644544765665169650.post-7581113799800724030</id><published>2009-02-11T10:13:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T23:53:43.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Puisi Erik Maringan Halomoan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ--b4doXMI/AAAAAAAAAFY/QMxTkxMtZCU/s1600-h/ERIK.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 100px; height: 149px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ--b4doXMI/AAAAAAAAAFY/QMxTkxMtZCU/s320/ERIK.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305168272288144578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Tentang Bunga Tulip&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sesaat aku berhenti di perkampungan sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pelangi yang dikelilingi awan gelap  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Seakan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;ingin mengajakku,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Detak jam hanya berhenti sesaat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Aku kembali telusuri jalan yang berliku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Kembali ke suatu malam yang sepi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Mencapai sebuah jemu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Saat ini aku mengajakmu dengan sajak-sajak cinta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Berharap kau memupuk awan yang layu karena sepi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Di taman aku menggerogoti mimpiku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Menghadap sebuah bunga tulip yang lama berharap kupetik&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Yang kemudian tenggelam dalam khayalku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Desember, 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Aku Melihat Wajahmu di Antara Dedaunan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Aku melihat wajahmu di antara dedaunan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dan ranting patah yang menghiasi mimpiku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Kau menanamkan mahabah ditaman yang sudah kutinggalkan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tuk memilih jalan yang berliku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Mencari mestika diantara bebatuan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Yang sulit aku temukan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Januari, 2009&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="ecmsonormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1644544765665169650-7581113799800724030?l=tamancatatan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7581113799800724030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1644544765665169650/posts/default/7581113799800724030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamancatatan.blogspot.com/2009/02/karena-pelangi-yang-dikelilingi-awan_11.html' title='Puisi Erik Maringan Halomoan'/><author><name>Al-Mauki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09384617166346543156</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/Swp4-vyzJpI/AAAAAAAAAKk/8r5pT7rFeuY/S220/Al-Mauki+Solihin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IZj8Vt_YtHA/SZ--b4doXMI/AAAAAAAAAFY/QMxTkxMtZCU/s72-c/ERIK.JPG' height='72' width='72'/></entry></feed>
